NovelToon NovelToon
DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

DIPAKSA MENIKAHI CEO DUDA

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / BTS
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: MHKaylid_

Di sebuah hotel mewah, Alyssa dipaksa menunggu "pembelinya".

"Aku sudah bayar mahal! Mana gadisnya?"

bentak pria bertubuh tambun sambil membanting gelas.

Mariska tersenyum licik.

"Tenang saja, Tuan. Dia memang keras kepala, tapi malam ini dia pasti jadi milik Anda."

"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" teriak Alyssa sambil berusaha melepaskan diri.

"Diam!" hardik Mariska sembari menampar pipi Alyssa. "Kalau bukan karena aku membesarkanmu, kau sudah mati kelaparan! Sekarang giliranmu membalas budi."

Air mata Alyssa jatuh, tetapi keberaniannya tidak ikut runtuh.

Saat para pria lengah, ia mendorong salah seorang dari mereka hingga terjatuh, lalu berlari sekuat tenaga menyusuri lorong hotel.

"Kejar dia!" teriak pria hidung belang itu murka.

"Jangan sampai gadis itu lolos!"

Suara langkah kaki bergema di sepanjang koridor.

Dengan napas memburu, Alyssa membuka pintu sebuah kamar yang tidak terkunci dan segera menguncinya dari dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MHKaylid_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Lampu-lampu taman di Mansion Laurent menyala satu per satu, menerangi jalan setapak yang membelah halaman luas. Beberapa pengawal tampak berjaga dengan jumlah yang jauh lebih banyak dibanding hari-hari sebelumnya.

Suasana mansion memang terlihat tenang.

Namun semua orang tahu...

Di balik ketenangan itu, ada ketegangan yang belum mereda.

Di ruang keluarga lantai satu...

Leonardo sedang duduk memeluk boneka dinosaurus hijau kesayangannya.

Sesekali ia melirik ke arah tangga.

"Kak Alyssa sudah bangun belum ya..."

Maria yang sedang menyusun vas bunga tersenyum lembut.

"Belum, Tuan kecil."

"Dokter bilang Nona Alyssa masih harus banyak istirahat."

Leonardo mengangguk pelan.

"Oh..."

Wajahnya terlihat murung.

Padahal biasanya ia paling sulit diam.

Tiba-tiba...

Suara mesin mobil terdengar dari halaman depan.

Leonardo langsung berdiri.

"Itu mobil siapa?"

Ranty melirik keluar jendela.

Lalu tersenyum.

"Tuan kecil..."

"Sepertinya tamu yang sangat spesial datang."

"Siapa?"

Belum sempat Ranty menjawab...

Pintu utama terbuka.

Seorang wanita paruh baya turun dari mobil sedan hitam.

Usianya sekitar enam puluh tahun.

Meski tidak lagi muda, wajahnya masih memancarkan wibawa dan kelembutan.

Ia mengenakan gaun panjang berwarna krem dengan mantel tipis.

Rambutnya yang mulai memutih disanggul rapi.

Begitu melihat wanita itu...

Mata Leonardo langsung berbinar.

"Nenek!"

Ia langsung berlari sekencang-kencangnya.

"Nenek!"

Wanita itu tersenyum lebar.

"Lucky Leonardo..."

Belum sempat ia membuka kedua tangannya...

Leonardo sudah lebih dulu memeluk pinggangnya erat.

"Nenek akhirnya datang!"

"Aku kangen sekali!"

Wanita itu tertawa kecil sambil mengusap kepala cucunya.

"Nenek juga sangat merindukanmu."

Leonardo mendongak.

"Nenek lama sekali."

"Nenek sibuk?"

Claire Laurent tersenyum penuh kasih.

Meskipun dia Ibu tiri bagi Lucas, namun kasih sayangnya sudah seperti Ibu kandung baginya.

"Iya."

"Nenek baru kembali dari luar negeri."

"Tapi begitu mendengar Daddy menelepon..."

"Nenek langsung datang."

Padahal jelas dia datang karena Ariana yang memaksa meminta pertolongan.

Leonardo mengangguk berkali-kali.

