"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa gadis itu? 29.
Suara bas yang berdentum dari panggung utama SMA Veteran membuat kaca-kaca jendela aula bergetar tipis.
Veteran Youth Festival akhirnya resmi dibuka.
Di balik riuhnya ratusan penonton yang memadati area lapangan, Nawang berdiri di samping barikade pembatas, memegang rundown acara yang lembarannya sudah agak lecek karena diremas berulang kali.
Matanya sibuk memindai pergerakan kru dokumentasi ketika sebuah bayangan tinggi menghalangi sorot lampu stage dari arah kanannya.
Rendy berjalan mendekat. Ketua OSIS itu tidak lagi memakai kemeja kusut seperti malam-malam melelahkan di ruang kerja mereka.
Hari ini dia memakai kaus panitia hitam yang pas di tubuhnya, lengkap dengan handy talky yang tersemat di sabuk celana.
"Semua rundown aman. Band pembuka udah naik," kata Rendy tanpa basa-basi, langsung berdiri di sebelah Nawang dengan tatapan lurus ke depan.
Nawang mengembuskan napas lega, bahunya yang tegang akhirnya bisa sedikit rileks. "Bagus deh. Vendor barikade gimana?"
"Sesuai kesepakatan awal. Manajernya minta maaf tadi pagi," jawab Rendy datar, namun ada kilat kepuasan di matanya. Cowok itu kemudian menoleh ke samping, menatap Nawang yang rambut panjangnya beberapa kali terbang tertiup angin sore, menutupi sebagian wajahnya yang tampak lelah tapi berseri.
Tanpa aba-aba, Rendy merogoh saku celananya. Dia mengeluarkan sebuah jepit rambut kecil berbentuk geometris minimalis berwarna perak. "Sini sebentar."
Nawang mengernyit, bingung. "Kenapa?"
Rendy tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah satu tindakan lebih dekat, memperkecil jarak di antara mereka.
Dengan gerakan tangan yang sangat hati-hati—kontras dengan pembawaannya yang biasanya kaku dan penuh kalkulasi—jemari Rendy merapikan anak rambut Nawang ke belakang telinga.
Sentuhan kulit tangan Rendy yang hangat di pelipisnya membuat napas Nawang sempat tertahan.
Jantungnya memberikan reaksi spontan, berdegup dua kali lebih cepat.
Rendy dengan telaten menyematkan jepit rambut itu di sana, memastikan poni Nawang tidak lagi mengganggu pandangannya.
"Gue lihat lu sibuk nyibakin rambut dari tadi pas koordinasi di lapangan," kata Rendy sambil menurunkan tangannya kembali ke saku. Dia menatap hasil kerjanya, lalu mengangguk kecil. "Cocok. Anggap aja bonus kerja keras dari ketua OSIS."
Nawang menyentuh jepit rambut itu dengan ujung jarinya. Sudut bibirnya berkedut, menahan senyum yang mendadak ingin meledak. "Ini... masuk anggaran manajemen risiko juga, Ren?"
Rendy terkekeh pelan, mata tajamnya melunak. "Enggak. Yang ini pakai anggaran pribadi. Makanya, jangan hilang."
Di tengah gemuruh musik festival yang membakar semangat seisi sekolah, ada satu sudut kecil di dekat barikade di mana waktu seolah berjalan melambat bagi mereka berdua.
Sebuah interaksi tanpa drama besar, namun memiliki kedalaman rasa yang nyata.
**
Sementara itu, di area belakang gedung olahraga yang sepi dari hiruk-pikuk festival, atmosfernya justru terasa mencekik.
Brak!
Punggung Timy membentur dinding bata dengan cukup keras setelah satu dorongan kasar mendarat di dadanya.
Di depannya, Fajar—sahabatnya sejak kelas sepuluh—berdiri dengan napas memburu dan wajah yang memerah menahan dongkol.
"Lu tuh bego, Tim! Bego piaraan lu pelihara!" bentak Fajar, jarinya menunjuk tepat di depan hidung Timy. "Semua orang di tongkrongan tahu gimana tulusnya Nawang ke lu dulu. Dia cewek yang gak pernah nuntut macam-macam, selalu ada pas lu susah. Dan lu? Lu lepasin dia cuma demi drama tanpa akhir sama Naya?"
Timy memejamkan mata sejenak, merasakan pening yang mulai menyerang kepalanya.
Sisa kelelahan dari perdebatannya dengan Naya semalam masih membekas, dan sekarang dia harus menghadapi ini.
"Lu gak tahu apa-apa soal Naya, Jar. Jangan asal ngomong," balas Timy, suaranya terdengar rendah dan dingin, mencoba menahan emosi agar tidak terpancing.
"Gue tahu! Kita semua tahu!" Fajar tertawa sinis, langkahnya maju satu tapak lagi. "Naya itu cuma manfaatin janji ke bokapnya. Dia tahu lu gak bakal bisa ninggalin dia, makanya dia ikat lu pake manipulasi emosinya. Sementara Nawang? Cewek itu sekarang jalan sama Rendy, cowok yang jauh lebih tahu cara ngehargain dia daripada lu yang cuma bisa plin-plan!"
Kata-kata Fajar telak menghantam ego Timy. Kalimat terakhir itu memicu sesuatu yang sejak lama dipendamnya di dasar hati.
Bayangan Nawang yang tersenyum lega di dekat Rendy akhir-akhir ini berputar di kepalanya bagai kaset rusak.
Timy merangsek maju, mencengkeram kerah kaus Fajar dengan kedua tangannya. Urat-urat di lehernya menegang. "Jaga mulut lu, Fajar! Gue lakuin ini karena tanggung jawab. Gue gak bisa biarin Naya hancur sendirian!"
"Tanggung jawab atau lu yang gak punya nyali buat tegas, hah?!" Fajar tidak gentar, dia malah menepis cengkeraman tangan Timy dengan kasar. "Lu kasihan sama Naya, tapi lu nyakitin Nawang. Dan yang paling parah, lu nyiksa diri lu sendiri. Lu lihat kaca deh, Tim. Lu yang sekarang tuh kayak mayat hidup yang cuma jalanin kewajiban! Lu udah kehilangan diri lu sendiri!"
Timy tertegun. Genggaman tangannya melemas. Kata-kata Fajar barusan persis dengan apa yang dia pikirkan di atas motornya semalam.
Logika remajanya yang selama ini mencoba menyeimbangkan segala hal kini runtuh, menyisakan ruang kosong yang terasa hampa dan menyakitkan.
Fajar menggelengkan kepala, menatap Timy dengan pandangan kecewa yang mendalam. "Terserah lu deh. Capek gue ngasih tahu orang yang sengaja buta."
Tanpa menunggu balasan, Fajar berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Timy sendirian di lorong yang temaram. Timy menyandarkan kepalanya ke dinding bata yang dingin, menatap langit sore yang mulai menggelap.
Penyesalan memang tidak pernah datang di awal, dan malam ini, rasanya sangat menyesakkan.
**
Beberapa meter dari tempat Timy berdiri, di balik pilar beton pembatas antara gedung olahraga dan koridor kelas tiga, seorang anak perempuan memperhatikan seluruh pertengkaran itu dalam diam.
Dia mengenakan jaket oversized berwarna abu-abu yang menutupi seragam sekolahnya.
Rambutnya hitam legam dikuncir kuda secara asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tenang.
Tidak ada ekspresi terkejut atau takut di wajahnya saat menyaksikan intensitas emosi cowok-cowok di depannya tadi. Bagi dia, drama remaja seperti ini hanyalah tontonan sore yang lumayan menghibur.
Anak perempuan itu menurunkan pandangannya ke benda di tangannya: sebuah susu cokelat kotak yang sedotannya baru saja dia lepas dari kemasan plastiknya.
Sreeek.
Dia menusuk bagian atas kotak susu tersebut dengan sedotan plastiknya secara presisi.
Sambil menyandarkan bahunya ke pilar beton, dia mulai menyedot susu cokelat itu perlahan, menikmati rasa manis yang dingin mengalir di tenggorokannya.
Matanya kembali melirik ke arah Timy yang masih berdiri termenung dengan bahu merosot di ujung lorong.
Sebuah senyuman tipis, hampir tak kentara, terukir di sudut bibir cewek itu.
Di sekolah yang sedang sibuk merayakan kemeriahan festival ini, kehadirannya terasa seperti entitas baru yang membawa misteri tersendiri.
Dia tahu persis, roda drama di SMA Veteran baru saja akan dimulai ke babak yang lebih rumit, dan dia tidak keberatan untuk menyaksikannya dari barisan paling depan.
......................
...****************...
Tbc,