Hi ☺️
Novel lanjutan dari akun pertama "AKUN ANANTA"
Mengandung adegan 21+ harap bijak dalam membaca cerita ini🚫
Maysaroh diperkosa oleh Rio dan menghadapi tekanan perasaan akibat peristiwa hitam tersebut. Kesedihan Maysaroh bertambah saat dirinya hamil. Pattra tahu apa yang sudah terjadi kepada diri Maysaroh menaruh simpati padanya. Akhirnya Pattra menikahi Maysaroh.
Ikuti kisah lanjutannya akankah Pattra dan Maysaroh menjadi sepasang suami istri yang sangat bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isna Imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Di butik
Isna sedang memikirkan cara bagaimana mengusir perempuan yang di bawah pulang oleh suaminya.
"Bagaimana kalau aku kerja sama dengan Mama saja. Mama sepertinya tidak suka dengan perempuan itu. Aku tahu Mama pasti mendukungku, karena aku kan menantu kesayangannya" Ucap Isna dengan tersenyum
Ntar saja lah... Pulang dari makan siang dengan Mas Pattra. Aku akan berbicara dengan Mama di rumah.
.
"Romlah..." Panggil Mama Una
"Oh Romlah..." Teriak Mama Una
"Iya Bu" Ucap Romlah tersenyum
"Di mana perempuan itu?" Tanya Mama Una
"Siapa Bu? Apa perempuan yang di bawa pulang ke sini oleh Pak Pattra, Bu?" Tanya Romlah
"Iya. Baru siapa lagi kalau bukan dia" Jawab Mama Una
"Oh" Ucap Romlah cengengesan
"Panggil dia suruh menemui ku sekarang juga di kamar ku" Perintah Mama Una
"Baik Bu" Jawab Romlah segera pergi memanggilnya
"Hey kamu..."Teriak Romlah memanggil perempuan yang di tabrak Pattra
"Siapa?" Jawabnya dengan melihat ke belakang
"Kamu! Jangan pura-pura tidak dengar iya..." Ucap Romlah sinis
"Habis situ panggil kamu" Jawab Mau dengan cemberut
"Kalau bukan kamu panggilan yang cocok. Terus apa donk, nama sendiri saja tidak tau. Yasudah sana kamu di panggil sama Bu Una, di tunggu di kamarnya" Ucap Romlah memberitahunya
"Di mana kamarnya Bu Una?" Tanya May
"Sono... Kamu jalan terus ke arah sana. Nanti kalau kamu menemukan kamar, nah itu kamar Bu Una" Jawab Romlah dengan menunjukan arah
"Rumah ini kan besar. Bagaimana kalau aku ke sasar" Ucap May
"Udah gak usah banyak nanya. Cepet ke sana" Perintah Romlah dengan membentaknya
May segera pergi menuju kamar Bu Una.
"Duh besar banget rumah ini, sama seperti rumahku waktu sebelum Papa mengalami kebangkrutan" Ucap batin Maysaroh
"Andai saja hal itu tidak terjadi di keluarga ku pasti hidupku tidak menderita seperti sekarang ini. Ya Tuhan tolong beri petunjuk siapa orang yang sudah merebut proyek besar Papa. Sampai-sampai kami sekeluarga mengalami kehancuran seperti ini. Bapak... Ibu maafkan May yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk kalian" Ucap May lirih dengan meneteskan air matanya dan segera menghapus air matanya
"Di mana iya kamar Bu Una? Apa ini kamarnya" Ucap May yang sedang bertanya-tanya kepada dirinya sendiri
"Ah... Sudahlah aku ketuk pintu terlebih dahulu
"Tok... Tok... Tok" Suara pintu di ketuk dari luar
"Masuk" Suara Mama Una dari dalam kamar
"Bu. Ibu memanggilku untuk datang kemari?" Tanya May lirih dan menundukkan kepalanya
"Iya. Duduklah di situ" Jawab Mama Una
"Ada hal yang perlu saya katakan kepada mu dan kamu harus jawab dengan jujur. Kalau kamu sampai berbohong bakal tau akibat buruk yang kamu terima nantinya" Ucap Mama Una mengancamnya
"Apa tujuan kamu masuk di rumah ini?" Tanya Mama Una
"Apa kamu butuh uang?"
