Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 - LIPSTIK PERTAMA DI KERAJAAN LANGIT
Paviliun Mawar ternyata jauh berbeda dari bayanganku.
Aku semula membayangkan sebuah bangunan tua di sudut istana, jauh dari pusat kegiatan, dengan atap bocor dan halaman yang dipenuhi rumput liar. Tempat yang cocok untuk seseorang yang keberadaannya tidak diinginkan oleh sang kaisar.
Namun, kenyataannya justru sebaliknya.
Paviliun ini berdiri di sisi timur kediaman utama, berdekatan dengan Taman Mawar Putih. Sebuah koridor kayu menghubungkannya dengan bangunan tempat Kaisar Segara El-Bhumi biasa bekerja. Dari jendela kamar, aku bahkan bisa melihat kolam teratai di halaman dalam.
Tempatnya indah, tenang, dan terlalu dekat dengan pria yang kemarin mengancam akan membuangku ke paviliun terjauh.
Aku belum tahu apakah ini keberuntungan atau bentuk hukuman yang lebih halus.
“Gusti Putri, apakah kamarnya sudah sesuai keinginan?”
Aku menoleh kepada Mbok yang sedang merapikan kain penutup meja.
“Lebih dari cukup, Mbok.”
“Syukurlah.” Ia tersenyum lega. “Setidaknya, Gusti tidak perlu tinggal di paviliun yang jauh dari orang-orang.”
Aku mengamati halaman di luar jendela.
“Justru karena dekat dengan kediaman Kaisar, aku harus lebih berhati-hati.”
Mbok menghentikan gerakannya.
“Gusti masih takut kepada beliau?”
Aku mengangkat bahu. “Bukankah semua orang di istana ini takut kepadanya?”
Mbok tidak segera menjawab. Ia hanya menunduk, seolah ada sesuatu yang ingin dikatakan, tetapi urung disampaikan.
Aku mulai terbiasa dengan sikap seperti itu.
Di istana ini, rupanya bukan hanya Kaisar Segara yang pandai menyimpan rahasia.
Setelah memastikan Mbok benar-benar merasa lebih baik, aku kembali duduk di depan meja rias. Demamnya sudah jauh mereda, tetapi tabib tetap meminta agar ia beristirahat dan tidak memaksakan diri bekerja.
Kotak P3K dari sistem kini kusimpan di dalam laci meja. Aku tidak ingin benda itu menjadi tontonan seluruh istana. Cukup sudah masalah yang muncul hanya karena perban putih dan beberapa perlengkapan medis.
Namun, pagi ini aku menemukan sesuatu yang lain di inventaris sistem.
Sebuah benda kecil dengan wadah hitam mengilap.
Aku mengangkatnya, lalu membaca keterangan yang muncul di layar biru.
[HADIAH TAMBAHAN TELAH DITERIMA.]
[1x LIPSTIK MATTE MERAH DELIMA — EDISI PERMAISURI.]
[DAYA TAHAN: HINGGA 24 JAM.]
Aku terdiam beberapa saat.
Lipstik.
Di antara semua benda yang mungkin diberikan sistem kepadaku, kenapa harus lipstik?
“Setidaknya, kali ini hadiahnya tidak berhubungan dengan racun atau ancaman pembunuhan,” gumamku.
Aku membuka tutupnya.
Warna merah delima terlihat jelas pada ujung lipstik. Bukan merah menyala yang berlebihan, melainkan merah pekat dengan kesan elegan.
Di abad ke-21, benda seperti ini mudah ditemukan di toko kosmetik. Namun, di Kerajaan Langit, para perempuan bangsawan menggunakan pewarna bibir dari kelopak bunga yang ditumbuk hingga halus. Warnanya cenderung lembut dan tidak bertahan lama.
Aku pernah melihat hasilnya pada riasan Kahiyang saat upacara pernikahan kemarin.
Cantik, tetapi terlalu pucat untuk seleraku.
Aku mendekatkan wajah ke cermin perunggu.
Pantulan yang menatapku masih terasa asing. Wajah itu milik Kahiyang, perempuan yang hidupnya berakhir sebelum aku mengambil alih tubuhnya. Sementara pikiran di balik matanya adalah milikku—seorang mahasiswi yang seharusnya sedang menyusun penelitian sejarah, bukan belajar bertahan hidup di tengah istana yang penuh rahasia.
