"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.
Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.
Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31 - Bidadari Pengantar
[Ambang misi khusus tercapai. Misi akan dibuka setelah validasi aset selesai.]
Raka membaca pesan itu dua kali.
Validasi aset.
Kalimat itu terasa seperti pintu yang sudah terbuka sedikit, tetapi belum boleh didorong. Sistem tidak pernah menjelaskan semuanya sekaligus. Ia memberi umpan, menunggu Raka bergerak, lalu membuka lapisan berikutnya ketika syarat cukup.
Pagi setelah acara bisnis, Raka memilih tidak langsung mengejar jawaban. Ia bangun lebih awal, berlatih ringan di area belakang villa, lalu memeriksa laporan Adi. Ada lima kontak bisnis baru, dua calon kontrak audit keamanan, dan satu undangan diskusi dari asosiasi UMKM. Kevin mungkin ingin membuat orang menjauh, tetapi hasilnya justru seperti menyapu debu dari kaca: siapa yang punya mata akhirnya bisa melihat.
Menjelang siang, hujan turun.
Surabaya jarang menjadi romantis saat hujan. Jalan menjadi macet, selokan cepat penuh, suara klakson naik, dan pengemudi motor harus memilih antara basah atau terlambat. Di dalam Villa Citraland, semuanya terasa terlalu nyaman: lantai bersih, udara dingin, kaca besar yang membuat hujan terlihat seperti dekorasi.
Raka baru selesai rapat daring ketika perutnya berbunyi.
Adi sedang di kantor. Agus mengurus jadwal shift. Staf rumah belum lengkap karena beberapa ruangan masih tahap akhir. Raka membuka aplikasi GoFood dan memesan nasi bebek, sup hangat, serta kopi untuk dirinya dan petugas pos depan.
Estimasi pengantaran: tiga puluh lima menit.
Pesanan datang dalam dua puluh delapan menit.
Bel berbunyi dari gerbang. Kamera menampilkan seorang pengantar perempuan di atas motor matic tua, jas hujan plastiknya menempel di tubuh, helmnya penuh titik air. Di punggungnya ada tas GoFood hijau yang sudah kusam, tetapi ditutup rapat dengan plastik tambahan agar makanan tidak basah.
Petugas pos menghubungi rumah. "Pak, pesanan makanan. Kurir perempuan."
"Izinkan sampai pos dalam," kata Raka. "Saya turun."
Ketika Raka tiba di area depan, perempuan itu sedang berdiri di bawah kanopi kecil. Usianya mungkin awal dua puluhan. Wajahnya bersih tanpa riasan tebal, kulitnya basah oleh hujan, dan matanya lelah tapi jernih. Ia melepas sarung tangan plastik, lalu mengeluarkan makanan dengan hati-hati.
"Pak Raka?" tanyanya.
"Ya."
"Pesanan GoFood, Pak. Maaf agak basah di luar, tapi makanan aman. Saya lapis plastik lagi tadi."
Suaranya sopan, tidak dibuat manis. Ada napas pendek di setiap kalimat, tanda ia baru saja melawan hujan dan jalan licin.
Petugas pos yang tadi menerima panggilan ikut melihat tasnya. Bagian luar tas itu penuh noda air, tetapi di dalamnya makanan tersusun rapi. Setiap kotak dibungkus ulang, sambal dipisahkan, minuman diberi plastik tambahan, bahkan sedotan ditempel dengan selotip kecil agar tidak jatuh. Itu bukan pelayanan dari orang yang asal mengejar order. Itu kerja orang yang takut mengecewakan meski hidupnya sendiri sedang dikejar banyak hal.
"Jalannya banjir?" tanya Raka.
Nisa mengangguk. "Di dekat perempatan agak tinggi, Pak. Saya muter lewat gang. Maaf kalau motor saya sempat berhenti di depan gerbang. Remnya kadang bunyi kalau kena air."
Ia mengatakan itu dengan malu, seolah motor tua yang rewel adalah kesalahannya. Raka melihat ujung sepatunya yang basah, celana bagian bawah yang terkena cipratan lumpur, dan jari-jari yang sedikit gemetar karena dingin. Namun saat membuka aplikasi untuk konfirmasi pesanan, ia tetap memastikan nama, nomor order, dan jumlah item dengan teliti.
