Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pahlawan Dari Kota Lain
Di tengah hiruk-pikuk pertarungan di sudut Kota Zenith, tim Miracle sedang sibuk melumpuhkan seekor monster berukuran raksasa. Tebasan pedang api Ayyasy dan tembakan meriam es Sintia berpadu sempurna, menciptakan gelombang aksi yang spektakuler di bawah langit sore.
Namun, dari balik awan tebal yang membumbung di atas lokasi pertarungan, terdapat sebuah drone berkamera canggih melayang tanpa suara. Lensa drone itu terus berputar, merekam setiap pergerakan Ayyasy dan tujuh temannya secara presisi, lalu mengirimkan rekaman video tersebut secara real-time.
Keluaran rekaman itu terpampang jelas di sebuah ruangan yang amat jauh dari Kota Zenith. Ruangan itu sangat gelap dan hening. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari sebuah monitor biru raksasa yang menyala terang di tengah ruangan. Cahaya kebiruan itu berpendar, menerangi tiga sosok misterius yang berdiri sejajar mengamati layar.
Meskipun dalam kegelapan, aura tegang terpancar kuat dari mereka. Masing-masing memancarkan energi unik—tanda jelas bahwa mereka bukan sekadar manusia biasa, melainkan pemilik kekuatan luar biasa yang setara dengan tim Ayyasy.
"Masa iya sih nama tim mereka juga Miracle? Ini kebetulan atau gimana sih?" tanya Arunnaqa dengan nada antusias. Jarinya sibuk mengetik cepat di papan ketik holografik, menganalisis data kekuatan api milik Ayyasy yang muncul di layar.
"Mungkin frekuensi batu meteorit itu memicu pola pikir yang sama pada anak-anak pilihan," sahut sosok di sebelahnya, Davi, sambil melipat tangan di dada. Pandangannya tidak lepas dari cara Rehan mengendalikan tanaman di layar.
Sosok ketiga, Tasya, mengamati garis orbit dan energi yang terpancar dari tiap anggota tim Zenith. "Atau mungkin... ini bukan sekadar kebetulan. Ada keterikatan kuat antara kedatangan batu-batu itu di kota kita dan kota mereka."
Arunnaqa tersenyum tipis, menatap layar monitor biru yang kini menampilkan foto delapan anggota tim Miracle Kota Zenith secara berdampingan.
"Miracle Cyber dari kota kita, Miracle Kosmik milikmu, Miracle Harvest milik Davi... dan sekarang Miracle Kota Zenith," gumam Arunnaqa pelan, suaranya bergema tegang di dalam ruangan gelap itu. "Sepertinya ini saatnya kita menguji, apakah mereka layak menyandang nama Miracle bersama kita."
Brak!
Pintu otomatis ruangan besar itu tiba-tiba terbuka lebar, mengejutkan Arunnaqa, Tasya, dan Davi yang sedang konsentrasi menatap layar monitor.
Rombongan Miracle Cyber melangkah masuk dengan santai. Salah satu anggotanya, Vikka, mendekati layar sambil melipat tangan di dada. Matanya menatap remeh adegan Ayyasy dan teman-temannya yang baru saja menyelesaikan pertarungan.
"Oh, ini yang dari tadi kalian awasi?" celetuk Vikka dengan nada merendahkan. "Kayaknya mereka nggak sekuat kita, deh. Liat tuh, gerakannya masih berantakan begitu."
Dhafina, Delila, Delaya, Gita, dan Cinta ikut mengerumuni monitor. Mereka memperhatikan detail pertarungan tim Zenith dengan senyum tipis.
"Asli, mereka kelihatan kayak kelompok bocah ingusan yang baru nemu mainan baru," tambah Dhafina sambil mengayunkan palu besinya pelan ke lantai.
Gita membetulkan posisi senjata di bahunya lalu terkekeh. "Kalau cuma lawan monster level segitu aja mereka kelihatan kewalahan, gimana kalau ketemu musuh yang biasa kita hadapi?"
Belum sempat Arunnaqa membalas ucapan kawan-kawannya, pintu ruangan kembali terbuka lebar. Kali ini, anggota dari Miracle Kosmik dan Miracle Harvest masuk secara berbarengan, membuat ruangan yang tadinya hening kini penuh dengan kehadiran lusinan pemilik kekuatan hebat.
