"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."
"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"
Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.
Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.
Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.
Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.
"Via... kita mulai dari awal."
"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Kekhawatiran Seorang Ayah
Sore itu, Levia melangkah menuju garasi. Begitu melihatnya datang, sopir pribadi keluarga Gultom yang sedang membersihkan salah satu mobil segera berdiri.
"Selamat sore, Nona."
"Sore." Levia menghentikan langkahnya di tengah garasi yang luas.
Empat mobil terparkir berjajar rapi. Dua di antaranya milik Bram Gultom, sedangkan dua lainnya adalah mobil yang dibelikan khusus untuk Levia.
Ingatan pemilik tubuh ini masih tersimpan dengan jelas. Levia asli memang memiliki surat izin mengemudi. Namun, kemampuannya biasa saja. Selama ini ia lebih sering duduk di kursi belakang karena Bram tidak pernah mengizinkannya bepergian sendirian.
Pandangan Vivian berhenti pada sebuah SUV berwarna putih. "Yang itu saja."
Sopir segera mengambil kuncinya. "Baik, Nona. Saya keluarkan mobilnya."
Levia menggeleng. "Gak usah."
Sopir terdiam. "Nona?"
"Saya yang nyetir," kata Levia.
Seketika wajah sopir berubah panik. "Nona... biar saya saja."
Levia mengulurkan tangan. "Kuncinya."
"Tapi, Nona...."
"Aku bisa."
Sopir tersenyum canggung. "Bukan saya meragukan Nona. Tapi... lebih aman kalau saya yang mengantar."
Levia tetap menggeleng. "Hari ini aku ingin menyetir sendiri."
"Tapi Pak Gultom...."
"Kalau Ayah marah, nanti aku yang tanggung jawab."
Sopir masih tampak ragu. "Nona yakin?"
"Sangat yakin."
Beberapa detik kemudian, dengan wajah penuh kecemasan, sopir akhirnya menyerahkan kunci mobil.
"Kalau begitu... hati-hati ya, Nona."
Levia tersenyum. "Tenang."
Ia membuka pintu mobil. Namun, baru hendak masuk, ia langsung mengembuskan napas panjang.
"Kursinya sempit... atau badan ini yang kelewat besar?" batinnya.
Ia menarik napas, lalu berusaha memutar tubuhnya agar bisa duduk nyaman di balik kemudi. Butuh beberapa kali penyesuaian sebelum akhirnya berhasil.
"Ya Tuhan...." Ia menepuk pelan perutnya sendiri. "Levia... gimana kamu bisa bertahan hidup dengan badan segini?"
Setelah mengatur posisi duduk, ia menarik sabuk pengaman.
Klik.
Tangannya memegang kemudi. Jantungnya tiba-tiba berdegup sedikit lebih cepat. Ingatan tentang hujan deras. Truk yang oleng. Mobil yang menabrak pembatas. Lalu sungai. Semuanya kembali terlintas begitu saja.
Vivian memejamkan mata selama beberapa detik. "Itu sudah berlalu." Ia mengembuskan napas perlahan. "Sekarang aku masih hidup."
Tangannya kembali mencengkeram setir dengan lebih mantap. Mesin dinyalakan.
Brumm....
Levia perlahan menginjak pedal gas. Mobil keluar dari garasi dengan mulus. Kemudian berbelok melewati halaman dan meluncur keluar dari gerbang rumah tanpa hambatan sedikit pun.
Sopir yang sedari tadi menahan napas akhirnya mengembuskannya. "Syukurlah...."
Namun rasa lega itu hanya bertahan beberapa detik. "Nggak." Ia menggeleng cepat. "Kalau terjadi apa-apa, aku bisa dipecat."
Tanpa membuang waktu, ia segera berlari memasuki rumah.
Tok! Tok!
"Pak Gultom!"
"Masuk!"
Sopir membuka pintu ruang kerja dengan napas memburu. "Pak... maaf."
Bram mengangkat kepala dari berkas yang sedang dibacanya. "Ada apa?"
"Nona Levia... keluar."
"Keluar?" Bram mengangguk santai. "Ya sudah."
Sopir menelan ludah. "Nona... menyetir sendiri."
"Apa?!" Bram langsung berdiri hingga kursinya bergeser ke belakang. "Kamu bilang apa?"
"Nona membawa mobil sendiri, Pak."
Wajah Bram seketika berubah tegang. "Kok kamu biarin?"
"Saya sudah berusaha melarang, Pak. Saya juga berkali-kali menawarkan untuk mengantar. Tapi Nona tetap minta kuncinya."
Bram mengusap wajahnya kasar. "Kenapa kamu kasih?"
"Saya gak berani menolak, Pak."
Bram terdiam sesaat. Ia tahu benar sifat putrinya. Kalau sudah keras kepala, siapa pun akan kesulitan menghentikannya.
Namun tetap saja...
