Nino dan Asep harus mengungkap peristiwa pembunuhan berantai yang semua korbannya adalah wanita.
Musuh kali ini adalah seorang pembunuh yang kejam, licik, dan cerdas. Mereka berpacu dengan waktu untuk mengungkap pelaku sebelum lebih banyak korban berjatuhan.
Disclaimer:
Seluruh tokoh, tempat, dan peristiwa dalam novel ini adalah fiksi. Apabila terdapat kemiripan dengan orang, tempat, atau kejadian nyata, hal tersebut murni kebetulan.
Novel ini mengandung adegan kekerasan dan pembunuhan yang ditujukan untuk kepentingan cerita. Tidak dimaksudkan untuk mendorong atau membenarkan tindakan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hantu Bucin
Nino dan Asep berjalan mendekati Gilang. Pemuda itu langsung berdiri ketika dua polisi itu sampai ke dekatnya.
“Tadi pingsan, sekarang pingsan, jangan-jangan hobi kamu pingsan,” seru Asep.
“Mana ada hobi pingsan, Pak.”
“Kamu ikut kita. Ada yang mau kita tanyakan.”
“Pak … bisa nggak saya makan dulu? Lapar,” pinta Gilang dengan wajah memelas sambil mengusap perutnya.
“Ya udah, ayo.”
“Alhamdulillah.”
Tenaga Gilang seakan terisi kembali setelah Nino mengajaknya makan. Ketiganya berjalan menuju perempatan, tempat para pedagang kaki lima berjualan.
Saat melintasi sebuah pohon besar, tanpa sengaja mata Gilang melihat sosok kuntilanak yang tadi mengganggunya. Pemuda itu menjulurkan lidahnya, sama seperti kuntilanak tadi meledeknya.
Perilaku Gilang tadi tak luput dari perhatian Asep. Pria itu menoyor kepala Gilang dari belakang. “Tadi aja pura-pura pingsan, sekarang sok ngeledek,” ujar Asep.
“Balas dendam, Pak. Tadi tuh kunti ngeledekin saya,” adu Gilang pada Asep. Suaranya seperti seorang anak yang sedang mengadu pada ayahnya.
Asep menggeleng pelan. Kenapa perilaku Gilang mirip seperti dirinya dan Nino saat seusianya.
Setelah berjalan selama lima menit, akhirnya mereka tiba di perempatan. Di sana, ada cukup banyak penjual kaki lima. Nino mengajak Gilang menuju penjual pecel lele.
“Mau pesan apa, A?” tanya sang penjual.
“Ayam dua,” ujar Nino.
“Makan di sini, A?”
“Iya.”
“Nasinya mau apa?”
“Nasi uduk aja. Kamu mau ayam apa lele?” tanya Nino pada Gilang.
“Dibayarin, Pak?” Gilang malah balik bertanya seraya melemparkan cengiran.
“Iya.”
“Dua-duanya, Pak. Satu dada ayam, satu lele, digoreng agak kering. Pakai nasi uduk dua porsi, sambalnya yang banyak.”
Nino dan Asep hanya terbengong. Pemuda itu benar-benar memanfaatkan peluang sebaik-baiknya.
“Badan ceking tapi makannya rewog,” celetuk Asep.
“Maklum, Pak. Saya belum makan dari siang, hehehe ….”
Nino mengajak makan di luar. Kebetulan masih ada meja kosong yang tersisa. Gilang menarik kursi di depan meja plastik persegi. Sementara Nino duduk berhadapan dengan Asep.
“Kamu sudah lama kenal Nilan?” tanya Asep membuka pembicaraan.
“Nggak, Pak. Saya baru ketemu kemarin. Dia tiba-tiba nongol di depan saya. Mana mukanya serem banget lagi.”
“Dia bilang apa pas datangin kamu?”
“Dia minta tolong supaya mayatnya ditemukan. Dia kedinginan katanya. Besok paginya saya langsung ke kantor Polsek dan kasih tahu soal mayat Nilan. Begitu, Pak.”
Gilang langsung meneguk air teh tawar hangat yang diberikan penjual pecel lele. Dua kali berteriak saat melihat setan, tak ayal membuat tenggorokannya kering.
“Kamu indigo dari lahir?” kali ini Nino yang bertanya.
“Nggak, Pak. Saya bisa ngelihat hantu pas baru lulus SMA. Jadi baru dua tahunan saya jadi indigo. Sumpah nggak enak banget. Tiba-tiba bisa lihat setan, hantu, dedemit dan teman-temannya. Mana mukanya jelek semua.”
“Mana ada setan yang bagus bentukannya,” celetuk Asep.
“Bapak indigo juga ya? Kata Nilan, Bapak interogasi dia.”
“Ya,” jawab Nino singkat.
Mendengar itu, Gilang menjadi paham kenapa para hantu yang tadi mengganggunya langsung pergi. Konon para hantu takut pada orang-orang bisa melihat mereka tapi tidak merasa takut sedikit pun.
“Kamu tiba-tiba jadi indigo kenapa? Kecelakaan?” tanya Nino. Siapa tahu saja penyebab Gilang bisa melihat makhluk astral sama sepertinya.
“Nggak, Pak. Waktu itudi masjid dekat rumah saya ada kegiatan ruqiyah masal. Nah ibu saya ngajakin ke sana.
Ternyata setan yang ada di badan salah satu pasien yang diruqiyah pindah ke saya. Saya langsung kesurupan dan jadi pasien ruqiyah juga.
Setelah tiga hari diam di tubuh saya, tuh setan baru berhasil diruqiyah. Setelah itu saya jadi bisa lihat makhluk astral.”
“Ibu kamu mau diruqiyah juga makanya datang ke sana?”
“Nggak. Cuma mau nonton tetangga yang diruqiyah.”
“Kayak kurang kerjaan aja nonton orang yang diruqiyah,” celetuk Asep.
“Nah iya, Pak. Kan jadi saya yang kena sialnya.”
“Kamu nggak minta mata batin kamu ditutup gitu?”
“Udah, Pak. Nggak mempan, saya tetap bisa lihat yang begituan.”
“Ya terima nasib aja.”
Wajah Gilang langsung masam mendengar ucapan Asep. Sejak dirinya bisa melihat makhluk dari dunia lain, hidupnya tidak tenang.
“Kamu penakut gini, terus kalau lihat setan pingsan terus gitu?”
“Saya pura-pura nggak lihat aja, Pak.”
“Tapi mereka tahu, mana yang bisa lihat mereka atau nggak. Mereka juga tahu kamu takut atau nggak. Biasanya yang penakut kayak kamu yang sering didatangi.”
“Masa? Pantesan aja saya sering lihat mereka, tapi saya pura-pura nggak lihat aja. tapi yang paling gong pas saya lihat hantu lagi PDKT.”
Refleks Nino dan Asep saling berpandangan. Cerita Gilang mengingatkan mereka tentang Ahqam yang melakukan PDKT pada Eris sampai akhirnya mereka resmi berpacaran.
“Saya pernah lihat kuntilanak berbaju kuning yang suka nongkrong di pohon pisang dekat rumah nenek saya. Dia lagi didekati pocong kampung sebelah. Tuh pocong caper banget mondar-mandir terus ke kebun pisang.”
Cerita Gilang terhenti sebentar ketika pesanan mereka tiba.
Melihat ayam goreng dan lele, ditambah aroma nasi uduk yang begitu harum langsung memicu rasa lapar Gilang. Dia langsung menyantap makanannya tanpa merasa malu atau canggung pada dua polisi di dekatnya.
Sambil makan, pemuda itu meneruskan ceritanya tentang hantu bucin.
“Si pocong dengan kepedean tingkat tinggi nembak si kunti baju kuning. Ditolak dong sama si kunti. Katanya, aku nggak mau sama kamu. Ngaca sana, muka kamu tuh jelek, gosong dan hidung kamu pesek.”
Uhuk … Uhuk …
Terdengar suara batuk orang yang duduk di meja sebelah. Suara Gilang yang cukup kencang membuat pengunjung yang duduk di dekat meja mereka bisa mendengar cerita pemuda itu. Bahkan tanpa sadar mereka ikut menyimak.
“Terus si pocong patah hati dong?” tanya Asep.
“Mana ada. Si pocong malah ganti wujud. Nggak kaleng-kaleng, dia cosplay jadi James Cortis.”
“Siapa tuh?” tanya Nino.
“James, K-Pop Idol dari grup Cortis. Bapak nggak tahu?”
“Emang harus?”
“Ya wajar sih kalau nggak tahu. Udah tuir juga,” ceplos Gilang dan sukses membuat Asep melotot.
“Lanjut, Bang! Lucu!” seru salah satu pengunjung di meja sebelah.
Gilang langsung menoleh. Pemuda itu melemparkan cengirannya. Tak menyangka ternyata bukan hanya Nino dan Asep yang menyimak ceritanya. Sesuai permintaan, dia pun melanjutkan kisah hantu bucin.
“Habis oplas kilat, tuh pocong langsung ngedance ala Cortis.”
Tiba-tiba saja Gilang bangkit. Pemuda itu langsung menari seperti member Cortis. Dia menyilangkan kedua tangannya lalu mengangkat sebelah kakinya, menggerakkan ke kanan dan kiri.
Setelah itu kaki Gilang terus bergerak memperagakan dance yang diperagakan James Cortis.
Tepuk tangan langsung terdengar dari semua pengunjung yang menyaksikan penampilannya. Gilang melemparkan senyuman seraya menangkupkan kedua tangannya. Dia kembali duduk lalu meneruskan makannya.
“Terus habis si pocong ganti muka, si kunti mau terima dia?” tanya Nino penasaran.
“Mau, Pak. Tapi si Kunti nggak mau kalah. Dia ikutan berubah jadi Carmen Hearts2Hearts.”
“Apaan tuh? K-Pop idol juga?” tanya Asep.
“Iya, Pak. Dia itu orang Indo lho, Pak. Dari Bali, cantik lagi.”
Gilang kembali berdiri. Kini dia tengah memeragakan tarian girl band Hearts2Hearts sambil menyanyikan lagunya.
“I can not focus on anything but you, baby. I can not focus on anything but you.”
Kali ini gaya tari Gilang dibuat lebih gemulai karena tengah memeragakan tarian girl band.
“Astaga nih anak urat malunya udah putus kayaknya,” bisik Nino pada Asep.
“Keseringan lihat setan jadi sawan kayak gitu.”
“Cepetan abisin makanannya, terus kita pergi,” usul Nino.
Nino dan Asep segera menghabiskan makanan mereka. Keduanya ingin secepatnya meninggalkan warung tenda tersebut.
Sementara Gilang masih asyik melakukan dance K-Pop. Apalagi ada gadis yang ikut berjoged dengannya.
Saking konsentrasinya melakukan dance, Gilang sampai tidak sadar jika Nino dan Asep sudah meninggalkan meja. Nino membayar makanan mereka, lalu bergegas pergi bersama Asep.
Sementara Gilang masih terus melakukan dance. Ada seorang gadis yang mendekat dan mengikuti dance Gilang. Saat pemuda itu menatap sang gadis, wajahnya berubah menjadi kuntilanak yang tadi mengganggunya.
“HWUAA!! Kenapa lo lagi!”
Pandangan Gilang menyapu sekitar, ternyata Nino dan Asep sudah tidak bersamanya lagi. Secepat kilat dia berlari dari sana sambil berteriak. “Bapaaaakk … tungguuu!!”
***
Si Gilang lebih bocor😂
aaciieeeee.....
Ahqam cosplay jd Tom Cruise...emmhh biar Eris makin semakin...huweee /Puke//Facepalm/