Dua tahun Anala Paramitha menjadi sekretaris pribadi—sekaligus "simpanan"—Damar Hadiwijaya, pewaris paling berbahaya di Jakarta. Semua orang mengira Nala mencintainya. Padahal setiap ciuman di mata pria itu adalah bagian dari dendam.
Dibius dan dilelang di Batam, Nala menikam penculiknya, lalu pulang membawa barang curian Damar dan menyebut harganya: sepuluh miliar. Damar membayar, menghancurkan musuhnya demi dia, lalu menjadikannya miliknya—tanpa nama, tanpa status.
Makin gila Damar mencintainya, makin dekat Nala pada bukti untuk menjatuhkannya. Tapi bagaimana kalau pria yang ingin dia hancurkan bukan pembunuh yang dia cari… dan ternyata yang selama ini jadi pengganti bukan dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Kamu Marah Padaku?
Damar mengambil lukisan itu dari tangan Anala.
Dia tidak merebutnya. Dia hanya mengulurkan tangan, dan jari-jari perempuan itu melepaskannya tanpa perlawanan. Kanvas kecil itu terasa lebih ringan dari yang dia ingat. Dua perempuan di atas tembok pantai. Matahari terbenam yang dilukis dengan sapuan jingga yang terlalu tebal, seperti yang selalu dilakukan pelukisnya ketika dia terlalu senang untuk berhati-hati.
Dia tidak melihat lukisan itu lebih lama dari yang perlu. Dia berjalan ke lemari besi, meletakkannya kembali di tumpukan teratas, dan menutup lacinya.
Lalu dia menoleh ke Anala.
Perempuan itu masih berdiri di tempat yang sama. Matanya merah. Dia menunggu. Damar tahu apa yang dia tunggu: kemarahan, hukuman, kata-kata seperti di lorong ini hampir tiga bulan lalu. Jangan melewati batas.
Damar tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menunjuk pintu dengan dagunya.
Anala keluar. Bianca menyingkir dari ambang pintu untuk memberinya jalan, wajahnya masih menahan senyum.
Damar mematikan lampu, menutup pintu merah itu, dan memasang kembali gembok besi yang tergeletak di lantai lorong. Dia mengulurkan tangan ke Bianca tanpa menoleh.
"Kuncinya."
Bianca ragu sebentar. Lalu dia meletakkan kunci kuningan kecil itu di telapak tangannya. "Aku pinjam dari pengurus rumah yang lama. Dia kira aku mau ambil taplak di gudang..."
Damar mengunci gembok itu dan memasukkan kuncinya ke saku jas.
***
Bianca tidak bisa menahan diri. Damar sudah menduganya.
Di serambi panjang yang menghubungkan sayap timur ke ruang tengah, dia menyusul Anala dengan langkah cepat. Dua pembantu rumah tangga sedang mengelap jendela di ujung serambi. Perawat Gilang, seorang laki-laki muda berseragam putih, mendorong kursi roda kosong ke arah kamar mandi.
"Aku sudah bilang, kan?" Suara Bianca manis seperti sirup. "Kamu itu cuma bayangan, Nala. Kamu masuk ke kamarnya. Kamu lihat sendiri mukanya. Sekarang kamu tahu kenapa dia..."
Anala berhenti berjalan. Dia berbalik dan menatap Bianca dengan wajah yang sudah kering. Tidak ada lagi bekas air mata. Hanya ketenangan yang dingin.
"Mbak," katanya. "Urus saja tunanganmu yang di kursi roda. Dia lebih butuh perhatian daripada aku."
Kedua pembantu di ujung serambi berhenti mengelap. Perawat Gilang berhenti mendorong kursi roda.
Bianca membuka mulutnya. Tangannya gemetar di sisi gaun kremnya. Wajahnya berubah dari merah muda ke merah tua, lalu ke warna yang lebih buruk lagi.
Anala sudah berbalik dan berjalan ke pintu depan.
Damar melewati Bianca tanpa berhenti. Di ujung serambi, dia mendengar salah satu pembantu itu terbatuk kecil, batuk yang terdengar sangat mirip dengan tawa yang ditahan.
***
Dia mengira Anala akan diam sepanjang malam. Atau menangis. Atau pergi.
Anala tidak melakukan satu pun dari itu.
Pukul tujuh, di ruang makan pribadi sebuah restoran di lantai empat puluh di SCBD, perempuan itu duduk di sebelahnya dengan blazer hitam dan bibir merah tua, dan dia menjadi orang lain.
Tiga klien dari perusahaan logistik Surabaya. Tiga laki-laki paruh baya yang sudah dua bulan menunda tanda tangan kontrak distribusi dengan alasan yang berganti-ganti setiap minggu. Malam itu mereka datang dengan anggur merah dan rencana yang jelas: membuat Damar mabuk dan membuat Damar setuju.
Anala tidak membiarkan satu gelas pun sampai ke tangan Damar.
"Pak Damar sedang minum obat," katanya sambil tersenyum, setiap kali seseorang mengangkat botol ke arahnya. "Biar saya yang mewakili. Tapi saya juga cuma bisa pakai teh, Pak. Maaf." Dia mengangkat cangkir teh melatinya. "Untuk kerja sama yang panjang."
Mereka tertawa. Mereka bersulang. Dan sebelum gelas mereka turun, Anala sudah membuka halaman tujuh draf kontrak.
"Soal klausul denda keterlambatan ini, Pak. Saya baca ulang tadi sore. Angka dua persen per hari menurut saya terlalu kecil untuk pengiriman yang sifatnya kritis. Bapak-bapak pasti setuju kalau kita mau saling percaya, angkanya harus mencerminkan itu."
Laki-laki yang duduk di tengah, yang paling banyak tertawa, berhenti tertawa.
Dua jam. Anala menyisir kontrak itu pasal demi pasal, dengan senyum yang tidak pernah turun dan teh yang terus dituang ulang. Setiap kali salah satu klien mencoba mengalihkan pembicaraan ke golf atau ke anak-anak mereka yang kuliah di luar negeri, dia ikut tertawa, ikut bertanya, lalu kembali ke pasal berikutnya seolah tidak ada yang terjadi.
Damar hampir tidak bicara. Dia tidak perlu.
Pukul sepuluh, kontrak itu ditandatangani. Dengan klausul denda tiga setengah persen.
***
Di dalam mobil, ketika Pak Ujang baru saja keluar dari pelataran parkir, Anala bersandar ke bahu Damar.
Lalu tubuhnya merosot.
"Anala?"
Kepalanya terkulai. Matanya terpejam. Tangannya jatuh lemas ke pangkuan Damar.
"Pak Ujang. Rumah sakit."
"Nggak usah," gumam Anala dengan suara yang sangat lemah, tanpa membuka mata. "Pulang. Capek. Cuma capek."
Damar menyentuh dahinya. Tidak panas. Dia menyentuh nadinya. Teratur. Dia menatap wajah perempuan itu di bawah cahaya lampu jalan yang lewat satu per satu, dan sesuatu di sudut bibirnya, sesuatu yang sangat kecil, membuatnya ragu.
Tapi dia tetap mengangkatnya ketika mobil berhenti di carport Pondok Indah. Dia tetap membawanya naik ke kamar utama dan membaringkannya di ranjang.
Dia melepas sepatunya. Melepas blazernya. Menarik selimut sampai ke bahunya.
"Kamu sedang apa?" tanyanya pelan, duduk di pinggir ranjang. "Kamu marah padaku?"
Anala bergerak sedikit. Kelopak matanya bergetar, tapi tidak terbuka.
"Siapa pun yang pernah kamu cintai," gumamnya, setengah seperti orang mengigau, "itu masa lalu..."
Damar diam.
"Laki-laki tiga puluh tiga tahun." Bibirnya membentuk sesuatu yang hampir seperti senyum. "Mana ada yang tidak punya cerita."
Lalu napasnya melambat, dan dia diam.
***
Damar tidak tidur.
