Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 ~ Memastikan
Saat itu juga, Bi Rina muncul dari arah dapur sambil mengusap kedua tangannya yang masih basah oleh air.
"Permisi, Tuan Damian," sapanya sopan. "Makanannya sudah hampir siap."
Damian mengangguk.
"Sajikan sekarang."
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian, meja makan telah dipenuhi beberapa hidangan hangat.
"Ayo makan," ajak Damian datar.
Evelyn sempat ragu.
"Saya rasa lebih baik saya pulang saja, Tuan."
"Bukankah katamu tadi hanya maag?" tanya Damian sembari menarik kursinya.
"Iya..."
"Kalau begitu, makan."
Tak ada celah untuk membantah. Evelyn akhirnya duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Damian.
Bi Rina menuangkan semangkuk sup hangat ke dalam mangkuk kecil, lalu meletakkannya di depan Evelyn.
"Silakan, Tuan Evan," ucapnya ramah. "Sup ayam ini ringan di perut."
"Terima kasih, Bi."
Evelyn menggenggam sendoknya pelan. Ia menyendok sedikit kuah sup, meniupnya perlahan, lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Baru satu suapan... Perutnya kembali bergolak. Ia buru-buru meletakkan sendok. Wajahnya kembali memucat.
Damian yang sejak tadi memperhatikannya langsung mengernyit. "Kenapa?"
Evelyn memaksakan senyum tipis. "Tidak... mungkin memang maag saya sedang kambuh."
Belum sempat Damian menanggapi, Bi Rina tiba-tiba bersuara.
"Kalau maag biasanya memang begitu, Tuan Damian," jelasnya sambil meletakkan sepiring sayuran di atas meja. "Perut kosong terlalu lama memang membuat mual."
Damian mengangguk tipis, meski tatapannya belum lepas dari Evelyn. "Kalau tidak sanggup makan banyak, habiskan supnya saja."
"Iya, Tuan," jawab Evelyn pelan.
Ia kembali mengangkat sendok. Kali ini ia memaksa dirinya menghabiskan beberapa suap, meski setiap kali menelan, rasa mual itu masih terus menghantui.
Di sisi lain, Haris yang ikut makan malam duduk di samping kiri Damian diam-diam memperhatikan interaksi keduanya.
Sudah bertahun-tahun menjadi asisten pribadi Damian, baru kali ini ia melihat atasannya begitu memedulikan kondisi seorang bawahan.
Biasanya, Damian hanya akan memberi izin pulang tanpa ingin tau lebih jauh.
Namun hari ini berbeda, Damian membawa Evan ke apartemennya, memintanya beristirahat, bahkan terus memastikan kondisinya selama makan.
Haris mengerutkan kening tipis.
"Aneh..." batinnya.
Namun Haris buru-buru menggeleng pelan, menepis segala pikiran kotor yang hampir singgah diotaknya.
Itu tidak mungkin.
Lagi pula, Evan adalah seorang pria.
Dengan pemikiran itu, Haris memilih mengubur rasa penasarannya dan kembali melanjutkan makan, meski sesekali matanya masih melirik ke arah Damian yang tampak lebih perhatian dari biasanya.
Damian kembali mengangkat sendoknya.
Namun, alih-alih fokus pada makanan di hadapannya, pandangannya justru beberapa kali melayang ke arah sekretaris yang duduk di seberangnya.
Evan masih berusaha menghabiskan semangkuk supnya, meski sesekali harus berhenti karena rasa mual yang datang tiba-tiba.
Entah sejak kapan... Tatapan Damian mulai memperhatikan wajah pria itu lebih saksama.
Kulitnya bersih.
Hidungnya mancung.
Bibirnya tipis dengan warna kemerahan alami.
Bulu matanya pun tampak lebih lentik dibandingkan kebanyakan pria yang pernah ia temui.
Tanpa sadar, Damian terus mengamatinya. Semakin lama... Semakin ada sesuatu yang terasa berbeda.
"Apa yang sebenarnya kulakukan?" batinnya.
Damian segera mengalihkan pandangan, lalu mengusap pelipisnya pelan. Ia merasa dirinya mulai kehilangan akal.
