NovelToon NovelToon
Telat Nikah?

Telat Nikah?

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Lin_iin

Aku tidak peduli meski kini usiaku sudah menginjak angka 27 tahun. Yang katanya jika perempuan sudah berumur 27 tahun artinya Tuhan sudah angkat tangan dalam mengurusi jodohku. Aku juga tidak terlalu pusing dengan cibiran tetangga maupun Ibuku sendiri yang mengatakan diriku sudah terlalu tua, hanya untuk menjalani hubungan layaknya anak SMA yang masih saja pacaran.

Ibu bilang, alasanku tidak segera menikah karena aku yang tidak serius menjalin hubungan dengan Kenzo, pacarku. Padahal itu tidak benar. Aku serius, sangat serius malah menjalin hubungan dengannya.

Aku hanya belum siap. Ya, hanya belum siap, kami hanya butuh waktu untuk membuat kami yakin untuk naik ke pelaminan.

Menikah itu tentang kesiapan mental. Aku jelas tidak ingin menikah di saat mentalku belum siap. Aku tidak ingin ketidaksiapan mentalku mempengaruhi keluarga kecilku kelak. Tidak perduli jika usiaku sudah masuk kategori telat menikah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lin_iin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesal

****

"Mbak, di bawah ada Mas Kenzo."

Aku langsung mengangkat kepalaku dan menoleh ke arah pintu, dan menemukan Sandra di sana. Keningku mengerut bingung, Kenzo ke sini tapi nunggu di bawah, nggak langsung naik ke atas, terdengar tidak biasa.

"Kenapa nggak kamu suruh naik aja?" tanyaku heran.

Biasanya Kenzo memang langsung naik ke lantai atas saat kemari, tidak pernah menunggu di bawah, ia lebih suka menunggu di ruanganku.

"Aku kurang paham sih, Mbak, coba cek ponsel Mbak Qilla dulu! Kali aja Mas Kenzo tadi sempet ngabarin."

Sesuai saran Sandra, aku pun meraih ponselku dan menemukan dua buah pesan WhatsApp dari Kenzo.

My Luv Ken💞:

Jalan2 yuk, kangen kamu😍.

Aku jemput.

Oke😉

My Luv Ken💞:

Aku udah sampai.

Aku tunggu di bawah aja🙏😗

Aku mengangguk-ngangguk setelah membaca pesan dari Kenzo. Kemudian menoleh ke arah Sandra lagi.

"Bilangin sama Kenzo aku siap-siap dulu, soalnya aku baru buka hape."

"Oh, oke, Mbak."

Tak lama setelahnya Sandra langsung menghilang di balik pintu, sementara aku memilih untuk segera berganti pakaian. Sekalipun Kenzo ini masuk kategori pria penyabar, tapi ia cukup rewel jika disuruh menunggu perempuan berdandan. Mulutnya bisa nggak berhenti mengeluh jika tahu saat ini aku masih membereskan sketsa desainku.

Setelah kurasa sedikit lebih rapi, aku pun langsung berlari ke kamar mandi untuk mencuci mukaku, baru kemudian berlari menuju kamar untuk berganti pakaian. Setelah siap, aku pun langsung keluar dari kamar dan menemukan Kenzo sedang berada di depan kulkas. Mungkin ia merasa haus.

"Cepet banget," celetuknya sambil menutup botol air mineral yang habis diteguknya. Terdengar jelas kalau sedang menyindirku.

"Maaf," sesalku tak enak. "Aku baru buka hape setelah kamu udah ada di bawah."

"Kebiasaan. Makanya hape kamu dikasih nada dering dong, biar kalau ada telfon penting bisa langsung ke kamu, nggak melalui Sandra terus," omel Kenzo terlihat kesal.

Itu emang kebiasaanku yang nyaris tidak pernah memasang nada dering di ponselku karena malas dengan bunyinya yang berisik. Dan aku lebih suka memasang mode getar saja, atau bahkan sesekali kupasang mode diam kalau benar-benar tidak ingin kuganggu.

"Maaf, sayang, lain kali nggak lagi."

