NovelToon NovelToon
SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

SUKSES BERKAT DUKUNGAN ANAK ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Suami Tak Berguna / Duda
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.

Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.

Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.

Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. HARI BIASA KELUARGA RIAN

Sinar matahari pagi yang lembut menerobos celah tirai jendela kamar tidur utama, menyinari bagian atas ranjang yang ditempati oleh Rian dan Novi. Jarum jam di dinding menunjukkan pukul 05.30, tepat waktu seperti setiap hari. Tanpa perlu diingatkan oleh alarm, Rian perlahan membuka matanya, mengusap wajahnya dengan tangan yang sedikit kasar akibat kerja keras setiap hari di perusahaan manufaktur PT. Indah Jaya Teknik yang terletak di kawasan industri Cirebon. Dia bergerak dengan hati-hati agar tidak mengganggu Novi yang masih terlelap pulas di sebelahnya, meskipun tahu bahwa istri juga akan segera bangun untuk membantu pekerjaan sambilan kakaknya, Wati, yang menjalankan usaha catering untuk acara-acara pengusaha di kota.

Rian duduk di tepi ranjang, menarik napas dalam-dalam sambil merenungkan hari yang akan datang. Badan pria berumur 32 tahun ini memiliki postur yang tegap, wajahnya yang sedikit kemerahan akibat sering terpapar panas saat bekerja di lantai produksi, dan rambut hitam yang selalu dijaga rapi meskipun sering terkena debu pabrik. Dia mengambil sarung tangan kerja yang selalu ditempatkan di sudut kamar, memeriksanya sebentar sebelum menyimpannya kembali ke dalam tas kerja yang sudah siap di depan pintu kamar.

“Sudah bangun, Sayang?” suara lembut Novi terdengar dari arah ranjang. Rian menoleh dan melihat istri yang sudah mulai membuka mata, rambut hitamnya yang panjang sedikit berantakan akibat tidur. Novi berusia 30 tahun, wajahnya yang cantik meskipun tidak terlalu banyak menggunakan kosmetik, dan senyumnya yang selalu hangat ketika melihat anak-anaknya.

“Iya, sudah jam setengah lima nih. Kamu bisa tidur lagi kalau ingin, nanti aku yang siapin sarapan dulu,” ujar Rian dengan suara rendah, mendekat untuk mencium dahi istri.

Tapi Novi sudah mulai duduk di ranjang, menggeser bantal ke belakang untuk bersandar. “Enggak usah, aku juga harus segera bersiap. Kakakku bilang ada pesanan catering untuk acara pengusaha di Hotel Cirebon Indah hari ini, dan dia butuh bantuan untuk mengemas makanan serta mengatur meja di lokasi acara,” jelas Novi sambil menggosok matanya yang masih mengantuk. “Kalau aku tidak datang membantu, dia pasti kesusahan sendirian dengan pekerjanya yang tidak banyak.”

Rian mengangguk paham. Dia tahu betul betapa eratnya hubungan Novi dengan kakaknya yang lebih tua darinya selama lima tahun. Sejak menikah tujuh tahun yang lalu, Novi selalu dengan senang hati membantu Wati setiap kali ada pekerjaan tambahan, dan hasil dari kerja sambilan itu memang sangat membantu menutupi kebutuhan keluarga yang tidak hanya bergantung pada gaji Rian sebagai karyawan tetap di pabrik dengan penghasilan yang cukup namun tidak terlalu banyak.

“Baiklah, tapi jangan terlalu memaksakan diri ya. Kamu kemarin juga pulang agak larut karena membantu acara di rumah salah satu pengusaha,” ucap Rian dengan nada yang sedikit mengkhawatirkan, meskipun tidak ingin tampak mengganggu pekerjaan istri.

