NovelToon NovelToon
Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Terikat Darah Dengan Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Action
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

Clara hanyalah seorang gadis penderita anemia kronis yang terjebak utang almarhumah ibunya. Demi melunasi utang tersebut, ia terpaksa menjadi asisten pribadi sekaligus "penawar tidur" bagi Arsen Baskara—Tuan Muda yang dingin, kejam, dan menderita insomnia parah.
Di bawah satu atap, Arsen bertindak sangat posesif dan mendominasi Clara. Namun anehnya, setiap kali Arsen berhasrat melangkah lebih jauh, benteng penolakan ghaib di dadanya selalu bergejolak. Rasa penasaran berlanjut ketika orang-orang di sekitar mereka menyadari kemiripan garis wajah dan kebiasaan refleks yang ganjil di antara keduanya.
Saat Baskara—sang penguasa kejam klan Baskara—pulang untuk memburu dokumen masa lalu, terungkaplah rahasia terlarang yang paling mendalam: Clara bukan sekadar pelayan, melainkan adik kandung Arsen yang dulu melarikan diri bersama ibunya demi menghindari paksaan aborsi akibat fitnah perselingkuhan.
Di antara jeratan posesif sang Tuan Muda, ancaman pembunuhan dari ayah mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: PERHATIAN TERSELUBUNG DAN PENOLAKAN BATIN

Keadaan di dalam kamar rawat inap VIP Rumah Sakit Medika Sentosa begitu hening. Suara dengung pendingin udara dan bunyi teratur dari monitor penanda henti jantung menjadi satu-satunya latar suara di ruangan luas berfasilitas mewah itu.

Clara terbaring di atas ranjang medis. Wajahnya yang semula memerah akibat reaksi alergi kini perlahan kembali pucat, namun napasnya sudah jauh lebih teratur setelah mendapat suntikan obat penawar lanjutan dan penanganan intensif langsung dari Dokter Hendra.

Arsen duduk di kursi lipat tepat di samping ranjang. Jas seragam sekolahnya sudah dilepas dan disampirkan di sandaran kursi, menyisakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku. Tatapannya terpaku pada sosok Clara yang tertidur lelap di bawah selimut tebal.

Dokter Hendra yang baru saja memeriksa cairan infus menghela napas pelan sebelum melangkah mendekati Arsen.

"Reaksi alerginya berhasil diredakan berkat suntikan pertolongan pertama yang Tuan Muda berikan di dalam mobil," ujar Dokter Hendra pelan. "Namun, kombinasi antara alergi anafilaksis dan kondisi anemia berat yang diidap Nona Clara membuat tubuhnya sangat lemah. Dia butuh pemantauan ketat sebelum diperbolehkan pulang ke rumah."

Arsen tidak mengalihkan pandangannya dari Clara. "Bahan makanan laut itu... memang seberbahaya itu untuk fisiknya?"

"Sangat berbahaya, Tuan Muda," jawab Dokter Hendra tegas. "Sama persis dengan kondisi alergi bawaan yang diidap Tuan Muda Arsen sejak kecil. Tingkat sensitivitas histaminnya sangat tinggi. Sedikit saja paparan bisa berakibat fatal jika terlambat ditangani."

Jemari Arsen yang bertaut di atas paha memegang erat kain celananya. Kebetulan ini terlalu spesifik. Alergi seafood tingkat fatal adalah kelainan yang sangat langka di keluarganya—bahkan ayahnya, Baskara, tidak memiliki alergi ini. Bagaimana bisa seorang gadis asing yang ditemukannya di kota terpencil memiliki reaksi biologis yang seratus persen identik dengannya?

"Saya mengerti. Dokter boleh keluar," usir Arsen datar.

Setelah Dokter Hendra dan perawat meninggalkan ruang rawat VIP, ruangan itu kembali sunyi. Arsen membungkukkan tubuhnya sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Clara. Dalam jarak sebegitu dekat, Arsen bisa melihat betapa halusnya tekstur kulit Clara, serta bulu matanya yang lentik bergetar halus seiring tarikan napasnya.

Sebuah dorongan aneh yang hangat dan begitu asing membakar dada Arsen. Tangan kanannya terangkat pelan, tergerak oleh naluri untuk mengusap helai rambut yang menutupi dahi Clara, atau mungkin menyentuh pipi mulus gadis itu.

Namun, baru saja ujung jarinya berjarak satu senti dari kulit Clara, sebuah gejolak batin yang dahsyat mendadak menghantam kepala dan dadanya.

DEG!

Rasa penolakan tak kasat mata—seperti dinding ghaib yang tebal dan kokoh—mendadak membentang di antara mereka. Hati Arsen terenyak hebat, diiringi rasa tidak nyaman dan getaran aneh yang berteriak melarangnya untuk menyentuh gadis itu secara romantis.

Arsen menarik tangannya kembali dengan menyentak. Napasnya sedikit memburu. Tangannya mengepal rapat, menahan kebingungan yang makin menumpuk di benaknya.

Kenapa selalu begini? batin Arsen gusar, menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar tipis. Setiap kali aku ingin menyentuhnya... kenapa rasanya seolah aku sedang melanggar batas yang haram untuk dilalui?

"Nghh..." Clara melenguh pelan. Kelopak matanya perlahan terbuka, menyesuaikan diri dengan pencahayaan kamar yang remang.

Mata cokelat Clara yang redup beradu pandang dengan mata hitam pekat milik Arsen. Clara refleks menggerakkan tubuhnya untuk mundur, namun rasa lemas di persendiannya serta selang infus di tangannya membuatnya meringis.

"Jangan banyak bergerak," potong Arsen cepat. Suaranya kembali dingin dan datar, menutupi rasa cemas dan kebingungan yang baru saja menguasai dirinya.

"Arsen..." suara Clara serak. "Aku... ada di mana?"

"Di rumah sakit," jawab Arsen singkat seraya berdiri, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Lain kali, jika kamu bertindak bodoh dengan memakan makanan sembarangan dari Dion, aku tidak akan menolongmu lagi. Biarkan saja kamu mati konyol."

Clara menunduk pelan, menyerap ucapan pedas itu. Namun, di balik kata-kata dingin Arsen, Clara tahu betul bahwa Arsen-lah yang telah mendekapnya dan membawanya ke rumah sakit saat napasnya hampir terhenti tadi.

"Terima kasih..." bisik Clara tulus, menatap mata Arsen. "Kalau tadi kamu tidak ada... aku mungkin sudah tidak bernapas."

Arsen membeku sejenak mendengar bisikan tulus itu. Ada getaran aneh di dadanya yang membuatnya enggan menatap mata Clara lebih lama lagi.

"Cepat sembuh," cetus Arsen singkat sebelum berbalik membelakangi ranjang medis. "Begitu dokter menyuruhmu pulang, tugasmu sebagai asisten pribadiku kembali berjalan. Jangan jadikan sakitmu ini sebagai alasan untuk bermalas-malasan."

Arsen melangkah keluar dari kamar VIP, meninggalkan Clara yang menatap punggung tegap itu dengan perasaan membuncah—perpaduan antara rasa takut, bingung, dan setitik rasa hangat yang tak mampu ia jelaskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!