Karena kebodohan keduanya, Anggun dan Alister berakhir tidur bersama. Padahal, keduanya adalah musuh bebuyutan, Alister adalah berandal, pengacau yang membuat Anggun selaku ketua OSIS selalu keluar masuk ruang BK demi menyelesaikan permasalahan nya.
Terjebak bersama dengan pria yang paling dibenci. Itu membuat Anggun menderita, apalagi keluarganya meninggalkannya dengan pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red Lily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria yang sama
“Baru pulang?”
Anggun kaget, sosok itu sudah ada di dalam apartemen, sedang merokok dan menonton TV. Lihatlah, betapa menyebalkannya wajah itu sampai ingin didepal oleh Anggun. Apalagi mata Anggun menangkap sebuah tas totebag dengan bordil yang menunjukan identitas dari sebuah universitas. oh astaga, dia juga kuliah? jadi selama dua minggu ini, dia sedang ospek juga?
Anggun mengenal kampus itu, salah satu kampus terkenal juga tapi beda dengannya.
“Kenapa liatin gue?” tanya Alister kini mengambil keripik kentang di meja. “Lu kenapa sih?”
“Badjingan,” ucapnya kemudian masuk ke kamar. Di sana Anggun menangis, meratapi nasibnya yang tidak bisa menggapai cita cita. Tagihan sudah ada di tangannya, mereka menginginkan Anggun mulai membayar kuliahnya. “Hiksss… Mama…” mencoba menghubungi sang Mama, tapi tidak diangkat juga.
Sebegitu kecewanya mereka pada Anggun? Padahal, Anggun adalah anak satu satunya. Telpon juga tidak diangkat. Anggun mengaku salah, tapi haruskah dirinya dibuang sampai cita citanya terputus?
Alister mendengar tangisan itu, dia menarik napasnya dalam dan mematikan rokok. Tanpa berucap apapun, Alister pergi dari apartemen. Suara pintu yang tertutup kencang menjadi pertanda kalau pria itu pergi.
“Mama… hiks… angkat telponnya…” anggun memejamkan mata, mencoba mencari kekuatan dari diri sendiri. sampai anggun melihat riwayat panggilan, ada nomor sang sekeretaris papanya. Anggun langsung menghubunginya saat itu juga. “Hallo?” alangkah senangnya ketika diangkat.
“Iya, Nona Anggun?”
“Pak, ada Papa saya di sana?”
“Tuan Wisnu sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar Negara bersama dengan Nyonya, Nona.”
“Pak, bisa tolong jemput saya gak ke sini? bapak sekarang ikut ke Bandung juga kan?”
“Saya sedang di Kalimantan, Nona. Akan ada proyek di sana, jadi kemungkinan akan disibukan di sana nantinya.”
“Bisa nyuruh orang jemput saya?”
“Maaf, Nona.”
Sepertinya, pria tua itu juga sudah dikendalikan oleh papanya dan diperintahkan untuk tidak membantunya. “Iya, makasih.” Anggun menatap nanar ponselnya. Ini kutukan dari dosanya yang mana? Karena Aluna rasa, selama dia menjabat jadi ketua osis, dia tidak pernah melakukan hal buruk pada orang lain.
***
Menangisi keadaan tentu tidak akan merubah apapun. Anggun keluar dari kamar untuk memasak mie instant. Tidak lagi mempedulikan suara pintu yang terbuka, biar saja Alister dengan dirinya sendiri. “Nih,” ucap pria itu tiba tiba menyimpan sesuatu di atas meja.
Anggun bahkan enggan menoleh.
“Buat bayar kuliah lu.”
Langsung berbalik dan melihat ada amplop berwarna cokelat. Anggun meraihnya dan melihat isinya adalah uang. “Darimana lu dapet duit sebanyak ini?” bicara dengan Alister dengan kasar, mengekspresikan rasa marahnya pada pria ini. padahal, Anggun bukanlah sosok yang seperti itu.
“Pake aja. beasiswa lu dicabut kan?”
Baru Anggun sadari kalau wajah Alister dipenuhi lebam. “Lu kenapa?”
“Gak papa, berantem sama orang gila di jalan tadi.” Dengan santainya dia mengambil sebotol air dingin dan duduk di sofa.