Sama seperti Miracle Cyber, para anggota Kosmik seperti Nayla, Dimas, dan Nayya, serta para anggota Harvest seperti Cheryl, Fadhil, dan Rava, langsung mengarahkan pandangan mereka ke monitor biru raksasa.
"Jadi ini tim dari Zenith?" bisik Tsalwa sambil menggeleng-gelengkan kepala.
"Rupanya cuma segini standar tim Miracle dari kota lain," timpal Iyan dengan nada dingin. "Mereka bahkan nggak punya formasi bertarung yang jelas."
Ghofar dan Ghani menyandarkan tubuh mereka di dinding belakang ruangan, mengamati gambar Ayyasy yang sedang menyarungkan pedang apinya. "Sayang banget nama 'Miracle' harus dipakai sama orang-orang yang belum berpengalaman kayak mereka," gumam Ghofar meremehkan.
Di tengah riuhnya nada cibiran dan nada meremehkan dari ketiga tim besar itu, Arunnaqa, Tasya, dan Davi saling melempar pandangan.
Arunnaqa kemudian tersenyum tipis, mematikan layar monitor utama, dan berbalik menghadap ke arah puluhan anggota tim yang memenuhi ruangan.
"Kalian yakin mereka selemah itu?" tanya Arunnaqa dengan nada tenang namun penuh arti. "Gimana kalau
kita buktikan sendiri... dengan mendatangi Kota Zenith?"
...***...
Miracle Zenith: -Ayyasy (api)
-Night (bayangan)
-Azkailah (halilintar)
-Serafe (cahaya)
-Abzari (angin)
-Arkan (tanah)
-Rehan (pohon/kayu)
-Sintia (es)
Miracle Cyber: -Arunnaqa (sihir teknologi)
-Dhafina (hologram)
-Gita (marksman)
-Cinta (healer)
-Delila & Delaya (clone)
-Vikka (laser)
Miracle Kosmik: -Tasya (black hole)
-Tsalwa (white hole)
-Dimas (waktu)
-Ilham (awan)
-Iyan (matahari)
-Ghofar (bulan)
-Nayla (bintang)
-Nayya (gravitasi)
Miracle Harvest: -Davi (batu)
. -Cheryl (air)
-Fadhil (emas)
-Alya (pelangi)
-Rava (berlian)
-Nailu (love)
-Jessica (obsidian)
-Rahman (jiwa)
-Ghani (kristal)
...***...
Arunnaqa akhirnya memutuskan untuk tidak membawa seluruh pasukan. Ia menunjuk Vikka untuk menemaninya pergi ke Kota Zenith. Menggunakan kereta cepat, perjalanan antarkota itu berlanjut hingga akhirnya mereka menginjakkan kaki di stasiun Zenith.
Langkah pertama mereka adalah mencari keberadaan markas Miracle Zenith. Arunnaqa dan Vikka mencoba bertanya ke beberapa warga di pinggir jalan, namun hasilnya nihil. Tidak ada satu pun warga yang tahu di mana para pahlawan lokal itu bersembunyi.
Saat mereka hampir putus asa, seorang nenek berpenampilan sederhana dengan tongkat kayu yang sudah rapuh berjalan menghampiri mereka. Dengan suara bergetar namun tenang, nenek itu menunjukkan arah menuju sebuah bukit terpencil di belakang sekolah.
Mengikuti petunjuk tersebut, Arunnaqa dan Vikka akhirnya berdiri di depan pintu sebuah villa tua dua lantai yang sudah direnovasi rapi. Arunnaqa melangkah maju lalu mengetuk pintu kayu markas tersebut.
KNOCK... KNOCK...
Pintu perlahan terbuka, menampilkan sosok Ayyasy. Cowok itu menyipitkan mata, menatap dua asing di hadapannya dengan waspada. "Siapa kalian? Ada perlu apa datang ke sini?" tanya Ayyasy tegas.
Arunnaqa tersenyum ramah dan menjelaskan maksud kedatangannya. Ia memperkenalkan diri sebagai pemimpin dari Miracle Cyber, lalu mengajak Miracle Zenith untuk saling bekerja sama. Arunnaqa juga membeberkan rahasia besar bahwa sebenarnya ada tim Miracle lain dari dua kota berbeda yang juga mengawasi ancaman monster ini.
