NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 — MALAM TERAKHIR SEORANG ISTRI

Malam itu, Celine Wang tidak langsung pulang ke apartemennya.

Setelah meninggalkan kediaman keluarga Wu, ia meminta sopir taksi mengantarnya ke sebuah taman kecil di tepi Sungai Huangpu. Hujan telah berhenti, tetapi udara Shanghai masih dingin. Lampu-lampu gedung pencakar langit memantul di permukaan air, menciptakan pemandangan indah yang terasa begitu jauh dari kekacauan di dalam hatinya.

Ia duduk di bangku taman, memeluk tas yang berisi kotak kayu peninggalan ibunya.

Hari itu, ia telah menutup pintu rumah tangganya sendiri. Namun, jauh di dalam hati, masih ada bagian dirinya yang belum siap menerima kenyataan bahwa pria yang pernah disebutnya suami kini telah menjadi orang asing.

Celine mengeluarkan ponselnya dan membuka foto pernikahan mereka.

Alexander Wu berdiri di sampingnya dengan setelan hitam yang sempurna. Wajahnya tampan, sorot matanya tegas, dan tangannya menggenggam tangan Celine di depan altar.

Saat itu, Alexander pernah berjanji akan melindunginya.

“Aku akan menjagamu selama kau menjadi istriku,” katanya pada hari pernikahan mereka.

Celine tersenyum pahit mengingat kalimat itu.

Ternyata, janji tersebut memiliki batas waktu yang tidak pernah ia ketahui.

Begitu wanita lain kembali, semua yang mereka bangun selama tiga tahun seolah kehilangan arti.

Dengan jari gemetar, Celine menghapus foto itu dari layar utama ponselnya. Ia tidak menghapus seluruh kenangan mereka, karena ia tahu kenangan tidak akan hilang hanya dengan satu sentuhan.

Tetapi ia bisa berhenti menjadikannya alasan untuk terus terluka.

Ponselnya berdering.

Daniel Zhou.

“Celine, kau sudah pulang?” tanyanya.

“Belum. Aku sedang berada di tepi sungai.”

Daniel terdiam sejenak. “Kau tidak seharusnya sendirian malam ini.”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau selalu mengatakan itu, bahkan ketika sebenarnya kau tidak baik-baik saja.”

Kalimat sederhana itu membuat mata Celine kembali panas.

Selama bertahun-tahun, ia terbiasa menyembunyikan kelelahan di balik senyum. Ia tidak ingin Alexander terbebani masalahnya. Ia tidak ingin dianggap lemah. Ia selalu berusaha menjadi istri yang memahami keadaan.

Namun, siapa yang pernah bertanya apakah dirinya juga membutuhkan seseorang untuk memahami keadaannya?

“Daniel,” ucapnya pelan, “apakah menurutmu aku bodoh karena terlalu lama bertahan?”

“Tidak,” jawab Daniel tegas. “Kau mencintai seseorang dan berusaha mempertahankan pernikahanmu. Itu bukan kebodohan. Yang salah adalah orang yang menganggap pengorbananmu sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan selamanya.”

Celine menutup mata.

Malam itu, untuk pertama kalinya, ia membiarkan dirinya menangis tanpa berusaha menyembunyikannya.

Pukul sembilan malam, Celine akhirnya kembali ke apartemennya.

Ruangan kecil itu terasa sunyi. Tidak ada pelayan yang menunggunya, tidak ada suara langkah Alexander, dan tidak ada makan malam yang harus disiapkan untuk seseorang yang mungkin pulang atau tidak pulang.

Ia meletakkan tas di atas meja, lalu mengeluarkan kotak kayu peninggalan ibunya.

Setelah memeriksanya lebih teliti, ia menyadari ada bagian dasar kotak yang sedikit terangkat. Celine mencoba menekannya, tetapi tidak berhasil. Ia kemudian mengambil benda tipis dari laci dan mengungkit bagian tersebut perlahan.

Terdengar bunyi klik.

