Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran
Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.
Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 — Mata-Mata di Istana
Kerajaan Zhou mungkin kecil, tetapi istananya tidak pernah kekurangan mata dan telinga yang tersembunyi.
Setiap pangeran memiliki jaringan informannya sendiri—sebagian berupa pelayan yang dibayar diam-diam, sebagian lagi pengawal yang setia pada dua tuan sekaligus. Di antara semua pangeran, satu orang yang paling dikenal memiliki jaringan mata-mata terluas bukanlah Pangeran Pertama yang didukung bangsawan, bukan pula Pangeran Kedua yang didukung jenderal.
Melainkan Zhou Ming, Pangeran Kelima, yang sejak kecil lebih suka mengumpulkan informasi daripada kekuatan fisik semata.
Di ruangannya yang temaram, dipenuhi rak-rak berisi gulungan catatan dari berbagai penjuru istana, Zhou Ming duduk membaca laporan terbaru yang baru saja diserahkan oleh salah satu informannya.
"Pangeran Keempat mengunjungi bagian perdagangan tiga hari berturut-turut," gumamnya, membaca laporan itu dengan seksama. "Dan sekarang lima orang—termasuk seorang buangan barak dan mantan tentara yang dipecat—berlatih setiap pagi di halaman belakang kediamannya."
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, jemarinya mengetuk pelan meja kayu di hadapannya.
Berbeda dari Zhou Yun yang cenderung meremehkan kabar tentang Zhou Li, Zhou Ming justru penasaran. Sebagai seseorang yang mengandalkan informasi sebagai senjata utamanya, ia tahu bahwa perubahan aneh sekecil apa pun tidak boleh diabaikan begitu saja—terutama jika perubahan itu terjadi pada seseorang yang selama ini dianggap tidak berbahaya.
"Kirim seseorang untuk mengawasi lebih dekat," perintahnya pada bawahannya yang berdiri di sudut ruangan. "Aku ingin tahu persis apa yang sedang direncanakan Pangeran Keempat."
Sementara itu, tanpa menyadari bahwa dirinya kini menjadi objek pengawasan, Zhou Chen justru sedang menghadapi masalah lain yang lebih mendesak: bagaimana melatih kelima orang bawahannya tanpa menarik terlalu banyak perhatian, sementara di sisi lain, ia juga harus tetap menjaga citranya sebagai pangeran yang "tidak berbahaya" di hadapan saudara-saudaranya.
Pagi itu, saat ia sedang mengawasi latihan Xiao Hei yang mulai menunjukkan kemajuan pesat, Ah Fu tiba-tiba mendekat dengan wajah waspada.
"Yang Mulia," bisiknya pelan, "sejak dua hari lalu, hamba melihat wajah asing berkeliaran di sekitar kediaman kita. Bukan pelayan atau pengawal yang biasa bertugas di sini."
Zhou Chen menghentikan pengamatannya terhadap latihan Xiao Hei, matanya menyipit sedikit.
"Di mana tepatnya?"
"Di dekat gerbang belakang. Dan kemarin, hamba juga melihat orang yang sama mengintai dari balik pepohonan taman."
Zhou Chen terdiam sejenak, memproses informasi itu dengan tenang. Ia sudah menduga bahwa cepat atau lambat, perubahannya akan menarik perhatian pihak lain—hanya saja ia tidak menyangka akan secepat ini.
Tentu saja, pikirnya. Aku terlalu terburu-buru. Terlalu banyak perubahan dalam waktu singkat, tanpa cukup persiapan untuk menutupinya.
"Jangan lakukan apa pun yang mencurigakan," katanya akhirnya. "Biarkan mereka mengawasi. Tapi mulai sekarang, kita perlu lebih berhati-hati dengan apa yang mereka lihat."
Malam harinya, Zhou Chen duduk sendirian di ruang kerjanya, memikirkan langkah selanjutnya dengan seksama. Sebagai orang yang dulunya terbiasa menganalisis situasi secara mendalam sebelum bertindak, ia tahu bahwa ancaman mata-mata bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan kepanikan.
