Nazifah Elyana, gadis berusia 19 tahun yang harus menerima takdirnya yaitu menjadi istri kedua setelah dinodai oleh majikannya sendiri.
Apakah akan ada cinta setelah pernikahannya? Bagaimana perjalanan cinta Nazifah yang terpaksa menjadi simpanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung Jawab?
David yang mengikuti Adam dari belakang itu terus bertanya apa yang terjadi dan Adam tidak menjawabnya.
Pria itu ingin segera sampai di rumah sakit terdekat.
Dan setibanya di rumah sakit, Adam berteriak memanggil dokter.
Selama menunggu tindakan, David yang terus berada di sisi Adam itu kembali menanyakan apa yang terjadi dan kali ini Adam mencengkeram kerah kaos David.
"Ini semua salah lo! Ide gile lo! Seandainya gue enggak nurutin mau lo, ini semua enggak akan terjadi!" bentak Adam tepat di depan wajah David.
"Kita sama-sama setuju, kenapa sekarang lo nyalahin gue, hah?" David melepaskan tangan Adam yang ada di kerah kaosnya.
David tidak akan mau disalahkan, apalagi yang jelas-jelas telah berbuat adalah Adam.
"Kalau dia mati gimana?" Adam pun mulai panik.
"Kita buang jazadnya!" ucap David dengan pelan, ia tidak ingin ada yang mendengar rencananya.
Adam pun menatap tak percaya pada sahabatnya itu. Ia merasa sangat bersalah dan berdosa.
Membayangkan setiap tangisan dan jeritan Nazifah yang sempat mengiba dan dirinya mengacuhkannya.
Adam hanya memikirkan kepuasannya sendiri dan sekarang penyesalan itu datang.
Adam yang merasa frustasi itu terdiam, ia duduk di bangku panjang dan memikirkan ucapan David.
Menimbangnya dan Adam memilih untuk bertanggung jawab apapun yang terjadi nanti.
Adam tidak ingin menyelesaikan masalah saat ini namun menambah masalah di kemudian hari.
"Lamborghini gue gimana?" tanya David yang masih memikirkan nasib mobil kesayangannya.
"Persetan sama mobil lo!" ucap Adam seraya menatap David tajam.
David seolah sedikit merasa lega karena Adam terlihat tidak tertarik lagi dengan mobil yang David janjikan.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruang tindakan dan menanyakan kerabat pasien.
Adam segera berdiri dan mengatakan kalau dirinya adalah suaminya, ia tidak ingin kasus pemerkosaan itu menjadi panjang dan memilih untuk berbohong. Dokter itu sempat ragu, tetapi ia melihat ada cincin kawin melingkar di jari Adam.
Dokter pun mengira kalau keduanya sedang bertengkar atau mengalami masalah keluarga.
Dokter menjelaskan kalau Nazifah selamat dan sekarang dalam pengaruh obat. Adam diminta untuk membantu mendorong brangkar Nazifah untuk dipindahkan ke ruang rawat.
Seraya mendorong brangkar tersebut, Adam hanya menatap Nazifah yang seperti tertidur pulas.
****
Malam ini, Adam menitipkan Nazifah pada suster, ia pergi ke rumah seseorang yang dianggapnya cukup bijaksana. Adam ingin meminta nasehatnya dan siap menerima amarahnya.
Begitu pun dengan David, ia bergegas pulang, sesampainya di apartemen ia langsung membereskan bekas pecahan beling dan darah yang menetes di lantai.
Di saat itu juga, David melihat noda darah di sofa. David meyakini kalau darah yang di sofa itu adalah darah perawan Nazifah. Ia pun akhirnya mengerti kalau di dunia ini masih ada gadis polos yang menjaga kesuciannya.
"Pantesan Adam ngotot!" batin David. Ia pun mulai sedikit memikirkan nasib Nazifah yang hampir mati itu.
****
"Papah!" teriak Adam yang baru saja masuk ke rumah mewah Adli dan yang keluar adalah Sabrina, istri baru Adli.
"Papah kamu sudah istirahat, ada perlu apa kamu malam-malam seperti ini?" tanya wanita seksi yang sedang menuruni tangga.
"Saya ada perlu sama papah, bukan sama kamu!" jawab Adam yang kemudian berlari menuju ke lantai atas untuk mencari Adli.
"Enggak pernah berubah!" kata Sabrina seraya memperhatikan Adam yang berlari ke kamar Adli.
Terlihat, Adli baru saja keluar dari kamar mandi saat Adam membuka pintu kamarnya.
"Adam, ada perlu apa malam-malam seperti ini?" Adli merasa ada yang tidak beres, apalagi Adli melihat kaos Adam memiliki noda darah.
