DATANG UNTUK MEMBAYAR
(Orang Mati Datang Membayar Janjinya)
"Tanggal delapan saya bayar, Cik..."
Maya berjanji melunasi utangnya tepat tanggal delapan. Lalu ia menghilang.
Hingga malam itu, pintu digedor. Maya berdiri di sana — menyerahkan uangnya.
Namun pagar terkunci rapat dari dalam. Dan kabar menyebut: Maya sudah meninggal dua minggu lalu.
Siapa yang baru saja membayar?
Tentang janji, kehormatan, dan sosok yang melintasi kematian demi menepati kata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: JANJI TENGAH MALAM
Tok! Tok! Tok!
Bunyi ketukan keras pada permukaan pintu kayu samping rumahku menggema nyaring di dalam kesunyian malam.
Suara benturan itu bergetar kencang, memecah heningnya koridor rumah kami.
Krrrit... krrrit...
Bersamaan dengan ketukan tersebut, suara gesekan halus kaku merayap pelan di ubin semen bawah ambang pintu.
Aroma tanah merah basah yang pekat bercampur bau kain lembap tua berhembus makin tajam menerobos celah ventilasi.
Bau itu terasa amat menyengat, membuat rongga dadaku terasa sesak dan tegang.
Jantungku berdegup kencang menghantam dinding dada di balik kemeja tidur yang kukenakan.
Aku bangkit berdiri perlahan dari tepi ranjang kayu jati di dalam kamar tidur utamaku.
Tanganku meraih lampu senter kecil dari atas meja rias, menggenggamnya rapat dengan jemari yang dingin membeku.
Srek... srek...
Suara gesekan langkah kaki yang gemetar terdengar mendekat dari arah koridor tengah.
Dini muncul dari balik pintu kamarnya dengan wajah pucat pasi dan mata melebar tegang.
"Bu... Ibu dengar suara ketukan keras di pintu samping rumah kita itu?" bisik Dini dengan nada suara yang bergetar hebat memandangi lorong samping.
"Suaranya tiga kali kencang banget, Bu. Seperti ada orang di luar yang sengaja memukul permukaan kayu pintu dengan tangan atau benda keras,"
Lanjut Dini sembari merapatkan kedua tangannya di dada.
Di belakang Dini, Ranti melangkah merapat sembari mencengkeram erat lengan baju kakak perempuannya.
"Bu, baunya kok aneh dan menyengat banget dari arah pintu samping?" gumam Ranti dengan napas memburu kencang.
"Baunya persis seperti tanah merah basah yang baru digali, Bu."
Tambah Ranti dengan mata berkaca-kaca menatapku ketakutan.
"Iya, Din, Ran. Ibu dengar suara ketukannya dari dalam kamar tidur depan,"
Sahutku pelan sembari melangkah mendekati anak-anakku.
"Kalian berdua tetap berdiri di lorong tengah ini. Jangan ada yang berani melangkah mendekat ke pintu samping,"
Pesanku tegas sembari mengisyaratkan tangan agar kedua putriku bertahan di tempat.
Dini mengangguk kaku, menarik pelan tubuh Ranti mundur dua langkah.
"Iya, Bu. Tapi siapa yang ketuk pintu keras-keras jam dua belas malam begini?" tanya Dini bingung.
"Pintu depan dan pintu samping kan sudah kita kunci dari dalam sejak tadi malam, Bu?"
Lanjut Dini mengejar kepastian dengan mata terpaku ke lorong samping.
"Mbak Dini benar, Bu. Semua pintu rumah kita kan terkunci rapat dari dalam,"
Ujar Ranti memperjelas ketakutannya.
"Kalau ada tetangga atau tamu dari luar gang, harusnya panggil dari pintu depan, bukan ketuk pintu samping,"
Tambah Ranti dengan nada cemas menatapku lurus.
"Ibu tahu, Ran. Makanya Ibu minta kalian berdua diam di sini saja, jangan ikut maju,"
Sahutku pelan sembari melangkah perlahan menyusuri lorong semen menuju pintu samping.
"Ibu hati-hati, Bu. Jangan dibuka dulu pintunya sebelum jelas siapa orang di luar,"
Bisik Ranti menahan napasnya dari lorong tengah.