"Kalau sampai terjadi sesuatu...." Tanpa menyelesaikan kalimatnya, Bram segera meraih kunci mobil yang ada di atas meja.
Beberapa menit kemudian, mobil SUV hitam ikut keluar dari halaman rumah dengan jarak yang cukup jauh.
Di balik kemudinya, Bram Gultom menghela napas pelan.
"Semoga Ayah cuma terlalu khawatir."
Sejak kejadian di sungai kemarin, ia belum benar-benar tenang membiarkan putrinya bepergian sendiri.
Selain itu, setahunya, Levia bukan pengemudi yang percaya diri. Dulu putrinya lebih sering meminta sopir mengantar ke mana-mana.
"Sejak kapan Via berani nyetir sejauh ini?" gumamnya.
Mobil Levia melaju semakin kencang.
"Via.... Jangan bikin Ayah takut lagi."
Brami mencoba menghubungi putrinya. Namun panggilan itu tak kunjung diangkat. Dadanya kembali dipenuhi kecemasan.
Sementara itu, Vivian yang berada di balik kemudi melirik kaca spion. Sudut bibirnya perlahan terangkat. "Ketahuan."
Mobil ayahnya mengikuti dari kejauhan. Bukannya kesal, dadanya justru terasa hangat.
"Beliau pasti khawatir aku kenapa-kenapa." Ia mengembuskan napas pelan. "Levia... kamu bodoh sekali. Punya ayah yang begitu menyayangimu, tapi selama ini malah sibuk mengejer laki-laki yang gak pernah ngelihat kamu."
Ucapan itu tanpa sadar membuat Vivian teringat kehidupan lamanya. Ayah kandungnya tak pernah sekalipun menanyakan apakah ia lelah bekerja. Tak pernah memuji masakan yang ia buat. Tak pernah mengkhawatirkan keselamatannya.
Yang selalu ditanyakan hanya satu.
"Kapan kamu transfer uang?"
Vivian menggeleng pelan.
"Kalau dulu aku punya ayah seperti Pak Bram..."
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Mobilnya perlahan berbelok memasuki area sebuah minimarket yang cukup besar.
Levia memarkirkan mobil, lalu mengambil ponselnya. Ia baru sadar, ternyata ada beberapa panggilan tak terjawab dari Gultom.
Vivian terkekeh kecil. "Pasti panik."
Tanpa ragu, ia langsung menekan tombol panggil balik. "Halo, Yah."
Suara Bram terdengar cepat. "Via—"
Levia langsung memotong sambil tertawa kecil. "Yah... gak usah sembunyi lagi."
"..."
"Aku tahu Ayah dari tadi ngikutin aku."
Di dalam mobilnya, Bram langsung terdiam. "Ketahuan..."
Levia tersenyum hangat. "Ayah ngikutin aku karena khawatir, 'kan?"
Bram menghela napas pasrah. "Iya."
"Maaf," ucap Levia penuh sesal.
"Bukan salah kamu." Bram tersenyum kecil meski Levia tak melihatnya. "Ayah cuma belum tenang."
Levia mengangguk pelan. "Kalau begitu sekalian aja."
"Maksudnya?"
"Ayah parkir di sebelah mobilku. Kita belanja bareng."
Beberapa detik Bram tidak menjawab. Kemudian senyumnya perlahan mengembang.
"Baik."
Tak lama kemudian SUV hitam itu berhenti tepat di samping mobil Levia. Begitu turun, Bram malah terlihat sedikit salah tingkah.
"Maaf ya... Ayah jadi kayak detektif."
Levia tertawa pelan. "Kalau detektifnya setampan Ayah, aku gak keberatan."
Bram sampai tertawa geli. "Kamu ini."
Mereka pun berjalan berdampingan memasuki minimarket. Entah sudah berapa lama Bram tidak pernah merasakan hal sesederhana ini bersama putrinya.
Di dalam minimarket...
Levia sibuk memilih buah, yoghurt tanpa gula, oatmeal, dada ayam kemasan, serta beberapa kebutuhan rumah.
Bram hanya mengikuti dari belakang sambil sesekali memasukkan barang lain ke keranjang.
Tiba-tiba...
Sebuah suara perempuan terdengar dari lorong sebelah.
"Kak Vandra?"
Levia dan Bram sama-sama menoleh.
...✨"Tak semua penjagaan terasa mengekang. Dari orang yang tepat, perhatian justru menjadi tempat paling nyaman untuk pulang."...
..."Hati yang lama kekurangan kasih sayang akan belajar menghargai hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa."✨...
.
To be continued
ayo Bu Sari ceritakan kalo si Ninis masuk kamar Bu Sari tanpa izin.
baru kenal dengan Levia sudah menawarkan delapan Gerai,itupun penawaran Awal..
maju terus Via...kamu tambah Sukses dan di belakangmu si Ninis tambah iri.
syukurin tuh si Ninis misinya gagal terus😄