"Pah, ikut Adam sekarang! Adam cuma percaya sama papah!" kata Adam seraya mendekat dan menarik lengan Adli.
Adli yang sudah berpakaian siap untuk tidur itu pun mau tidak mau menurutinya.
Adam meminta padanya untuk segera masuk ke mobil dan Adam membawa Adli ke rumah sakit.
Di perjalanan, Adam menceritakan semua tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan.
Adli pun memerintahkan Adam untuk menepi, Adli yang terkejut dan kecewa itu menampar putranya. Menarik kerah kaos anaknya.
"Sejak kapan kamu jadi tidak bermoral?" geram Adli dan Adam pun hanya terdiam, ia tidak menjawab dan Adli menanyakan umur gadis itu.
"Masih belia," lirih Adam.
Dan Adli merasa sakit kepala, ia merasa anaknya sudah tidak waras.
Adam yang hanya dapat mendengarkan omelan dari Adli itu melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di rumah sakit, Adam segera masuk ke ruang rawat Nazifah dan ternyata gadis itu sudah siuman.
Nazifah memunggungi Adam, ia merasa jijik dan benci melihat pria itu, air matanya terus membasahi pipinya.
"Ibu...," lirih Nazifah dalam hati.
Dan yang dipanggil pun merasa tidak enak hati, di kampung, Mirah terus mencoba menghubungi Nazifah yang tidak dapat dihubungi karena ponsel Nazifah tertinggal di kamarnya.
Itu membuat Mirah dan suaminya menjadi cemas, lalu, Mirah pun menghubungi Marwah.
"Mungkin sedang sibuk, namanya kerja di kota, banyak kerjaan," jawab Marwah.
"Tolong, besok lihat keadaan anakku, Wah! Aku cemas tanpa kabar darinya!"
"Iya, besok akan Marwah hubungi ibu lagi, ya!" Setelah itu, Mirah pun menyudahi teleponnya.
****
"Zifa!" panggil Adam dari belakang ia ingin meminta maaf dan Nazifah tidak menjawab, ia menangis sesenggukan.
Adam meraih lengan Nazifah dan itu membuat Nazifah histeris, ia teringat dengan kejadian yang baru saja dialaminya.
"Jangan sentuh saya! Pergi! Saya enggak mau lihat wajah Tuan!" teriak Nazifah seraya berusaha melepaskan infus yang menancap di punggung tangannya.
Adam pun akhirnya mengalah.
"Zifa, tenang! Tenang dulu, oke... oke, saya keluar! Tapi tolong jangan lukai diri kamu lagi!" Adam mencoba menenangkan Nazifah dan Adam yang baru saja sampai di pintu itu mendengar suara teriakan Nazifah yang memanggil ibunya.
"Ibuu!"
Nazifah pun kembali menjatuhkan dirinya di brangkar. Ia yang masih lemas itu kembali pingsan.
Adli yang menyaksikan itu merasa iba dengan korban kekerasan anaknya. Adli pun meminta pada Adam untuk bertanggung jawab.
"Pah, gimana Adam mau tanggung jawab! Adam dekati saja dia histeris! Belum lagi mamah! Mana mau mamah punya menantu mantan asisten Adam," jawab Adam yang merasa bingung.
"Itu tanggung jawab kamu! Berani berbuat harus bertanggung jawab! Atau papah laporkan kamu ke polisi!" kata Adli yang kemudian pergi meninggalkan Adam di rumah sakit.
Setelah kepergian Adli, Adam memilih segera memanggil dokter untuk Nazifah.
****
Di rumah, Rima mencari-cari Adam.
Dan Titin yang mendapatkan pertanyaan itu menjawab kalau Adam pergi dengan Nazifah.
"Untuk apa mereka pergi bersama?" tanya Rima dalam hati.
Setelah itu, Rima pun menyuruh Titin untuk keluar dari kamarnya.
"Adam... Adam. Kemarin Vita, sekarang Nazifah, apa tidak ada selera kamu sama anak-anak teman mamah? Mereka lebih berkelas dibandingkan dengan para pekerja mu!" ucap Rima seraya mengambil anggur dalam gelas yang baru saja Titin siapkan.
Rima pun mencium gelagat anaknya, ia merencanakan sesuatu untuk Nazifah.
Rencana apa itu?
Bersambung.
Like dan komen ya all.
Jangan lupa vote gratisnya ☺
Dukungan kalian adalah semangat ku.
lagian..nazifah jg hamil...
sukses
semangat
mksh
Di tunggu karya² bucin selanjutnya🥰
Semangat mbk Mal😍😍