Novi memberikan senyum memujakan. “Tenang saja, Sayang. Aku tahu batasku. Selain itu, uang dari kerja sambilan ini bisa kita gunakan untuk membeli buku baru buat Hadian dan mainan yang sudah lama diinginkan Alea kan? Belum lagi biaya sekolah yang akan segera datang,” jelasnya sambil mulai merapikan rambutnya di depan cermin kecil yang terletak di atas meja rias kamar.

Rian mengangguk dan kemudian keluar kamar menuju kamar anak-anak. Di koridor rumah sederhana tapi rapi yang mereka tempati di komplek rumah kontrakan dekat pabrik, sudah terdengar suara kecil Hadian yang mungkin sudah bangun dan sedang bermain dengan mainan mobil-mobilan kesukaannya di kamar tidurnya. Ketika membuka pintu kamar anak-anak, Rian disambut oleh wajah ceria putranya yang sudah berusia tujuh tahun dan sedang duduk di lantai bermain dengan beberapa miniatur truk dan mobil yang dikoleksinya.

“Papa sudah bangun?” ujar Hadian dengan suara ceria, langsung berdiri dan berlari untuk memeluk kaki ayahnya. Rian menunduk dan mengangkat putranya ke dalam pelukan, mencium pipinya yang masih hangat akibat tidur.

“Iya nak, sudah jam lima lebih nih. Sudah mau bangun belajar atau mau mandi dulu?” tanya Rian dengan suara lembut. Hadian sekarang belajar di kelas 1 SD Negeri 5 Cirebon, dan sudah menunjukkan minat yang besar pada pelajaran matematika serta cerita rakyat Indonesia. Setiap pagi sebelum pergi ke sekolah, dia selalu menyempatkan diri untuk membaca buku cerita yang pernah dibelikan orang tuanya.

“Mau belajar dulu aja Papa, nanti kalau sudah jam enam aku mandi ya. Kakak Alea masih tidur lho,” jawab Hadian sambil menunjuk ke arah ranjang kecil di sudut kamar yang ditempati oleh adik perempuannya, Alea, yang masih terlelap dengan pelukan boneka kelinci putihnya yang diberi nama “Kiki”. Anak kedua mereka berusia empat tahun dan masih bersekolah di taman kanak-kanak TK Bintang Kecil yang terletak tidak jauh dari rumah mereka.

Rian menoleh melihat putrinya yang sedang tidur dengan wajah yang damai. Rambut pirangnya yang sedikit keriting menyebar di bantal, dan mulutnya sedikit terbuka seperti sedang bermimpi indah. “Baiklah, Papa akan siapkan sarapan dulu ya. Jangan terlalu lama belajar ya Nak, nanti kamu capek sekolahnya,” ujar Rian sebelum menurunkan Hadian kembali ke lantai dan keluar kamar menuju dapur.

Rumah mereka adalah rumah kontrakan berlantai satu dengan tiga kamar tidur, satu ruang tamu kecil, dapur yang cukup luas, dan kamar mandi yang bersama. Meskipun tidak terlalu besar, Novi selalu menjaga kebersihan rumah dengan sangat baik. Setiap sudut rumah selalu terlihat rapi, dengan beberapa tanaman hias yang ditempatkan di teras depan dan belakang rumah memberikan kesan segar dan nyaman.

Di dapur, Rian mulai menyalakan kompor gas untuk memasak air hangat. Dia mengambil ember plastik berisi beras dari rak di sudut dapur, mengukurnya dengan takaran yang tepat untuk membuat bubur ayam yang disukai oleh seluruh keluarga. Sambil menunggu air mendidih, dia mengambil wajan untuk menumis bawang merah, bawang putih, dan sedikit cabai yang sudah dihaluskan untuk membuat bumbu bubur yang lezat. Aroma harum bumbu yang menyebar ke seluruh dapur membuat perutnya sedikit berbunyi, mengingatkan bahwa dia belum makan apa-apa sejak malam kemarin.

