Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 : Kehampaan yang Terputus
Jam dinding di sudut kamar menunjukkan pukul 23.47 malam, tapi tak ada yang benar-benar peduli dengan waktu di ruangan itu. Tirai tertutup rapat, satu-satunya sumber cahaya datang dari layar laptop yang menyala di atas meja berantakan, memantul pada wajah seorang pemuda yang duduk bersandar di kursi kerjanya.
Namanya tidak penting lagi diingat siapa pun—bahkan dirinya sendiri kadang lupa terakhir kali ada yang memanggil namanya dengan nada hangat. Usianya dua puluh dua tahun. Kamarnya adalah dunia yang lebih nyata baginya daripada dunia di luar sana.
Sudah tiga tahun sejak terakhir kali ia benar-benar keluar rumah untuk alasan selain membeli makanan atau mengambil paket. Kuliahnya berhenti di semester empat. Pekerjaan lepas menerjemahkan teks di internet cukup untuk membayar tagihan dan berlangganan beberapa platform streaming. Hidupnya berjalan dalam siklus yang sama: bangun siang, makan seadanya, kerja seperlunya, lalu menghabiskan sisa waktu menonton apa saja yang bisa membuatnya lupa bahwa hari itu telah berlalu tanpa arti.
Ia tidak sedih. Setidaknya, ia tidak pernah menyebut dirinya sedih. Kata yang lebih tepat adalah kosong—seperti ruangan yang catnya sudah pudar sejak lama, dan tak ada yang repot-repot mengecatnya ulang karena toh tidak ada yang datang berkunjung.
Malam itu berbeda, meski ia belum menyadarinya.
Ia sedang menonton episode terakhir dari sebuah serial anime yang telah ia ikuti selama berbulan-bulan. Bukan cerita tentang kekuatan super atau pertarungan megah yang membuatnya terpaku, melainkan satu adegan sederhana—tokoh utamanya, yang dulunya penuh keraguan dan merasa tidak berguna, akhirnya berdiri di depan orang-orang yang pernah meremehkannya dan berkata, dengan suara yang tidak lagi gemetar:
"Aku tidak butuh alasan untuk mulai. Aku hanya butuh memutuskan untuk melangkah."
Kalimat itu—sesederhana apa pun kedengarannya bagi orang lain—menghantam sesuatu di dalam dirinya yang sudah lama tidak tersentuh.
Ia menatap layar itu lama sekali setelah episode selesai, layar hitam dengan tulisan kredit yang bergulir pelan. Dan untuk pertama kalinya dalam entah berapa tahun, sesuatu bergerak di dadanya. Bukan euforia besar, bukan air mata dramatis. Hanya sebuah bisikan kecil, pelan, tapi jujur.
Mungkin aku juga bisa mulai. Besok. Aku akan mulai besok.
Ia bahkan sudah membayangkannya—membuka jendela kamarnya untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan\, mencari lowongan kerja yang sesungguhnya\, mungkin menghubungi kembali salah satu teman lama yang pesannya belum ia balas sejak dua tahun lalu. Pikiran-pikiran kecil itu\, yang biasanya akan ia tepis dengan alasan *nanti saja\, aku belum siap*\, malam itu terasa berbeda. Terasa mungkin.
Ia menutup laptopnya, merasa lelah namun dengan cara yang asing—lelah yang terasa seperti awal, bukan akhir.
Ia tidak pernah tahu bahwa itu adalah pikiran terakhirnya sebagai manusia biasa.
---
Suara itu nyaris tak terdengar—derit pelan dari jendela yang terdorong terbuka dari luar. Kamarnya ada di lantai dua, dan seharusnya tidak ada yang bisa mencapainya semudah itu. Tapi malam itu, seseorang berhasil.
Sosok berjubah hitam menyelinap masuk tanpa suara, bergerak dengan kelihaian seseorang yang sudah terlatih untuk tidak pernah tertangkap. Tangannya menggeledah laci meja, mencari sesuatu yang berharga—uang tunai, barang elektronik, apa pun yang bisa dijual cepat.
Pemuda itu baru menyadari kehadirannya ketika bayangan hitam itu sudah berdiri hanya beberapa langkah darinya, terkejut karena mengira kamar itu kosong.
Ada momen hening yang aneh. Dua pasang mata saling bertatapan dalam gelap—satu penuh ketakutan yang baru saja diselamatkan oleh mimpi kecil tentang esok hari, satu lagi dipenuhi kepanikan seorang pencuri yang tahu ia baru saja tertangkap basah.
"Tunggu—" Ia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya.
Pencuri itu bergerak lebih dulu, didorong oleh insting bertahan hidup yang buta akan konsekuensi. Sebilah pisau lipat kecil, yang tadinya hanya dibawa sebagai jaga-jaga, kini terhunus dan menghantam tanpa perhitungan.
Rasa sakit itu datang cepat, lalu menghilang lebih cepat lagi—digantikan oleh sensasi dingin yang merambat dari dada ke seluruh tubuh. Ia merosot ke lantai kamarnya sendiri, kamar yang selama bertahun-tahun menjadi seluruh dunianya, kini menjadi tempat terakhir ia melihat langit-langit yang sama, dengan poster anime yang sudah menguning di sudutnya.
Pandangannya mengabur. Suara langkah kaki pencuri yang panik melarikan diri terdengar samar, seolah datang dari balik air.
Dan dalam detik-detik terakhir kesadarannya, yang muncul bukan penyesalan atas hidup yang sia-sia, bukan pula ketakutan akan kematian itu sendiri.
Yang muncul hanyalah satu pikiran kecil, konyol, namun jujur sampai ke akar-akarnya:
Aku baru saja mau mulai... Kenapa harus sekarang?
Kegelapan menelannya bulat-bulat setelah itu. Tidak ada rasa sakit lagi. Tidak ada suara. Tidak ada apa-apa.
Hanya hampa—hampa yang jauh berbeda dari kehampaan yang selama ini ia kenal.
---
Ketika kesadaran itu perlahan kembali, tidak ada langit-langit kamar yang menyambutnya. Tidak ada dinding, tidak ada lantai, tidak ada gravitasi yang bisa ia rasakan.
Hanya cahaya putih yang membentang tanpa batas ke segala arah, sunyi dengan cara yang hampir menenangkan—seperti berada di dalam ruang antara satu napas dan napas berikutnya, di mana waktu tak lagi memiliki arti.
Ia mengangkat tangannya sendiri di hadapan wajahnya, memastikan bahwa ia masih memiliki tubuh, meskipun tidak yakin apakah kata "tubuh" masih berlaku di tempat seperti ini.
Apakah ini... akhir dari segalanya?
Sebuah suara menjawab pertanyaan yang bahkan belum sempat ia ucapkan keras-keras—suara yang datang dari segala arah sekaligus, namun anehnya terasa dekat, seolah berbisik tepat di sebelah telinganya.
"Belum," suara itu berkata, dengan nada yang berwibawa namun santai, seperti seseorang yang telah menyaksikan miliaran akhir dan awal, dan tidak lagi terkesan oleh keduanya. "Sebenarnya, ini baru permulaan."
Dari kejauhan cahaya putih itu, sesosok bayangan mulai terbentuk, melangkah mendekat dengan tenang—seolah waktu tidak pernah menjadi masalah baginya.
Dan di situlah, di antara kekosongan yang tidak lagi menakutkan, hidup barunya akan dimulai.
---
*Bersambung ke Bab 2: Empat Permintaan*