"Iya, Ran. Ibu cuma mau cek dan bertanya dari balik daun pintu kayu tanpa memutar selot besi,"
Balasku menenangkan kecemasan anak-anakku.
Langkah kakiku yang beralas sandal kain bergerak amat pelan tanpa bersuara.
Hawa dingin yang menusuk tulang merayap keluar dari balik celah pintu kayu yang terkunci rapat.
Sinar temaram dari lampu senter di tanganku menerangi permukaan ubin semen lorong.
Di depan sana, daun pintu kayu samping berdiri membisu di balik himpitan selot besi yang terpasang kaku.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan nyaring itu kembali menghantam daun pintu kayu persis di hadapanku.
Getaran benturan kayu itu membuat dadaku berdegup makin cepat.
Aku menghentikan langkah sekitar dua meter dari ambang pintu, menekan tombol sakelar senter.
Sorot cahaya kuning melintas lurus, menerangi bagian bawah pintu kayu yang terkunci.
"Sinten teng jawi? Sopo iku ketuk pintu malam-malam begini?" tanyaku lantang.
"Kalau ada urusan, bicara yang jelas dari luar! Sopo Njenengan?" seruku melintasi daun pintu.
Suasana di koridor gang samping mendadak hening seketika.
Ketukan keras dan suara gesekan kaku di bawah pintu terhenti tanpa bekas.
Hanya hembusan angin malam yang terdengar mendesis pelan di luar sana.
Namun, beberapa detik kemudian, sebuah bisikan parau dan berat terdengar merayap dari celah bawah pintu.
"Bu Sari... niki Maya, Bu..." bisik suara di luar pintu itu pelan.
"Kulo teng jawi pintu samping Njenengan... kulo wangsul, Bu..." lanjut suara parau itu.
Suara itu terasa sangat dingin, basah, dan agak tersedat seolah keluar dari rongga tenggorokan yang penuh lumpur.
Dini yang berdiri di lorong tengah seketika menahan napasnya kencang.
"Bu... itu suara Tante Maya dari rumah sebelah?" bisik Dini kaget.
"Tapi kok suaranya terdengar berat, parau, dan serak banget begitu, Bu?" tanya Dini dengan raut wajah memucat.
"Iya, Bu. Suaranya aneh dan beda banget, kayak orang yang lehernya kesusahan bernapas,"
Timpal Ranti dengan jemari yang makin kencang meremas lengan Dini.
Aku mengepalkan tangan kiriku, mencoba menenangkan desakan cemas yang bergolak di dalam dada.
"Tante Maya? Njenengan saestu teng jawi pintu samping rumah kulo?" tanyaku dari balik pintu.
"Kenapa malam-malam jam dua belas begini Njenengan ketuk pintu? Ada masalah apa Tante?" tanyaku mengejar penjelasan.
Dari celah bawah pintu kayu, suara parau itu kembali terdengar merayap pelan.
"Kulo badhe wangsulaken uang belanja tiga puluh ribu yang kemarin kulo pinjam, Bu..." bisik suara di celah pintu.
"Kulo pun janji bayar tanggal delapan, sakniki pun tanggal delapan, Bu, kulo wangsulaken..."
Lanjut suara parau di balik celah pintu kayu itu dingin.
Kata-kata itu diucapkan secara kaku, lambat, dan datar, tanpa ada nada intonasi manusia yang wajar.
Dini melangkah maju satu tapak, menarik ujung bajuku dari belakang.
"Bu, jangan sekali-kali dibuka pintunya!" pekik Dini pelan penuh kepanikan.
"Ada yang mboten beres sama cara bicara dan suara itu, Bu! Sungguh aneh!" bisik Dini memohon.
"Mbak Dini benar, Bu! Rumah sebelah kan digembok rapat dari luar pakai rantai besi sejak hari Rabu sore!"
Ujar Ranti mengingatkan fakta rumah sebelah.
"Kalau Tante Maya memang ada di luar, kenapa dia mboten minta tolong bukakan gembok pagar depan?"
Tambah Ranti dengan mata berkaca-kaca ketakutan.
"Njenengan lewat pundi biso sampai teng lorong samping rumah kulo, Tante Maya?" seruku keras.