Tidak lama kemudian, Novi masuk ke dapur dengan mengenakan baju santai yang sudah bersih, rambutnya sudah diikat rapi dengan jepit rambut. Dia langsung mengambil mangkuk dan sendok dari lemari untuk membantu menyajikan bubur yang sudah hampir matang.

“Anak-anak sudah bangun?” tanya Novi sambil memeriksa keadaan bubur di atas kompor.

“Hadian sudah main-main di kamarnya, sedang belajar sedikit. Alea masih tidur pulas,” jawab Rian sambil mengambil irisan ayam yang sudah dimasak kemarin malam untuk ditambahkan ke dalam bubur. “Kamu mau sarapan dulu atau mau bersiap dulu untuk pergi ke rumah Kakak Wati?”

“Mari kita sarapan dulu saja, nanti aku bisa pergi jam tujuh lebih. Kakakku bilang acara dimulai jam sembilan, jadi masih ada waktu,” kata Novi sambil menyajikan bubur ke dalam mangkuk untuk keluarga. “Nanti setelah sarapan, aku akan bangunin Alea ya. Dia biasanya suka rewel kalau tidak dibangunin dengan lembut.”

Rian mengangguk dan kemudian memanggil Hadian yang sudah pasti sudah menunggu di kamar. Dalam sekejap, Hadian muncul di pintu dapur dengan mengenakan kaos sekolahnya yang berwarna putih dan celana panjang biru tua, sudah siap untuk sarapan sebelum mandi dan berpakaian sekolah dengan benar.

“Wah, sudah mau sarapan ya Nak? Cepat datang sini, buburnya sudah siap,” ujar Novi dengan senyum, menyodorkan mangkuk bubur yang sudah diberi topping bawang goreng dan seledri cincang ke arah putranya. Hadian langsung berlari ke arah meja makan kecil di sudut dapur, menarik kursi kayu dengan sedikit suara mengikis lantai keramik.

Saat mereka mulai menyantap bubur yang hangat dan lezat, suara tangisan kecil terdengar dari kamar anak-anak. Novi segera berdiri. “Itu pasti Alea yang sudah bangun dan tidak melihat kita di dekatnya,” katanya dengan senyum lembut sebelum berjalan menuju kamar anak-anak. Tidak lama kemudian, dia muncul membawa Alea yang masih mengusap mata dan memegang boneka Kiki dengan erat di pelukannya. Putri kecil itu mengenakan baju tidur berwarna merah muda dengan pola bunga yang sudah agak pudar akibat sering dicuci.

“Halo sayang, sudah bangun ya? Mari kita sarapan bubur ya, sama Papa dan Kakak Hadian,” ujar Novi dengan suara yang sangat lembut, duduk di kursi dan menempatkan Alea di pangkuannya. Alea masih mengerutkan kening, tapi ketika melihat Hadian yang sedang menikmati bubur dengan senang, wajahnya perlahan mulai rileks dan menunjukkan senyum kecil.

“Kakak makan bubur ya?” tanya Alea dengan suara yang masih sedikit menggigil akibat baru bangun. Hadian mengangguk dan memberikan senyum. “Nanti aku bagi sama Alea ya Kakak, buburnya enak banget.”

Setelah semua anggota keluarga menyantap sarapan dengan penuh kehangatan, waktu sudah menunjukkan pukul 06.30. Rian segera membersihkan meja makan dan mencuci piring-piring yang sudah digunakan, sementara Novi membantu Hadian dan Alea untuk mandi serta berpakaian sekolah. Hadian sudah bisa mandi sendiri dengan baik, tapi Alea masih membutuhkan bantuan penuh dari ibunya untuk mencuci badan dan menggosok giginya yang masih sedikit.

Setelah selesai membersihkan dapur, Rian masuk kamar untuk berpakaian kerja. Dia mengenakan seragam kerja pabrik berwarna biru tua yang sudah dicuci bersih, menambahkan rompi kerja yang diberi logo perusahaan, dan mengenakan sepatu kerja yang kokoh untuk melindungi kakinya dari bahaya di lantai produksi. Dia memeriksa tas kerjanya yang berisi sarung tangan, kacamata pelindung, dan sedikit uang saku yang mungkin dibutuhkan jika dia perlu membeli minuman atau makanan di kantin pabrik pada siang hari.