"Aku senang."

"Nenek jangan pergi lagi ya."

Claire mencubit pelan pipi cucunya.

"Nanti kita lihat."

Leonardo tiba-tiba menarik tangan neneknya.

"Ayo!"

"Mau ke mana?"

"Aku mau kenalin seseorang."

Claire tampak heran.

"Siapa?"

Leonardo menjawab dengan penuh semangat.

"Kak Alyssa!"

Claire berhenti melangkah.

"Alyssa?"

"Iya!"

"Dia baik."

"Dia cantik."

"Dia pintar bikin teh."

"Dia juga bisa ngobatin Daddy."

Claire memperhatikan wajah cucunya.

Beberapa hari lalu Lucas sempat bercerita bahwa Leonardo sering bertengkar kecil dengan Alyssa.

Sekarang...

Bocah itu justru tampak sangat antusias.

Claire tersenyum.

"Katanya dulu kamu tidak suka dengannya?"

Leonardo langsung menggaruk belakang kepalanya.

"Itu..."

"Aku salah."

Claire tertawa pelan.

"Oh?"

Leonardo mengangguk cepat.

"Dulu aku kira Kak Alyssa bikin Daddy terluka."

"Tapi ternyata..."

"Kak Alyssa juga sakit."

"Nenek tahu nggak..."

Leonardo mulai bercerita panjang.

"Waktu Daddy gendong Kak Alyssa..."

"Wajah Daddy serem."

"Serem?"

"Iya."

"Kayak singa."

Maria dan Ranty yang berdiri tidak jauh langsung menahan tawa.

Leonardo melanjutkan dengan penuh semangat.

"Aku belum pernah lihat Daddy lari."

"Tapi kemarin Daddy lari."

"Cepat sekali."

Claire mendengarkan dengan saksama.

"Terus?"

"Kak Alyssa tidur lama."

"Aku sedih."

"Aku pikir..."

"...Kak Alyssa nggak bangun lagi."

Suara Leonardo perlahan mengecil.

Claire langsung berlutut agar sejajar dengan cucunya.

"Kak Alyssa sekarang sudah lebih baik."

"Iya."

"Tapi..."

Leonardo menunduk.

"Aku kemarin sempat jahat sama dia."

Claire mengusap pipinya.

"Kalau begitu nanti minta maaf."

Leonardo mengangguk mantap.

"Iya!"

Tak lama kemudian...

Lucas turun dari lantai dua.

Begitu melihat ibunya...

Ekspresi wajahnya sedikit melunak.

"Ibu."

Claire tersenyum hangat.

"Lucas."

Mereka saling berpelukan singkat.

Claire memperhatikan putranya.

"Kau terlihat lebih kurus."

Lucas tersenyum tipis.

"Pekerjaan."

Claire menggeleng pelan.

"Pasti bukan hanya pekerjaan."

Lucas mempersilakan ibunya duduk di ruang keluarga.

Maria segera menyajikan teh hangat.

Setelah suasana sedikit tenang...

Claire langsung bertanya.

"Sekarang ceritakan."

"Sebenarnya apa yang terjadi?"

Lucas terdiam beberapa saat.

Lalu mulai menceritakan semuanya.

Tentang ancaman Patrick.

Tentang Isabel.

Tentang Alyssa yang menjadi target.

Tentang penyergapan di gudang.

Dan tentang Ariana yang meninggalkan Alyssa sendirian hingga hampir kehilangan nyawa.

Claire mendengarkan tanpa menyela.

Semakin lama...

Ekspresinya semakin serius.

Setelah Lucas selesai...

Claire menghela napas panjang.

"Jadi..."

"Semuanya bermula karena gadis itu."

Lucas mengangguk pelan.

"Iya."

Claire bertanya lagi.

"Apa Patrick benar-benar mengincarnya?"

"Ya."

"Dan sampai sekarang kau belum tahu alasannya?"

Lucas menggeleng.

"Belum."

Claire menatap putranya lama.

"Lalu..."

"Kenapa kau begitu melindunginya?"

Lucas sedikit terdiam.

