NovelToon NovelToon
Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Kepincut Cinta Di Mas-mas Jawa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:716
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

Up di jam yang sama 12.00 WIB


Martha Giorgiana, gadis asal London yang hobi traveling, memutuskan menjelajahi Indonesia. Setibanya di Bali, di tengah kekagumannya pada keindahan pulau tersebut, ia tak sengaja menabrak seorang pemuda misterius berbusana adat Jawa.

Kejadian canggung itu kian berkesan saat sang pemuda menunduk sopan dan berujar lembut, "Luput kulo nggeh, mbak." Suara dan tatapan teduh itu sukses membuat Martha tertegun sesaat. Pertemuan tak terduga ini menjadi awal mula perjalanan penuh warna, di mana pesona budaya lokal perlahan-lahan mencuri hatinya dan menuntunnya pada kisah cinta yang tak pernah ia duga sebelumnya.

Saksikan kisah Cinta mereka yang beda negara, beda agama, beda adat!!! semoga kalian suka🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-Bayang London di Bawah Atap Joglo

Kehebohan akibat foto skandal palsu antara Adnan dan Anna di media sosial belum sepenuhnya reda. Dalam waktu kurang dari dua hari, kunjungan wisatawan lokal dan rasa penasaran publik terhadap Rumah Joglo Setiawan melonjak drastis. Eyang Broto bahkan sempat tersenyum tipis melihat peningkatan jumlah pengunjung galeri seni ukir tersebut. Namun, di balik kehebohan maya itu, sebuah badai nyata yang jauh lebih besar sedang bersiap menerjang ketenangan pasangan tersebut.

Sore itu, udara Surakarta terasa cukup terik. Martha sedang duduk di teras samping, merapikan draf novelnya sambil menyesap es teh manis, sementara Adnan sedang membimbing beberapa pemuda dusun memahat kayu jati di galeri.

Tiba-tiba, suara deru dua mobil sedan mewah ber-pelat nomor hitam dari kota besar memasuki halaman Rumah Joglo Setiawan dengan mencolok. Mobil-mobil itu berhenti tepat di depan pendopo utama, menghentikan aktivitas warga dan para perajin.

Pintu mobil terbuka. Seorang pria paruh baya berjas rapi keluar lebih dulu, membukakan pintu bagi seseorang di kursi belakang. Dari dalam mobil, turunlah seorang pria tinggi berpostur tegap, mengenakan jas desainer Eropa berwarna abu-abu arang, kacamata hitam berbingkai perak, dan rambut pirang keemasan yang tertata rapi. Penampilannya memancarkan aura arogansi khas kaum bangsawan Inggris perkotaan—sangat kontras dengan latar pedesaan Jawa yang tenang.

Itulah Julian Vance—mantan tunangan aristokrat Martha yang dulu menjalin ikatan keluarga demi kepentingan bisnis di London, sebelum Martha memilih kabur meninggalkan kemewahan aristokrasi demi mengejar kebebasannya di Asia.

Martha yang melihat sosok itu dari teras seketika terperanjat. Jantungnya berdegup kencang, cangkir teh di tangannya nyaris terlepas dari genggaman. Warna kulit wajahnya memucat seketika. Bagaimana bisa dia menemukanku sampai ke sudut pulau Jawa ini? batin Martha panik.

Adnan, yang merasakan ketegangan di udara, langsung meletakkan pahat kayunya. Ia melangkah cepat meninggalkan galeri, berjalan mendekati pendopo tempat Julian dan pengacaranya berdiri angkuh.

Julian melepas kacamata hitamnya, menatap sekeliling kompleks joglo dengan senyuman meremehkan. Pandangannya lalu berhenti tepat pada Martha yang berjalan mendekat dengan langkah kaku namun penuh perlawanan.

"Well, well, well..." sapa Julian dengan suara bariton khas Inggris yang dingin dan penuh sarkasme. "Luar biasa sekali persembunyianmu, Martha. Mencari pelarian di gubuk kayu tua di tengah pedesaan terpencil di Indonesia? Apakah keturunan keluarga Giorgiana sekarang sudah turun derajat serendah ini?"

Martha mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menatap Julian tajam. "Julian. Apa yang kamu lakukan di sini? Bagaimana kamu bisa melacakku?"

Julian melangkah mendekat, tersenyum sinis. "Melacakmu bukan hal yang sulit, Martha. Kekayaan dan jaringan keluargamu di London tidak butuh waktu lama untuk menemukan seorang buronan aristokrasi yang memilih hidup bersama... pria lokal ini." Julian melirik tajam ke arah Adnan yang berdiri tenang namun tegas di sisi Martha.

Adnan merapatkan rahangnya, melangkah maju mensejajarkan diri dengan istrinya, lalu menatap Julian dengan sorot mata setajam elang. "Anda berada di properti pribadi keluarga Setiawan, Tuan. Jika kedatangan Anda hanya untuk menghina istri saya dan merendahkan tempat ini, pintu keluar terbuka sangat lebar di belakang Anda."

