Hanya cerita fiksi
Tidak terkait dengan agama manapun
maaf jika ada yang kurang berkenan 🙏
Bella Amanda awalnya adalah gadis cantik yang begitu periang. Tapi sikapnya lambat laun berubah ketika orang-orang membandingkan dirinya dengan adiknya sendiri yang katanya lebih cantik, lebih pintar dan lebih segala-galanya.
Bukan hanya itu Bella juga harus menelan pil pahit saat suaminya dengan tega bermain belakang dengan Belinda, adiknya sendiri dan diharuskan menikah.
Sanggupkah Bella tetap bertahan dengan pernikahannya atau memilih menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon airarahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan
Sore hari menjelang petang Bella baru menyelesaikan pekerjaannya. Erlan sudah menunggu di ruang tamu kantor Bella dari tadi. Mereka akan makan malam sepulang kerja.
Sebelum menemui Erlan, Bella sudah merapikan penampilannya di toilet. Serta tidak lupa menyemprotkan parfum mahal karena dia tidak sempat mandi. Dia tidak mau nanti terlihat jelek di depan Erlan.
Bella memang bukan gadis yang suka memakai make-up, tapi dia tetap rajin perawatan ke spa atau salon demi merawat kulitnya. Dia juga rutin treatment di klinik kecantikan. Tak heran kulitnya begitu glowing dan sehat.
Sekali melihat orang akan tau kalau Bella berasal dari kalangan berada. Karena selain cantik dan terawat, barang-barang yang dipakai pun juga ber merek.
Sambil menunggu Bella bersiap, Erlan membaca majalah yang ada di ruang tamu tersebut. Majalah perusahaan yang menampilkan profile direktur serta jajaran petinggi lainnya. Disana juga terpampang foto Bella yang sangat cantik.
Di majalah itu rambut Bella di curly, menggunakan make-up natural ala korea yang sangat cocok dengan wajah cantiknya.
Dia mengenakan kemeja berwarna merah yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Erlan sampai tidak bisa berpaling melihat penampilan calon istrinya di majalah tersebut.
"Nanti aku akan minta papa Daniel untuk tidak memakai foto Bella lagi di majalah perusahaan. Bisa-bisa ada staff yang menyimpan majalah ini untuk koleksi pribadi. Bella sangat cantik disini" gumam Erlan pelan.
"Bagaimana gadis secantik ini bisa tidak pernah berpacaran?" guman Erlan lagi. Dia tersenyum saat mengatakan itu.
"Aku memang sangat beruntung" ucapnya pula.
Tak lama setelah itu Bella pun datang menghampiri Erlan. Wajahnya sangat berseri karena dia sudah mencuci muka tadi. Aroma parfume mahal menguar dari tubuhnya dan Erlan sangat suka akan hal itu.
"Sayang...maaf ya menunggu lama. Pekerjaanku baru selesai" ucap Bella yang merasa bersalah karena Erlan menunggu lebih dari setengah jam.
Erlan berdiri dan mengelus lengan Bella.
"Tak apa, mas juga disini di temani cewek cantik" goda Erlan.
"Benarkah? Siapa?" tanya Bella tersenyum karena menganggap itu gurauan semata.
Erlan terkekeh, rupanya Bella sudah tau bahwa Erlan hanya bercanda saja.
Erlan kemudian memperlihatkan majalah yang tadi dia baca.
"Mas ditemani gadis cantik ini" tunjuk Erlan sambil memperlihatkan foto Bella yang terpampang dimajalah tersebut.
Bella tertawa kecil melihat tingkah konyol calon suaminya itu.
"Lain kali mas akan minta papa untuk tidak memakai foto sayang lagi. Mas cemburu" ucap Erlan serius. Wajahnya menunjukkan kalau dia benar-benar serius dengan perkataannya.
Bella kembali tertawa.
"Aku juga tidak suka tampil dimajalah sayang. Itu terpaksa karena harus" cerita Bella.
"Ya ya...pokoknya selanjutnya tidak boleh" tegas Erlan. Belum apa-apa dia sudah sangat posesif. Apalagi kalau sudah menikah nanti?.
"Iya, ayo kita jalan. Nanti kemalaman" ajak Bella sambil melingkarkan tangannya di lengan Erlan.
Erlan tersenyum mendapat perlakuan tidak terduga dari Bella.