Ayyasy yang terkejut segera memanggil seluruh anggota timnya. Mereka berkumpul di ruang tamu markas, mendengarkan penjelasan Arunnaqa dengan serius.
Namun, di tengah-tengah obrolan yang sedang hangat, Vikka bersedekap dada sambil menyandarkan tubuhnya di dinding. Wajahnya memasang ekspresi meremehkan.
"Dengar ya, kita ke sini sebenarnya cuma formalitas," sela Vikka tiba-tiba dengan nada sinis, memotong pembicaraan Ayyasy. "Gue lihat pertarungan kalian kemarin. Gerakan kalian amatir banget. Kalau bukan karena kasihan, Arunnaqa juga malas ngajak bocah-bocah ingusan kayak kalian buat kerja sama."
Suasana ruangan seketika berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.
"Apa lu bilang?!" bentak Night. Bayangan hitam di bawah kakinya mendadak melonjak tajam memanjang. Dengan mata menyala penuh amarah, Night melesat maju dan hampir saja menghajar wajah Vikka dengan pisau bayangannya.
"Night, tahan!" jerit Ayyasy sambil pasang badan, menahan dada Night agar tidak bertindak lebih jauh.
Vikka hanya terkekeh pelan, sama sekali tidak merasa takut meski kilatan bahaya sudah mengepungnya.
Ayyasy menatap Arunnaqa dan Vikka secara bergantian. Wajah ramah sang ketua Zenith kini berganti menjadi tatapan dingin dan penuh ketegasan.
"Kami memang baru dua bulan jadi pahlawan, dan kami tahu kami masih punya banyak kekurangan," ujar Ayyasy dengan suara berat. "Tapi kalau cara kalian memandang kami cuma sebagai beban dan bahan rendahan... maaf, tim Miracle Zenith memilih untuk berdiri di atas kaki kami sendiri. Kami menolak kerja sama ini."
Arunnaqa tertegun menatap ketegasan Ayyasy, sementara Vikka hanya mengibaskan tangan seolah keputusan Zenith sama sekali tidak penting baginya.
Arunnaqa dan Vikka akhirnya melangkah kembali ke dalam markas utama Kota Cyber. Di dalam ruangan besar berlayar monitor biru itu, puluhan anggota tim dari Miracle Cyber, Kosmik, dan Harvest sudah berkumpul menantikan kabar.
"Gimana? Mereka mau join, kan?" tanya Gita sambil memutar-mutar senjata di tangannya.
Arunnaqa menghela napas panjang, memasang wajah serba salah. "Mereka menolak mentah-mentah ajakan kerja sama kita. Vikka... menyela obrolan dan merendahkan kemampuan mereka."
Mendengar hal itu, ruangan bukannya merasa bersalah, justru dipenuhi dengan suara dengusan dan kekehan sinis dari anggota tim lain.
"Dih, sombong banget," celetuk Fadhil sambil melipat tangan di dada. "Memangnya mereka sekuat itu sampai berani nolak gabung sama kita?"
"Iya, lagian harusnya mereka bersyukur dikasih kesempatan belajar sama tim yang lebih berpengalaman," timpal Nayla meremehkan.
Arunnaqa hendak menenangkan suasana dan menegur kawan-kawannya, namun diskusi itu terputus saat malam mulai semakin larut dan situasi berubah drastis.
BOOMMM!!!
Sebuah ledakan dahsyat mendadak mengguncang seluruh bangunan markas Cyber! Lantai bergetar hebat, lampu-lampu di dalam ruangan berkedip-kedip panik, dan beberapa instrumen canggih memercikkan arus pendek. Semua orang yang ada di dalam ruangan terperanjat dan langsung pasang mode waspada.
"Ada apa ini?! Serangan musuh?!" teriak Dhafina sambil refleks menggenggam palu besinya.
Arunnaqa dengan cepat berlari ke meja kontrol dan menekan beberapa tombol utama. Layar monitor biru raksasa yang tadinya redup kini menyala terang, menampilkan rekaman kamera pengawas di luar markas secara real-time.
Mata mereka semua membelalak menatap apa yang terpampang di layar.
Dari dalam tanah yang hancur berantakan di luar kota, muncul sesosok monster ular raksasa dengan sisik hitam keras bagai baja. Matanya menyala merah dalam kegelapan, dan taringnya meneteskan cairan asam yang sanggup melunakkan aspal. Ukurannya yang teramat besar membuat gedung-gedung di sekitarnya tampak kerdil. Monster itu menggeram kencang, menebarkan aura intimidasi yang sangat pekat.
Ruangan besar itu seketika menjadi hening. Keangkuhan yang tadi sempat menyelimuti ketiga tim besar itu mendadak menguap, berganti menjadi atmosfir tegang saat mereka menyadari bahwa ancaman kali ini sama sekali tidak bisa diremehkan.
Tanpa membuang waktu, seluruh anggota Miracle Cyber, Kosmik, dan Harvest langsung melesat menuju lokasi. Namun, begitu mereka tiba di depan monster ular raksasa tersebut, aura intimidasi dan tekanan energi yang terpancar membuat lutut mereka mendadak gemetar.
"Dengar semuanya!" teriak Davi menyemangati, menahan getaran di kakinya. "Seorang pahlawan tidak boleh gemetar, siapa pun lawannya! Serang!"
Pertempuran sengit pun pecah. Beragam jurus, jenis kekuatan, dan variasi serangan diluncurkan. Kombinasi laser Vikka, black hole Tasya, hingga pukulan batu dari Davi menghantam tubuh ular itu bertubi-tubi. Namun, meski pertarungan sudah berlangsung lama, tidak ada sedikit pun tanda-tanda monster itu kelelahan. Energinya seolah tak terbatas, sementara stamina para Miracle dari tiga kota mulai terkuras habis.
Di tengah kondisi terdesak dan nafas yang terengah-engah, pandangan Tasya tertuju pada puncak kepala sang monster. "Lihat! Inti kekuatannya ada di kristal merah di kepalanya!" teriaknya panik.
Nahas, mereka sudah terlalu lelah untuk melancarkan satu serangan pun. Monster ular itu menggeram kencang, lalu mengibaskan ekor raksasanya yang dilapisi sisik baja. Ekor itu melesat cepat, siap menghantam dan meratakan para Miracle yang sudah tak berdaya di tanah.
Namun, sebelum kibasan ekor itu menyentuh mereka—
BOOMMM!
Sebuah dentuman keras ledakan energi mendadak menghantam ekor monster itu hingga terpental hebat ke udara!
"MAJUUU!! ZENITHHH!!"
Suara teriakan lantang bergema membelah malam. Dari kejauhan, enam sosok melesat cepat dengan aura elemen yang membara. Ayyasy dan teman-temannya telah tiba!
"Zar! Lempar gua!" teriak Ayyasy.
Abzari mengangguk cepat. Dengan sapuan angin badainya, ia melempar tubuh Ayyasy ke udara hingga melesat tinggi bagaikan proyektil. Sebelum Ayyasy mendarat, Night dan Azkailah sudah lebih dulu berada di dasar tubuh monster tersebut.
"SHADOW KILL!" teriak Night. Sosoknya menghilang menyatu dengan kegelapan bayangan, menyayat-nyayat kulit keras ular itu dari berbagai sudut secara tak kasatmata.
Azkailah tidak tinggal diam. Menggunakan teknik Thunder Dance, gadis itu menari-nari melintasi tubuh monster dari bawah hingga ke atas, menyengatnya dengan aliran listrik merah bertegangan tinggi yang membuat sang monster kejang.
Di saat yang sama, Rehan dan Arkan menghentakkan kekuatan mereka ke tanah, memicu lilitan akar raksasa dan pilar batu untuk menahan tubuh monster yang berusaha memberontak. Sintia dari jarak jauh langsung membidikkan meriamnya, menembakkan gelombang beku yang menyelimuti seluruh tubuh ular tersebut.
Meskinpun lapisan es Sintia mendadak retak dan pecah dalam hitungan detik, waktu singkat itu sudah lebih dari cukup.
Ayyasy yang melayang di udara tepat di atas kepala monster, memosisikan pedang api besarnya ke bawah. Dengan seluruh tenaganya, ia menancapkan bilah pedang itu tepat menembus kristal merah di kepalanya!
"SERAFEEEEEE!! SEKARAAANG!!" jerit Ayyasy sambil
menoleh ke belakang.
Di garis belakang, Serafe berdiri tegak dengan kedua tangan terangkat ke langit. Cahaya murni yang sangat menyilaukan berpendar dari tubuhnya. Awan hitam yang menyelimuti langit malam mendadak terbelah, membiarkan pilar cahaya surgawi menerobos masuk. Mata Serafe kini menyala kuning terang.
"TOMBAK CAHAYAAA!!!"
Sebuah tombak cahaya raksasa tercipta dari langit, meluncur deras menancap telak di tubuh sang monster!
BOOOOOOOOOOMMMM!!!
Ledakan energi cahaya yang sangat dahsyat terjadi! Gelombang kejutnya menghempaskan Ayyasy, Night, Azkailah, Rehan, Arkan, dan Sintia hingga terpental beberapa meter ke belakang. Kabut asap dan debu tebal perlahan-lahan memudar, memperlihatkan tubuh monster ular raksasa yang perlahan retak, melebur menjadi abu, dan menghilang tanpa sisa.
Suasana hening seketika.
Dengan nafas terengah-engah dan pakaian yang sedikit kotor, Ayyasy menyarungkan kembali pedang apinya.
Bersama anggota tim Miracle Zenith lainnya, mereka berjalan perlahan menghampiri puluhan anggota Miracle dari tiga kota lain yang terduduk lemas dan tak berdaya di tanah—menatap mereka dengan rasa terkejut dan takjub yang luar biasa.
Melihat pertarungan telah usai, para anggota Miracle Zenith perlahan melangkah mendekat. Bukannya mendapat ucapan terima kasih, udara di sekitar lokasi justru dipenuhi oleh gengsi dan rasa malu yang membakar dari tim Miracle kota lain. Bagi mereka yang tadinya memandang rendah tim Zenith, diselamatkan oleh "bocah ingusan" adalah pukulan telak bagi harga diri mereka.
Sintia melangkah menghampiri Vikka yang terduduk lemas di tanah. Dengan niat baik, Sintia mengulurkan telapak tangannya untuk membantu Vikka berdiri.
"Lu gak apa-apa?" tanya Sintia pelan.
PLAK!
Secara mengejutkan, Vikka menepis kencang tangan Sintia hingga terdengar suara patukan keras. Vikka berdiri sendiri dengan napas terengah-engah, matanya menatap tajam ke arah Sintia penuh amarah dan rasa tidak
terima.
"Nggak usah sok pahlawan lu!" bentak Vikka dengan nada sinis. "Kita tadi cuma kehabisan stamina aja! Kalau bukan karena kita yang udah ngerusak sisiknya duluan, kalian juga nggak bakal bisa ngalahin monster itu!"
Vikka berbalik badan dengan kasar, mengabaikan tatapan heran dari anggota Zenith. "Cabut!" serunya pada timnya.
Arunnaqa yang melihat kejadian itu langsung melangkah maju, dahinya berkerut dalam. "Vikka! Tahan emosi lu, mereka baru aja ngebantu kita—"
"Bisa diam nggak, Naq?!" potong Vikka tanpa menoleh sedikit pun, melangkah pergi begitu saja meninggalkan area pertempuran dengan masa bodoh.
Melihat perlakuan kasar itu, darah Sintia langsung mendidih. Wajahnya merah padam karena amarah, dan hawa dingin ekstrem mendadak memancar kuat dari jemarinya. "Wah, tuman banget tuh anak! Minta dihajar beneran!" geram Sintia sambil mengepalkan tangan, siap melesat maju untuk memberi pelajaran pada Vikka.
Sret!
Sebelum Sintia sempat melangkah lebih jauh, Serafe dan Azkailah dengan cepat memegang kedua lengan Sintia, menahannya erat-erat.
"Sintia, tahan! Udah, biarin aja!" bisik Serafe menenangkan sambil meremas bahu temannya.
Azkailah menggelengkan kepala pelan. "Nggak ada gunanya ngelayanin orang yang lagi ketutup gengsi, Sin. Yang penting warga kota aman dan monster itu udah hancur."
Ayyasy hanya menatap punggung rombongan Miracle dari tiga kota lain yang berjalan menjauh dalam diam. Ia tahu, gesekan ini belum selesai, dan pertemuan mereka berikutnya pasti akan membawa ujian yang jauh lebih besar.