Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.
namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.
apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?
ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misya 12
Matahari telah sepenuhnya tenggelam, digantikan oleh temaram lampu kota yang memantul di kaca-kaca jendela gedung. Di kediaman Reyden dan Misya, suasana malam terasa begitu hangat dan menenangkan.
Di ruang tengah, jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam tepat. Reyden menepati janjinya, pria itu pulang lebih awal dari biasanya setelah meminta Anggara mengosongkan jadwal sorenya.
Ceklek.
Pintu utama terbuka. Reyden melangkah masuk ke dalam rumah, melepaskan jam tangan di pergelangan tangannya dan melonggarkan dasinya yang terasa sedikit mencekik. Belum sempat ia meletakkan tas kerjanya di atas meja konsol, aroma harum masakan rumahan langsung menguar menyambut indra penciumannya.
Dari arah dapur, sosok Misya muncul dengan mengenakan apron kain bermotif bunga lembut. Wanita itu tersenyum cerah, matanya berbinar menyambut kepulangan suaminya.
"Mas Rey? Sudah pulang?" sapa Misya riang, bergegas melangkah mendekat.
Namun, langkah Misya seketika terhenti. Senyuman di bibirnya memudar saat menyadari ada yang berbeda dari suaminya malam ini. Wajah Reyden tampak kusut, guratan kelelahan yang amat pekat tercetak jelas di keningnya, dan rahangnya mengeras kaku, jauh berbeda dari biasanya. Pertemuan yang menguras emosi di kantor bersama Aurelia serta bayang-bayang masa lalu yang terus mendesak seolah masih membebani pikirannya.
Reyden menghentikan langkahnya, menatap sang istri sekilas dengan pandangan yang sayu.
"Iya, saya sudah pulang," jawab Reyden singkat, suaranya terdengar lebih berat dan datar dari biasanya.
Tanpa menunggu Misya mengambil alih tas kerjanya seperti biasa, Reyden membuang pandangan sejenak lalu mengusap wajahnya dengan sebelah tangan yang bebas.
"Misya... saya ke kamar dulu untuk membersihkan diri," ucap Reyden pelan.
"Badan saya terasa agak lengket."
Misya yang awalnya sempat diliputi rasa cemas kontan mengangguk pengertian. Ia urung melangkah mendekat, menyadari suaminya sedang membawa beban pikiran yang cukup berat dari kantor.
"Iya, Mas... Kalau gitu, istirahat dulu gih. Mandi air hangat biar badannya lebih rileks. Nanti kalau sudah selesai, langsung turun saja, kita makan malam," balas Misya lembut, mencoba memberikan ruang dan ketenangan yang dibutuhkan suaminya.
Reyden mengangguk kecil. Tanpa banyak bicara lagi, ia memutar langkah dan berjalan menaiki anak tangga menuju kamar utama di lantai atas, meninggalkan tas kerjanya begitu saja di atas meja konsol.
'Sepertinya pekerjaan Mas Rey hari ini banyak sekali. Atau mungkin ada masalah di kantor sampai membuat wajahnya kusut begitu,' batin Misya.
Sesampainya di kamar utama, Reyden langsung melepas jas kerjanya dan melemparnya sembarang ke atas sofa kecil di sudut kamar. Ia melangkah menuju kamar mandi, mencuci wajahnya dengan air dingin berulang kali, berharap sensasi dingin itu mampu membuyarkan sisa-sisa bayangan Aurelia dan ketegangan hari ini dari kepalanya.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin wastafel, meresapi tarikan napas panjang yang terasa berat. Namun, begitu ia teringat pada sosok Misya yang dengan sabar dan telaten menunggunya di lantai bawah tadi, ada rasa bersalah yang mencubit hatinya karena sempat membawa pulang aura buruk dari luar ke dalam rumah mereka.
"Aurelia... Kenapa kamu kembali setelah sekian lama? Bahkan kamu kembali seolah tak melakukan kesalahan saat itu?!" Bisik Reyden.
Walau bagaimanapun, ternyata pertemuannya pertama kali dengan Aurelia setelah lima tahun berlalu membuat sesuatu berbeda dalah dirinya, hatinya. Namun dia berusaha bersikap profesional, karena kini mereka menjadi partner. Dan Rey sepertinya tak perlu menceritakan kepada Misya, toh dia dan Aurelia juga tak ada hubungan apa-apa selain masalah pekerjaan.