"Aku pikir kamu itu ngambek karena bikin kamu kemarin pergi kondangan sendirian tahu," ujar Kenzo sambil menghela nafas pendek.

Aku langsung menggeleng lalu berlari kecil ke arahnya, baru kemudian memeluknya.

"Aku bukan anak ABG lagi, Ken, masa iya masih ngambekan."

Bukannya langsung luluh, Kenzo justru malah mendengkus. Pura-pura memasang wajah enggan kupeluk.

"Bukan ABG tapi nggak mau diajakin nikah," gerutu Kenzo masih dengan ekspresi yang sama seperti tadi.

Tubuhku tiba-tiba menegang mendengarnya. Pelukanku pun mengendur dengan spontan. Aku merasa seperti ditampar dengan kalimatnya barusan. Aku yakin betul Kenzo tidak sadar dengan kalimatnya barusan, dan itu membuatku makin bersalah karena tanpa kusadari sisi terdalamnya sudah sangat menginginkan pernikahan, tapi demi menjaga perasaanku ia mengubur keinginannya begitu saja. Dan itu membuatku bertambah kecewa. Kecewa terhadap diriku sendiri, lebih tepatnya.

"Ken," panggilku lirih dan juga pelan.

"Ya?"

"Kamu pasti menderita ya," ujarku sambil tersenyum miris.

"Astaghfirullah! Kamu jangan mulai ya, La. Aku nggak suka. Harus berapa kali sih aku bilang sama kamu, kalau aku bahagia sama kamu. Dulu, kemarin, besok, dan masa yang akan datang. Aku bahagia, sayang. Plis! Jangan kayak gini, oke, aku minta maaf kalau bercandaku tadi keterlaluan."

"Ken, jalan-jalannya bisa kapan-kapan aja nggak. Aku tiba-tiba kayak nggak enak badan gini deh."

"Kamu marah?" tanya Kenzo tanpa menaikkan nada suaranya, tapi tangan kanannya menahan lengan kiriku agar aku tidak bisa menghindarinya.

Dan aku hanya mampu menjawab dengan gelengan kepala pelan.

"Iya. Kamu marah, Aqilla. Kamu kecewa sama kalimatku tadi. Iya, aku tahu aku salah, ak--"

"Enggak, kamu nggak salah," potongku cepat sembari menggelang tegas. Sekuat tenaga aku menahan diri agar tidak menangis. "Di sini aku yang salah," lirihku kemudian.

Dapat kudengar dengan jelas Kenzo mengeram frustasi dengan sikapku saat ini.

"Oke. Di sini nggak ada yang salah, kamu nggak salah. Aku pun nggak salah. Biar adil."

Aku menggeleng, "Kamu udah pengen nikah, Ken," ucapku dengan suara bergetar.

"Ya, aku emang udah pengen," kata Kenzo lantang, dapat kulihat rahangnya yang mengeras karena sedang menahan emosi. "lalu kenapa?  Itu perasaan wajar, La. Siapa sih yang nggak pengen nikah? Aku, kamu, atau siapa pun orang yang ada di luaran sana juga pengen nikah. Tapi aku nggak pengen nikah sekarang, La. Aku pengennya nikah di saat kamu udah siap, bukan ingin menikah sekarang atau dalam waktu dekat."

"Justru karena itu, Ken. Karena itu bikin aku ngerasa bersalah."

"Aku juga merasa bersalah kalau kamu begini terus. Aku juga ngerasa bersalah karena belum bisa bikin kamu yakin. Ak--"

Aku mendesah frustasi, "Obrolan kita nggak akan berakhir jika terus begini. Mending kamu pulang."

"Aku minta maaf. Aku serius nggak ada mak--"

"Buat nyakitin aku?" potongku meneruskan kalimatnya dengan cepat.

Kenzo mengangguk membenarkan.

"Tapi kamu udah terlanjur nyakitin aku dengan kalimat kamu tadi, Ken. Dan aku mungkin akan semakin sakit kalau kamu nggak ngasih kesempatan aku buat berpikir dan juga nenangin diri. Kamu boleh sebut aku egois, toh, aku emang begitukan?"

"Apa aku tidak cukup mampu untuk nenangin kamu?"

