Satu bulan menikah, IPTU Milka harus menelan kenyataan pahit. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh sang suami, Vando, yang diam-diam bermain gila dengan sahabatnya sendiri.
Hancur dan menangis di trotoar dengan seragam dinasnya, Milka tak tahu bahwa air matanya disaksikan oleh Theo, pria dari masa lalu yang kini menjadi Dokter Bedah genius sekaligus penguasa sindikat bawah tanah.
Pria yang dulu mundur demi kebahagiaan Milka, kini murka melihat wanita impiannya disia-siakan. Lewat jaringan gelapnya, Theo bergerak cepat menguliti kebusukan Vando dan Irana.
Bagi Theo, menyerahkan suami pengkhianat ke jalur hukum saja tidak cukup. Pria yang telah membuat Milka menangis ... harus merasakan kekejaman pisau bedahnya!
"Biar hukum bekerja lewat tanganmu, Milka. Tapi untuk pria yang menyakitimu ... izinkan aku yang membereskannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Potongan Puzzle
Kantin rumah sakit mulai lengang ketika Theo meletakkan sendoknya.
"Perutku akhirnya berhenti protes."
Milka tersenyum tipis. "Syukurlah."
Untuk beberapa detik suasana menjadi hening.
Theo menatap wanita di depannya. "Jadi ... sekarang giliranmu."
Milka mengangguk. Ia membuka map berlogo kepolisian yang sejak tadi berada di pangkuannya.
"Aku sedang menangani penyelidikan dugaan pencucian uang."
Theo tidak menunjukkan reaksi berlebihan. "Hm? Lalu?"
"Kasusnya berkaitan dengan proyek pengadaan alat kesehatan."
Tatapan Theo perlahan berubah lebih fokus.
Milka mengeluarkan beberapa lembar salinan dokumen. "Kami menemukan adanya aliran dana yang tidak wajar."
"Bukan hanya satu perusahaan."
"Tetapi beberapa perusahaan yang saling terhubung."
Theo memperhatikan dokumen itu beberapa saat. "Apa yang kamu butuhkan dariku?"
"Aku ingin memahami alur pengadaan alat kesehatan di rumah sakit ini."
"Bukan data pasien."
"Bukan data medis."
"Hanya prosedur administrasinya saja."
Theo menyandarkan punggung.
"Kalau itu memang prosedur yang boleh diketahui penyidik, tentu tidak masalah."
Milka menghela napas lega. "Terima kasih."
Theo berhenti sejenak, lalu menatap Milka lebih serius.
"Tapi ..." potong Theo menghentikan kalimatnya. "Kalau yang kamu cari adalah dokumen rahasia rumah sakit, tentu aku tidak bisa memberikannya."
Milka langsung mengangguk. "Aku paham."
"Aku juga tidak ingin meminta sesuatu yang melanggar aturan."
Jawaban itu membuat Theo tersenyum tipis. "Bagus."
"Itu alasan kenapa aku bersedia bicara denganmu."
Ia kemudian berdiri. "Ayo."
Milka ikut berdiri. "Mau ke mana?"
"Aku tunjukkan bagaimana proses pengadaan alat kesehatan berlangsung."
"Tidak semua."
"Tapi cukup supaya kamu tahu jalurnya."
Mereka berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Theo menjelaskan setiap unit yang mereka lewati.
"Setelah dokter mengajukan kebutuhan, tim logistik melakukan verifikasi."
"Berikutnya ..."
"Masuk ke bagian pengadaan."
"Lalu ke bagian keuangan."
Milka mencatat semuanya. Sesekali ia mengajukan pertanyaan. Theo menjawab singkat namun jelas. Di salah satu ruangan, Theo berhenti.
"Di sini."
"Semua alat kesehatan yang datang akan dicek."
Milka memperhatikan rak-rak berisi peralatan medis. Tatapannya kemudian berhenti pada sebuah kardus besar. Di pojok kardus terdapat stiker perusahaan.
PT Arga Medika.
Jantung Milka berdegup. "Itu..."
Theo mengikuti arah pandangnya. "Itu salah satu vendor kami."
"Bukankah perusahaan ini yang sempat kita bicarakan waktu makan malam bersama suamimu?"
Milka merasa sedikit kikuk. Ia memang masih mengingat makan malam itu, tetapi saat itu pikirannya sudah kacau karena baru sadar Vando selingkuh, dan tingkahnya yang merebut ponsel ketika sang ibu meneleponnya. Malah akhirnya Milka memilih pulang dan pergi dari acara itu.
Lalu Theo menatap Milka dengan wajah menyelidik. "Kenapa?"
Milka menggeleng. "Tidak apa."
Saat ini, naluri penyidiknya langsung bekerja. Perusahaan itu lah yang sedang ia selidiki.