Julian tertawa kecil, suara tawanya terdengar sombong. Ia memberi isyarat kepada pengacaranya untuk membuka sebuah koper dokumen resmi berkop hukum internasional.

"Tenang saja, Tuan Setiawan. Saya tidak datang untuk berkelahi," kata Julian dengan nada suara yang dibuat-buat sopan. Ia mengalihkan pandangannya kembali kepada Martha. "Martha, pengadilan keluarga di London telah mengeluarkan putusan in absentia. Sesuai klaim perwalian dan kontrak warisan leluhur Giorgiana, seluruh aset finansial independen dan hak kepemilikan warisannmu di Inggris dinyatakan dibekukan secara permanen—kecuali... kamu menandatangani surat pembatalan pelarian ini dan pulang kembali ke London bersama saya hari ini juga."

Ancaman itu jatuh telak bagaikan petir di siang bolong.

Meskipun Martha sudah melepaskan sebagian besar status bangsawannya demi hidup mandiri, pembekuan seluruh aset perwalian itu berarti dana cadangan yang ia gunakan untuk membantu melunasi utang yayasan joglo kemarin kini berada dalam bahaya sengketa hukum internasional.

Sebelum Martha sempat membuka mulut untuk membalas, dari arah dalam pendopo terdengar bunyi ketukan tongkat yang berwibawa. Eyang Broto berjalan keluar dengan langkah pelan namun pasti, didampingi oleh Mbok Jum dan Paklik Martoyo. Wajah sesepuh itu tampak sangat tenang, namun memancarkan aura ketegasan seorang leluhur yang tidak gentar menghadapi ancaman apa pun.

Eyang Broto berhenti di samping Adnan, menatap Julian dari atas sampai bawah dengan sorot mata tajam penuh pengalaman hidup.

"Bule kota yang datang membawa kertas ancaman..." ucap Eyang Broto dengan suara parau yang berwibawa, berbicara dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan secara mental oleh Martha. "Di tanah leluhur kami, tamu yang datang tanpa salam dan mencoba menakut-nakuti anggota keluarga kami tidak pernah dihormati, siapapun dia."

Julian menatap Eyang Broto sekilas dengan sebelah alis terangkat, tampak meremehkan pria tua berpakaian adat Jawa tersebut. "Tuan tua, Anda tidak mengerti hukum internasional. Perempuan ini adalah tunangan sah saya di bawah hukum keluarga bangsawan Inggris. Apa yang ada di tangannya adalah milik keluarga kami."

Martha maju selangkah, menepis rasa takut di dadanya, lalu menatap Julian dengan mata biru-kehijauannya yang menyala penuh amarah.

"Dengar baik-baik, Julian!" suara Martha memecah keheningan sore itu dengan tegas dan lantang. "Aku bukan barang milik keluarga Giorgiana yang bisa kamu tukar atau paksa pulang! Aku sudah melepaskan gelar itu sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di tanah ini! Silakan ambil semua uang dan aset warisan itu jika itu yang kalian inginkan, tapi ketahuilah satu hal: aku tidak akan pernah sudi kembali kepadamu!"

Suasana di halaman joglo mendadak membeku. Julian terperanjat kaget melihat betapa teguhnya pendirian Martha—perempuan manja London yang kini telah bermetamorfosis menjadi wanita mandiri berjiwa baja di bawah naungan budaya Jawa.

Adnan merangkul bahu Martha dengan penuh kehangatan, memberikan kekuatan penuh pada wanita yang dicintainya itu.

Julian mengepalkan rahangnya, menyadari bahwa ancaman halusnya tidak mempan. Dengan senyuman dingin, ia melipat dokumen hukumnya dan menatap tajam kepada Adnan dan Martha.

"Kalian pikir ini sudah berakhir?" ancam Julian tajam sebelum berbalik menuju mobilnya. "Perang hukum baru saja dimulai di pengadilan internasional. Kita lihat seberapa lama gubuk kayu ini bisa bertahan dari gugatan hukum kami!"

Mobil-mobil mewah itu berputar arah dan melaju kencang meninggalkan halaman Rumah Joglo Setiawan, menyisakan debu jalanan yang mengepul di sore hari.

Namun, alih-alih panik atau ketakutan, Martha justru menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis menatap Adnan. Badai besar dari masa lalunya telah resmi datang menagih janji, dan untuk pertama kalinya, Martha tahu persis di pelukan siapa ia harus berdiri menghadapi badai tersebut.

1
Widia Wati
MasyaAllah
baru bab awal ,ceritanya udah penuh dgn kata2 bijak n keren...mbak autor 👍
kebetulan kita tetangga kabupaten
saya dari jombang ,tp sudah menetap di samarinda
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬: makasih kak🥰🥰...wahh tetangga ya saya berasal dari desa sebalor tapi merantau di Malaysia.. semangat kak🥰
total 1 replies
🐯♠ ᵣₕүₜₕₘ.ₒ𝐟.ᵣₐᵢₙ 👌🍬
Kalau suka tinggalin jejak🥰

author nulisnya menggunakan adat jawa juga karena author berasal dari Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.


Salam paseduluran rek❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!