NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara di Luar Pintu dan Janji Malan Hari

Akhir pekan berlalu dengan cepat. Sesuai dengan instruksi Devan, Alina akhirnya pindah ke sebuah unit apartemen di kawasan Kemang yang dikelola oleh manajemen eksklusif. Apartemen itu tidak terlalu besar, tetapi sangat bersih, berdesain minimalis modern, dan memiliki tingkat keamanan dua lapis. Yang terpenting bagi Alina, jaraknya hanya lima belas menit dari Rumah Sakit Medika Utama dan kantor pusat PT Dirgantara Megah Karya.

Senin pagi bergulir dengan ketegangan yang merambat halus di udara. Besok adalah hari H operasi transplantasi jantung ibunya. Pikiran Alina terbagi antara tumpukan laporan riset pasar bulanan dan kekhawatiran akan prosedur medis berisiko tinggi yang akan dijalani Bu Rahmi.

Di lantai 12, suasana kerja berlangsung sangat formal. Sejak insiden manipulasi berkas pekan lalu, Clara bersikap sangat dingin dan menjaga jarak dari semua orang, termasuk Alina. Namun, pandangan matanya yang penuh rasa benci dan dendam tidak pernah benar-benar hilang setiap kali Alina melintas di depan kubikelnya.

Pukul empat sore, Mbak Maya memanggil Alina ke ruangannya.

"Alina, ini ada beberapa berkas persetujuan anggaran sponsorship untuk acara tahunan yang perlu tanda tangan langsung dari Pak Devan," kata Mbak Maya sambil menyerahkan sebuah map kulit warna hitam. "Tolong kamu antarkan langsung ke lantai 20 ya. Sekretaris beliau sedang cuti sakit sore ini, jadi kamu bisa serahkan ke asisten pribadinya, Pak Bagas."

"Baik, Mbak Maya. Saya antarkan sekarang," jawab Alina menerima map tersebut.

Alina melangkah menuju lift khusus eksekutif. Ketika pintu lift terbuka di lantai 20, koridor mewah berlapis karpet tebal itu terasa jauh lebih hening dari biasanya. Alina berjalan perlahan menuju ruangan Direktur Utama.

Saat mendekati area meja sekretaris di depan pintu ganda berukir kayu mahogany, Alina tidak menemukan Pak Bagas di kursinya. Suasana di sekitar lorong sangat sepi. Alina berencana menaruh map tersebut di meja sekretaris, tetapi pintu ruangan kerja Devan yang sedikit renggang mengalirkan samar-samar suara percakapan dari dalam.

Alina terhenti. Ia tidak berniat menguping, tetapi nama yang diucapkan dalam percakapan itu membuat langkah kakinya membeku seketika.

"... Keluarga besar kita sudah menyetujui rencana pertunangan itu, Devan!" suara seorang pria paruh baya bertali berat terdengar tegas dari dalam ruangan. Suara itu dipenuhi otoritas yang tak terbantahkan. "Arimbi adalah putri tunggal dari Keluarga Rekso. Pernikahanmu dengannya akan mengamankan saham mayoritas Dirgantara Group di proyek ekspansi Asia Tenggara. Ini bukan sekadar masalah asmara, ini tentang masa depan dinasti keluarga kita!"

Alina menahan napasnya. Dadanya terasa menyempit mendadak.

("Pertunangan? Arimbi?")

Suara Devan kemudian terdengar, tenang namun sarat akan penolakan yang membeku. "Saya sudah berulang kali katakan pada Paman, saya tidak memiliki niat untuk menikahi Arimbi. Bisnis Dirgantara Group cukup kuat tanpa harus mengorbankan ikatan pernikahan sebagai alat akuisisi."

"Jangan keras kepala, Devan!" bentak pria yang dipanggil Paman itu, Pak Hendra Dirgantara, salah satu komisaris senior sekaligus paman kandung Devan. "Kamu pikir posisi CEO ini membuatmu bebas dari kewajiban keluarga? Ibu dan paman-pamanmu tidak akan biarkan kamu melangkah sendiri tanpa dukungan trah yang setara. Arimbi akan kembali dari London minggu depan. Kamu wajib menyambutnya dan mengumumkan tanggal pertunangan kalian kepada media!"

"Urusan pernikahan adalah hak mutlak saya, Paman," sahut Devan dingin tanpa getaran. "Saya yang menentukan kapan dan dengan siapa saya akan berbagi hidup."

"Ingat posisi dan nama baik keluargamu, Devan! Jangan sampai ada wanita sembarangan yang mencoba memanfaatkanmu, atau paman sendiri yang akan turun tangan menyingkirkannya!" ancam Pak Hendra sebelum suara langkah kaki berat terdengar mendekati pintu.

Jantung Alina berdetak liar. Dengan cepat dan tanpa suara, ia mundur beberapa langkah menuju lekukan dinding koridor dekat tangga darurat, bersembunyi di balik pilar granit raksasa.

Pintu ruang kerja Devan terbuka keras. Seorang pria paruh baya bersetelan jas mahal dengan garis wajah keras keluar dengan raut muka merah padam penuh amarah, diiringi oleh dua orang pengawal pribadi berpakaian serba hitam. Mereka melangkah cepat menuju lift, meninggalkan aura ketegangan yang pekat di sepanjang koridor.

Setelah suasana benar-benar aman dan pintu lift tertutup, Alina keluar dari persembunyiannya dengan napas terengah-engah. Tangannya yang memegang map hitam sedikit gemetar.

Kata-kata Paman Devan terus bergaung di kepalanya: (" Arimbi ... putri tunggal Keluarga Rekso ... pertunangan ... wanita sembarangan.")

Alina menyentuh dadanya yang terasa nyeri. Realitas pernikahan mereka menghantamnya kembali dengan kekuatan yang luar biasa. Ia menyadari sepenuhnya bahwa di mata dunia Devan, ia hanyalah wanita sembarangan yang tidak punya nilai tawar. Pernikahan rahasia mereka ibarat bom waktu yang jika meledak, bukan hanya akan menghancurkan Devan tetapi juga menenggelamkan Alina tanpa sisa.

Dengan memberanikan diri, Alina melangkah menuju pintu ruangan Devan yang masih terbuka sedikit. Ia mengetuk pintu kayu tebal itu dua kali pelan.

"Masuk," suara Devan terdengar berat dan ketus, masih tersisa jejak emosi dari perdebatan sebelumnya.

Alina mendorong pintu dan melangkah masuk. Ruangan kerja yang luas itu dipenuhi keheningan yang menekan. Devan berdiri di dekat jendela kaca raksasa, melonggarkan dasinya dengan kasar, menatap pemandangan kota Jakarta yang mulai diselimuti senja.

"Maaf mengganggu, Pak Devan. Saya mengantarkan berkas persetujuan anggaran dari Mbak Maya," ujar Alina dengan suara sepelan mungkin, meletakkan map hitam di atas meja kerja kaca.

Devan membalikkan badannya. Begitu melihat Alina yang berdiri di sana, raut wajahnya yang semula keras perlahan-lahan mengendur. Tatapan mata tajamnya mereda, digantikan oleh kelelahan yang dalam.

"Pak Bagas mana?" tanya Devan pendek, menyandarkan tubuhnya di tepi meja.

"Pak Bagas sedang tidak ada di meja, jadi saya langsung antarkan ke dalam," jawab Alina. Ia memandang Devan sejenak, ragu-ragu apakah harus segera keluar atau mengatakan sesuatu.

Devan mengamati wajah Alina yang tampak tertunduk kaku. "Kamu ... mendengar percakapan tadi?"

Alina terkejut, namun ia tidak bisa berbohong di depan tatapan Devan yang seolah mampu membaca isi pikirannya.

Alina menunduk lebih dalam. "Saya ... saya secara tidak sengaja mendengar sedikit saat baru sampai di depan pintu. Maafkan saya, Pak Devan."

Devan menghela napas panjang. Ia melangkah mendekati Alina, menghentikan langkahnya tepat di depan gadis itu. Pria itu menatap puncak kepala Alina sebelum berkata dengan suara rendah yang tegas, "Jangan masukkan kata-kata Paman saya ke dalam hatimu."

Alina mendongak, menatap mata hitam Devan yang kelam. "Saya tidak apa-apa, Pak. Saya mengerti posisi saya. Perjanjian kita sudah sangat jelas dari awal. Anda tidak perlu khawatir, saya tahu bahwa pernikahan ini hanya sebatas kertas."

Mendengar ucapan Alina yang begitu tenang namun terkesan menarik garis jarak yang sangat tebal, kening Devan berkerut halus. Ada kilatan ketidaksukaan yang melintas di matanya, sebuah reaksi yang membuat Alina sendiri bingung.

"Perjanjian di atas kertas atau bukan, kamu adalah istri sah saya saat ini, Alina," ujar Devan dengan nada bicara yang tiba-tiba berubah sangat intens. Suaranya tidak lagi dingin seperti seorang bos kepada bawahannya, melainkan hangat dan sarat akan kepemilikan seorang pria.

Alina menahan napasnya, terpaku oleh tatapan mata Devan yang menatap lurus ke dalam manik matanya.

"Tidak ada orang yang boleh mengancam atau mendikte keputusan saya, termasuk keluarga saya sendiri," lanjut Devan.

Tangannya terangkat perlahan, jemarinya yang hangat dan kokoh menyentuh lembut kerah baju Alina, merapikan posisi kalung emas putih yang tersembunyi di balik kemejanya.

Sentuhan itu sangat singkat, namun berhasil mengalirkan sengatan listrik halus yang membuat jantung Alina berdesir hebat. "Yang perlu kamu fokuskan saat ini adalah operasi ibumu besok. Urusan keluarga Dirgantara ... biarkan saya yang membereskannya."

Alina menelan ludahnya yang terasa kering. Kedekatan mereka yang begitu tiba-tiba membuat dadanya bergemuruh hebat. Pria ini sangat tidak tertebak. Di satu sisi ia bisa begitu berjarak dan tak tersentuh, namun di sisi lain ia menunjukkan perlindungan yang begitu nyata dan membentengi Alina dari ancaman luar.

"Terima kasih, Pak Devan ..." bisik Alina pelan, suaranya sedikit bergetar.

"Besok jam delapan pagi operasi ibumu dimulai, bukan?" tanya Devan, memiringkan kepalanya sedikit.

"Iya, Pak. Saya sudah mengajukan izin libur satu hari ke Mbak Maya untuk mendampingi Ibu."

Devan mengangguk pelan. Ia kembali ke posisi tegaknya, merapikan lengan kemejanya. "Saya sudah mengatur agar tim medis terbaik tetap siaga. Begitu operasi selesai, langsung beri tahu saya."

"Baik, Pak Devan. Kalau begitu, saya permisi dulu."

"Alina," panggil Devan sekali lagi tepat saat Alina berbalik.

Alina menoleh kembali.

"Semuanya akan berjalan lancar besok. Istirahatlah yang cukup malam ini," ucap Devan. Ada nada kelembutan yang sangat langka dalam suaranya, sebuah ucapan penyemangat yang tak pernah Alina bayangkan akan keluar dari bibir seorang Devan Dirgantara.

Alina tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang memancarkan rasa terima kasih mendalam dari dasar hatinya. "Terima kasih, Pak. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan Anda."

Alina keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan yang membuncah campur aduk.

Di dalam lorong yang sepi, ia menyentuh liontin cincin di dadanya yang terasa hangat. Konflik di sekitar Devan dan keluarganya mungkin sangat rumit dan berbahaya, namun malam itu, Alina merasa bahwa di balik tembok es yang membentang di antara mereka, ada sebuah janji perlindungan tersirat yang membuat hatinya merasa aman.

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!