32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.
Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.
Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Ruangan mendadak hening. Vivi yang sedang minum hampir menjatuhkan gelasnya. Sean melanjutkan dengan polos. "Kalau dulu Kakek dan Nenek tidak mengizinkan Tante Vivi menikah dengan Ayah..." Ia menatap adik-adiknya."Mungkin kami tidak punya keluarga seperti sekarang."
Mata ibu Vivi langsung memerah.Sedangkan ayah Vivi terdiam cukup lama. Karena kalimat itu keluar dari Sean. Anak yang dulu paling keras menolak Vivi. Anak yang dulu memimpin "pemberontakan" terhadap calon ibu tirinya. Kini justru menjadi orang pertama yang mengucapkan terima kasih.
"Sean..." bisik Vivi. Tetapi ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Matanya sudah lebih dulu berkaca-kaca.
Sean lalu menatap kedua orang tua Vivi lagi. "Dulu aku takut. Tante Vivi akan menggantikan Ibu." Sean menarik napas pelan. "Tapi ternyata aku salah." Ia tersenyum kecil. "Tidak ada yang bisa menggantikan Ibu." Matanya mulai berair."Dan Tante Vivi tidak pernah mencoba melakukannya."
Kini bahkan Baskara menundukkan kepala. Karena ia tahu betapa panjang perjalanan Sean sampai bisa mengucapkan kalimat itu. "Tante Vivi hanya..."Sean berpikir sejenak. "Datang dan mencintai kami." Tangis pertama jatuh dari pipi ibu Vivi. Perempuan itu segera mengusapnya. Namun air mata berikutnya tetap keluar. Sementara Vivi sudah tidak mampu berkata apa-apa lagi. Sean lalu tersenyum malu. "Jadi... Terima kasih sudah meminjamkan beliau kepada kami." Sean benar-benar berpikir dan bersikap dewasa.
Ibu Vivi berdiri dari kursinya. Lalu berjalan mendekati Sean. Tanpa berkata apa-apa, ia memeluk anak itu erat. Sean sempat kaku beberapa detik. Kemudian perlahan membalas pelukan tersebut. "Nak..." bisik perempuan itu. "Kami tidak meminjamkan Vivi." Ibu Vivi tersenyum sambil mengusap rambutnya. "Kami justru bersyukur Allah mengirimkan kalian kepada Vivi."
Kini Sean benar-benar tidak bisa menahan air matanya. Dan di sudut ruangan, Vivi menunduk sambil menangis diam-diam. Karena bertahun-tahun ia hidup dengan keyakinan bahwa dirinya tidak akan pernah memiliki keluarga sendiri. Tidak akan pernah memiliki anak. Tidak akan pernah mendengar seseorang memanggilnya ibu dengan tulus. Namun pagi itu, seorang anak laki-laki yang dulu paling membencinya berkata kepada orang tuanya, "Terima kasih sudah meminjamkan Tante Vivi pada kami." Dan bagi Vivi, itu mungkin salah satu bentuk cinta terbesar yang pernah ia terima dalam hidupnya.
***
Rumah terasa lebih sepi setelah orang tua Vivi pulang. Biasanya kehadiran mereka membuat suasana ramai. Ada yang mengingatkan anak-anak untuk makan. Ada yang diam-diam menyelipkan uang jajan. Ada yang membela cucu-cucu ketika Baskara mulai mengeluarkan tatapan khas seorang ayah. Kini tinggal mereka lagi. Vivi. Baskara. Dan lima anak.
Menjelang sore, anak-anak berkumpul di ruang keluarga. Sean sedang membaca. Saka bermain balok.Ella mewarnai. Lili tertidur di sofa.Sementara Vivi sedang melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran.
Tiba-tiba Yuan menutup bukunya. "Aku punya usul." Semua langsung menoleh. Karena kalau Yuan berkata seperti itu, biasanya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.
"Usul apa?" tanya Sean.
Yuan berpikir sejenak. "Bagaimana kalau kita memanggil Tante Vivi... Ibu?"
Vivi yang sedang melipat pakaian langsung membeku. "Apa?" katanya dalam hati. Ia tak berani bicara apapun, bahkan tidak bergerak juga. Hanya bernafas pelan seolah-olah takut ketahuan.
Yuan menatap kakaknya. "Aku serius." Sean terlihat terkejut. Ella mengangkat wajah dari buku gambarnya. "Ibu, itu panggilan paling cocok. Beliau yang membangunkan kita. Mengajari kita. Memasakkan makanan. Mengurus saat sakit. Menemani belajar. Memarahi kalau kita salah."
Saka langsung mengangguk. "Sering."
"Berarti..." Yuan menatap saudara-saudaranya. "Bukankah itu pekerjaan seorang ibu?" Tidak ada yang langsung menjawab. Karena sulit membantah logika Yuan.
Sean menunduk. Beberapa bulan lalu, usulan seperti ini mungkin akan membuatnya marah. Namun sekarang Ia teringat bagaimana Vivi menemani mereka melewati kehilangan Bu Mega. Bagaimana perempuan itu menangis bersama mereka. Bagaimana ia tidak pernah memaksa mereka melupakan ibu kandung mereka. Dan yang paling penting Tidak pernah sekali pun meminta dipanggil Ibu. "Kalau kita memanggil beliau Ibu..." Sean berkata pelan. "Bukan berarti kita melupakan Mama, kan?"
Yuan menggeleng cepat. "Tentu tidak. Mama tetap Mama." Anak kecil itu menunjuk foto mendiang ibunya yang terpajang di lemari. "Dan Tante Vivi juga Ibu."
Mata Vivi langsung terasa panas. Ia buru-buru menunduk. Karena tidak ingin anak-anak melihat air matanya. Sementara itu Baskara yang baru pulang dari luar rumah berdiri di ambang pintu. Tanpa diketahui siapa pun, ia mendengar hampir seluruh percakapan itu. Dan ia memilih diam. Karena ini bukan keputusan yang boleh dipengaruhi olehnya. Ini harus datang dari hati anak-anak sendiri.
Saka tiba-tiba berdiri. "Kalau begitu aku coba dulu." Semua menoleh. Anak itu berjalan ke arah Vivi. Lalu berdiri di depannya. Wajahnya tampak sedikit malu. "Bu..." Hanya satu kata. Satu kata sederhana. Namun membuat Vivi tidak mampu lagi menahan air matanya.
"Ya, Nak?" jawabnya lirih.
Saka langsung tersenyum. "Ternyata enak."Seluruh ruangan tertawa dan menangis dalam waktu yang bersamaan.
Ella segera ikut berlari. "Ibu!" Lalu memeluk pinggang Vivi.
Sean masih duduk diam. Namun beberapa saat kemudian ia berdiri. Mendekat. Dan untuk pertama kalinya sejak ibunya meninggal dunia, ia mengucapkan kata itu kepada orang lain. "Ibu." Suara Sean hampir tidak terdengar. Namun cukup jelas untuk membuat Vivi menangis semakin keras. Karena ia tahu. Kata itu tidak diberikan begitu saja. Kata itu diperjuangkan. Diperoleh melalui kepercayaan. Melalui waktu. Melalui cinta.
Di belakang mereka, