NovelToon NovelToon
Terlambat, Mas! Aku Sudah Mati Rasa

Terlambat, Mas! Aku Sudah Mati Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:9.3k
Nilai: 5
Nama Author: riri-can

Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.

Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.

Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Partner Di Ranjang!

Yoselin berdiri terpaku di depan kompor dapur penthouse, menatap kosong ke arah panci kecil tempat bubur hangat sedang mendidih perlahan. Namun, pikiran dan jiwanya sama sekali tidak berada di sana.

​Ingatannya terus berputar pada kejadian panas yang baru saja terjadi di dalam kamar beberapa menit lalu. Ciuman dalam dan menuntut yang sempat ia tolak, namun berujung pada dirinya sendiri yang membalas pagutan Javier.

​Yoselin menggigit bibir bawahnya, merutuki kebodohannya sendiri dalam hati.

​"Ya Tuhan... Bodoh, bodoh, bodoh!" gumam Yoselin pelan, menepuk pelan jidatnya dengan sebelah tangan.

"Bagaimana bisa aku membalas ciumannya?! Aku ini wanita bodoh atau apa? Baru beberapa hari lalu aku mendaftarkan perceraian dari Edward karena tersiksa, dan sekarang aku malah berciuman mesra dengan bos arogan ini! Aku benar-benar wanita tidak bermoral..."

​Di tengah lamunannya yang dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan, sebuah sepasang tangan kekar tiba-tiba melingkar erat di pinggang rampingnya dari arah belakang.

​Srett.

​Sebuah dagu yang kokoh bersandar begitu saja di atas bahu Yoselin, disusul hembusan napas hangat yang menggelitik kulit lehernya.

​Yoselin terperanjat hebat. Matanya membelalak lebar, jantungnya seolah melompat keluar dari rongga dada.

​"Ehh?!" pekik Yoselin kaget setengah mati.

​Ia refleks meronta, mencoba melepaskan diri dari dekapan tersebut. "Pak Javier! Apa-apaan ini?! Lepaskan!"

​Namun, tenaga Javier jauh lebih besar. Pria itu justru makin memperketat kuncian di pinggang Yoselin, membenamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu dengan nyaman.

​"Biarkan aku seperti ini sebentar saja, Yoselin..." bisik Javier serak dengan nada manja yang amat kontras dengan postur tubuh maskulinnya.

"Biarkan aku memelukmu lebih lama."

​"Tidak mau! Lepaskan pelukan ini atau saya berteriak!" ancam Yoselin panik, berusaha mendorong lengan Javier yang melingkar di perutnya.

"Anda baru saja sembuh, jangan mulai berulah lagi!"

​"Kalau kamu berteriak atau memberontak terus, aku tidak akan melepaskan mu seharian penuh," balas Javier santai, sengaja mengeratkan dekapannya hingga punggung Yoselin menempel sempurna di dada bidang pria itu.

"Pelukan ini obat penyembuh terbaikku, Yoselin. Jangan dilarang."

​Yoselin menghela napas panjang, merasa frustrasi menghadapi sikap keras kepala sang CEO. Ia memutar kepalanya ke samping, menatap tajam wajah Javier yang berada di bahunya.

​"Dengar ya, Pak Javier. Jika dalam lima detik Anda tidak melepaskan pelukan ini, saya bersumpah akan meninggalkan dapur ini, mengambil tas saya, dan pulang sekarang juga!" ancam Yoselin penuh penekanan.

​Mendengar ancaman telak itu, wajah tampan Javier seketika berubah masam. Alisnya bertaut kesal, dan bibirnya mengerucut tidak suka.

​"Kamu selalu saja mengancam mau pulang," gerutu Javier tidak ikhlas.

​Dengan wajah tertekuk kesal dan napas berat, Javier akhirnya melonggarkan pelukannya dan mundur dua langkah ke belakang.

"Iya, iya! Aku lepas! Jangan galak-galak begitu, nanti cantiknya hilang."

​Yoselin segera berbalik badan, merapikan apron dan pakaiannya dengan wajah memerah karena gugup dan sebal. Ia kembali fokus mengaduk bubur di panci.

​Javier tidak langsung pergi. Pria itu menarik salah satu kursi tinggi di meja makan dapur, lalu duduk bersandar sambil melipat tangan di dada. Sepasang mata abu-abunya menatap punggung Yoselin dari jauh dengan tatapan tajam yang tak pernah surut.

​"Kalau kita lihat dari posisi ini..." ucap Javier tiba-tiba memecah keheningan dapur, suaranya terdengar lembut namun menggoda.

"Kita terlihat seperti sepasang kekasih baru atau bahkan suami istri yang sedang menyiapkan makan malam di rumah."

​Mendengar kalimat itu, tangan Yoselin yang sedang memegang sendok sayur seketika terhenti. Ia terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang dengan rasa lelah yang teramat sangat.

​Tanpa menoleh, Yoselin menjawab datar, "Jangan bermimpi, Pak Javier. Itu hal yang tidak mungkin terjadi."

​Javier menyipitkan matanya. "Tidak mungkin bagaimana? Kenapa kamu langsung menutup pintu rapat-rapat?"

​"Karena saya tidak memiliki niat sedikit pun untuk menjalin hubungan asmara ataupun menikah lagi dengan siapa pun," ucap Yoselin tegas, membalikkan badan dan menatap Javier lurus-lurus.

