WARNING...!! SIAPKAN KOMENTAR TERPEDAS KALIAN YA😁
Novel ini di angkat dari kisah nyata mungkin pada awalnya si pihak perempuan bisa di bilang bodoh, kalau penasaran yuk lanjut baca kalau gak skip aja ya😁
"Tidak, bukan aku yang memulai. Kau yang lebih dulu mengkhianati ku. Lalu kenapa sekarang kau merasa paling tersakiti?" Winda menatap wajah suaminya dengan sesak di dadanya.
"Maafkan aku, aku khilaf. Tapi, kenapa kau malah berselingkuh dari ku?"
Lelaki yang tidak memiliki perasaan ini dengan entengnya melontarkan pertanyaan yang membuat Winda tertawa geli.
Bukan kesalahan Winda berselingkuh, sejak mereka menjalin hubungan di saat kuliah, Tama lah yang sudah mengkhianatinya terlebih dahulu.
Memaafkan berulang kali, begitu seterusnya hingga mereka menikah. Hati Winda benar-benar patah, wanita ini membalas pengkhianat suaminya. Mempertahankan rumah tangga demi nama baik masing-masing dari keluarga mereka. Linda dan Tama, hidup dalam kemunafikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 07
Satu bulan telah berlalu, selesai wisuda Tama sudah mulai bekerja salah satu kantor hukum ternama di kotanya. Begitu juga dengan Winda yang memutuskan untuk bekerja di salah satu perusahaan swasta di kotanya.
Satu bulan pernikahan mereka masih sama seperti awal-awal pernikahan. Sikap Tama yang jauh lebih baik tapi sikap Winda yang berubah menjadi dingin.
Winda, wanita ini memang bertanggung jawab dengan tugasnya sebagai seorang istri.
Tama tidak mempermasalahkan perubahan sikap sang istri, Tama sadar jika luka yang ia sayat begitu dalam di hati Winda.
"Hari ini aku lembur mas, kalau kamu makan beli aja!" ucap Winda dengan wajah datar.
"Iya, aku juga pulang malam. Aku harus bertemu klien ku di luar kota...!"
"Klien apa teman tidur?" ketus Winda dengan senyum sinisnya.
"Sejak kita menikah, selain dirimu aku tidak pernah lagi menyentuh wanita lain."
"Terserah kau, aku tidak peduli...!" ujar Winda langsung bergegas pergi.
Tama menghembuskan nafas kasar, entah sampai kapan sikap Winda seperti ini. Pasangan suami istri ini sehari-harinya hanya menghabiskan waktu dengan bekerja dan bekerja.
Tama bekerja dengan sungguh-sungguh, menabung demi masa depan keluarganya. Lelaki ini benar telah berubah, setelah menikah hanya Winda seorang di hatinya.
Winda, wanita ini memiliki jabatan yang lumayan di perusahaan. Semua berkat nama besar orangtua dan mertuanya.
"Win, wajah mu sangat pucat. Apa kau sakit?" tanya Sinta teman satu kantor Winda.
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit pusing," jawab Winda dengan wajah lesu.
"Sebaiknya kau pulang, tidak usah memaksakan diri untuk bekerja."
"Sin, aku baik-baik saja. Sungguh!"
Sinta kembali diam, wanita ini yakin jika Winda sedang tidak baik-baik saja. Bekerja sejak pagi, Winda mulai merasa perutnya keroncongan.
"Win, ayo makan siang!" ajak salah seorang teman pria Winda.
"Ya udah, ayo. Aku sudah lapar!" ujar Winda.
Pria ini bernama Ferdi yang sudah dua tahun bekerja di perusahaan ini. Ferdi menyimpan rasa pada Winda, lelaki ini juga tahu jika Winda sudah menikah.
Setiap hari mereka memang selalu pergi makan siang bersama. Ferdi juga tidak peduli dengan status Winda sekarang.
"Kau nampak lesu, apa kau sakit?" tanya Ferdi dengan menunjukkan wajah khawatirnya.
"Tidak, mungkin aku kelelahan!"
"Sudahlah Win, jangan ambil pekerjaan lembur lagi. Kau terlalu lelah!"
"Kau tahu sendiri jika aku lembur aku hanya ingin menghindari suami ku!"
"Tapi bukan seperti ini caranya. Kau bisa pergi jalan-jalan atau bersantai. Jangan bekerja terlalu keras."
"Jadi, aku harus apa sekarang?"
"Terserah kau mau melakukan apa, lakukan yang bisa membuat mu bahagia."
"Sok bijak sekali kau ini,...!" celetuk Winda.
"Win, kau selalu ingin menghindari suami mu. Kenapa kau tidak menceraikannya saja?" tanya Ferdi yang penasaran. Meskipun perkenalan mereka baru setengah bulan tapi Winda dan Ferdi sudah sangat akrab.
"Ada nama baik keluarga yang harus kami jaga. Lagian, aku menikah baru satu bulan lebih. Masa iya sudah mau jadi janda."