"Pagar besi depan kan tasih terkunci gembok perak tebal! Lewat mana Njenengan masuk?" tegasku menuntut penjelasan.
Suara parau dari celah pintu itu menjawab pelan dan terputus-putus.
"Kulo lewat mburi, Bu... tanahnya lengket..." bisiknya lesu.
"Kulo pun janji wangsulaken uang tiga puluh ribu Njenengan... kulo pun wangsul..." gumamnya menggidikkan bulu kuduk.
Dini makin merapat ketakutan mendengar kalimat yang makin ngelantur dan tidak masuk akal itu.
"Bu! Tante Maya mboten pernah bicara bahasa Jawa halus seberat itu kalau obrol biasa sama Ibu!"
Peringat Dini menahan napasnya.
"Mundur, Bu! Tolong Ibu mundur sekarang dari depan pintu itu!" minta Dini dengan nada gemetar.
Pertanyaan Dini dan Ranti membuatku kembali memikirkan satu hal yang sejak tadi berusaha kuhindari.
Pagar pekarangan rumah Maya digembok tebal dari luar dengan rantai besi sejak hari Rabu sore.
Bagaimana mungkin Maya bisa berada di koridor samping yang sempit sementara gembok pagar tidak pernah dibuka?
Tepat saat pikiran itu berputar di kepalaku, sorot lampu senterku menangkap pergerakan di lantai.
Srrr... srrr...
Cairan kental berwarna merah tua bercampur tanah basah merembes keluar melintasi celah bawah daun pintu kayu.
Cairan merah basah itu merayap pelan di atas ubin semen, menyebarkan bau tanah merah yang makin pekat.
Sesuatu yang keras tampak menggores bagian bawah daun pintu, meninggalkan bekas di ubin.
"Tanggal delapan pun tiba, Bu... Sakniki pun tanggal delapan..." bisik suara di luar pintu.
"Kulo pun janji wangsulaken uang Njenengan... kulo pun wangsul..." lanjut suara parau itu kaku.
Bisikan parau itu bergema kembali, terdengar makin dekat persis di balik ambang pintu.
Saraf di tengkukku meremang hebat menyaksikan rembesan tanah basah yang kian melebar di lantai.
"Dini, Ranti, masuk ke kamar kalian sekarang juga!" perintahku tinggi.
"Kunci pintunya dari dalam dan jangan keluar sebelum Ibu panggil!" tegasku tanpa bantahan.
"Ibu gimana? Ibu ikut masuk kamar sama kami saja, Bu!"
Pinta Dini tidak tega meninggalkanku.
"Jangan berdiri sendirian di dekat pintu samping itu, Bu! Sangat berbahaya!" seru Dini cemas.
"Ibu di sini menjaga pintu supaya mboten ada yang menerobos masuk."
"Cepat masuk dan kunci pintu kamar kalian rapat-rapat!"
Tegasku sembari mendorong tubuh Dini dan Ranti perlahan menuju pintu kamar mereka.
Dini menarik tangan Ranti, melangkah cepat masuk ke dalam kamar tidur mereka.
Klek!
Bunyi selot besi pintu kamar anak-anakku yang terkunci rapat dari dalam membuat anak-anakku sedikit lebih tenang.
Kini aku berdiri sendirian di koridor samping yang remang dan dingin.
Sorot cahaya senterku tetap terpaku pada garis rembesan tanah merah basah di atas ubin semen.
Bau tanah basah dan kain lembap tua memenuhi seluruh udara di sekitarku, terasa begitu nyata dan pekat.
Aku mengumpulkan keberanian, menegakkan pundakku di hadapan pintu kayu yang terkunci selot besi.
"Tante Maya, kalau mau bicara besok pagi saja saat hari sudah terang!" seruku lantang.
"Rumah Njenengan masih terkunci dari luar dan pintu pagar depan belum dibuka!" tegasku.
Tok... Tok...
Dua ketukan pelan dan berat kembali terdengar di daun pintu bagian bawah.
Setelah ketukan itu, suara gesekan kaku di ambang pintu mendadak terhenti total.
Keheningan tebal kembali mengendap membisu di koridor gang samping.
Srok... srok...
Suara seretan berat mendadak merayap pelan menjauh melintasi ubin lorong samping menuju ke arah pekarangan belakang.