"Berapa uang yang kamu butuhkan? 100 Juta, 500 Juta, atau berapa yang kamu perlukan?" Tanya Mama Una dengan nada tinggi
"Bu. Aku tidak membutuhkan uang sebanyak itu" Jawab May dengan tegas
"Kalau kamu tidak butuh uang. Ada niat jahat apa yang kamu inginkan dari keluargaku ini? Siapa yang menyuruhmu memata-matai keluargaku?" Tanya Mama Una
"Apa yang Ibu katakan, semua itu salah Bu. Aku datang ke sini tidak ada niat jahat untuk keluarga ini" Jawab May
"Tidak usah berbohong" Ucap Mama Una
"Benar Bu. Aku tidak berbohong, aku saja tidak tau siapa nama ku" Jawab May lirih
"Halah itu semua alasan kamu saja" Ucap Mama Una tidak percaya
"Aku minta maaf, Bu" Ucap May memohon kepada Mama Una dan bertekuk lutut di hadapannya
"Apa-apaan kamu ini. Gak bakalan aku maafkan perempuan sepertimu munafik, bermuka dua. Awas saja kalau kamu mengacaukan keluarga ini. Berdiri kamu... Berdiri" Jawab Mama Una membentak May
May dengan lemas segera berdiri.
"Oh ya begini saja sesuai dengan bulan ini yaitu bulan Mei. Aku beri kamu nama May, Biar aku mengingatnya kalau kau hadir di keluarga ini bulan Mei" Ucap Mama Una memberikan nama panggilan
"Hah... Kenapa bisa sama begini iya? Apa ini cuma kebetulan saja" Ucap batin Maysaroh tersenyum
"Baik Bu. Saya suka nama ini? May, sesuai" Jawab May tersenyum
"Apa kamu bilang sesuai?" Tanya Mama Una dengan menaikkan salah satu alisnya
"Iya Bu. Maksudku saya suka dengan nama itu" Jawab May tersenyum
"Tugas kamu sekarang pijitin kaki saya, sini kamu" Perintah Mama Una yang sudah duduk di kursi
"Baik Bu" Jawab May
"Aw... Sakit" Teriak Mama Una. Kamu bisa pijat gak sih May? Jangan kasar donk! Mama Una berdiri dan menendang May
"Sakit Bu..." Rintih May
"Makanya kerja yang bener donk" Jawab Mama Una dengan memalingkan wajahnya
"Sini Bu aku pijat lagi" Ucap May memegang kaki Mama Una
"Gak usah. Pergi sana..." Jawab Mama Una mengusirnya
"Baik Bu" Ucap May segera pergi dari kamar Mama Una
"Kerja gitu aja gak becus" Umpat Mama Una
May keluar dari kamar Bu Una.
"Buahahaha" May tertawa terbahak-bahak
"Ibu... Ibu..." Ucap May dengan mengeleng-gelengkan kepalanya
"Mana saya pernah bekerja sih Bu. Di rumah saja yang mengerjakan semua pekerjaan itu Mamaku. Rasain itu. Makanya jangan sok kaya, emang kaya sih keluarga ini" Ucap May cengengesan sendiri
.
"Hem... Kayak ada yang senang ni" Ucap Isna berdehem
"Hai Bu Isna. Selamat siang, Bu" Sapa May dengan tersenyum ramah
"Dah. Gak usah baik sama aku, gak bakalan ngaruh" Ucap Isna
"Iya Bu" Jawab May dengan menundukkan kepalanya
"Ada yang suruh jawab pertanyaan ku?" Tanya Isna
"Lha... Bu. Kan saya punya mulut, jadi bisa ngomong. Iya aku harus jawab donk" Jawab May tersenyum
"Diam. Pergi sana buatkan aku Jus Mangga" Perintah Isna
"Baik Bu" Jawab May segera pergi ke dapur
"Ma... Mama" Teriak Isna yang mencari Mama Una tidak ada di kamarnya
"Iya Is... Ada apa? Mama ada di teras kamar" Jawab Mama Una
"Ma..." Ucap Isna
"Iya sayang. Kenapa?" Tanya Mama Una
"Aku bete deh sama perempuan itu" Jawab Isna dengan cemberut
"Bukan kamu saja yang bete sama May. Mama juga, masa dia pijat kaki Mama kenceng banget. Sakit kan..." Ucap Mama Una
"Apa Ma? Etzzz.... Tadi Mama bilang May. Siapa May, Ma?" Tanya Isna terkejut
"Itu tu... Perempuan yang di bawa suamimu. Mama kasih nama May sesuai dengan bulan ini Mei" Jawab Mama Una
"May sama dengan bulan Mei. Wow... Bagus juga, Ma" Ucap Isna dengan tertawa terbahak-bahak
"Hm" Jawabnya
"Ma... Usir May donk dari rumah ini. Aku tidak suka dengan adanya May di rumah ini" Ucap Isna
"Mama juga tidak suka! Tapi kalau Mama mengusir dia tanpa sebab pasti Papa kamu itu bakalan membela May. Kamu tau sendiri kan waktu itu, Papa kamu merasa kasian kepada May" Jawab Mama Una
"Papa itu apa-apa pasti kasihan dan gak tegaan orang nya" Ucap Isna
"Tenang saja jangan hiraukan Papa. Mama pasti bisa mengusir May. Kita lihat aja tanggal mainnya" Jawab Mama Una
"Iya Ma. Aku dukung Mama" Ucap Isna dengan memeluk Mama Una
Bersambung... ✍️