Sebuah kompartemen rahasia terbuka.

Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil berwarna perak dan secarik kertas dengan tulisan tangan ibunya.

Untuk Celine, jika kau telah kehilangan sesuatu yang sangat berarti bagimu, jangan takut memulai kembali. Ada hal-hal yang harus ditemukan dengan keberanian, bukan dengan air mata.

Di bawah pesan itu tercantum sebuah alamat dan nomor brankas.

Celine membaca alamat tersebut berulang kali. Tempat itu adalah sebuah bank swasta di pusat Shanghai, tempat keluarganya pernah menyimpan dokumen penting.

Mengapa ibunya menyembunyikan kunci ini?

Ia teringat surat yang dibacanya di kantor Daniel. Ibunya telah menyinggung rahasia tentang kematian ayahnya, tetapi tidak memberikan penjelasan lengkap.

Mungkin kunci ini adalah bagian dari jawaban tersebut.

Celine segera memotret tulisan itu dan mengirimkannya kepada Daniel.

Beberapa menit kemudian, Daniel menelepon kembali.

“Aku mengenali alamat itu,” katanya. “Ayahmu pernah menyimpan dokumen perusahaan di sana. Besok pagi kita akan pergi bersama.”

“Menurutmu, apa yang ada di dalam brankas itu?”

“Aku tidak ingin memberimu harapan yang belum tentu benar. Tetapi jika ibumu menyembunyikan kunci tersebut untukmu, pasti ada alasan penting.”

Celine memandang kunci perak di telapak tangannya.

“Kalau dokumen itu benar-benar bisa mengungkap apa yang terjadi pada ayahku, aku ingin mengetahuinya.”

“Kalau begitu, kita akan mencari kebenarannya. Namun, berjanjilah kepadaku bahwa kau tidak akan bertindak gegabah.”

“Aku berjanji.”

Setelah panggilan berakhir, Celine menyimpan kunci itu di dalam dompet kecil yang selalu dibawanya.

Malam yang semula terasa seperti akhir dari segalanya perlahan berubah menjadi awal dari sesuatu yang baru.

Pada waktu yang sama, di kediaman keluarga Wu, Alexander berdiri sendirian di depan jendela ruang kerjanya.

Di tangannya terdapat sebuah gelas berisi wiski yang belum disentuhnya. Pikirannya terus kembali kepada kejadian sore tadi, terutama pada tatapan Celine ketika wanita itu mengatakan bahwa ia tidak akan membiarkan dirinya diinjak-injak lagi.

Alexander mengerutkan kening.

Selama ini, ia mengira Celine akan selalu berada di sisinya. Ia mengira, sekalipun mereka bertengkar, wanita itu akan tetap menunggunya di rumah.

Ia tidak pernah membayangkan Celine benar-benar pergi tanpa meminta apa pun.

Pintu ruang kerja diketuk.

Evelyn Zhao masuk mengenakan gaun tidur sutra berwarna putih, seolah sudah merasa nyaman berada di rumah tersebut.

“Kau belum tidur?” tanyanya lembut.

“Belum.”

Evelyn mendekat dan meletakkan secangkir teh di meja.

“Kau masih memikirkan Celine?”

Alexander menoleh tajam. “Mengapa kau terus membicarakannya?”

“Aku hanya khawatir.” Evelyn menunduk, memasang ekspresi sedih. “Aku tahu kalian pernah memiliki hubungan yang baik. Aku tidak ingin kehadiranku membuatmu merasa bersalah.”

Alexander menghela napas.

“Perceraian itu keputusanku.”

“Kalau begitu, jangan menyesalinya.” Evelyn menyentuh lengannya. “Celine sudah pergi. Sekarang kau bisa memulai hidup yang baru.”

Alexander tidak menjawab.

Evelyn tersenyum tipis, lalu mengalihkan pembicaraan kepada rencana pertemuan bisnis mereka esok hari. Ia berbicara tentang investor asing, proyek baru, dan peluang memperluas Wu Group.

