NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:156.9k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11. Kekhawatiran Seorang Ayah

Sore itu, Levia melangkah menuju garasi. Begitu melihatnya datang, sopir pribadi keluarga Gultom yang sedang membersihkan salah satu mobil segera berdiri.

"Selamat sore, Nona."

"Sore." Levia menghentikan langkahnya di tengah garasi yang luas.

Empat mobil terparkir berjajar rapi. Dua di antaranya milik Bram Gultom, sedangkan dua lainnya adalah mobil yang dibelikan khusus untuk Levia.

Ingatan pemilik tubuh ini masih tersimpan dengan jelas. Levia asli memang memiliki surat izin mengemudi. Namun, kemampuannya biasa saja. Selama ini ia lebih sering duduk di kursi belakang karena Bram tidak pernah mengizinkannya bepergian sendirian.

Pandangan Vivian berhenti pada sebuah SUV berwarna putih. "Yang itu saja."

Sopir segera mengambil kuncinya. "Baik, Nona. Saya keluarkan mobilnya."

Levia menggeleng. "Gak usah."

Sopir terdiam. "Nona?"

"Saya yang nyetir," kata Levia.

Seketika wajah sopir berubah panik. "Nona... biar saya saja."

Levia mengulurkan tangan. "Kuncinya."

"Tapi, Nona...."

"Aku bisa."

Sopir tersenyum canggung. "Bukan saya meragukan Nona. Tapi... lebih aman kalau saya yang mengantar."

Levia tetap menggeleng. "Hari ini aku ingin menyetir sendiri."

"Tapi Pak Gultom...."

"Kalau Ayah marah, nanti aku yang tanggung jawab."

Sopir masih tampak ragu. "Nona yakin?"

"Sangat yakin."

Beberapa detik kemudian, dengan wajah penuh kecemasan, sopir akhirnya menyerahkan kunci mobil.

"Kalau begitu... hati-hati ya, Nona."

Levia tersenyum. "Tenang."

Ia membuka pintu mobil. Namun, baru hendak masuk, ia langsung mengembuskan napas panjang.

"Kursinya sempit... atau badan ini yang kelewat besar?" batinnya.

Ia menarik napas, lalu berusaha memutar tubuhnya agar bisa duduk nyaman di balik kemudi. Butuh beberapa kali penyesuaian sebelum akhirnya berhasil.

"Ya Tuhan...." Ia menepuk pelan perutnya sendiri. "Levia... gimana kamu bisa bertahan hidup dengan badan segini?"

Setelah mengatur posisi duduk, ia menarik sabuk pengaman.

Klik.

Tangannya memegang kemudi. Jantungnya tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat. Ingatan tentang hujan deras. Truk yang oleng. Mobil yang menabrak pembatas. Lalu sungai. Semuanya kembali terlintas begitu saja.

Vivian memejamkan mata selama beberapa detik. "Itu sudah berlalu." Ia mengembuskan napas perlahan. "Sekarang aku masih hidup."

Tangannya kembali mencengkeram setir dengan lebih mantap. Mesin dinyalakan.

Brumm....

Levia perlahan menginjak pedal gas. Mobil keluar dari garasi dengan mulus. Kemudian berbelok melewati halaman dan meluncur keluar dari gerbang rumah tanpa hambatan sedikit pun.

Sopir yang sedari tadi menahan napas akhirnya mengembuskannya. "Syukurlah...."

Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. "Nggak." Ia menggeleng cepat. "Kalau terjadi apa-apa, aku bisa dipecat."

Tanpa membuang waktu, ia segera berlari memasuki rumah.

 

Tok! Tok!

"Pak Gultom!"

"Masuk!"

Sopir membuka pintu ruang kerja dengan napas memburu. "Pak... maaf."

Bram mengangkat kepala dari berkas yang sedang dibacanya. "Ada apa?"

"Nona Levia... keluar."

"Keluar?" Bram mengangguk santai. "Ya sudah."

Sopir menelan ludah. "Nona... menyetir sendiri."

"Apa?!" Bram langsung berdiri hingga kursinya bergeser ke belakang. "Kamu bilang apa?"

"Nona membawa mobil sendiri, Pak."

Wajah Bram seketika berubah tegang. "Kok kamu biarin?"

"Saya sudah berusaha melarang, Pak. Saya juga berkali-kali menawarkan untuk mengantar. Tapi Nona tetap minta kuncinya."

Bram mengusap wajahnya kasar. "Kenapa kamu kasih?"

"Saya gak berani menolak, Pak."

Bram terdiam sesaat. Ia tahu benar sifat putrinya. Kalau sudah keras kepala, siapa pun akan kesulitan menghentikannya.

Namun tetap saja...

"Kalau sampai terjadi sesuatu...." Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Bram segera meraih kunci mobil yang ada di atas meja.

 

Beberapa menit kemudian, mobil SUV hitam ikut keluar dari halaman rumah dengan jarak yang cukup jauh.

Di balik kemudinya, Bram Gultom menghela napas pelan.