Aku menyentuh bibirku yang pucat.
Mungkin aku hanya ingin melakukan sesuatu yang sederhana. Sesuatu yang mengingatkanku bahwa aku masih punya kendali atas diriku sendiri, meski sekarang bahkan tubuh yang kutempati bukan milikku sejak awal.
Akhirnya, aku mengoleskan lipstik itu tipis-tipis.
Satu sapuan.
Aku berhenti, lalu memeriksa hasilnya di cermin.
Warna merah delima itu membuat wajahku terlihat lebih segar. Aku menambahkan sedikit lagi, kemudian merapatkan bibir agar warnanya merata.
Aku tersenyum kecil.
“Lumayan. Setidaknya aku tidak terlihat seperti orang yang baru keluar dari ruang perawatan.”
“Gusti Putri?”
Aku menoleh.
Mbok baru saja masuk membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa potong kue. Langkahnya terhenti begitu melihat wajahku.
“Kenapa, Mbok?”
Ia meletakkan nampan di meja dengan hati-hati, kemudian mendekat.
“Bibir Gusti…”
Aku refleks menyentuh bibirku. “Terlalu merah?”
“Bukan.” Mbok menggeleng cepat. “Warnanya indah sekali. Seperti buah delima yang matang.”
Ia mengamati wajahku dari berbagai sudut, tetapi tidak berani menyentuhnya.
“Pewarna dari bunga apa itu, Gusti? Mbok belum pernah melihat warna seperti ini.”
Aku menahan senyum.
“Rahasia keluarga Adiningrat.”
Mbok mengangguk, meskipun jelas-jelas masih penasaran.
Aku mulai merasa bersalah karena terus menggunakan nama keluarga itu sebagai alasan untuk menjelaskan segala sesuatu yang berasal dari abad ke-21. Namun, aku belum menemukan cara yang lebih aman untuk menyembunyikan asal-usulku.
Kalau orang-orang mengetahui bahwa aku datang dari masa depan, aku tidak tahu apakah mereka akan menganggapku sebagai pembawa berkah atau ancaman yang harus segera disingkirkan.
Dan aku tidak ingin menguji kemungkinan kedua.
Aku baru hendak mencicipi teh ketika suara langkah terdengar dari arah koridor.
Tidak ada ketukan.
Pintu terbuka, lalu seorang pria memasuki kamar seolah-olah seluruh bangunan ini memang berada di bawah kekuasaannya.
Sebenarnya, memang begitu.
Kaisar Segara El-Bhumi datang mengenakan jubah kerja biru tua. Mahkota giok hitam menghiasi rambutnya yang diikat rapi. Di tangannya terdapat beberapa lembar laporan, sementara seorang pengawal berhenti di luar pintu.
Ia tampak seperti seseorang yang telah memulai pekerjaannya sejak pagi buta.
Aku segera berdiri.
“Hamba memberi hormat kepada Gusti Kaisar.”
Segara tidak langsung menjawab. Tatapannya melewati meja rias, berhenti sejenak pada Mbok, lalu beralih kepadaku.
Kemudian, ia terdiam.
Aku mengikuti arah pandangannya.
Bibirku.
Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara.
Aku mulai merasa tidak nyaman.
Jangan-jangan warna ini dianggap tidak sopan di hadapan kaisar?
“Kau memakai apa?” tanyanya akhirnya.
Aku mengangkat alis. “Pewarna bibir, Gusti Kaisar.”
“Aku bisa melihat itu.”
“Kalau begitu, sepertinya pertanyaan Gusti sudah terjawab.”
Begitu kalimat itu keluar dari mulutku, aku langsung ingin menggigit lidah sendiri.
Astaga, Kahiyang. Kau sedang bicara dengan kaisar, bukan teman sekelasmu!
Mbok menunduk begitu cepat hingga hampir membentur nampan.
Segara menatapku tanpa berkedip.
“Akhir-akhir ini kau tampaknya semakin berani.”
Aku merapikan lengan bajuku untuk menyembunyikan kegugupan.
“Mungkin karena saya mulai memahami bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan ketakutan.”
Ruangan kembali hening.
Aku tidak tahu apakah jawabanku akan membuatnya marah. Yang jelas, Segara tidak terlihat senang mendengarnya.
