Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Andai Aku Awan
Seperti dugaan Cita, ia dipanggil ke ruang BP, dianggap mengganggu teman sekelas, bicara kasar, membuat kegaduhan dan sebagainya.
Surat peringatan dilayangkan dengan ancaman skors jika sampai terulang.
Cita mendengus.
Setelah sekian jam mendengarkan nasehat dari Bu Henny, akhirnya Cita keluar dari ruangan yang pengap itu.
Cita berjalan dengan langkah kaki berat menuju kelasnya kembali.
"Duduk ke tempatmu Cita."
Pak Singgih mempersilahkan Cita.
Cita mengangguk lalu menuju bangkunya dan duduk di sana.
Saat melewati Desi, tampak gadis itu menunduk menghindari tatapan kesal Cita padanya.
Gadis manja ini ingin sekali Cita menjambak rambut panjangnya.
Cita duduk di bangkunya, lalu melihat ke depan kelas di mana Pak Singgih sedang mengajar fisika.
Kepalanya berdenyut, ia ingin segera sampai jam terakhir hari ini dan segera pergi.
Waktu pun berlalu, jam pelajaran satu demi satu selesai hingga sampai di jam terakhir.
Saat bel berbunyi, semua bersorak menyambut, termasuk juga Cita yang meski diam saja tapi rasanya lega sudah.
Cita segera berdiri, menyambar ranselnya dan pergi keluar dari kelas tanpa menghiraukan siapapun, termasuk beberapa anak perempuan yang berbisik-bisik tentangnya, terutama pada penjilat Desi.
Cita bergegas keluar gedung sekolah agar tak sampai bertemu Pak Soleh yang akan menjemputnya.
Tepat saat Cita keluar, Adi tiba-tiba memanggilnya.
"Ta... Cita."
Cita menoleh ke arah asal suara Adi.
Tampak Adi berlari ke arah Cita yang menghentikan langkahnya sebentar.
"Pulang bareng yuk, aku antar."
Kata Adi sambil meraih tangan Cita dan menariknya ke arah lapangan parkir.
Cita melepas pegangan tangan Adi.
"Aku lagi males pulang."
Kata Cita lalu akan berbalik menuju halte saat Adi kembali meraih tangannya dan menariknya ke lapangan parkir.
"Kalau gitu main sama aku sampai kamu baikan."
Kata Adi setengah memaksa.
Cita berusaha melepas tangannya, tapi kali ini genggaman Adi jauh lebih erat.
Beberapa anak perempuan yang melihat menatap cemburu, sementara teman basket Adi yang kebetulan sedang menuju lapangan parkir juga dan melihat keduanya langsung meledek.
"Adi usaha niiiih."
Adi hanya tersenyum sekilas saja.
"Jangan lupa traktir kalau jadian."
Kata yang lain.
Haish... Cita mendesis.
Adi baru melepas tangan Cita setelah sampai di dekat motornya.
Diberikannya satu helm pada Cita, dan ia memakai helm yang lain. Adi memang selalu bawa dua helm setiap pergi, buat jaga-jaga ada teman ikut nebeng.
"Aku tahu kamu ngga pakai motor, cepat naik."
Kata Adi.
Cita menghela nafas.
Ia melihat jalanan depan sekolahnya.
Ah sebentar lagi Pak Soleh pasti sampai, daripada pulang dengan Pak Soleh apa salahnya menerima tumpangan Adi, setidaknya Cita bisa minta pergi ke tempat lain dulu.
Cita akhirnya naik ke boncengan, baru kemudian Adi melajukan motornya menjauhi sekolahan mereka.
"Di."
Panggil Cita.
"Yah, apa Ta?"
"Aku pengin main basket sampai capek, bila perlu sampai pingsan."
Kata Cita.
Adi yang mendengarnya jadi tertawa.
Ia kemudian menambah kecepatan laju motornya menuju perumahannya.
"Kita pulang ke rumahku saja, nanti kita main basket di sana."
Kata Adi.
**---------**
Satu jam berlalu, Cita terus bermain basket di lapangan basket komplek perumahan Adi yang sepi.
Tak peduli terik matahari dan juga keringat yang sudah membasahi seluruh baju seragamnya.
Cita terus bergerak dengan lincah, mendribel bola, menembak dari jarak jauh, kadang berlari ke depan ring lalu melompat memasukkan bola ke dalam ring.
Cita seperti kesetanan, ia sungguh ingin membuat tubuhnya kelelahan agar tak punya energi lagi untuk marah.
Adi yang menemani Cita bermain bahkan sudah menyerah begitu masuk dua jam mereka bermain.
Adi duduk di pinggir lapangan, selonjor sembari mengatur nafas yang ngos ngosan.
"Udah Ta, nanti kamu pingsan."
Kata Adi.
Tapi Cita tak peduli, ia terus berlarian, melompat berkali-kali, kadang bola itu masuk ke ring, kadang juga tidak.
Hingga Adi tak tahan lagi dan dia akhirnya berdiri menghampiri Cita yang kembali mendribel bola sambil matanya menatap ring di depannya.
"Ta, sudah Ta."
Kata Adi.
Cita tak merespon, ia tetap melakukan kegiatannya.
"Ta, udah Ta, kamu lagi kenapa sih Ta?"
Adi meraih tubuh Cita dan menghadapkan wajah Cita padanya.
Terkejut Adi melihat mata Cita sembab karena menangis.
Adi bahkan tak sadar jika Cita rupanya bermain basket sembari menangis.
"Kamu kenapa Ta?"
Tanya Adi lembut.
Cita melepaskan diri dari Adi, lalu mengusap kasar air matanya dengan lengan tangannya yang basah oleh keringat.
"Aku dengar kamu masuk BP karena masalah Desi, benarkah? Apa karena itu?"
Tanya Adi.
Cita ngeloyor ke pinggir lapangan, lalu duduk selonjor di bawah.
Adi menyusul lalu duduk di sebelah Cita.
"Aku akan bicara sama Desi jika dia terus ganggu kamu."
Kata Adi.
Cita diam saja.
Buat Cita, masalah Desi hanyalah masalah kecil yang hanya menambahnya malas ke sekolah.
Cita menatap langit di atasnya.
Ah bagaimana caranya pergi ke sana? Batin Cita.
"Aku ingin berhenti sekolah Di."
Kata Cita tiba-tiba.
Adi jadi kaget mendengarnya.
"Kamu ini, jangan becanda."
Kata Adi.
Cita menggeleng.
"Aku serius, aku ingin berhenti sekolah dan pergi yang jauh."
Kata Cita.
Adi menatap Cita di sampingnya.
"Kamu kenapa sih Ta? Kamu lagi ada masalah? Katakan padaku, sapa tahu aku bisa bantu Ta."
Ujar Adi.
Cita mengalihkan pandangannya pada Adi.
"Kamu mau bantu?"
Tanya Cita.
Adi tentu saja mengangguk.
"Hidupin Ibuku lagi."
Kata Cita membuat permintaan yang mustahil.
Adi menghela nafas.
"Kamu ini."
Cita merebahkan diri di atas lapangan, tak peduli di sana kotor banyak debu dan sebagainya.
Seragamnya yang basah oleh keringat dibiarkan terkena sinar matahari langsung agat bisa cepat kering.
Adi menatap Cita bingung.
Cita yang ditatap Adi seolah tak peduli, ia asik menatap awan-awan putih yang berarak di atas sana.
"Andai aku diciptakan jadi awan, aku pasti akan lebih bahagia."
Lirih Cita.
**----------**