Kenapa ia justru memperhatikan wajah sekretaris prianya sedetail itu?
Padahal selama dua puluh sembilan tahun hidupnya, ia bahkan tak pernah tertarik mengamati wajah siapa pun, apalagi seorang pria.
"Damian..." Suara kecil dalam kepalanya seolah mengejek."Kau benar-benar sudah gila."
Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir pikiran aneh itu. Namun saat tanpa sengaja matanya kembali bertemu dengan tatapan Evan...
Jantungnya kembali berdetak sedikit lebih cepat. Damian spontan mengeraskan rahangnya.
"Tidak."
"Yang kucari adalah wanita di kapal pesiar itu."
"Bukan sekretarisku."
Tanpa ia sadari... Semakin keras ia menyangkal, semakin sering pula pandangannya kembali tertuju pada sosok Evan yang duduk tepat di hadapannya.
Makan malam pun usai. Meski hanya menghabiskan beberapa suap, setidaknya wajah Evelyn tampak sedikit lebih segar.
Ia segera berdiri dari kursinya.
"Terima kasih atas jamuannya, Tuan," ucapnya sopan. "Saya rasa ini sudah terlalu malam, kalau begitu saya permisi."
Damian mengangkat pandangannya dari gelas yang baru saja ia letakkan.
"Haris," panggilnya singkat.
"Ya, Tuan," sahut Haris sigap.
"Antarkan Evan sampai ke rumah."
"Baik, Tuan," jawab Haris tanpa ragu.
Evelyn spontan menggeleng. "Tidak perlu, Tuan," tolaknya halus. "Saya membawa mobil sendiri."
"Besok kau bisa mengambilnya di kantor," jelas Damian datar.
"Tapi saya benar-benar sudah ba—"
"Itu perintah," potong Damian tegas.
Tak ada pilihan lain. Evelyn hanya mampu mengembuskan napas pelan.
"Baik, Tuan," ucapnya pasrah.
•••••
Beberapa menit kemudian, mobil yang dikemudikan Haris melaju meninggalkan apartemen Damian. Suasana di dalam mobil begitu sunyi.
Haris fokus mengemudi, sementara Evelyn duduk di kursi belakang dengan pikiran yang terus berkecamuk.
"Aku tidak mungkin mengajaknya ke kediaman Harley," batinnya gelisah.
"Kalau Haris tahu aku tinggal di sana, semua penyamaranku akan berakhir."
Tatapannya menyapu jalanan di depan. Sesaat setelah melewati sebuah persimpangan, matanya menangkap sebuah rumah kos sederhana yang dihuni para pria lajang.
"Itu saja..." gumamnya pelan.
"Asisten Haris," panggil Evelyn.
"Ya, Evan?" sahut Haris tanpa mengalihkan pandangan dari jalan.
"Belok kiri di depan," pintanya tenang.
"Baik."
Haris segera membelokkan mobil sesuai arahan. Tak lama kemudian, mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah kos bercat krem.
"Di sini saja," ujar Evelyn.
Haris menarik rem tangan, lalu mengangguk.
"Baik."
Evelyn membuka pintu mobil dan turun sambil membawa tas kerjanya. "Terima kasih sudah mengantar saya," ucapnya sopan.
"Sama-sama, Evan," balas Haris sembari tersenyum tipis.
Evelyn kemudian melangkah menuju gerbang rumah kos. Namun baru beberapa langkah, ia menyadari mobil itu belum juga bergerak.
Evelyn menoleh. Haris masih duduk tenang di balik kemudi.
"Asisten Haris?" tanyanya heran. "Aku sudah sampai, Kamu boleh pergi," jelasnya.
Namun pria itu tidak bergeming, sebaliknya.. Dia malah menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan, seolah memastikan sekretaris itu benar-benar masuk ke dalam.
"Tuan Damian berpesan agar aku memastikan Tuan benar-benar masuk ke dalam. Setelah itu, baru aku kembali."
DEG. Jantung Evelyn seolah berhenti berdetak.
Tatapannya bergantian mengarah ke rumah kos di depannya, lalu kembali kepada Haris yang masih menunggu dengan sabar.
Sial...
Ia sama sekali tidak tinggal di tempat itu.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya