Altair seorang eksekutor miskin di rumah Andrea's. Motifnya untuk balas dendam kepada kepala keluarga itu karena sudah menghilangkan nyawa kedua orang tuanya. Tapi dia malah jatuh cinta kepada anak kesayangan keluarga itu membuatnya dijebak dan mati di tangan mereka.
Dia di beri kesempatan kedua untuk tidak menjadi bodoh dan jatuh cinta. Di kehidupan ini dia menuntaskan dendamnya. Dan siapa sangka dia malah berhubungan dengan anak angkat keluarga itu, Aquilla.
Akankah dendamnya terbalaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Permanis di pagi hari
Matahari pagi mulai menerobos gorden biru muda, menembus kamar Altair dan Aquilla. Udara masih sejuk, diiringi aroma kopi dari dapur tetangga dan kicauan burung gereja di atas genteng.
Di atas kasur, Aquilla masih meringkuk dibalut selimut sampai dagu. Rambutnya acak-acakan, tidur nyenyak banget.
Sementara itu, Altair udah bangun dari tadi. Dia duduk di tepi kasur sambil menepuk pipi istrinya pelan. "Illa. Bangun."
Aquilla gak merespons, malah makin narik selimut.
"Bangun, udah siang," ulang Altair.
"Lima menit lagi..." gumam Aquilla tanpa membuka mata.
"Udah lima menit dari jam enam," ejek Altair bosan. Karena iseng, dia narik-narik ujung rambut Aquilla. Sekali, dua kali, tiga kali.
"Nyebelin lo! Sakit tahu!" Aquilla langsung menepis tangan Altair dan membuka mata.
Tapi begitu sadar, mukanya mendadak merah padam. Dia teringat ciuman panas mereka semalam. Kejadian itu kerasa nyata banget di ingatannya.
Altair heran melihat respons Aquilla. Bedanya, Altair memilih pura-pura lupa. Bagi dia, semalam itu cuma kekhilafan yang gak perlu diungkit.
"Kesambet lo?" tanya Altair sambil menaikkan alis.
Aquilla makin sebal melihat reaksi santai suaminya. Dia narik selimut lagi, melotot dari balik kain. "Ini masih weekend, Al. Cucian kemarin udah kelar. Gue mau tidur lagi."
"Gue nggak nyuruh lo nyuci," balas Altair sambil merapikan kaosnya. "Lo harus kerja hari ini."
"Hah?" Aquilla langsung duduk tegak. "Kerja apa?"
"Kerja di supermarket dekat rumah, bagian kasir. Mau, kan? Gue udah ngomong sama temen gue."
Semangat Aquilla langsung naik 100%. Saking senangnya, dia refleks memeluk tubuh Altair dari samping dan menyandarkan kepala di lengannya.
Altair kaget, sampai nahan napas. Wangi sampo dan kehangatan tubuh Aquilla bikin dadanya mendadak aneh. Cepat-cepat dia mendorong Aquilla pelan.
"Lebay lo!" cetus Altair lalu ngacir keluar kamar. Dari luar, dia berteriak, "Setengah jam lagi siap-siap! Jangan telat hari pertama!"
"Siap, komandan!" seru Aquilla girang.
Di luar, Altair memegang dadanya yang berdebar kencang."Gila," batinnya. "Gara-gara semalam, gue bisa beneran jatuh cinta sama nih cewek manja."
Untuk mengalihkan pikiran, Altair memanaskan motor Ducatinya di halaman. Saat menunggu, ponselnya bergetar, pesan dari Zander:
Susah cari identitas mantan eksekutor si Daniel. Keluarganya disembunyikan rapi. Kita cuma dapat satu nama: Shaka.
Altair menghela napas berat. Kecewa karena usahanya mencari tahu pembunuh orang tuanya masih tertahan nama itu.
"Al, kalau ada duit lebih, beliin gue skincare ya!" teriak Aquilla yang baru keluar rumah. Rambutnya dikuncir rapi, siap berangkat.
Altair menoleh. "Banyak maunya lo. Kemarin mesin cuci, sekarang skincare. Mau morotin gue?"
Aquilla berkacak pinggang. "Ya kan lo suami gue. Wajib nafkahin dong, biar bini lo nggak burik!"
"Ngapain malu?" sahut Altair enteng. "Lo emang burik. Masih cantikan Ruby ke mana-mana."
Kata-kata itu bikin Aquilla naik darah. Dia berjinjit, lalu mengapit kepala Altair dengan kedua tangannya. "Bisa-bisanya lo bandingin gue sama cewek itu! Cantikan gue kali!"
"Omongan lo sakit banget, tahu nggak?" lanjut Aquilla. Dia melepaskan pegangannya, berjalan melewati Altair, lalu berbalik lagi karena emosinya sudah meluap.
"Gue capek, Al! Capek dibanding-bandingin terus," cerocos Aquilla dengan mata berkaca-kaca. "Gue ngerjain rumah, nungguin lo pulang tengah malam, tapi balasan lo cuma bilang gue burik dan Ruby lebih cantik? Gue tahu gue nggak sempurna, tapi gue ini istri sah lo! Hargain gue dikit kenapa sih?"
Suara Aquilla mulai serak. "Terus semalam... lo cium gue seolah lo sayang banget, tapi paginya lo pura-pura lupa. Lo pikir gue bego? Gue ingat semuanya! Gue bingung sama lo. Kadang bikin ngerasa spesial, tapi sekejap kemudian bikin ngerasa nggak berharga. Gue capek tarik-ulur kayak gini!"
Aquilla menutupi wajahnya, bahunya berguncang pelan.
Suasana mendadak hening. Altair terdiam, rahangnya mengeras. Kata-kata Aquilla benar-benar menghantam perasaannya. Padahal dia hanya bercanda.
Perlahan, Altair maju dan meraih dagu Aquilla, memaksa cewek itu mendongak.
"Udah?" tanya Altair pelan.
Aquilla mengangguk kecil. "Udah."
Tanpa aba-aba, Altair memegang tengkuk Aquilla lalu mendaratkan kecupan singkat tapi manis di bibirnya. Kali ini terasa tulus dan lembut.
Aquilla cengo seketika. "Al! Gila lo ya! Di depan umum!"
Altair malah tersenyum tipis, tapi tatapannya hangat. Dia menyalakan mesin motor. "Udah, naik. Nanti gue cium lagi kalau masih ngomel."
"Gak mau!" seru Aquilla, walau pipinya makin merah.
"Naik, atau gue gendong?"
Akhirnya Aquilla menyerah dan naik ke jok belakang. Dia memeluk pinggang Altair erat-erat sambil menyandarkan dagu di punggungnya.
Motor melaju pelan. "Udah baikan?" tanya Altair dari balik helm.
"Belum," sahut Aquilla ketus. "Tapi makasih udah mau dengerin."
"Cewek ini bikin gue gila, tapi gue nggak bakal biarin dia ngerasa rendah diri lagi," batin Altair.
Sementara Aquilla tersenyum tipis dalam hati, "Dia nyebelin, tapi kenapa tiap dia cium gue, dunia serasa berhenti ya?"