Dia duduk di kursi dekat jendela dengan lampu baca menyala kecil, dan dia memikirkan amplop cokelat yang diletakkan sekretaris lantai tiga puluh dua di mejanya siang tadi, beberapa jam sebelum telepon Bianca. Tanpa nama pengirim. Tanpa cap pos. Kurir yang mengantarnya mengaku hanya disuruh oleh seseorang di lobi.
Di dalamnya, hanya selembar kertas koran. Kuning dan rapuh di pinggirnya.
Ledakan Gudang Dermaga Anyer, Dua Pengusaha Tewas.
Tanggalnya Desember, hampir tiga tahun lalu. Di bawah judul itu ada foto hitam putih gudang yang terbakar. Dan di bagian paragraf kedua, di tempat seharusnya nama dua korban itu dicetak, kertasnya robek. Bukan digunting. Dirobek dengan jari, kasar, seperti seseorang yang ingin dia tahu bahwa ada sesuatu yang sengaja diambil darinya.
Amplop itu sekarang di laci meja kerjanya, di lantai bawah. Dia belum memberi tahu siapa pun. Bahkan Reza.
Di ranjang, Anala bergerak dalam tidurnya.
Dia berbalik ke arah jendela, ke arah Damar. Wajahnya setengah tersembunyi di bantal. Bibirnya bergerak.
"Mas..."
Damar membeku.
Satu kata. Pelan sekali, nyaris tidak terdengar. Tapi kamar itu begitu sunyi sehingga dia mendengarnya dengan sangat jelas.
Mas.
Perempuan itu tidak pernah memanggilnya begitu. Tidak sekali pun, dalam dua tahun lebih. Di kantor dia Pak Damar. Di rumah, di ranjang, di hutan Bintan, di puncak Bromo, dia Damar. Hanya Damar. Seolah kata itu, yang diucapkan Laras setiap hari kepadanya, yang diucapkan ratusan perempuan di kota ini kepada laki-laki mereka, adalah kata yang tidak boleh dia sentuh.
Dan sekarang dia mengucapkannya. Dalam tidur. Dengan suara yang lunak dan jauh, yang belum pernah Damar dengar dari mulutnya.
Bukan untuknya.
Damar tidak tahu bagaimana dia tahu itu. Dia hanya tahu.
Dia duduk di kursi itu sampai langit di luar jendela berubah dari hitam ke kelabu, dan dia merasakan sesuatu yang tidak pernah dia rasakan seumur hidupnya. Sesuatu yang panas dan pahit di tenggorokan, ditujukan kepada seseorang yang tidak punya wajah, tidak punya nama, dan mungkin bahkan tidak ada.
***
Pukul enam pagi, Anala bangun. Dia duduk di ranjang dan menatap Damar di kursi dekat jendela, lalu menatap blazernya yang terlipat di kaki ranjang, lalu menatap Damar lagi.
"Kamu tidur di kursi?"
"Kamu pingsan."
Anala menggigit bibirnya. Dia menarik selimut sampai ke dagu, seperti anak kecil yang tertangkap mencuri kue.
"Aku tidak pingsan," katanya.
Damar menunggu.
"Aku pura-pura." Dia tidak menatapnya. "Kupikir kamu akan menghukumku. Soal kamar itu. Kalau aku pingsan, kamu tidak bisa marah pada orang pingsan."
Damar menatapnya lama.
Lalu, untuk pertama kalinya sejak pintu merah itu terbuka kemarin sore, dia hampir tertawa.
"Kamu tahu aku tidak akan menghukummu."
"Sekarang aku tahu."
Ponselnya berdering di meja samping. Reza.
Anala turun dari ranjang dan berjalan ke meja rias. Dia mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya, panjang dan gelap dan kusut karena tidur, dengan gerakan yang pelan dan teratur.
"Mar." Suara Reza tegang. "Barang yang baru keluar dari Batam semalam. Ditahan Bea Cukai. Semua kontainer. Mereka langsung tahu kontainer mana yang harus dibuka."
Damar tidak menjawab.
"Ada yang kasih info, Mar."
Damar mengangkat matanya.
Di cermin meja rias, Anala masih menyisir rambutnya. Pelan. Teratur. Matanya menatap bayangannya sendiri, dan tidak sekali pun bergeser ke arahnya.