“Papa sudah siap kerja?” tanya Hadian yang sudah berpakaian sekolah lengkap dengan dasi merah muda dan tas ransel yang terletak di pundaknya. Rian mengangguk dan mengusap kepala putranya. “Iya nak, Papa harus segera pergi kalau tidak mau terlambat. Kamu harus rajin belajar ya di sekolah, jangan lupa untuk berbagi dengan teman-temanmu ya.”

Hadian mengangguk dengan tegas. “Pasti aja Papa, aku akan belajar dengan giat dan tidak akan berantem dengan teman-teman.”

Sementara itu, Novi sudah siap dengan pakaiannya untuk membantu kerja sambilan kakaknya – baju kerja berwarna putih dengan rok hitam panjang, dan sepatu flat yang nyaman untuk berjalan jauh. Dia sudah menyiapkan bekal makan siang untuk Rian yang dibungkus dengan kain serbaguna berwarna batik, serta uang transportasi untuk Hadian dan Alea yang akan dia antar ke sekolah menggunakan ojek online karena dia sendiri akan langsung pergi ke rumah kakaknya setelah mengantar anak-anak.

“Sayang, bekal makan siangnya aku taruh di tas kamu ya. Jangan lupa makan ya, kamu kemarin juga terlambat makan karena sibuk mengawasi produksi,” ujar Novi dengan nada mengkhawatirkan, mendekat untuk mencium pipi suaminya.

“Tenang saja, aku akan ingatnya. Kamu juga jangan lupa makan ya ketika sedang membantu Kakak Wati. Jangan sampai terlalu fokus bekerja sampai lupa makan,” jawab Rian dengan senyum, mencium dahi istri sebelum mengambil helmnya yang selalu ditempatkan di depan pintu rumah.

Setelah semua persiapan selesai, mereka berempat keluar rumah beriringan. Udara pagi yang segar menyapa wajah mereka, dengan suara burung yang berkicau di pepohonan di sekitar komplek rumah kontrakan. Beberapa tetangga juga sedang keluar rumah untuk bekerja atau mengantar anak-anak ke sekolah, saling menyapa dengan ramah.

“Pak Rian, pergi kerja ya?” sapa Pak Slamet, tetangga sebelah yang bekerja sebagai sopir truk. Rian mengangguk dan menyapa kembali. “Iya Pak Slamet, hari ini kan hari kerja seperti biasa. Bu Siti apa kabarnya?”

“Baik-baik saja Pak Rian, dia sedang memasak untuk bekal anak-anak sekolah,” jawab Pak Slamet dengan senyum hangat.

Setelah sampai di depan gerbang komplek rumah kontrakan, Novi segera memanggil ojek online melalui ponselnya. Tidak lama kemudian, seorang pengemudi ojek datang dan menyambut mereka dengan ramah. Hadian dan Alea dengan senang hati naik ke belakang ojek, sementara Novi memberi tahu pengemudi alamat sekolah masing-masing anak.

“Papa, sampai jumpa sore ya!” teriak Hadian sambil menggeleng-geleng tangan ketika ojek mulai bergerak. Alea juga mengangkat tangan boneka Kiki-nya sebagai bentuk perpisahan dengan ayahnya. Rian mengangguk dan menggeleng-geleng tangan kembali, menatap hingga bayangan ojek membawa istri dan anak-anaknya menghilang di tikungan jalan raya.

