[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [06]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Saat ini yang perlu kita renungi adalah bagaimana cara mereka tetap bertahan hidup dengan segala keterbatasan materi....
...-Iris Anastashia-...
Iris sudah sampai di rumahnya beberapa menit yang lalu, dan saat ini dirinya sudah ber siap-siap untuk kembali menjenguk Haiden di rumah sakit.
"Bi Inah." teriak Iris sambil turun dari tangga.
"Kenapa non?" tanya seseorang yang berjalan dari arah dapur dan mendekat ke arah Iris.
"Mama sama Papa belum pulang?" tanya Iris.
"Belum non." jawab Bi Inah.
"Nanti kalau Mama sama Papa nanyain, kasih tau Iris keluar sebentar." ucap Iris yang sedang memakai sepatunya.
"Non mau kemana?" tanya Bi Inah.
"Mau keluar bentar gak lama kok Bi, palingan sampai jam 7 malem." jawab Iris sambil memeluk Bibi.
"Iya, nanti Bibi kasih tau sama nyonya, Non jangan lama-lama ya." ucap Bi Inah.
Iris melepaskan pelukannya pada Bi Inah, sambil berlalu pergi.
"Mang Apri, anterin Iris lagi ke rumah sakit." ucap Iris." ucap Iris mendekat ke arah Mang Apri yang sedang meminum kopinya.
"Nanti kalau nyonya sama tuan nanyain gimana?" tanya Mang Apri.
"Itu urusan Bi inah. Iris udah kasih tau Bi Inah." jawab Iris.
"Ayo Non." ucap Mang Apri sambil melangkahkan kakinya menuju mobil di ikuti Iris di belakangnya.
15 menit berlalu, Iris telah sampai di depan rumah sakit dengan membawa buah-buahan untuk Haiden.
"Makasih ya Mang." ucap Iris.
"Iya Non. Nanti Mang Apri jemput jam berapa?" tanya Mang Apri.
"Nanti Iris telpon aja." jawab Iris.
"Baik Non, Mang Apri mau pulang dulu ya." ucap Mang Apri.
"Iya Mang, hati-hati." ujar Iris sambil melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah sakit.
Semoga Haiden udah bangun. ucap Iris dalam hati sambil tersenyum manis membayangkan Haiden yang terlihat mempesona di matanya.
...----------------...
Iris sudah masuk kedalam lift, namun saat lift itu mulai tertutup ada seseorang yang menerobos masuk kedalam lift. Iris langsung menatap ke arah orang tersebut.
Sherin, Celine kenapa mereka disini?
Mati gue kalau ketauan. ucap Iris dalam hati sambil menyembunyikan wajahnya.
Apa mungkin Sherin mau ketemu sama Haiden?
Mampus! Terus nasib buah gue gimana?
Bodo amat yang penting sekarang Sherin gak boleh liat gue. ucap Iris dalam hati sambil terus mencoba menyembunyikan wajahnya.
Namun persembunyiannya itu sia-sia, Sherin dapat melihat wajah Iris yang sedang di tutupi oleh buah-buahan yang dia bawa.
"Iris." panggil Sherin sambil menepuk pelan pundak Iris.
Mati gue! ucap Iris dalam hati sambil menatap ke arah Sherin.
"Lo gak apa-apa?" tanya Sherin.
"Em, e-ng-ga kok." jawab Iris.
"Oh, terus lo mau ngapain bawa buah?" tanya Sherin.
"Ini, g-ue mm-au jenguk temen." jawab Iris.
"Temen yang mana?" tanya Sherin.
"Temen SMP gue dulu, dia sakit, sebagai teman yang baik gue mau jenguk dia." jawab Iris.
"Lo sendiri mau kemana?" tanya Iris.
"Haiden gue kecelakaan, ya ampun siapapun yang nolong Haiden gue ucapin makasih banyak, kalau itu cowok sih, tapi kalau cewek gue bakal datengin tu orang." jawab Sherin kesal. Sedangkan Iris hanya menghela nafasnya. Ada sedikit rasa sesak dalam dadanya.
Rasanya sakit banget.
"Rin, gimana sih lo, kalau itu cewek gak nolong Haiden mungkin nyawanya gak bakalan ke tolong." ucap Celine.
"Iya juga sih." ujar Sherin.
"Gue boleh kesana gak setelah jenguk temen SMP gue?" tanya Iris.
"Boleh sih, tapi tau diri aja." jawab Sherin.
"Iya Rin, gue tau diri." ucap Iris.
Ting.
Lift tersebut sudah sampai, namun Iris masih bingung dia harus kemana.
Gue kemana?
