Sari Wulandari dibawa dari desa ke keluarga Pratama bukan sebagai putri yang disayangi, melainkan sebagai calon istri untuk Arga Pratama, pewaris kaya raya yang sudah dua tahun terbaring koma. Semua orang mengira ia hanya akan menjadi perawat di rumah megah itu.
Namun kamar Arga menyimpan rahasia yang tidak masuk akal: tirai bergerak tanpa angin, jimat tersembunyi di bawah seprai, dan sosok tak terlihat selalu mengawasi Sari. Setiap malam, pria koma itu datang ke dalam mimpinya dengan hasrat yang terlalu nyata.
Di balik pernikahan mendadak itu, keluarga elite lain menyembunyikan ritual penahan nasib yang mengorbankan hidup Arga. Sari yang polos hanya ingin merawat calon suaminya dengan baik, tanpa tahu bahwa sejak ia masuk ke rumah itu, sang hantu telah menganggapnya sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nguyệt Cầm Ỷ Mộng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
# Bab 17: Isi Hati Seorang Ibu
"Tante Pratama, menurut Tante gaun ini bagaimana? Jangan lihat modelnya agak muda. Menurutku sangat cocok untuk Tante!"
"Jaket itu kalau disampirkan di bahu Tante pasti lebih cantik daripada dipakai manekin."
"Tante, kulit Tante terawat sekali!"
Sejak saat itu, Livia seperti sengaja menyanjung Bu Pratama tanpa henti. Orang yang tidak tahu mungkin mengira yang perlu membeli pakaian adalah Bu Pratama. Livia sendiri seolah melupakan tujuan awal, sepanjang proses tidak pernah menyebut Sari.
Ia membuka mulut seperti mesin, lebih antusias daripada pegawai toko, sampai pegawai toko pun tidak bisa menyela dan seperti kehilangan pekerjaan.
Namun yang lucu, apa pun yang ia sodorkan kepada Bu Pratama, perempuan itu selalu memberikannya kepada Sari.
"Sari, coba yang ini."
"Ini juga boleh. Ambil sekalian."
"Kalau bicara soal kulit, Tante pikir kau bisa mulai merawat diri. Produk yang Tante pakai cukup bagus. Nanti Tante berikan kepadamu. Perempuan muda tetap harus lebih memperhatikan diri sendiri. Kalau kau semakin cantik, Arga pasti sangat suka. Tapi sebelum itu, sebentar lagi Tante ajak kau ke spa."
Sejak pertama kali, Sari sudah memutuskan menyerah untuk mengatakan bahwa ia merasa tidak cocok memakai barang-barang itu. Alasan ia merasa tidak cocok adalah karena terbiasa menilai dengan standar hidup lamanya. Namun kini ia menyadari dirinya perlu berubah.
Mungkin ia belum tahu apa yang ia butuhkan sekarang, tetapi ia bisa mendengarkan Bu Pratama. Jika Bu Pratama berkata bisa, berarti bisa.
Asal Bu Pratama berkata "Arga suka", Sari akan tanpa ragu mengangguk. "Baik, Tante."
Seolah Arga benar-benar bisa melihat dan menilai semuanya.
Namun sikapnya ini tanpa sengaja menyenangkan Bu Pratama, perempuan yang tidak pernah menganggap putranya sebagai tubuh tanpa jiwa.
Pertama kali Sari melakukan itu, Bu Pratama belum memperhatikannya. Ia hanya mengira Sari jujur, pengertian, patuh, tidak punya pendapat sendiri, karena sedang bergantung padanya. Baru saat ini Bu Pratama menyadari Sari benar-benar berpikir demikian. Sama seperti dirinya, Sari merasa putranya bisa melihat, bisa menikmati.
Bu Pratama tidak tahu mengapa Sari memiliki pemahaman itu. Namun bagi seorang ibu yang menyayangi anaknya, yang sudah menumpahkan begitu banyak air mata karena putranya hidup tidak seperti hidup, mati tidak seperti mati, yang tetap memperlakukan Arga seolah ia masih sehat seperti dulu meski orang berkata apa pun, sikap Sari menyentuh dasar hatinya dengan kuat. Bu Pratama merasa dirinya tidak sendirian di jembatan sempit itu.
Tiba-tiba Bu Pratama tersentuh. Ia menarik tangan Sari dan menepuknya. "Anak baik..."
Sari tidak mengerti mengapa perempuan itu tiba-tiba seperti ini. Namun ia tidak banyak berpikir. Ia malah takut Bu Pratama merasa tidak enak badan. "Tante kenapa?"
"Apa Tante lelah? Kita istirahat sebentar."
"Ya, ya."
Bu Pratama tidak menolak dan membiarkan Sari menuntunnya duduk di sofa tamu toko.
Pegawai toko sangat peka dan membawa air.
"Tante merasa tidak nyaman di mana? Kaki sakit? Aku cukup bisa memijat. Dipijat sebentar biasanya membaik."
"Baik. Merepotkanmu, Nak."
Meski tubuhnya sebenarnya sehat, Bu Pratama tidak menolak membiarkan Sari jongkok di dekat kakinya dan memijat. Tatapannya penuh kasih.
Interaksi mereka, di mata orang luar, terasa sangat hangat dan tidak dibuat-buat. Sulit bagi siapa pun untuk menyisipkan diri.
Justru karena itu, keberadaan Livia yang berlebihan semakin mencolok.
Ia sudah lama cemburu sampai tidak tahan karena sikap Bu Pratama kepada Sari. Kini melihat di mata Bu Pratama hanya ada Sari, ia semakin marah.
Jelas-jelas perempuan itu tidak melakukan apa-apa!
Lihat saja! Sikap rendahnya itu! Sebenarnya apa yang Bu Pratama anggap baik darinya?
Livia cemburu sampai matanya merah. Ia juga tidak rela dan memaksa masuk. "Tante, aku pijatkan bahu Tante, ya."
"Aku juga sering memijat bahu ibuku. Ibuku sangat suka."