Ia berjalan mendekati meja rias, kemudian memperhatikan wadah hitam yang terletak di samping cermin.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
Aku menelan ludah.
“Dari keluarga saya.”
“Adiningrat?”
Aku mengangguk.
“Sepertinya keluargamu menyimpan banyak hal yang tidak diketahui siapa pun.”
“Setiap keluarga memiliki rahasia, Gusti Kaisar.”
“Termasuk keluargamu?”
Aku tidak menjawab.
Bukan karena ingin bersikap misterius, melainkan karena jawaban jujur justru akan menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.
Segara menatapku beberapa saat sebelum kembali memandang bibirku.
“Hapus.”
Aku berkedip.
“Maaf?”
“Warna itu terlalu mencolok untuk seorang permaisuri.”
Aku menahan keinginan untuk memutar mata.
Tentu saja. Pria ini bahkan mengatur warna bibirku.
“Apakah ada aturan istana yang melarang warna merah delima, Gusti Kaisar?”
“Tidak perlu ada aturan tertulis untuk segala sesuatu.”
“Kalau begitu, apakah saya boleh tahu alasan sebenarnya?”
Tatapannya menajam.
“Karena aku yang memerintahkannya.”
Jawaban itu membuatku hampir tertawa, tetapi aku berhasil menahannya.
Aku menatap cermin sekali lagi, lalu mengangkat wajah.
“Kalau Gusti Kaisar ingin saya menghapusnya, saya bisa melakukannya sendiri.”
Aku sengaja berhenti sebentar.
“Namun, kalau Gusti ingin memastikan warnanya benar-benar hilang, mungkin Gusti perlu memeriksanya sendiri.”
Mbok mengeluarkan suara kecil yang terdengar seperti orang tersedak.
Sementara itu, Segara menatapku seolah-olah sedang berusaha memastikan apakah aku baru saja menantangnya.
“Kau sedang mempermainkanku, Kahiyang?”
“Tidak, Gusti Kaisar.”
“Lalu kenapa kau tersenyum?”
Aku segera merapatkan bibir.
Terlambat. Sudut bibirku sudah terlanjur terangkat.
Segara meletakkan laporan yang dibawanya di atas meja. Ia kemudian melangkah mendekat, tetapi berhenti sebelum mencapai tempat dudukku.
Jarak kami masih cukup jauh.
Aku tidak bisa mencium aroma tubuhnya dengan jelas, tidak seperti bayangan berlebihan yang muncul dalam pikiranku tadi. Yang bisa kurasakan justru ketegangan yang perlahan memenuhi ruangan.
Ia menatapku dengan sorot mata yang sulit kubaca.
“Warna itu memang berbeda dari yang biasa dipakai perempuan di istana,” katanya.
Aku tidak menyangka akan mendapat komentar seperti itu.
“Berbeda bukan berarti buruk, bukan?”
“Juga bukan berarti baik.”
“Kalau begitu, biarkan saya menilainya sendiri.”
Untuk sesaat, aku melihat sesuatu berubah pada wajahnya. Bukan senyum, bukan pula kemarahan. Hanya jeda kecil, seolah-olah ia tidak terbiasa menghadapi seseorang yang tidak langsung menundukkan kepala setiap kali ia berbicara.
Kemudian, Segara mengulurkan tangan ke arah wadah lipstik.
Aku membiarkannya mengambil benda itu.
Ia memeriksanya sebentar, membalik wadah hitam tersebut, lalu mencoba membuka tutupnya. Setelah melihat bentuk lipstik di dalamnya, alisnya berkerut.
“Benda sekecil ini bisa menghasilkan warna sepekat itu?”
“Bisa, Gusti.”
“Bagaimana cara membuatnya?”
Aku tersenyum tipis.
“Itu rahasia.”
Tatapannya kembali kepadaku.
“Sekarang kau mulai meniru kebiasaanku?”
“Bukankah Gusti sendiri yang mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dijelaskan kepada orang lain?”
Segara tidak menjawab.
Ia meletakkan lipstik itu kembali di meja, lalu mundur satu langkah.
“Hati-hati dengan rahasia yang kau simpan. Suatu hari nanti, rahasia itu mungkin menjadi alasan seseorang ingin membunuhmu.”