Dia toel hidung Bella dengan gemas.
"Ayo, mas juga sudah lapar" sahut Erlan.
Mereka berdua pun berjalan dengan tangan Bella yang masih bergelayut di lengan Erlan.
Daniel yang melihat dari jauh pun tersenyum. Dia senang karena putrinya menerima perjodohan itu. Awalnya Daniel ragu Bella akan menerima perjodohan ini mengingat sifat putrinya yang tertutup dan susah dekat dengan orang itu. Tapi siapa sangka Bella bisa seakrab itu dengan Erlan.
"Terima kasih Erlan sudah mengembalikan putriku seperti semula" ucap Daniel dalam hati.
...
Erlan dan Bella sudah tiba di Palmelo Restoran. Restoran yang menyediakan berbagai macam steak , pizza dan spaghetti. Minuman yang disediakan juga beragam. Dan yang paling terkenal dan best seller disana adalah ice cream nya. Ice cream yang memiliki potongan buah asli tetapi sama sekali tidak asam dan terasa segar di mulut.
Erlan yang tau bahwa Bella menyukai es krim langsung mencari restoran yang memiliki es krim terenak dan Palmelo lah pilihannya.
Saat menunggu pesanan datang tanpa sengaja Erlan menangkap sosok adiknya yang sedang duduk di pojokan seorang diri sambil menyantap desertnya.
Finn makan dengan tatapan kosong dan tidak bersemangat.
"Ada apa sebenarnya dengan dia?" batin Erlan.
"Sayang, tunggu sebentar ya. Mas mau nyapa Finn sebentar" kata Erlan pada Bella.
"Mas Finn disini?"tanya Bella sambil celingukan.
Erlan mengangguk.
"Kamu disini aja ya, nanti pelayannya bingung nyariin kita" ucap Erlan beralasan. Padahal yang sebenarnya terjadi dia tidak ingin Bella berjumpa dengan Finn. Erlan takut Bella jatuh hati pada adiknya itu karena walaupun Finn irit bicara tapi dia sangat tampan. Tubuhnya pun sedikit berotot tapi tidak berlebihan. Bentuk tubuhnya mirip artis-artis korea yang tinggi dan memiliki roti sebek di perut.
Mau tidak mau Bella pun mengangguk setuju walau sebenarnya dia takut terlihat tidak sopan karena tidak ikut menyapa.
Erlan mengelus pipi Bella kemudian menghampiri adiknya. Bella ikuti Erlan dengan matanya. Dia ingin melihat cara Erlan menyapa adiknya walau dia tidak dapat mendengar percakapan mereka karena tempat duduk Finn letaknya cukup jauh.
"Sendiri saja?" tanya Erlan lalu duduk di depan adiknya.
"Eh, Kamu disini?" tanya Finn terkejut. "Sama Bella?" tebak Finn yang langsung celingak celinguk mencari keberadaan Bella.
Bella yang memang memperhatikan dari jauh langsung mengangguk seraya tersenyum saat pandangannya bertemu dengan Finn.
Finn pun membalas dengan mengangguk tanpa tersenyum.
"Aku gabung ya?" pinta Finn tak terduga.
"Jangan aneh-aneh ya, aku itu sedang kencan" protes Erlan.
"Kan cuma ikut makan, bukan gangguin" sahut Finn semakin tak terduga.
"Enak saja, pulang sana" usir Erlan pada adiknya.
"Ck, memang restoran ini punya mu?" protes Finn kesal.
"Pokoknya kamu tidak boleh gabung sama kami" ucap Erlan tak terbantahkan
Finn mendengus sebal.
"Sudah sana kembali sama calon istrimu" usir Finn pada kakaknya itu. Dia memang tidak pernah memanggil Erlan dengan sebutan kakak.
"Awas ya nanti kalau kamu menghampiri kami" ancam Erlan saat bangkit dari duduknya. Dia serius saat mengatakannya.
"Iya" jawab Finn cepat dan ketus.
Erlan tersenyum.
"Terima kasih" ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan meja adiknya itu. Dia bahkan menepuk-nepuk pundak Finn pelan saat mengatakannya.
Saat Erlan sudah pergi , Finn mengepalkan tangannya. Dia sedikit kesal melihat sifat Erlan yang seperti anak kecil. Belum apa-apa sudah begitu posesif.
Bersambung...