Bersamaan dengan suara seretan yang makin menjauh itu, hawa pekat bau tanah merah basah perlahan-lahan memudar.
Aku berdiri mematung selama beberapa menit, mendengarkan setiap getaran bunyi di luar rumah.
Suara angin malam Kota Malang kembali terdengar berhembus lembut menerpa dahan pohon mangga.
Aku melangkah mendekati rembesan cairan di atas lantai ubin semen.
Aku membungkukkan badan, mengarahkan sorot lampu senter persis ke permukaan tanah basah tersebut.
Aku tidak tahu dari mana tanah basah itu berasal, tetapi jelas ada sesuatu yang terjadi tepat di balik pintu samping rumahku.
Aku tidak akan membuka pintu itu. Apa pun yang ada di luar sana, anak-anak lebih penting.
Aku melangkah kembali menuju kamar tidur Dini dan Ranti di lorong tengah.
Tok! Tok!
"Din, Ran, ini Ibu. Buka pintunya pelan-pelan,"
Bisikku dari luar pintu kamar.
Klek!
Pintu kamar terbuka sedikit, memperlihatkan raut wajah Dini dan Ranti yang masih memucat tegang.
"Bu... di luar rumah sudah benar-benar aman?" tanya Dini cemas.
"Suara seretan tadi sudah hilang dan pergi jauh, Bu?" lanjut Dini menatapku berdebar.
"Sudah sepi, Din. Suara seretannya sudah tidak terdengar lagi,"
Jawabku melangkah masuk ke dalam kamar mereka.
"Bu, tadi itu benar-benar suara Tante Maya atau orang lain yang sengaja meniru suaranya?"
Tanya Ranti sembari duduk di tepi tempat tidur dengan mata cemas.
"Ibu belum bisa memastikan secara pasti, Ran."
"Yang jelas rumah sebelah sampai detik ini masih tergembok rapat dari luar,"
Sahutku mendudukkan diri di samping Ranti.
"Aneh banget kan, Bu? Mengapa suara itu terus menyebut soal uang belanja tiga puluh ribu dan janji tanggal delapan tepat jam dua belas malam?"
Gumam Dini sembari merapatkan selimut tebal di bahu adiknya.
"Iya, Din. Kalimat dan waktunya memang pas banget sama janji yang diucapkan Tante Maya hari Rabu sore kemarin,"
Balasku memandangi anak-anakku.
"Bu, apa kejadian aneh malam ini ada hubungannya sama utang material lima belas juta Mas Rian yang dicari penagih utang tadi siang?"
Tanya Dini serius mencerna keterkaitan fakta.
"Bisa jadi ada hubungannya, Din. Masalah utang proyek yang macet memang bisa membuat keadaan keluarga jadi berantakan dan panik,"
Jawabku pelan.
"Tapi kalau Tante Maya dan Mas Rian pergi karena dikejar utang, kenapa ada rembesan tanah merah basah di celah pintu samping kita, Bu?"
Bisik Ranti menatapku penuh pertanyaan bingung.
"Kita mboten usah menduga-duga yang aneh-aneh dulu, Ran."
"Yang penting besok pagi setelah hari terang, kita bicara dan lapor sama Pak RT soal kejadian malam ini,"
Pesanku menenangkan Ranti.
"Dini setuju banget, Bu. Pak RT dan warga harus tahu kalau ada kejadian aneh di lorong samping rumah sebelah,"
Tambah Dini mantap menganggukkan kepala.
"Iya, Din. Sekarang kalian berdua coba tidur lagi, Ibu menemani di kamar ini sampai pagi,"
Ujarku mengusap lembut kepala Ranti.
"Ibu tidur di sini saja sama kami sampai matahari terbit, nggih?" pinta Ranti.
"Iya, Ran, Ibu tidur di sini mendampingi kalian berdua,"
Balasku tersenyum hangat.
Malam itu kami bertiga tetap duduk berdampingan di atas tempat tidur.
Tidak ada satu pun dari kami yang benar-benar berani memejamkan mata.
Ketika jarum jam dinding di ruang tengah tepat menunjukkan pukul satu dini hari, suara gesekan tipis kembali terdengar dari bawah daun pintu kamar tempat kami bertiga duduk berdampingan.
Krrrit...
---