Demi balas dendam pada orang-orang yang sudah menjualnya, Aradella terpaksa setuju untuk menikah dengan Devandra, seorang CEO yang dingin dan arogan. Sebuah kisah pernikahan pilu tanpa adanya cinta.
Ketika cinta mulai menyatukan mereka, tiba-tiba saja seorang wanita lain datang mengaku sebagai tunangan Devandra.
~Follow Instagram @asti.amanda24
~Facebook : Asti Amanda
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Dibentak-bentak
Kedua mata Aradella terbuka perlahan. Rasa pusing langsung menyergap kepalanya. Ia bangkit, mengerutkan kening, bingung mendapati dirinya di kamar asing lagi. Namun, sentuhan pada kepalanya segera mengembalikan ingatannya. Matanya melebar: pelelangan, dibeli, dan dibawa pulang.
Ella memeluk kedua lutut, menenggelamkan wajahnya. Air mata kembali mengalir, namun kini ia sudah mengenakan pakaian baru.
"Ibu... Ibu tega sekali memperlakukan aku begini. Padahal aku selalu baik dan patuh. Aku pikir Ibu akan menyayangiku setelah Ayah meninggal. Ternyata, Ibu berubah secepat ini," tangis Ella dalam hati, suaranya tak bisa terdengar.
Ia mencoba bicara, namun sia-sia. Pita suaranya masih bisu, sama seperti tadi siang. Ia pernah berharap Bu Kalista akan menjadi ibu tiri yang baik dan penuh kasih sayang, berbeda dari cerita di luar sana. Sayang, harapan itu hanyalah kebodohan. Ia harus hidup selama lima tahun bersama wanita serakah itu.
Ella celingak-celinguk. Kamar itu kosong selain dirinya. Ia pun berdiri, berjalan ke jendela, dan membuka tirai. Malam sudah tiba.
Saat asyik memandang ke luar, suara pintu yang didobrak keras di belakangnya mengejutkan Ella. Ia berbalik, dan sedetik kemudian, pipinya perih. Ia ditampar oleh seorang wanita gemuk tua berpakaian ala pelayan.
"Dasar pemalas!" pekik wanita itu, Bu Jeje.
"Aduh!" Ella tersungkur ke lantai, menahan rasa sakit. Bu Jeje adalah kepala asisten di Vila Devandra, dikenal galak dan ketat mengawasi semua pelayan.
'Siapa dia?' batin Ella sambil mendongak menatap Bu Jeje.
"Hei! Kenapa diam saja! Kau punya mulut, 'kan!" Bentakan Bu Jeje terlalu keras hingga Ella refleks menutup kedua telinganya.
Ella menggeleng keras, lalu menunjuk ke mulutnya, mengisyaratkan bahwa ia tidak bisa bicara sementara. Bu Jeje mengangkat sebelah alisnya.
"Jadi, kau bisu?" tanya Bu Jeje, suaranya masih bernada tinggi. Ella mengangguk sedih.
Alih-alih kasihan, Bu Jeje malah menarik lengan Ella agar berdiri tegak, lalu menatapnya tajam. "Mau kau bisu atau buta, mulai sekarang kau bekerja di rumah ini! Ikut denganku!"
Bu Jeje menyeret paksa Ella keluar kamar. Ella meringis kesakitan dan hanya bisa pasrah.
Bruk!
Ella kembali mengaduh saat Bu Jeje menjatuhkannya ke lantai dapur. Para pelayan wanita lain yang melihatnya terkejut, namun beberapa diam-diam tertawa.
"Lihat, bukankah itu gadis yang dipungut Tuan Muda?"
"Iih, kasihan banget."
"Pasti dia dibuang kekasihnya, lalu datang menggoda Tuan Muda agar bisa tinggal di sini."
"Benar. Dasar gadis tak tahu malu."
Gunjingan para pelayan itu menusuk hati Ella. Mereka berpikir buruk tentangnya. Ella melirik para pelayan, merasa dirinya begitu rendah di mata orang lain.