"Bebek satu, sup satu, kopi satu, tambahan es teh dua untuk pos keamanan. Sudah lengkap, Pak. Kalau ada kurang, bisa lapor di aplikasi, tapi saya cek tadi semuanya masuk."
Petugas pos berbisik kagum, "Rapi sekali, Mbak."
Nisa hanya tersenyum singkat. "Kalau tidak rapi, pelanggan marah, Pak."
Ia mengusap air dari dagunya dengan punggung tangan, lalu cepat-cepat menunduk lagi.
Raka menerima paket itu. "Terima kasih. Kamu cepat."
Perempuan itu tersenyum kecil. "Takut makanannya dingin, Pak."
Di aplikasi, Raka memberi tip besar. Selain itu, ia mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dari dompet untuk petugas pos dan kurir tersebut.
"Ini untuk kamu. Hujannya deras."
Perempuan itu melihat uangnya, lalu terkejut. "Pak, ini kebanyakan."
"Tidak apa-apa."
"Maaf, Pak." Ia mengambil hanya sebagian kecil, lalu mengembalikan sisanya dengan dua tangan. "Di aplikasi Bapak sudah kasih tip. Kalau ini semua saya ambil, rasanya tidak enak. Saya cuma antar makanan."
Petugas pos yang melihat ikut terdiam.
Raka menatapnya lebih serius.
Di kota ini, ia sudah terlalu sering melihat orang meminta dengan alasan keluarga, memeras dengan alasan jalan, dan mencuri dengan alasan miskin. Perempuan di depannya basah kuyup, jelas butuh uang, tetapi masih repot mengembalikan kelebihan yang sebenarnya bisa ia ambil tanpa siapa pun protes.
"Namamu?" tanya Raka.
"Nisa, Pak."
"Kuliah?"
Nisa tersenyum malu. "Dulu sempat, Pak. Sekarang berhenti dulu. Kerja apa saja yang bisa."
Raka mengaktifkan Mata Pemimpin.
Panel tipis muncul.
[Nisa]
[Potensi belajar: tinggi.]
[Risiko perilaku: rendah.]
[Ketahanan kerja: tinggi.]
[Tekanan ekonomi: berat.]
[Catatan: integritas awal kuat; kepercayaan jangka panjang harus dibuktikan melalui pilihan dan waktu.]
Raka membaca catatan terakhir dengan puas.
Sistem tidak berkata Nisa pasti loyal. Tidak ada manusia yang sesederhana angka. Tetapi potensi dan integritas awalnya jelas. Kadang permata tidak ditemukan di ruang rapat. Kadang ia datang dengan jas hujan murah dan tas makanan basah.
"Nisa," kata Raka, "kalau suatu hari ada kesempatan kerja yang lebih stabil, kamu tertarik?"
Mata Nisa membesar. "Kerja, Pak?"
"Administrasi dasar, belajar dari awal. Tidak sekarang. Aku hanya tanya."
Nisa menunduk, gugup. "Saya... saya tertarik, Pak. Tapi saya tidak punya pengalaman kantor."
"Pengalaman bisa dilatih. Jujur lebih sulit dicari."
Wajah Nisa memerah tipis. Ia tampak tidak tahu harus menjawab apa. Hujan masih jatuh di belakangnya, membuat dunia luar buram.
"Ini kartu kantor saya," kata Raka, menyerahkan kartu Garuda Shield. "Kalau kamu serius, hubungi nomor ini. Jangan hari ini kalau masih kerja. Pulang dulu, istirahat."
Nisa menerima kartu itu seperti menerima sesuatu yang rapuh.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus bilang apa."
"Bilang saja hati-hati di jalan."
Ia tertawa kecil. "Iya, Pak. Hati-hati di jalan. Eh, maksudnya saya yang hati-hati."
Raka tersenyum.
Nisa memasukkan kartu itu ke kantong kecil di dalam jas hujan, memastikan tidak basah. Lalu ia memakai helm, menyalakan motor tua, dan bersiap pergi.
Namun sebelum benar-benar keluar dari gerbang, ponselnya berdering.
Ia berhenti di sisi jalan, mengangkat panggilan sambil menunduk agar hujan tidak masuk ke speaker. Raka tidak berniat mendengar, tetapi suara Nisa terbawa angin dari gerbang yang belum tertutup penuh.
Saat Nisa buru-buru pergi, ia menerima telepon. Suaranya bergetar: "Iya Bu... uang obat Bapak... Nisa usahakan..."
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....