Senyumku memudar.
Kalimat tersebut terdengar seperti ancaman, tetapi ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku tidak yakin.
Apakah ia sedang memperingatkanku?
Atau sekadar mengingatkan bahwa orang yang tinggal di istana tidak pernah benar-benar aman?
Aku belum sempat bertanya karena Segara sudah mengambil kembali laporan di atas meja.
“Pastikan pelayanmu beristirahat sampai kondisinya pulih. Tabib akan memeriksanya lagi nanti.”
Aku mengangguk. “Terima kasih, Gusti Kaisar.”
Ia berjalan menuju pintu.
Namun, sebelum keluar, ia berhenti dan menoleh sekali lagi.
“Dan Kahiyang?”
“Ya?”
“Jangan gunakan alasan keluarga Adiningrat untuk setiap benda aneh yang kau miliki. Cepat atau lambat, seseorang akan mulai mencari tahu apakah cerita itu benar.”
Jantungku berdegup lebih cepat.
Segara tidak menunggu jawabanku. Ia meninggalkan kamar, diikuti pengawalnya.
Pintu tertutup.
Aku baru berani mengembuskan napas setelah langkahnya menjauh.
Mbok langsung mendekatiku.
“Gusti, bagaimana mungkin Gusti berani berbicara seperti itu kepada Kaisar?”
Aku mengambil kembali lipstik dari meja.
“Kalau aku terus-menerus takut, Mbok, mungkin aku tidak akan bisa melakukan apa pun di tempat ini.”
“Namun, beliau bisa marah.”
“Aku tahu.”
“Beliau juga bisa menghukum siapa pun yang membuatnya tidak senang.”
“Aku tahu, Mbok.”
Aku menatap pintu yang baru saja dilalui Segara.
“Karena itu, aku harus belajar membedakan kapan aku boleh melawan dan kapan aku harus mengalah.”
Mbok terdiam.
Aku sendiri tidak yakin apakah aku sudah memahami perbedaan itu. Aku hanya tahu bahwa hidup di istana ini menuntutku untuk lebih berhati-hati daripada sebelumnya.
Tiba-tiba, layar sistem muncul di hadapanku.
[DING!]
[INTERAKSI DENGAN KAISAR SELESAI.]
[STATUS: KAISAR MENYADARI PERUBAHAN PENAMPILAN HOST.]
Aku menunggu beberapa saat.
Tidak ada tambahan angka ketertarikan. Tidak ada hadiah baru.
Hanya satu baris informasi yang membuatku mengernyit.
[PERINGATAN: PERHATIAN KAISAR MENINGKAT. PENYEBAB BELUM DAPAT DIPASTIKAN.]
Aku menghela napas.
“Jadi, sistem pun tidak tahu apa yang dipikirkan tuannya sendiri?”
Tidak ada jawaban.
Aku menutup layar itu dengan gerakan kesal, lalu kembali menatap cermin perunggu.
Lipstik merah delima itu masih bertahan di bibirku. Warnanya membuat wajahku tampak lebih segar, meskipun pikiranku jauh dari tenang.
Aku menyentuh ujung bibir dengan jari.
Hari ini, aku memang berhasil membuat Kaisar Segara memperhatikan sesuatu yang berbeda dariku. Namun, aku tidak tahu apakah perhatian itu akan memberiku keuntungan atau justru menambah bahaya.
Yang jelas, aku tidak akan membiarkan satu batang lipstik membuatku lupa pada alasan utama aku harus bertahan hidup.
Aku masih perlu mengetahui kebenaran tentang Li Hua.
Aku masih perlu mencari tahu siapa yang berada di balik kematiannya.
Dan yang paling penting, aku harus menemukan cara untuk pulang.
Aku menutup wadah lipstik, lalu menyimpannya kembali ke dalam laci.
Di luar jendela, kelopak mawar putih bergerak tertiup angin.
Untuk pertama kalinya sejak terdampar di Kerajaan Langit, aku merasa sedikit lebih nyaman dengan wajah yang kulihat di cermin.
Bukan karena aku mulai menerima bahwa hidupku yang lama telah berakhir.
Melainkan karena aku mulai memahami bahwa, selama masih bernapas, aku masih punya kesempatan untuk menentukan langkahku sendiri.