Pertanyaan itu...

Sama persis dengan pertanyaan yang sejak tadi terus muncul di kepalanya.

"Aku..."

"...tidak tahu."

Claire mengangkat alis.

"Tidak tahu?"

Lucas tersenyum pahit.

"Awalnya hanya karena merasa bertanggung jawab."

"Tapi sekarang..."

Ia mengembuskan napas pelan.

"Entahlah."

"Saat melihat dia pingsan..."

"Aku hanya berpikir..."

"...aku tidak boleh kehilangan dia."

Claire memperhatikan putranya dengan saksama.

Sebagai seorang ibu...

Ia mengenal Lucas lebih baik daripada siapa pun.

Putranya itu selalu rasional.

Selalu tenang.

Jarang membiarkan perasaan menguasai logika.

Namun malam ini...

Nada suaranya berbeda.

Belum sempat Claire berbicara...

Leonardo yang sejak tadi duduk di karpet tiba-tiba mengangkat tangan.

"Daddy."

Lucas menoleh.

"Ada apa?"

Leonardo berkata dengan wajah sangat serius.

"Daddy."

"Nikahin Kak Alyssa aja."

Ruangan langsung sunyi.

Maria yang sedang menuang teh hampir menjatuhkan teko.

Ranty spontan menutup mulutnya.

Claire membelalakkan mata.

Sedangkan Lucas...

Benar-benar terpaku.

"Apa?"

Leonardo mengangguk mantap.

"Iya."

"Biar Kak Alyssa tinggal di sini terus."

"Biar nggak ada orang jahat yang ganggu."

"Biar aku punya Mommy."

Claire sampai tidak bisa menahan senyum.

Lucas memijat pelipisnya.

"Leonardo."

"Iya?"

"Siapa yang mengajarimu bicara seperti itu?"

"Nggak ada."

"Itu ide aku."

Lucas menghela napas panjang.

"Ini bukan urusan anak kecil."

Leonardo langsung cemberut.

"Tapi..."

"Kak Alyssa baik."

"Aku suka."

Lucas berkata lebih tegas.

"Leonardo."

"Dengar Daddy."

"Boleh menyayangi seseorang."

"Tapi..."

"Jangan ikut campur urusan orang dewasa."

Leonardo menggembungkan pipinya.

"Kenapa?"

"Karena tidak semua hal sesederhana yang kamu pikir."

"Tapi kalau Daddy nikah..."

"Kak Alyssa senang."

Lucas menggeleng.

"Itu belum tentu."

Leonardo kembali bertanya polos.

"Memangnya Daddy nggak suka sama Kak Alyssa?"

Pertanyaan itu membuat Lucas terdiam.

Claire diam-diam memperhatikan reaksi putranya.

Beberapa detik berlalu.

Lucas akhirnya menjawab singkat.

"Itu bukan pembahasan untuk sekarang."

Leonardo langsung memeluk dinosaurusnya.

"Hmph..."

"Daddy selalu gitu."

Claire tertawa kecil.

"Sudah."

"Nanti kalau Kak Alyssa sudah sembuh..."

"Kamu minta maaf saja padanya."

Leonardo mengangguk.

"Iya."

"Lalu..."

Ia kembali menoleh kepada Lucas.

"Tapi kalau suatu hari Daddy berubah pikiran..."

Lucas langsung memotong.

"Leonardo."

"Iya..."

"Cukup."

Bocah itu langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Siap."

Melihat tingkah cucunya, Claire tertawa pelan.

Sedangkan Lucas hanya bisa menggeleng sambil mengembuskan napas.

Namun jauh di dalam hatinya...

Ucapan polos Leonardo ternyata meninggalkan sebuah pertanyaan yang bahkan belum berani ia jawab sendiri.

"Kalau memang suatu hari nanti..."

"Apa mungkin...?"

Lucas segera menepis pikiran itu.

Masih terlalu banyak masalah yang harus diselesaikan.

Patrick masih bebas.

Isabel belum ditemukan.

Dan Ariana akan segera tiba di Mansion Laurent untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Malam itu...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!