"Sekarang, cepat! Masak yang enak dan lezat! Tuan Muda sebentar lagi pulang malam ini," perintah Bu Jeje, menunjuk kompor.
Ella tidak bergerak. Ia takut pada mereka yang mungkin akan menyakitinya lagi. Sungguh malang. Ia pikir ikut Hansel akan memberinya kehidupan yang lebih baik, tapi ternyata ia malah menjadi pelayan di sini, lebih parah dari yang ia bayangkan.
"Kenapa diam saja! Cepat berdiri dan pergi memasak!" bentak Bu Jeje, menarik Ella berdiri dan mendorongnya ke arah kompor.
Ella hanya bisa menunduk. Dengan tangan gemetar, ia mengambil panci untuk mulai memasak. Bu Jeje berdiri di dekat pintu, mengawasi para pelayan yang sibuk menyiapkan makan malam untuk Tuan mereka.
'Aku... apa yang sudah kuperbuat hingga bernasib begini? Kenapa aku malah menempatkan diriku pada kematianku sendiri,' batin Ella.
'Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak boleh terus-menerus ditindas. Tapi apa yang harus kulakukan? Aku bahkan tidak tahu cara mengubah nasibku, apalagi merebut harta Ayahku.'
Ella terdiam, tetapi tangannya cekatan mengerjakan tugas. Setelah Ayahnya meninggal, ia tidak pernah lagi melanjutkan sekolah, jadi ia tidak tahu apa-apa selain urusan rumah tangga. Ia sangat ahli dalam meracik bumbu masakan.
Beberapa saat kemudian, hidangan makan malam selesai. Ella menunduk, memberi isyarat pamit kepada Bu Jeje dan menunjuk ke arah kamar. Namun, Bu Jeje menahannya, matanya melotot.
"Tetaplah di sini, atau kau akan dipenjara di ruang bawah tanah oleh Tuan Muda!" bisik Bu Jeje, lalu menunjuk para pelayan yang berdiri berjejeran.
Ella hanya menunduk, lalu berdiri di dekat seorang pelayan wanita yang tampak galak. Pelayan itu mendorongnya sedikit, menjaga jarak.
"Dasar gadis miskin," cibir pelayan itu. Ella hanya bisa mencengkeram celemeknya, menahan rasa sakit karena hinaan tersebut.
Tap tap tap.
Suara langkah kaki yang berat dan teratur memenuhi ruang dapur. Para pelayan sontak menunduk, menyambut kepulangan Tuan mereka. Ella, yang tidak tahu apa-apa, hanya ikut menunduk tanpa melihat Presdir Devandra.
"Selamat datang, Tuan," sapa para pelayan serempak.
Devandra tidak melirik mereka. Ia langsung duduk sendirian di kursinya, mengamati berbagai hidangan di atas meja. Ia mulai mengisi piringnya dengan sedikit lauk, kecuali mangkuk berisi sup asing.
Ella mengangkat wajahnya sedikit, mengamati Devandra. Ia baru sadar bahwa pria yang membelinya di pelelangan adalah Tuan rumah ini. Hansel tidak ada di samping Devandra sekarang.
Karena merasa risih ditatap, Devandra menoleh ke arah Ella. Seketika itu, Ella menunduk kembali.
Devandra mendecak. Tiba-tiba, hidungnya mencium aroma asing. Ia melihat mangkuk sup yang belum pernah ia lihat di meja makannya. Ia ragu-ragu, takut sup itu mengandung racun.
Namun, karena penasaran, Devandra mengambil sendok dan mencicipi sup buatan Ella.
"Ini..." Devandra terdiam. Raut wajahnya menunjukkan keterkejutan setelah ia merasakan satu sendok sup itu.
Para pelayan, termasuk Bu Jeje, ikut kaget. Mereka langsung menatap tajam ke arah Ella, berasumsi sup itu berisi sesuatu yang jahat.
Ella menelan ludah, tubuhnya gemetar ketakutan.
'Ya Tuhan, semoga aku baik-baik saja,' mohon Ella dalam hati.
..._______...
yg bener masuk ke dalam selimut atau ke dlm bed cover...