Aku menggeleng samar, "Tidak. Tidak untuk sekarang. Kasih aku waktu. Aku perlu berpikir, Ken. Tidak selamanya kamu harus memaklumi ajakan nikah yang aku tolak. Kita harus nyari penyebabnya, Ken."

Rahang Kenzo terlihat mengeras, seperti tidak terima dengan kalimat yang ku ucapkan barusan.

"Kamu berencana untuk menghakhiri hubungan ini?" tanyanya dingin.

Dan dengan tegas, aku langsung menggeleng.

"Enggak, Ken. Nggak ada rencanaku untuk mengakhiri hubungan ini."

"Syukurlah. Aku lega mendengarnya," ujar Kenzo sambil tersenyum. "Boleh peluk sebelum aku pulang?"

"Tentu," balasku yang langsung memeluknya dengan erat.

"Sayang kamu," bisik Kenzo kemudian mengecup puncuk rambutku.

"Aku tahu," balasku kemudian melepaskan pelukan kami.

"Kalau udah ngerasa lebih baik, kabarin aku ya," ucapnya sebelum menuruni anak tangga.

Aku hanya mengangguk dan melambaikan tanganku, guna mengintruksinya agar segera pulang.

Ahh, kenapa perasaanku jadi tidak enak gini, ya?

*****

"Aku tadi hampir berantem hebat sama Kenzo."

Monik dan juga Lina langsung saling bersitatap setelah mendengar kalimatku, sebelum akhirnya menatapku dengan pandangan bingung.

"Karena?" tanya Monik lebih dulu.

Aku menghela nafas lelah. Dadaku rasanya seperti sulit untuk bernafas jika mengingatnya. Pertanyaan 'kenapa aku masih meragukannya' terus berputar di otakku. Padahal aku merasa sudah sangat cocok dengan Kenzo, tapi jika untuk menikah, entah kenapa aku selalu meragukannya.

Kenapa ini terjadi padaku?

"Menurut kalian?"

Aku terlalu malu untuk mengakuinya.

"Kita bukan mbah dukun kali, La, yang bisa nebak-nebak gituan," gerutu Lina kesal. Mulutnya masih sibuk mengunyah camilan buah-buahan yang dibawanya, sembari sesekali menyesap jus melonnya.

"Kenzo kasih kode," gumanku lirih dengan kepala menunduk.

"Ngajak nikah?" tebak Monik tanpa ragu.

Sambil tersenyum kecut, aku mengangguk, "Kurang lebih begitu," kataku kemudian.

"Gini deh, La, pertama aku mau tanya dulu. Apa sih yang bikin kamu ragu sama sosok sesempurna Kenzo? Kasih tahu kita!"

Aku hanya mampu menggelengkan kepala tanda tak tahu, karena aku sendiri pun tidak tahu kenapa bisa meragukan sosok yang hampir sempurna seperti Kenzo.

Dan dapat kudengar helaan nafas pendek dari Lina mau pun Monik setelahnya.

"Kamu sayang sama Kenzo?"

Aku mengangguk yakin sebagai tanda jawaban.

"Cinta?"

"Hmm." Aku hanya berdehem sembari mengangguk samar.

"Kamu ragu, La?"

Aku menggeleng, "Aku nggak tahu. Yang jelas kalau untuk menikah dengannya, aku memang belum yakin. Aku masih ragu."

"La, kalau aku bilang mending kalian break dulu, deh. Kasih waktu buat sen--"

"Kenzo nggak akan setuju." Aku menggeleng tegas dengan ide yang Monik lontarkan barusan.

"Belum dicoba mana tahu sih, Neng," celetuk Lina cuek.

"Tapi aku ngerasa hubungan kalian udah nggak sehat sejak lama, tapi kalian abaikan. Kamu ngerasa gitu nggak sih, La?"

Aku diam. Tak tahu harus merespon bagaimana. Karena kalau dipikir-pikir, apa yang diucapkan Lina ada benarnya juga. Apa memang sejak awal hubunganku dengan Kenzo itu memang salah?