Theo menangkap perubahan ekspresi Milka. Ia memilih untuk tidak bertanya. Pria itu hanya membiarkan sang penyidik sibuk dengan asumsinya sendiri.
.
.
Vando mengusap wajahnya kasar.
Sejak tiba di kantor pagi tadi, kepalanya terasa berat.
Semalaman ia nyaris tak bisa tidur. Bayangan Milka yang berubah sikap terus mengusik pikirannya. Ditambah lagi ketika sang istri diantar pulang oleh Theodore beberapa hari lalu yang masih menjadi pertanyaan dalam kepalanya.
Tok ...
Tok ...
Tok ...
Suara ketukan terdengar di pintu ruangannya.
"Masuk."
Irana muncul sambil membawa beberapa map. "Wajahmu kenapa kusut begitu?"
Vando mengembuskan napas panjang. "Perasaanku tak enak."
Irana tertawa kecil. "Kenapa lagi? Kan semalam, aku udah membahagiakanmu. Kenapa masih merasa tak enak?"
"Bukan itu." Vando merendahkan suaranya. "Entah kenapa aku merasa ada yang selalu mengawasiku. Awalnya, aku pikir Milka. Namun, sepertinya bukan."
Irana meletakkan map di atas meja. "Kamu hanya terlalu banyak pikiran."
Belum sempat Vando menjawab, ponselnya bergetar. Dari nomor tak dikenal. Entah mengapa, dadanya langsung berdebar.
☎️ "Halo?"
Tak ada salam. Tak ada basa-basi. Suara pria di seberang terdengar berat dan dingin.
☎️ "Mulai sekarang hentikan semua transaksi."
Wajah Vando langsung pucat. "Si-siapa ini?"
☎️ "Kamu tidak perlu tahu."
☎️ "Kami hanya ingin memastikan satu hal."
Suara itu berhenti sesaat.
☎️ "Apakah ada polisi yang mulai mengendus?"
Vando spontan melirik Irana. "Kami... kami belum tahu."
☎️ "Belum tahu?"
Nada suara di ujung sana berubah tajam.
☎️ "Atau kamu sedang menyembunyikan sesuatu?"
Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Vando. "Tidak ... saya tidak berani."
☎️ "Bagus."
☎️ "Pastikan tidak ada lagi dokumen yang bisa ditemukan."
☎️ "Dan jangan pernah menghubungi kami lagi."
Tut.
Sambungan terputus.
Vando masih mematung sambil menggenggam ponselnya.
Irana yang melihat wajah pria itu langsung mendekat. "Siapa?"
Vando menelan ludah. "Mereka."
Wajah Irana ikut kehilangan warna. "Mereka tahu?"
"Aku nggak tahu ..."
"Tapi mereka menyuruh semua dokumen dipindahkan."
Irana menggigit bibir bawahnya. "Mereka sudah mulai bergerak."
.
.
Di tempat lain, sebuah ruangan luas dengan pencahayaan redup, tiga monitor memenuhi dinding.
Beberapa orang berpakaian hitam berdiri mengelilingi meja bundar.
Di ujung meja, seorang pria berambut memutih perlahan memutar kursinya.
Ia tidak menunjukkan wajahnya. Hanya jemarinya yang mengetuk sandaran kursi dengan pelan.
"Jadi ... polisi mulai bertindak?"
Seorang anak buah menundukkan kepala.
"Benar, Tuan."
"IPTU Milka Tera Wijaya."
"Dan ... ia terlihat mengecek semua, bersama Direktur Pelayanan Medis AD Medical."
Ruangan mendadak sunyi. Pria tua itu tertawa lirih.
"Saya juga mendapat informasi, White Scalpel juga sudah mulai bergerak," tambah sang anak buah.
Pria berambut putih itu hanya berdehem berat. "Lima tahun mereka memburuku dan sampai sekarang belum menyerah."
"Tuan ..."
"Apa perlu kita singkirkan penyidik itu? Jika dibiarkan, dia akan membuat kita repot."
Pria tersebut menggeleng pelan.
"Belum."
"Biarkan dia berjalan."
"Kita akan tahu, siapa saja yang berdiri di belakangnya."
Ia perlahan mengangkat sebuah foto.
Foto Milka yang sedang berjalan berdampingan dengan Theo di lorong rumah sakit.
Sudut bibirnya terangkat tipis.
"Awasi saja mereka."
"Jangan hentikan mereka sekarang."
"Aku ingin mereka melihat sendiri ..."
"... betapa besar organisasi yang sedang mereka sentuh."
*bersambung*
dulu bapaknya Theo nyusahin Bapaknya Milka, sekarang Milka nyusahin Theo, tapi gpp, Theo suka direpotin Milka 🤣🤣🤣