Winda tertawa geli membayangkannya.
"Tapi aku siap loh menunggu janda mu!" gurau Ferdi semakin membuat Winda tertawa.
Selesai makan siang Winda dan Ferdi langsung kembali ke kantor. Sinta yang selalu melihat Winda dan Ferdi pergi berdua merasa kurang nyaman.
"Win, kau jangan terlalu dekat dengan Ferdi. Dia itu nakal...!" kata Sinta memberitahu Winda. Sinta sendiri sudah kenal dengan Ferdi selama satu tahun ini, jadi banyak sedikit Sinta tahu siapa Ferdi.
"Selama aku nyaman, aku tidak masalah dekat sama dia," sahut Winda dengan santainya.
"Ingat Win, kau sudah menikah. Di kantor ini sudah berapa orang yang di rusak Ferdi rumah tangganya."
"Menurut ku Ferdi lelaki baik. Sin, kau jangan khawatir. Aku bisa membawa diri," ujar Winda.
Sudahlah, yang penting Sinta sudah mengingatkan. Di mata Winda, Ferdi lelaki baik dan perhatian. Sejenak Winda termenung.
"Ternyata di luar sana masih ada pria lain yang bisa membuat ku nyaman selain Tama. Tama saja bisa mencari pengganti ku berulang kali kenapa aku tidak?"
Otak Winda mulai berselancar jauh, sakit hatinya pada Tama dan keluarga Tama begitu dalam terasa.
"Jika Tama bisa menduakan ku, kenapa tidak dengan ku?" Winda bertanya pada dirinya sendiri, "berpisah pun tidak bisa, tapi aku berhak mencari kebahagiaan ku sendiri."
Pikiran kotor mulai menari-nari di otak Winda, wanita ini telah berubah. Bukan dirinya yang menyebabkan ini semua, Tama lah yang memulai segalanya.
"Lagian, aku tidak percaya jika Tama sudah berubah. Dia saja bisa membohongi ku dengan tidur banyak wanita. Yang ku tahu saja ada tiga belas wanita, lalu bagaimana dengan yang tidak aku ketahui?"
Winda semakin sibuk mengabsen kesalahan Tama yang begitu menyakitkan hatinya. Hatinya semakin panas dan perih terasa, kesetiaan yang ia jaga hanya di hargai dengan pengkhianatan berulang kali.
Lembur, bohong jika Winda lembur malam ini. Wanita ini lebih memilih memanjakan diri di salon kecantikan setelah pulang bekerja.
Pukul sembilan malam barulah Winda pulang. Ternyata Tama sudah pulang sejak tadi. Tama menyambut sang istri di depan pintu. Senyum tulus sama seperti dulu.
"Aku sudah masak tadi, pergilah mandi lalu makan malam," kata Tama memberitahu.
"Aku tidak lapar!" ketus Winda.
"Kau sudah makan malam ya?"
"Ya,...!" jawab Winda singkat.
"Tapi aku belum makan malam. Aku menunggu mu."
"Kalau begitu kau saja yang makan. Aku lelah dan ingin tidur!" ucap Winda kemudian berlalu masuk ke dalam kamar.
Tama membeku di depan kamar, hatinya sakit juga di perlakukan Winda seperti ini. Setelah menikah entah kenapa sikap Winda mendadak berubah seperti ini.
Rasa lapar yang ia tahan sejak sore telah hilang. Bukan hanya sekali Winda berlaku seperti ini, sudah sering jika di ingat.
"Win, sudah tidur kah?" tanya Tama.
"hmmmmm....!!"
"Lah kok jawab, itu artinya kamu belum tidur."
"Udah deh mas, gak usah berisik. Aku mau tidur nih...!" kesal Winda.
"Aku benar-benar lapar Win. Temani aku makan dong!" bujuk Tama.
Winda semakin kesal, Tama terus mengganggunya.
"Iya,...iya....iya....!"
Winda turun dari ranjang, langsung pergi ke meja makan. Menemani Tama makan dengan rasa bosan.
"Udang goreng kesukaan mu. Kau tidak mau mencicipinya?"
"Tidak berselera!" seru Winda.
"Ayo lah Win, hargai suami mu yang sudah bersusah payah memasak ini."
Huft,.....
Sambil melotot Winda membuang nafas kasar. Wanita ini mau tidak mau memakan masakan suaminya.
"Tidak pakai nasi?" protes Tama.
"Udah deh, gak usah banyak protes. Aku mau makan aja udah bagus!"
"Tanya gitu aja kok marah. Winda,...Winda,...sekarang kok jadi pemarah sih?" ujar Tama dengan nada sedikit bercanda.
"Sadar diri, siapa yang membuat aku seperti ini?" sahut Winda membuat Tama terdiam.
hajar terus win 🤣🤣🤣
niat hati baca novel untuk melepas penat , eh yang ada malah bertambah bahkan max level lagi