Selesai mandi dan mengganti pakaiannya dengan kaos bahan katun berwarna abu-abu santai serta celana panjang rumahan, Reyden melangkah turun kembali ke lantai bawah. Uap hangat dari air mandi memang sedikit meringankan rasa pegal di tubuhnya, namun beban pikiran akibat pertemuannya dengan Aurelia masih menyisakan keheningan yang tebal di benaknya.
Di ruang makan, Misya sedang menata piring dan mangkuk berisi lauk-pauk hangat. Melihat suaminya melangkah mendekat, Misya memasang senyum terbaiknya, berusaha tidak menunjukkan rasa cemas yang sempat mengusiknya tadi.
"Sudah lebih segar, Mas?" sapa Misya lembut sambil menarikkan kursi untuk Reyden.
Reyden menatap istrinya sekilas, lalu duduk di kursi utama.
"Sudah. Terima kasih, Misya."
Misya mengambil piring Reyden, menyendokkan nasi putih hangat secukupnya, lalu menambahkan lauk tumis ayam lada hitam dan telur gulung kesukaan suaminya. Pria itu menerima piringnya dengan gumaman terima kasih yang amat pelan.
Suasana makan malam yang biasanya diwarnai obrolan ringan atau cerita singkat Misya tentang kegiatannya di rumah, kali ini terasa jauh lebih senyap. Hanya ada denting halus sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen.
Reyden mengunyah makanannya perlahan, namun pandangan matanya kerap kali menerawang kosong menatap piring di hadapannya. Ia tampak sibuk bertarung dengan isi kepalanya sendiri. Pria itu memikirkan betapa ironisnya takdir, di saat hubungannya dengan Misya mulai sedikit membaik, masa lalu yang sempat menorehkan luka ego justru hadir kembali dalam wujud rekan kerja penting.
Misya yang duduk di seberang Reyden memperhatikan gerak-gerik suaminya dengan cermat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa ada jarak yang tiba-tiba membentang di antara mereka malam ini. Sup buntut hangat yang biasanya dilahap dengan antusias oleh Reyden, kini hanya diaduk-aduk pelan oleh pria itu.
Misya meletakkan sendoknya dengan pelan, lalu memberanikan diri membuka suara.
"Mas..." panggil Misya penuh kehati-hatian.
Reyden tersentak pelan dari lamunannya. Pria itu mendongak, menatap manik mata Misya yang memancarkan rasa khawatir yang jujur.
"Ya? Ada apa, Misya?" tanya Reyden dengan suara baritonnya yang datar.
Misya menatap suaminya lekat-lekat, lalu tersenyum tipis nan teduh.
"Nggak ada apa-apa... Aku cuma merhatiin dari tadi Mas Rey lebih banyak diam. Makanan yang aku buat juga cuma diaduk-aduk aja dari tadi. Apa... masakanku malam ini ada yang rasanya aneh atau kurang pas di lidah Mas?"
Mendengar pertanyaan itu, Reyden menyendokkan makanan ke mulutnya dan mengunyahnya, lalu menggelengkan kepala.
"Tidak, Misya. Masakan kamu selalu enak," sahut Reyden pelan, mencoba melembutkan intonasi suaranya.
"Saya hanya... sedikit lelah. Ada beberapa dokumen dan masalah pekerjaan di kantor yang cukup menyita pikiran hari ini."
Misya menghela napas lega mendengarnya, walau di sudut hatinya masih ada ganjalan halus yang terasa tidak biasa. Ia mengangguk pengertian, urung bertanya lebih jauh mengenai detail "masalah kantor" tersebut karena tidak ingin menambah beban suaminya.
"Kalau Mas cape atau pusing sama urusan kantor, dimakan sedikit saja nggak apa-apa kok. Nanti habis ini Mas langsung istirahat aja di kamar, ya?" bujuk Misya dengan nada yang amat perhatian.
"Tidak, saya akan habiskan," kata Reyden tegas, lalu melanjutkan makannya demi menghargai usaha Misya.
"Terima kasih sudah selalu mengerti, Misya."
Misya tersenyum manis, mengangguk pelan.
"Sama-sama, Mas Rey."