Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.
Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].
Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!
Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Undangan dari Menara dan Dungeon Pertama
3 hari setelah duel.
Nama "Tim Buangan" udah seantero Kota Perbatasan.
Di papan Guild, poster mereka ditempel:
[Tim Buangan - Rank B]
[Kael: Penyihir Api Pembebas Lv.8] [Luna: Saint Cahaya Lv.8] [Grom: Bayangan Goblin Lv.7]
Tapi ketenaran bawa masalah.
"Surat untuk kalian." Resepsionis guild nyodorin amplop segel ungu. Ada lambang menara dan mata.
Kael buka.
[Kepada: Kael "Penyihir Api Pembebas"]
[Dari: Menara Sihir Pusat - Divisi Pengawasan]
[Isi: Anda diminta hadir untuk "pemeriksaan kekuatan terlarang". Datang 3 hari lagi. Sendiri.]
[Ttd: Archmage Valerius]
Luna langsung merebut surat. "SENDIRI?! Nggak mau!"
Grom menggeram. "Grom lindungi Tuan!"
Kael melipat surat. "Tenang. Kalau aku nggak datang, mereka bakal datang ke sini."
Malamnya Magnus datang ke penginapan.
"Valerius itu keras kepala. Dia benci semua sihir 'di luar aturan'." Magnus ngopi. "Tapi ada cara lain. Buktikan kalau kalian berguna buat kerajaan."
"Caranya?"
"Ada Dungeon baru muncul 1 hari jalan dari sini. [Reruntuhan Api]. Rank B. Kalau kalian bisa bersihin, Menara nggak akan berani macem-macem."
[Ding! Quest Utama: Penaklukan Dungeon Reruntuhan Api]
[Reward: Pengakuan Kerajaan + Penghapusan Status "Pengawasan"]
"Berangkat besok." Kael berdiri. "Tim Buangan jalan."
---
Perjalanan 1 hari.
Reruntuhan Api itu bekas kuil kuno. Pintu gerbangnya ada ukiran naga api. Udara di sekitarnya 2x lebih panas.
[Area Dungeon: Reruntuhan Api Rank B]
[Perkiraan Level Monster: 8-12]
Begitu masuk, suhu naik drastis. Lantai lava mengalir di celah batu.
[Monster Pertama: Salamander Api Lv.8 x5]
"Grom, Bayangan!"
Grom membuat bayangan. 2 salamander langsung kejar bayangan itu.
"Luna, Buff!"
[Berkah Cahaya] [Perisai Cahaya ke Kael]
Kael maju. Kali ini dia tidak pakai api hitam. Dia pakai api merah + teknik baru.
[Sihir Api Level 3: Pedang Api]
"SHING!" Tebasan api memotong 2 salamander. [EXP +80]
Pertarungan 30 menit. Bersih.
[Luna: Level 8 → Level 9]
[Grom: Level 7 → Level 8]
[Kael: Level 8 → Level 9]
Di lantai 2, mereka nemu masalah.
Jembatan putus. Di bawahnya lahar. Dan di seberang ada 1 peti harta.
"Kita nggak bisa lompat sejauh itu." kata Luna.
Kael menatap lahar. Bisikan kecil muncul. _'pakai Api Neraka... terbang di atasnya...'_
Dia menggeleng. "Ada cara lain."
Dia mengumpulkan api merah di telapak tangan. Lalu menembakkannya ke dinding.
[Sihir Api Level 3: Pijakan Api]
Anak tangga api muncul di udara.
"Ayo." Kael duluan. Luna dan Grom ngikut.
Di tengah jalan, 1 anak tangga runtuh. Luna terpeleset.
"LU-" Kael langsung menangkap tangannya. Tubuh mereka bergelantungan di atas lahar.
"Kael lepas! Aku berat!"
"Diam." Kael menggeram. Dengan 1 tangan dia menciptakan [Pijakan Api] lagi. Lalu menarik Luna naik.
Mereka jatuh terduduk di seberang. Napas sama-sama ngos-ngosan.
Luna menatap Kael. Wajahnya merah. "B-bodoh... makasih..."
Kael senyum. "Kerja tim."
Grom pura-pura batuk. "Grom... tidak lihat apa-apa..."
Di dalam peti: [Kristal Api Murni x1] [Peta Lantai 3]
Lantai 3. Boss Room.
Pintu besar terbuka. Di dalamnya...
[Raja Salamander Kuno Lv.12]
[HP: 2000/2000]
[Skill: Meteor Lava, Napas Api Neraka]
"Ini bosnya." Kael pasang kuda-kuda. "Rencana sama. Grom ganggu. Luna heal. Aku DPS."
Pertarungan gila.
Napas Api Neraka menyapu arena. [HP Kael: 30/80]. [HP Luna: 15/70]. [HP Grom: 10/60]
Luna kehabisan mana. "Kael... aku nggak kuat lagi..."
Kael menatap tangannya. Urat hitam muncul. Bisikan teriak. _'PAKAI AKU! BUNUH DIA!'_
Tapi Kael ingat jembatan tadi. Ingat Luna. Ingat Grom.
"AKU NGGAK BUTUH KAMU!"
Dia berteriak dan memukul dadanya. Api hitam mundur. Diganti api merah yang 2x lebih besar.
[Sihir Api Level 3 + Tekad: Meteor Api Pembebas!]
Langit-langit dungeon retak. Bola api sebesar rumah jatuh.
"BUUUUMMMMM!!!!!!"
10 detik. Seluruh ruangan hening.
Asap hilang. Raja Salamander tinggal jadi abu.
[Ding! Boss Dikalahkan!]
[EXP +1000]
[Kael: Level 9 → Level 10] [Job Upgrade: Penyihir Api Pembebas → Archmage Api Pembebas]
[Luna: Level 9 → Level 10] [Job Upgrade: Saint Cahaya → Pendeta Agung Cahaya]
[Grom: Level 8 → Level 9] [Job Upgrade: Bayangan Goblin → Assassin Goblin]
[Quest Selesai: Penaklukan Dungeon Reruntuhan Api]
[Reward: 2000 Gold + Gelar Kerajaan + Surat Pengampunan dari Menara]
Mereka bertiga jatuh duduk, ketawa kelelahan.
Luna nyender di bahu Kael. "Kita... beneran ngelakuinnya..."
"Iya." Kael mengusap kepala Luna. "Tim Buangan paling kuat."
Grom udah tidur duluan sambil peluk belatinya.
Seminggu kemudian di Kota Perbatasan.
Utusan Menara datang lagi. Tapi kali ini bukan buat nangkep.
Dia berlutut. "Archmage Valerius meminta maaf. Dan mengundang Tim Buangan ke Ibukota. Sebagai Pahlawan Rank B."
Kael menerima surat itu. Di belakangnya, ratusan warga bersorak.
"TIM BUANGAN! TIM BUANGAN!"
Malamnya di atap guild.
Kael, Luna, Grom duduk lihat bintang.
"Besok kita ke Ibukota?" tanya Luna.
"Iya." Kael menggenggam tangan Luna. Kali ini Luna nggak nolak.
"Setelah ini... kita mau ngapain?"
Kael menatap langit. "Bikin dunia ini nggak ada lagi yang dihina karena 'Job' nya."
Grom mengangguk. "Grom setuju Tuan!"
Di kejauhan, di Menara Sihir, Archmage Valerius memecahkan cangkir.
"Archmage Api Pembebas... kita harus awasi dia. Atau dia akan merubah seluruh sistem ini."