"Kalian perlu waktu buat mikirin hubungan ini lebih serius, La. Hubungan kalian nggak ada kemajuan dari entah kapan tahun lho. Kalian nggak bisa kalau gini terus. Jangan menyiksa diri! Kalian harus bikin keputusan, jangan cuma minta Kenzo nunggu kamu siap doang."

Aku terdiam meresapi setiap kata yang terlontar dari mulut Lina. Ku pandangi wajah Lina dan Monik secara bergantian, sementara otakku berusaha berpikir keras.

"Udahlah, La, kawin sono sama Kenzo! Nunggu apaan sih? Keburu tua ntar kalian. Meski sekarang udah sama-sama tua sih."

Lina langsung mengeplak lengan

Monik, saat Ibu satu anak ini mengeluarkan pendapatnya. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan keduanya. Setidaknya ini bisa jadi hiburan dan juga pengalihan atas masalah yang menimpaku dan juga Kenzo.

"Eh, eh, La, lihat pria ganteng yang pake baju garis-garis, yang duduk di pojokan deket jendela itu deh. Yang ngelihat ke arah sini. Mukanya kok kaya nggak asing ya?"

Aku langsung memusatkan perhatianku ke arah pria yang Monik maksud. Kedua mataku langsung membulat secara spontan saat melihat siapa yang dimaksud.

Astaga. Itu kan Kakaknya Arisha.

"Oke juga," komentar Lina cuek. "Kalian saling kenal?" sambungnya bertanya dengan sedikit penasaran, saat Kakak Arisha tersenyum ke arah kami dan ekspresiku berubah kesal.

"Enggak," ketusku kemudian.

"Masa? Orang jelas-jelas pria itu senyum ke arah sini kok. Aku dan Monik juga nggak ngerasa kenal." Lina memicingkan kedua matanya tak percaya.

"Eh, bentar, bentar! Kalau dilihat dari ekspresi Qilla sekarang, kayaknya gue inget deh itu cowok siapa."

"Siapa?" Lina menoleh ke arah Monik penasaran.

"Yang kemarin kan?" tanya Monik sambil tersenyum aneh di mataku.

"Apaan sih? Nggak jelas," sungutku kesal dengan ekspresi milik Monik saat ini. "Udah ah, mending aku pulang," lanjutku sambil meraih dompet dan juga ponselku, kemudian berdiri.

"Ah, bener cowok yang ngasih kamu air minum kemarin pas nunggu aku. Iya, kan? Jadi kalian ada something nih?"

Aku menatap Monik sinis, "Mo, cari kegiatan lain deh selain nontonin drama Korea," saranku kemudian.

"Kenapa? Orang drama korea itu seru tahu. Lo belum ngerasin aja sensasinya, makanya bilang gitu."

"Terserah. Aku pulang duluan," pamitku langsung meninggalkan mereka.

Aku merasakan tangan kiriku dicekal saat hendak membuka pintu mobilku. Membuatku hampir memukul orang yang mencekal tanganku tersebut.

"Ini saya Reynand," seru Kakak Arisha yang tak ingin melepaskan tanganku. Membuatku marah dengan sikap tak sopannya.

"Apa maumu?" seruku bertanya dengan galak.

Bukannya takut atau yang lainnya, Kakak Arisha ini justu tersenyum. "Menyapamu," ucapnya tanpa dosa.

"Menyapaku?" ulangku.

Apa? Menyapaku? Dengan cara seperti itu?

Astaga!

Aku mendengkus tak percaya kemudian menggeleng.

Reynand kembali tersenyum kemudian mengangguk, "Kita bertemu kembali. Bukankah ini seperti takdir?"

"Kamu bercanda?"

"Tentu saja tidak." Reynand menggeleng.

Aku memandangnya tak percaya dengan sifatnya yang seperti orang kurang waras ini, merasa sedikit kasian juga dengan Arisha yang punya Kakak kelakuannya begitu.

"Baiklah, terserah anda mau bilang apa, yang jelas saya harus segera pulang. Jadi bisa anda lepaskan tangan saya Tuan Reynand Pramuji?"

Dengan gerakan spontan Reynand langsung melepaskan tanganku, bahkan ia mengangkat kedua tangannya ke atas.

"Oke, saya lepaskan."