"Pernikahan pertama saya sudah cukup menghancurkan hidup saya. Saya kapok, Pak. Jadi tolong, jangan libatkan saya dalam khayalan Anda."

​Keheningan seketika menyergap ruangan dapur. Javier terdiam di kursi makannya. Binar jenaka di mata abu-abunya meredup sesaat, digantikan oleh sorot serius yang jarang terlihat.

​Pria itu terdiam beberapa detik sebelum akhirnya membuka suara kembali dengan nada suara yang jauh lebih rendah.

​"Kalau kamu tidak mau menjalin hubungan asmara ataupun menikah denganku..." ucap Javier perlahan, menatap manik mata cokelat Yoselin lekat-lekat.

"Bagaimana kalau kita menjadi partner bisnis saja?"

​Yoselin mengerutkan keningnya, menatap sang CEO dengan pandangan bingung sekaligus curiga. Ia meletakkan sendok sayur di atas meja.

​"Partner bisnis?" ulang Yoselin menyelidik.

"Bukankah dari awal kita memang sudah berstatus sebagai partner bisnis antara Aura Beauty dan V. Corp? Kenapa Anda mendadak membahasnya lagi?"

​Javier tiba-tiba tersenyum miring, sebuah senyuman penuh licik dan sarat akan makna tersembunyi yang membuat bulu kuduk Yoselin meremang seketika.

​"Bukan partner bisnis di atas kertas kantor seperti itu maksudku, Yoselin," sahut Javier santai seraya menopang dagunya dengan sebelah tangan.

"Tapi... partner di atas ranjang."

​Deg.

​Seketika itu juga, amarah Yoselin yang sejak tadi ditahannya meledak hingga ke ubun-ubun. Darahnya mendidih seketika, dan wajahnya memerah padam menahan murka.

​"Javier Vernand Romero!" bentak Yoselin histeris, melangkah maju dengan mata menyala-nyala.

"Anda benar-benar pria paling tidak tahu malu, biadab, dan kurang ajar yang pernah saya kenal!"

​Javier justru tertawa kecil, suara tawa renyah yang terdengar sangat menikmati kemarahan wanita di depannya.

"Kenapa? Aku jujur. Hubungan kita terbukti sangat cocok di sana, buktinya—"

​"Cukup! Saya tidak mau dengar omong kosong Anda lagi!" potong Yoselin dengan suara bergetar menahan jijik dan amarah yang meluap-luap.

​Tanpa memedulikan panci bubur yang masih mengepul di atas kompor, Yoselin melepas apronnya dengan kasar dan membantingnya ke atas meja makan. Ia membalikkan badan dan melangkah cepat meninggalkan area dapur.

​"Yoselin? Mau ke mana, Sayang?" panggil Javier santai, tetap duduk di kursinya.

​"Pulang!" seru Yoselin tajam tanpa menoleh sedikit pun.

"Saya pastikan setelah ini saya tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di neraka buatan Anda!"

​Melihat ketegasan dan langkah kaki Yoselin yang terarah lurus menuju pintu utama penthouse, raut wajah santai Javier seketika memudar. Pria itu terperanjat dari kursinya. Kepanikan nyata melanda dirinya saat menyadari wanita itu benar-benar marah besar dan berniat kabur meninggalkannya.

​"Yoselin! Tunggu! Jangan pergi!" seru Javier panik, beranjak bangun dan buru-buru menyusul langkah cepat Yoselin meninggalkan dapur.

Bersambung...

1
falea sezi
mampus lu daniel
falea sezi
Daniel Daniel oon🤣
Sribundanya Gifran
lanjut
Luna
ingat jika ada orang yg belum selesai dengan masa lalu nya jangan coba coba jadi pahlawan yg ada kamu cuma dianggap sekedar ada,,, apalagi kalo keduanya masih sama sama cinta ,jadi GK usah seperti korban drama,GK perlu nunggu 2 tahun ,5 bulan menikah kalo masih tak Sudi melihat mending pergi,
Luna
kenapa kamu mau yg menjadi pahlawan padahal sudah jelas dari awal,,,kamu berharap bisa dicintai,disini kamu bukan korban kamu sendiri yg cari penyakit, untuk apa mengobati luka orang lain tapi kamu sendiri tak ada yg ngobatin ,,,
Halimatun Saadiah
lanjut
Ruryn Amanda
ayo lanjut Thor,,😄
Ruryn Amanda
🤣🤣🤣dasar laki2 manipulatif,,licik,,penuh akal bulus tp q suka,,,,🤭
Ruryn Amanda
🤣🤣javierrr gue bius yaaaa,,,,
Ruryn Amanda
ayo Javier,,hancurkan si ed itu,,pebinor yg kudukung,,🤭
It's me Ri🥕: No no yaa🤣
total 1 replies
falea sezi
lanjut🤭
Sribundanya Gifran
lanjutthor
merry yuliana
crazy up yq kak💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
Potatoes 🥔
Cerai ajalah🥺
Potatoes 🥔
Kurangajar emang Edward!
Sribundanya Gifran
lanjut
Mia Camelia
makin membara nih javier🤭
Gustinur Arofah
ceraikan Thor, terus kasih liat Edward klo angela tidak sebaik yg dia kira. biar menyesalnya double😁
hayasna
next
It's me Ri🥕
Hmm... ntahlah ya? Tunggu aja🤭🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!