"Semoga Ayah cuma terlalu khawatir."

Sejak kejadian di sungai kemarin, ia belum benar-benar tenang membiarkan putrinya bepergian sendiri.

Selain itu, setahunya, Levia bukan pengemudi yang percaya diri. Dulu putrinya lebih sering meminta sopir mengantar ke mana-mana.

"Sejak kapan Via berani nyetir sejauh ini?" gumamnya.

Mobil Levia melaju semakin kencang.

"Via.... Jangan bikin Ayah takut lagi."

Brami mencoba menghubungi putrinya. Namun panggilan itu tak kunjung diangkat. Dadanya kembali dipenuhi kecemasan.

 

Sementara itu, Vivian yang berada di balik kemudi melirik kaca spion. Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Ketahuan."

Mobil ayahnya mengikuti dari kejauhan. Bukannya kesal, dadanya justru terasa hangat.

"Beliau pasti khawatir aku kenapa-kenapa." Ia mengembuskan napas pelan. "Levia... kamu bodoh sekali. Punya ayah yang begitu menyayangimu, tapi selama ini malah sibuk mengejer laki-laki yang gak pernah ngelihat kamu."

Ucapan itu tanpa sadar membuat Vivian teringat kehidupan lamanya. Ayah kandungnya tak pernah sekalipun menanyakan apakah ia lelah bekerja. Tak pernah memuji masakan yang ia buat. Tak pernah mengkhawatirkan keselamatannya.

Yang selalu ditanyakan hanya satu.

"Kapan kamu transfer uang?"

Vivian menggeleng pelan.

"Kalau dulu aku punya ayah seperti Pak Bram..."

Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Mobilnya perlahan berbelok memasuki area sebuah minimarket yang cukup besar.

Levia memarkirkan mobil, lalu mengambil ponselnya. Ia baru sadar, ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Gultom.

Vivian terkekeh kecil. "Pasti panik."

Tanpa ragu, ia langsung menekan tombol panggil balik. "Halo, Yah."

Suara Bram terdengar cepat. "Via—"

Levia langsung memotong sambil tertawa kecil. "Yah... gak usah sembunyi lagi."

"..."

"Aku tahu Ayah dari tadi ngikutin aku."

Di dalam mobilnya, Bram langsung terdiam. "Ketahuan..."

Levia tersenyum hangat. "Ayah ngikutin aku karena khawatir, 'kan?"

Bram menghela napas pasrah. "Iya."

"Maaf," ucap Levia penuh sesal.

"Bukan salah kamu." Bram tersenyum kecil meski Levia tak melihatnya. "Ayah cuma belum tenang."

Levia mengangguk pelan. "Kalau begitu sekalian aja."

"Maksudnya?"

"Ayah parkir di sebelah mobilku. Kita belanja bareng."

Beberapa detik Bram tidak menjawab. Kemudian senyumnya perlahan mengembang.

"Baik."

Tak lama kemudian SUV hitam itu berhenti tepat di samping mobil Levia. Begitu turun, Bram malah terlihat sedikit salah tingkah.

"Maaf ya... Ayah jadi kayak detektif."

Levia tertawa pelan. "Kalau detektifnya setampan Ayah, aku gak keberatan."

Bram sampai tertawa geli. "Kamu ini."

Mereka pun berjalan berdampingan memasuki minimarket. Entah sudah berapa lama Bram tidak pernah merasakan hal sesederhana ini bersama putrinya.

 

Di dalam minimarket...

Levia sibuk memilih buah, yoghurt tanpa gula, oatmeal, dada ayam kemasan, serta beberapa kebutuhan rumah.

Bram hanya mengikuti dari belakang sambil sesekali memasukkan barang lain ke keranjang.

Tiba-tiba...

Sebuah suara perempuan terdengar dari lorong sebelah.

"Kak Vandra?"

Levia dan Bram sama-sama menoleh.

 

...✨"Tak semua penjagaan terasa mengekang. Dari orang yang tepat, perhatian justru menjadi tempat paling nyaman untuk pulang."...

..."Hati yang lama kekurangan kasih sayang akan belajar menghargai hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa."✨...

.

To be continued

1
Anitha
Pramono kamu itu srorang Jendral tahukan arti tanggung jawab dan hukum ..

good Vandra tetap dengan Pendiriannya tidak akan mundur
Anitha
Dih si Jendral malah suruh anaknya jangan mengakui kesalahannya yang telah di buat,dan mau menekan Vandra..dasar anak sama Bapak sama saja..

Bagus Vandra dan Levia jangan pernah mundur hadapi bersama💪
anonim
Bram dan Levia sudah meninggalkan meja makan.

Ninis, Bu Sari, juga Herman mencicipi ayam panggang masakan Levia.

Baru percaya bagaimana rasa masakan Levia.
anonim
Bram bilang, ini salah satu masakan terenak yang pernah dia makan.

Levia tertawa mendengarnya.

Bram jadi teringat istrinya yang suka masak untuknya.

