Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harga Sebuah Nama
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Pagi harinya, hujan sudah berhenti, menyisakan genangan air di jalanan berbatu Kota Qingyun—kota kecil di kaki Gunung Awan Sembilan, tempat para murid sekte biasa berbelanja kebutuhan sehari-hari. Xiao Bai berjalan pelan menyusuri deretan toko, tangannya mendekap erat sebuah kotak kayu kecil yang sudah usang dimakan waktu.
Di dalamnya, tersimpan satu-satunya benda berharga yang ia miliki: sebuah liontin giok berukir bunga teratai, peninggalan mendiang ibunya. Bukan pusaka kultivasi, hanya perhiasan biasa—tapi cukup untuk ditukar dengan beberapa keping perak, cukup untuk bertahan hidup beberapa hari ke depan sambil ia mencari cara memahami Tungku Ekstraksi Surgawi lebih dalam.
Ia berhenti di depan sebuah toko dengan papan nama "Toko Pusaka Wan Fu", tempat yang cukup dikenal di kota untuk membeli dan menjual barang antik.
Di dalam, seorang pria gemuk berjenggot tipis duduk di balik meja kayu, menghitung uang dengan sempoa. Matanya menyipit begitu melihat Xiao Bai masuk—bukan menyambut, tapi menilai, seperti serigala menilai domba yang tersesat.
"Mau jual atau beli?" tanyanya, nada suaranya datar tanpa basa-basi.
"Jual." Xiao Bai membuka kotak kayu, menunjukkan liontin giok itu di atas meja. "Ini peninggalan keluarga. Giok kualitas baik, ukirannya masih utuh."
Pemilik toko—Wan Fu sendiri, seperti tertulis di papan nama—mengambil liontin itu, memutarnya di bawah cahaya lampu, lalu meletakkannya kembali dengan gerakan yang sengaja dibuat terlihat malas.
"Giok murahan," katanya, meski matanya sempat berkilat sesaat sebelum kembali datar. "Retak halus di bagian dalam, ukiran juga sudah usang. Paling aku bisa kasih tiga keping perak."
Xiao Bai mengenali harga itu jauh di bawah nilai sebenarnya—ibunya pernah bercerita liontin ini dibeli dengan lima puluh keping perak bertahun-tahun lalu, dan giok berkualitas hanya akan bertambah nilainya seiring waktu, bukan berkurang. Tapi ia tak punya cukup pengetahuan untuk membantahnya, apalagi kekuatan untuk memaksa harga yang lebih adil.
"Bisakah dinaikkan sedikit? Aku benar-benar butuh—"
"Tunggu." Wan Fu memotong, matanya kini menyipit lebih tajam, menatap wajah Xiao Bai lebih lama. "Kau... bukankah kau murid yang baru diusir dari Sekte Awan Sembilan kemarin? Berita itu sudah tersebar ke seluruh kota pagi ini."
Xiao Bai terdiam. Secepat itu kabar buruk menyebar.
"Benar atau tidak, tak penting bagiku," lanjut Wan Fu, senyum tipis mulai muncul di wajahnya—senyum seorang pedagang yang baru saja menemukan celah untuk keuntungan lebih besar. "Tapi kalau kabar itu benar, tiga keping perak sudah lebih dari cukup untuk seorang buangan sekte. Ambil atau tidak, terserah kau. Toh kau tak punya kekuatan untuk protes ke mana pun."
Ruangan toko terasa hening sesaat. Xiao Bai menatap liontin ibunya di atas meja—benda yang seharusnya sarat kenangan, kini direduksi menjadi tiga keping perak murahan hanya karena statusnya yang jatuh dalam semalam.
Ia ingin menolak, ingin membawa pulang liontin itu dan mencari tempat lain. Tapi perutnya yang kosong sejak kemarin, dan malam dingin yang menantinya tanpa tempat berteduh, memaksa logika mengalahkan kebanggaan.
"Baik," gumamnya pelan, hampir tak terdengar. "Tiga keping."
Wan Fu tersenyum puas, menyerahkan tiga keping perak dengan gerakan cepat, seolah takut Xiao Bai berubah pikiran. "Pilihan bijak. Lain kali kalau bawa barang, jangan bawa nama burukmu bersamanya. Itu cuma menurunkan harga."
Xiao Bai mengambil uang itu tanpa berkata apa-apa lagi, berbalik keluar dari toko sambil menggenggam erat tiga keping perak—harga yang terlalu murah untuk sepotong kenangan terakhir dari ibunya.
---
Di luar toko, hujan mulai turun lagi, gerimis tipis yang menambah dingin di dadanya. Xiao Bai berdiri di bawah atap tokonya, menatap tiga keping perak di telapak tangannya.
> **[Host, apakah kau ingin aku menganalisis nilai sebenarnya dari liontin tersebut? Berdasarkan struktur giok yang sempat kupindai saat berada di dalam kotak, nilai pasar wajarnya sekitar empat puluh lima keping perak.]**
Xiao Bai tertawa pahit, suara yang lebih mirip helaan napas daripada tawa sungguhan. "Empat puluh lima," ulangnya. "Dan aku menjualnya seharga tiga."
> **[Analisis: kerugian ini bukan disebabkan oleh kualitas barang, melainkan oleh reputasi Host yang telah dirusak. Kesimpulan: di dunia ini, harga sebuah benda tak hanya ditentukan oleh apa benda itu, tapi juga oleh siapa yang membawanya.]**
"Aku tahu," gumam Xiao Bai, menatap ke arah toko yang baru saja ia tinggalkan. "Tapi suatu hari, nama itu justru yang akan membuat harga segalanya melonjak, bukan turun."
Ia menyimpan tiga keping perak itu dalam-dalam ke sakunya, lalu melangkah pergi menyusuri jalan berbatu, membiarkan gerimis membasahi punggungnya sekali lagi. Di dalam dadanya, Tungku Ekstraksi Surgawi berdenyut pelan—saksi bisu dari setiap penghinaan, yang perlahan mengumpulkan bahan bakarnya sendiri: tekad yang semakin mengeras di setiap langkah.