Anggun mematikan kompor, mungkin ini saat yang tepat untuk mengajak Alister berbicara. Sejak dulu saja, Alister selalu mengatakan kata kata menusuk dan menyebalkan jika terjebak di kantor.
“Lu dapet duit dari mana? Lu gak maling kan?”
“Sembarangan lu. Kalau lu lupa, gue kaya.”
Ah, ternyata pria ini masih mendapatkan aliran dana dari keluarganya. “Kenapa lu mau nikahin gue? Terlepas gue perawan atau enggak, masih banyak tuh cowok yang mau sama gue. Kenapa lu gak lawan ayah lu?”
“Kenapa gue gak lawan?” terkekeh sendiri. “Kenapa lu gak lawan juga? Siapa juga yang mau hidup sama lu. Gue udah lawan sekuat mungkin, tapi mereka itu keras kepala. Bokap lu nantang bokap gue buat bisa hidupin lu, dan bokap gue punya harga diri yang tinggi dan bersikap keras sama gue buat tanggung jawab. See? Mereka berdua sama sama keras, jadi sama sama ngorbanin anak.”
“Tau dari mana?” tanya Anggun dengan tajam. “Bokap gue gak gitu.”
“Gitu, buktinya dia sekarang buang lu kan? Biar gue yang tangung jawab.”
Keduanya saling menatap. Oh, Alister sendiri tidak mau terjebak situasi semacam ini. “Dah terima aja.”
“Sampe kapan? Gue mau cerai.”
“Kuliah dulu yang bener. Gue biayain lu.”
“Orangtua lu gak putus duit lu?”
Sebelum Alister menjawab, suara bel lebih dulu berbunyi. Ternyata delivery, Alister memesan dua bungkus nasi padang. “Nih, buat lu satu.”
Anggun langsung mengambilnya dengan cepat. Memang pria ini harus bertanggung jawab atas hidupnya. “Makan di sini aja. jangan makan di kamar.”
“Ogah, gue mending makan di kamar daripada liat muka jelek lu.”
“Ngaca lu, Lampir.” Alister sampai dibuat pusing oleh sikapnya, lebih parah dari saat menjabat sebagai ketua osis.
BRAK!
“Woy! Ini bukan hutan!”
Tapi diabaikan oleh perempuan yang sekarang masuk ke kamarnya. Baru juga Alister akan mengambil napas untuk makan, ponselnya berbunyi. Ingin marah, tapi sumber uang yang menelponnya. “Hallo?”
“Boss, balapan nanti malem oke gak?”
“Gass.”
***
Menggenggam uang tunai begitu banyak untuk pertama kalinya, Anggun menghitung. “Lumayan banyak.” Merasa tenang, semester ini dirinya aman. “Ck, ngapain khawatirin dia. Lagian dia tetep dapet duit dari bokapnya.”
Ingin bergegas berangkat ke kampus dan memulai hari baru. sayangnya, Anggun tidak punya uang ongkos. Uang yang Alister berikan ini pas dengan tagihan kuliah. “Gimana gue berangkat? Itu orang gak kasih duit lagi.”
Keluar dari kamar dan tidak melihat sarapan di atas meja, biasannya di sana selalu ada roti atau apapun itu. pintu kamar Alister juga tertutup, apakah pria itu masih tidur? sakit?
“Bodo amat,” ucap Anggun melangkah keluar dari sana. dia harus berangkat lebih pagi karena berjalan kaki. Rasanya begitu lelah, ternyata seperti inilah jadi orang serba kekurangan. Pasalnya, Anggun sedikit heran. Alister itu kaya dan setara dengannya, kenapa dia tidak memberikannya kartu kredit atau tinggal di rumah yang besar? “Kayaknya dia emang pengen gue menderita aja. hahaha.”
TINNN!
“Emak!” refleks Anggun kaget, dia menoleh ke belakang.
“Naik, gue anterin lu.”
“Lu gak ada kerjaan banget sih bikin gue kaget mulu. Dasar, Setaaan!”
“Naik cepetan, atau mau dikejar anjing?”
“Hah?” anggun menoleh ke belakang, matanya membulat melihat ada segerombolan anjing yang lepas. Dengan cepat, dia naik ke motor Alister dan memeluknya. “Cepetan!” sampai refleks menepuk nepuk helm nya.
***
To be continue
Komentarnya?