Kalau Ayahnya suka, mulai sekarang Levia yang akan masak. Bram terharu mendengarnya.
anonim
Bram penasaran dengan rasa masakan putrinya. Mulailah Bram menyendok sedikit sup beserta potongan ikan.

Suapan pertama mata Bram membulat. Enak rupanya, masih belum percaya Levia yang masak.

Untuk suapan kedua Bram mengambil lebih banyak. Setelah menelan suapan kedua, Bram menggeleng pelan sambil tersenyum.

Bram memuji rasa masakan dan cara penyajiannya yang cantik.

Mendengar pujian Bram untuk putrinya, Bu Sari sampai melongo, Ninis masih sirik berpikir negatif.

Bram menikmati makan malamnya, menambah nasi setengah porsi.
Uthie
Bagus Vandra...tegas 👍👍😡
anonim
Makan malam sudah tersaji beberapa hidangan di meja yang sama sekali berbeda dari biasanya.

Makanan sehat hasil masakan Levia sudah tertata rapi, warnanya terlihat cerah, aroma masakan menggugah selera siapapun yang menciumnya.

Bram tertegun melihat hidangan di depannya dengan menu beda banget. Sampai mengira ada kedatangan tamu penting dan bertanya pada Bu Sari.

Mendengar Ninis mengatakan yang masak Levia, Bram seperti tak percaya.

Bahkan Bram masih belum percaya ketika Bu Sari mengatakan - Levia yang memasak semuanya.

Bram masih serasa mimpi melihat makanan yang terhidang apa beli dari restoran atau pesan katering.
anonim
Tuh kan Levia sudah tidak percaya sama Ninis yang sok perhatian tapi jelas menjerumuskan.

Levia mau masak sendiri makanan sehat. Bu Sari juru masak keluarga dan Ninis hari ini jadi asistennya.

Bu Sari mengambil semua bahan yang diminta Levia.

Levia mencuci sayuran sendiri. Memotong bahan-bahan masakan dengan ukuran yang sama.

Bu Sari dan Ninis pada heran melihat yang dikerjakan Levia.

Levia dengan dibantu dua asistennya, akhirnya masakan selesai.

Levia sendiri yang menata hasil masakannya. Potongan ayam, sayuran, kentang tumbuk disusun dengan sangat rapi.
Puji Hastuti
apa yang akan di lakukan oleh Pramono?
Siska Sutartini
dih enak aja, mentang anak jendral bisa bebas gitu. udahlah mengancam, mencelakai, ada bukti yg memberatkan juga. dahlah jendral harusnya kau mendidik anakmu dg benar. bukan ngandalin jabatan doang, tapi moral ga ada
Kadek Sri
lanjut
anonim
Vandra jadi kepikiran dengan perubahan yang terjadi pada Levia. Harusnya senang sesuai keinginannya, Levia sudah tidak bikin Vandra merasa tertekan.

Ninis masih mencoba mempengaruhi Levia. Levia yang sekarang sepertinya sudah tidak mau menuruti kemauan Ninis yang terlihat perhatian tapi menjerumuskan.
Anitha
Jabatan yang tinggi tidak berarti apa²,,kalo sudah seperti ini apa mau di kata bukti sudah jelas dari VIDIO yang menunjukan wajah Risa dan Ninis sedang menyusun rencana untuk mencelakai Levia...

Penjarakan saja biar jera,,Ayahnya ikut terseret
lin sya
penasaran klo pramono smkin bodoh dan smkin menghalalkan segala cara bisa bikin risa bebas gk ya, tp smga bukti yg diberikan vandra gk bsa dibeli sm uang, lgian siapa tau jabatan anak dan bpk bsa copot biar mikir klo gk pnya apa2 msih bsa sombong gk
Septi Wijaya
sebaiknya jangan cari jalan keluar dg cara kotor pak... nanti bukan cuma Risa yg ditahan... Anda pun bisa jd tersangka
Kadek Sri
lanjut
Siska Sutartini
tuh kan, masa si ninis dibiarin gitu dikasih pesangon lg. baiklah saatnya memperkarakan mereka. itu vancdra sempat merekam gak ya?
Siska Sutartini
risa oh risa itu namanya obsesi udah bukan cinta lagi. lagian lu buta apa gimana sih, org mau baikan sama bininya sendiri. lah elu siapa? orang luar. mentang2 bapaknya jendral dikira bisa seenak jidat gitu? sekalipun dipaksakan ga bakal berbuah manis
mery harwati
Minum kopi dulu aahh sambil menikmati akhir dari sang Jendral di dunia novel 😍
mery harwati
Apakah kasus hukum di novel ini akan sama dengan kasus² hukum di Negeri Naruto? 🤭
Negeri Naruto tercinta sudah terlalu sesak, mual, pening, muntah dan berakhir mentah oleh kasus² hukum yang menguap bagai uap air yang mendidih & akhirnya air itu dingin dengan sendirinya atw dingin karena dibekukan
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!