Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 31
Pemeriksaan pun telah selesai, semua rekannya telah kembali eca bergegas menuju ke tempat theo berada, sembari celingak celinguk mencari sesuai arahan dan melihat di sekeliling sekolah yg mewah ini.
"Sekolah ini sejuk banget" ujar eca
"Bisa...bisanya dia beneran senekat itu"
"Hmmm...jangan-jangan hanya demi nggak mau kalah dia berani nekat begitu..cih menyebalkan"
Kesejukan angin lorong sama sekali tak melunturkan sisa panas yang membakar benakku sejak keributan di aula tadi. Dari kejauhan, aku sudah mengawasi siluetnya yang berputar-putar tak tentu arah di dekat selasar kantin, tampak begitu gampang tersesat di bangunan luas ini.
Beberapa anak lama yang lewat sengaja menepi, paham betul untuk tidak mendekati bangkuku saat suasana hatiku sedang tak menentu.
Kulempar sebotol teh dingin tanpa pemanis ke arahnya dengan presisi santai, membiarkan botol itu mendarat tepat dalam jangkauannya sebelum langkahnya kian tersesat jauh.
"Mata lo ditaruh di mana, Suster?"
cibirku rendah, tetap menyilangkan kaki panjangku di atas permukaan rumput. Sudut bibirku terangkat sedikit, menikmati kegelisahan yang masih membekas jelas di parasnya.
"Nggak usah pasang tampang orang hilang begitu,"
lanjutku dengan nada datar yang sarat intimidasi, menepuk ruang kosong di sampingku.
"Duduk di sini. Napas lo masih kedengaran berantakan dari jarak lima meter."
Eca berlari kecil menuju ke tempat theo berada tak, di sangka hembusan angin mengibari rambut theo dan membuat degub jantung eca semakin berdetak cepat menatap betapa tampannya brondong ini.
"Dih...nyebelin banget"
"Btw, gedung sekolah lo bagus banget ya, oh ya..dari tadi gue lihat banyak remaja cewek dipinggiran tiang itu ngelihatin lo"
"Kayaknya mereka mau mendekati lo tapi nggak berani deh"
Hembusan angin sejuk menerbangkan beberapa helai rambutku, menyapu peluh tipis yang tersisa dari keributan tadi. Melihatnya terengah-engah mendekat dengan rona merah yang belum pudar di pipi, dadaku berdesir aneh—perasaan puas bercampur kegelian yang enggan kuakui terang-terangan. Ocehannya yang mengalihkan topik ke gedung sekolah dan anak-anak perempuan di koridor seberang terdengar begitu putus asa, tipikal caranya saat mencoba menutupi rasa canggung.
Kusandarkan punggung lebih santai pada batang pohon, melirik sekeliling dengan tatapan malas.
Beberapa siswi yang bergerombol di dekat tiang pilar memang buru-buru membuang muka saat mataku menyapu ke arah mereka.
"Biarin aja mereka ngelihatin,"
sahutku acuh tak acuh, menarik pergelangan tangannya tanpa peringatan agar ia duduk di sebelahku. Cengkeramanku longgar namun mengunci, menghalau jarak yang sengaja ia buat.
"Gue nggak peduli siapa yang mau mendekat. Yang penting sekarang lo udah di sini."
Kusodorkan botol teh yang tadi mendarat di sampingku, menatap lekat parasnya yang masih tampak kacau.
"Minum dulu, cerewet. Bibir lo masih merah begitu, jangan sampai orang mikir gue ngapa-ngapain lo lebih dari sekadar ciuman tadi."
Sontak eca menutup mulut theo perlahan dengan tangannya sambil melihat di sekelilingnya, ia tampak malu mendengar pembahasan di aula tadi bahkan belum reda sampai saat ini ia hanya bisa menarik napas panjang.
"Ssst...bisa nggak, lo nggak usah bahas ciuman tadi...gue malu tau"
"Sepanjang gue jalan semua orang ngelihatin gue dengan ekspresi aneh tau nggak?"
"Sekarang malah berduaan di sini"
Aroma sabun antiseptik yang khas dari jemarinya seketika menyapa indra penciumanku saat telapak tangannya membekap bibirku. Bukannya mundur, aku justru membiarkan tatapanku terkunci pada manik matanya yang berkilat panik, menikmati betul bagaimana kekacauan kecil ini meruntuhkan seluruh ketenangannya. Rasa hangat dari kulitnya terasa begitu kontras dengan embusan angin sepoi-sepoi di bawah rindangnya dahan beringin.
Dengan gerakan lambat dan sengaja, kukecup telapak tangan mungil itu sebelum perlahan menurunkannya dari wajahku, tanpa melepaskan kuncian jemariku di pergelangan tangannya yang kurus. Genggaman itu kupertahankan di atas pangkuanku, memamerkan keintiman yang terang-terangan andai ada pasang mata yang mengintai dari kejauhan.
"Biarin aja mereka lihat sampai puas,"
sahutku santai, nada bicaraku mengalun serak namun sarat ketegasan yang tak terbantahkan.
Sudut bibirku terangkat membentuk seringai tipis yang memprovokasi.
"Mereka cuma perlu tahu lo milik siapa sekarang. Mau kabur ke ujung lorong mana pun, status lo hari ini nggak bakal berubah di mata anak-anak sini."
Kutarik tangannya sedikit lebih dekat, memangkas jarak yang tersisa di bangku semen ini.
"Lagian, kalau lo terus pasang tampang salah tingkah kayak gini, gue malah makin penasaran pengin ngulangin kejadian di aula tadi."
Eca terbelalak tidak menyangka jika theo akan seberani ini, ia mendekatkan wajahnya sambil berbisik perlahan membalas omongan theo yang menggodanya.
"Awas aja kalau lo berani cium gue di sini!"
"Gue laper makanan apa yang enak di kantin ini?"
Gertakan lirihnya yang diiringi desah napas terburu-buru malah terdengar seperti bisikan menggemaskan di telingaku. Usahanya yang tergesa-gesa membelokkan obrolan ke urusan perut membuat rasa geli di dadaku kian merebak.
Perempuan ini jelas kelimpungan mencari pelarian, padahal kedua matanya yang membulat tak mampu menyembunyikan rasa campur aduk yang masih tertinggal.
Aku sengaja memajukan tubuh sedikit lagi, membuat bayanganku menaungi parasnya yang memerah, sebelum akhirnya bersandar kembali dengan lagak pongah. Satu tanganku merogoh saku celana abu-abu, mengeluarkan dompet kulit hitam dengan gerakan malas.
"Nyalinya boleh juga, tapi suara lo getar begitu mana ada seram-seramnya,"
cibirku santai, sudut bibirku berkedut menahan senyum puas.
"Mau kabur ke kantin cuma biar nggak gue sentuh lagi, kan?"
Kukibaskan dompet di depan hidungnya sebelum bangkit berdiri, menatapnya dari ketinggian penuh rasa percaya diri. Tanganku terulur, menarik pergelangan tangannya agar ikut berdiri dari bangku semen yang dingin itu.
"Batagor kuah pedas di pojokan belakang. Lo bakal suka. Ayo jalan, sebelum selera makan lo habis cuma gara-gara mikirin gue."
...****************...
hadir kak, mampir juga ya😊