"Baik. Terima kasih dan selamat ti--"

Belum selesai aku melanjutkan kalimatku, Reynand kembali mencekal tangan kananku yang hendak membuka pintu mobil.

"Ayolah! Jangan ucapkan selamat tinggal. Minimal ucapkan sampai bertemu lagi. Kenapa kamu kejam sekali," gerutunya sembari melepaskan tanganku kembali.

Ekspresinya terlihat sedikit lucu kalau aku boleh jujur, mungkin jika perkenalan kita normal dan dia tidak bersikap menyebalkan, aku akan mencubit pipinya karena gemas.

Astaga. Apa yang baru saja kamu pikirkan Aqilla?

Sadarlah!

Kamu sedang dihadapi masalah serius dengan Kenzo, sekarang bukan saatnya untuk berpikir mencubit pipi orang.

"Maaf, saya rasa saya tidak punya urusan yang membuat saya harus bertemu dengan anda kembali. Kalau begitu saya permisi," ketusku yang langsung memilih masuk ke dalam mobil. Mengabaikan Reynand yang terlihat kesal dengan sikapku.

Ck. Salah sendiri cari perkara denganku. Rasakan!

Tbc,

1
Sheety Saqdiyah
gaya bahasa & penulisannya ok, jd nyaman bacanya..
sayangnya baru nemu di penghujung tahun ini..
Ulil Baba
kalau gk gitu nikah udah lama tapi belum hamil pasti banyak yang tanya gitu udah bati durung /udah isi belum,, gimana perasaan mu
Jessica
Luar biasa
Lia Kiftia Usman
itu bedanya rey dan kenzo...
Lia Kiftia Usman
gpp kali...harga menunjukkan kwalitas Alhamdulillah uang hilang gantinya ruko daripada uang hilang ikutan 'judol'..ups🤭
Lia Kiftia Usman
sip... harus itu..memahami rasa menjadi pihak ibu...
Lia Kiftia Usman
aq baca ulang thor karyamu...
Lia Kiftia Usman: siap..
total 2 replies
Quinn Cahyatishine
Luar biasa
Quinn Cahyatishine
aku baca ulang udah agak lupa jalan ceritanya,krn udah lama banget, 🤭
Vie ardila
Luar biasa
Afnina Helmi
udh gk keitung berapa kali aq mampir kesini, krn seseru ini cerita ny
yani djamil
bagus banget, bacanya enak, mengalir tdk ribet, kosa katanya jg bagus, syg terlambat nemunya, semangat Thor /Drool//Good/
yani djamil
bagus banget..enak bacanya, serasa denger org ngobrol...syng baru Nemu..uwun teh ShaNti udh d tunjukin novel yg bagus.. semangat Thor /Good//Pray/
Lina Herlina Hardjati
cuusss
Lilis Rosmayati
ga sk sm qilla. kasian sm kenzo yg bgitu baik. kesha bener nikah ato tinggalin . ngegantung ank orng si qila. nyebelin
Rozzy Haris
ko aku kaya ga ikhlas ya kalo ga sama Kenzo Aqila nya
Alea
ya udah deh Kenzo nya buat aku aja.
gemes banget sama Qila.cowok sebaik sesabar itu kok ditolak nikah.
Kenzo juga,kayak nggak ada cewek lain aja yg mau dinikahin
Alea
baca novel ini karna liat di...di profil mom Shanti.
Di profil ya namanya?
atau apalah namanya🤔pokoknya intinya tau novel ini karena liat mom Shanti yg promosiin.
maciw mom Shanti
Arha🥰: sma kak 😁
iseng buka profilny kak shanti niat cari rekomendasi novel yg bagus, eh nemu ini😁
total 1 replies
Alea
kalau aku diajak nikah sama laki laki kayak Kenzo langsung mau aja dong jangan sampai dia capek nunggu aku siap,terus malah kecantol cewek lain
Oetaribardaini
Masha Allah baru novel yg seru di Noveltoon kyk gni bagus banget ...
Arha🥰: bener kak, alurny spt nyata g terlalu d buat2 kyak novel laennya..
mgkin ad judul novel yg bsa d rekomendasikan kak😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!