Ke Wc aja kali ya.
Nasib buah gue?
Ya udah lah nanti Iris kasih ke yang lain aja.
ucap Iris sambil melangkahkan kakinya keluar dengan senyuman palsu yang dia tunjukkan.
"Ruangan temen lo dimana?" tanya Sherin.
"Di ujung sana." ucap Iris.
"Terus kenapa lo jalan ke sana? Bukannya jalan ke situ Wc ya?" tanya Sherin.
"Gue mau ke Wc dulu bentar. Biasa kalau jenguk cowok harus cantik dikit." jawab Iris sambil tertawa.
"Dandan yang cantik, gue do'ain semoga lo jodoh sama dia." ucap Sherin sambil tertawa.
"Gue juga dukung lo, kalau udah jadi jangan lupa kabarin gue." ujar Celine sambil tersenyum.
Tapi itu Haiden Rin, meskipun lo do'ain gue sama Haiden tapi lo orang pertama nantang hubungan gue sama Haiden. ucap Iris dalam hati sambil tersenyum getir.
"Gue ke Wc dulu ya." ucap Iris.
"Gue juga udah gak sabar mau ketemu sama My Bubu." ujar Sherin
Iris melangkahkan kakinya tak tentu arah, hatinya terasa sakit harus menerima kenyataan pahit, dimana Sherin dan dirinya mencintai orang yang sama.
Semoga aja setelah kejadian ini gak bakalan ada lagi suka orang yang sama. ucap Iris salam hati sambil menatap ke arah seorang kakek berbaju lusuh yang sedang kebingungan. Dia mendekati kakek tersebut.
"Kakek." panggil Iris.
"Manggil Kakek neng?" tanya Kakek tersebut.
"Iya, Kakek mau kemana?" tanya Iris.
"Kakek lagi cari ruangan mawar nomer 6. Kakek lupa bawa kacamata. Maklum udah tua." jawab kakek tua itu.
"Biar Iris anterin, Kakek gak keberatan?" tanya Iris.
"Beneran neng? Neng gak malu jalan sama Kakek?" tanya sang Kakek.
"Ngapain harus malu? Iris seneng bisa bantu kakek." jawab Iris sambil tersenyum manis.
"Yuk Iris anterin." ajak Iris sambil menuntun sang Kakek dan membawa buah-buahan di tangannya.
"Kalau Iris boleh tau, yang lagi sakit siapa Kek?" tanya Iris.
"Cucu Kakek Neng." jawab Kakek.
"Pasti Kakek sayang banget ya sama cucu kakek."ucap Iris.
" Sayang banget neng. Cucu satu-satunya." ujar kakek tersebut.
"Udah sampai Kek, ini ruangannya." ucap Iris sambil tersenyum.
"Makasih banyak ya neng. Mau masuk dulu?" tanya Kakek tersebut.
"Boleh Kek?" tanya Iris.
"Ayo, boleh, boleh." jawab Kakek dengan tersenyum.
Iris melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tersebut, ruangan yang tidak terlalu luas, lembab, dan tidak ada apapun disini. Bahkan makanan saja tidak ada. Iris hanya menghela nafasnya.
"Kakek?" tanya seorang anak kecil yang terbaring lemah di ranjang, mungkin usianya baru 10 tahun.
"Airin." ucap Kakek tersebut sambil memeluk cucu kesayangannya.
"Kakek sama siapa?" tanya seorang anak yang bernama Airin.
"Hai Airin, kenalin nama Kakak Iris." jawab Iris sambil mengulurkan tangannya dan tersenyum manis.
"Makasih udah anterin Kakek Airin." ucap Airin sambil menerima uluran tersebut dan tersenyum manis.
"Sama-sama, oh ya Airin Kakak bawain buah Airin mau?" tanya Iris.
"Mau banget Kak." jawab Airin antusias.
"Airin." panggil kakek sambil menggelengkan kepalanya.
"Gak apa-apa Kek, Iris emang mau ngasih ini ke Airin." ucap Iris sambil tersenyum manis.
"Permisi." ujar seorang perawat yang masuk kedalam ruangan.
"Ada apa sus?" tanya Kakek.
"Maaf Pak, pembayaran rumah sakitnya belum lunas, kami sudah memberikan bapak kebijakan, segera lunasi uang administrasi nya, kami tunggu di ruangan pak." jawab perawat dengan senyuman manisnya.
Iris langsung menatap kearah Kakek tersebut dan kearah Airin yang mendadak khawatir.
"Bila bapak tidak membayarnya maka dengan berat hati, bapak harus segera meninggalkan ruangan ini." ucap Perawat tersebut.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