Setelah itu, Rian berjalan menuju halte angkutan kota yang terletak sekitar 500 meter dari komplek rumah kontrakan. Jalanannya cukup ramai dengan orang-orang yang sedang dalam perjalanan kerja atau sekolah, sebagian besar dengan wajah yang penuh semangat menghadapi hari baru. Di sepanjang jalan, pedagang makanan pagi sudah berjualan dengan berbagai hidangan seperti lontong sayur, soto ayam, dan bubur kacang hijau yang aromanya menggoda selera.

Rian sampai di halte tepat ketika angkutan kota yang biasanya dia tumpangi datang dengan suara klakson yang khas. Dia naik ke dalam angkutan kota yang sudah agak penuh dengan penumpang lain yang sebagian besar juga adalah pekerja dari kawasan industri. Di dalam angkutan kota yang berwarna biru muda itu, suasana cukup ramai dengan pembicaraan antar penumpang tentang pekerjaan mereka atau berita terbaru di kota Cirebon.

“Siang Pak Rian, hari ini kerja lagi ya?” tanya Bu Yanti, seorang karyawan dari pabrik tekstil yang selalu naik angkutan kota yang sama dengan Rian.

“Iya Bu Yanti, kerja seperti biasa. Gimana kabarmu? Apakah produksi di pabrik kamu berjalan lancar?” balas Rian dengan ramah.

“Alhamdulillah lancar saja Pak Rian, baru saja dapat pesanan besar dari luar kota jadi kita harus bekerja ekstra untuk menyelesaikannya,” jawab Bu Yanti dengan senyum.

Selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 20 menit, Rian merenungkan kehidupan keluarganya yang sederhana namun penuh kebahagiaan. Meskipun tidak memiliki banyak harta benda atau rumah yang besar, dia merasa sangat bersyukur memiliki istri yang baik hati dan selalu siap membantu keuangan keluarga, serta dua anak yang cerdas dan baik hati. Dia bertekad untuk selalu bekerja keras agar bisa memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka, bahkan jika itu berarti harus bekerja ekstra jam di pabrik atau mencari pekerjaan tambahan di waktu senggang.

Ketika angkutan kota sampai di halte dekat kawasan industri, Rian bersama dengan para penumpang lain turun dan berjalan menuju masing-masing pabrik tempat mereka bekerja. Suara mesin yang berdecit dan suara pipa yang membunyik sudah terdengar jelas dari kejauhan, menandakan bahwa aktivitas produksi di kawasan industri sudah mulai berjalan dengan penuh semangat.

Rian sampai di gerbang PT. Indah Jaya Teknik tepat pada pukul 07.25, lima menit sebelum jam kerja resmi dimulai. Dia menukarkan kartu absensi di mesin yang terletak di depan gerbang pabrik, mendapatkan sapaan ramah dari petugas keamanan yang sudah mengenalnya dengan baik.

“Selamat pagi Pak Rian, hari ini cuacanya baik ya,” ujar Pak Joko, petugas keamanan yang sedang berjaga di gerbang pabrik.

“Iya Pak Joko, cuacanya memang baik. Semoga hari ini kerjaannya lancar saja ya,” jawab Rian dengan senyum sebelum memasuki area pabrik yang sudah terlihat sibuk dengan pekerja yang sedang bersiap untuk memulai aktivitas produksi harian mereka.

Di dalam ruang ganti yang terletak di dekat lantai produksi, Rian bertemu dengan teman kerjanya, Anton, yang sudah mengenakan seragam kerja dengan rapi. Anton adalah pekerja mesin yang sudah bekerja bersama Rian selama tiga tahun terakhir, dan mereka sering bekerja sama dalam mengawasi jalannya produksi barang-barang besi yang akan digunakan untuk keperluan konstruksi bangunan.

“Woy Rian, sudah datang ya? Tadi pagi saya dengar dari supervisor kalau hari ini kita akan menerima pesanan besar dari proyek pembangunan jalan tol di Jawa Barat lho,” ujar Anton dengan suara yang penuh semangat.

1
Dewiendahsetiowati
ada typo Thor Budi yang harusnya kakak jadi ayah
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!