Kalau mereka mengawasi karena curiga, maka aku harus memberi mereka sesuatu yang tidak lagi mencurigakan—tapi juga tidak melemahkan rencanaku.
Ia mengambil Kitab Langit Tanpa Akhir, membuka halaman-halaman yang sudah terisi catatan tentang teknik-teknik yang telah ia sempurnakan selama beberapa minggu terakhir. Sebuah gagasan mulai terbentuk di kepalanya.
Jika aku tidak bisa menyembunyikan perubahan ini sepenuhnya... maka aku akan mengubah caranya terlihat.
Esok paginya, ia mengumpulkan kelima orang bawahannya sebelum latihan dimulai.
"Mulai hari ini," katanya, "kita akan mengubah alasan latihan kita."
Xiao Hei mengerutkan kening, bingung. "Mengubah alasan, Yang Mulia?"
"Alih-alih terlihat seperti sedang membangun kekuatan diam-diam, kita akan membuatnya terlihat seperti bagian dari usaha perdaganganku." Zhou Chen tersenyum tipis. "Aku akan mengumumkan bahwa aku sedang membentuk kelompok pengawal pribadi untuk melindungi jalur perdagangan kerajaan—sesuatu yang wajar bagi seorang pangeran yang tertarik pada perniagaan."
Zhao Kai, yang selama ini memperhatikan dengan seksama, mengangguk pelan, memahami maksud di balik strategi itu. "Alasan yang masuk akal. Jalur perdagangan memang sering diganggu perampok kecil di luar kota. Tidak ada yang akan curiga jika Yang Mulia ingin melindungi kepentingan dagangnya sendiri."
"Tepat sekali," kata Zhou Chen. "Kita tetap berlatih seperti biasa. Tapi sekarang, ada alasan resmi yang bisa kusampaikan jika ada yang bertanya."
Strategi itu, sederhana namun efektif, berhasil meredakan sebagian kecurigaan yang mulai berkembang di istana. Ketika laporan berikutnya sampai ke meja Zhou Ming, isinya sudah berubah:
Pangeran Keempat membentuk kelompok pengawal kecil untuk melindungi jalur perdagangannya. Tidak ada indikasi ambisi politik.
Zhou Ming membaca laporan itu dengan alis terangkat sedikit, tidak sepenuhnya puas dengan penjelasan itu, tetapi juga tidak menemukan alasan kuat untuk mencurigai lebih jauh.
"Perlindungan jalur dagang," gumamnya pelan, menyandarkan diri ke kursi. "Masuk akal... tapi entah kenapa, aku masih merasa ada sesuatu yang tidak sepenuhnya kulihat."
Ia menyimpan laporan itu di sudut mejanya—tidak dibuang, tidak pula ditindaklanjuti secara agresif. Hanya disimpan, menunggu waktu yang tepat untuk diperiksa kembali.
Naluri seorang pengumpul informasi sejati jarang sekali salah.
Zhou Chen sendiri, meski berhasil meredakan kecurigaan untuk sementara waktu, tahu betul bahwa ini hanyalah kemenangan kecil dalam permainan yang jauh lebih besar. Ia baru saja mendapatkan sedikit waktu tambahan—bukan keamanan permanen.
Malam itu, sambil menatap kelima orang bawahannya yang kini berlatih dengan semangat baru di bawah nama "kelompok pengawal dagang", ia menyadari satu hal penting.
Kalau aku ingin bertahan di tengah perebutan takhta ini, aku tidak bisa terus-menerus bersembunyi dan berimprovisasi. Aku butuh rencana yang lebih matang. Sekutu yang lebih kuat. Dan yang paling penting—aku butuh memahami medan pertempuran politik ini dengan lebih baik daripada siapa pun.
Ia menatap ke arah menara utama istana di kejauhan, tempat sang Raja—ayahandanya—biasa mengadakan pertemuan penting dengan para menteri.
Perebutan takhta baru saja dimulai, pikirnya. Dan aku, entah suka atau tidak, kini sudah berada di tengah-tengahnya.
Bersambung ke Bab 7 — Pertemuan di Aula Utama