Biasanya, Alexander akan mendengarkan setiap perkataannya dengan penuh perhatian. Malam itu, pikirannya justru tertuju pada laporan investasi yang ditemukan sekretarisnya.

Nama Celine masih mengganggunya.

“Evelyn,” katanya tiba-tiba, “apakah kau pernah mendengar tentang investasi keluarga Wang di Wu Group tiga tahun lalu?”

Senyum Evelyn membeku selama sepersekian detik.

“Mengapa kau menanyakan itu?”

“Aku menemukan beberapa dokumen.”

Evelyn segera tertawa kecil.

“Bukankah saat itu banyak investor yang membantu perusahaanmu? Aku tidak terlalu memahami urusan tersebut.”

Alexander menatapnya dengan saksama.

“Kau yakin?”

“Tentu saja.”

Evelyn membalas tatapannya dengan tenang, lalu berpamitan meninggalkan ruangan.

Begitu pintu tertutup, senyumnya menghilang.

Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.

“Alexander mulai memeriksa dokumen lama,” bisiknya. “Kita harus memastikan tidak ada yang menemukan catatan aslinya.”

Suara seorang pria terdengar samar dari seberang.

“Bagaimana dengan Celine?”

Evelyn memandang lorong yang kosong.

“Dia sudah meninggalkan rumah itu. Tetapi jangan meremehkannya. Aku ingin kau mencari tahu ke mana dia pergi dan siapa yang membantunya.”

Panggilan berakhir.

Evelyn menggenggam ponselnya erat-erat.

Ia telah mengira bahwa perceraian Celine akan menyelesaikan semua masalah. Namun, jika wanita itu mulai menyelidiki masa lalu keluarga Wang, rencana yang telah disusunnya selama bertahun-tahun bisa hancur.

Dan Evelyn tidak berniat membiarkan hal itu terjadi.

Menjelang tengah malam, Celine berdiri di depan cermin apartemennya.

Wajahnya masih menunjukkan bekas tangisan, tetapi sorot matanya mulai berubah. Ia membuka lemari, mengeluarkan pakaian-pakaian yang selama ini jarang dipakainya, lalu menyusun barang-barang penting ke dalam sebuah koper.

Ia tidak akan kembali ke kediaman Wu.

Ia tidak akan memohon kepada Alexander.

Dan ia tidak akan menghabiskan sisa hidupnya untuk membuktikan bahwa dirinya layak dicintai.

Celine mengambil cincin pernikahan yang sejak tadi tersimpan di dalam tas. Ia meletakkannya di atas meja, tepat di samping salinan surat cerai yang telah ditandatanganinya.

Untuk terakhir kalinya, ia membaca nama Alexander Wu di sana.

“Selamat tinggal, Alexander,” bisiknya. “Malam ini adalah malam terakhirku menjadi istrimu, bukan karena aku berhenti mencintaimu dalam sekejap, tetapi karena aku akhirnya belajar mencintai diriku sendiri.”

Ia mematikan lampu dan berjalan menuju tempat tidur.

Di luar jendela, lampu-lampu Shanghai masih menyala. Kota itu tidak mengetahui bahwa seorang wanita baru saja kehilangan pernikahannya, menemukan rahasia keluarganya, dan mengambil keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Besok pagi, Celine akan membuka brankas peninggalan ayahnya.

Ia belum tahu bahwa di balik pintu besi itu tersimpan bukti yang dapat mengguncang keluarga Wu hingga ke akarnya.

Sementara Alexander masih percaya bahwa perceraian mereka hanyalah akhir dari sebuah hubungan, Celine sedang mempersiapkan langkah pertamanya menuju kehidupan baru.

Enam bulan kemudian, wanita yang meninggalkan rumah keluarga Wu dengan air mata akan kembali ke Shanghai sebagai seseorang yang sama sekali berbeda.

Dan ketika mereka bertemu lagi, Alexander akan menyadari bahwa wanita yang pernah dibuangnya bukan lagi wanita yang bisa ia perintah untuk pergi.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!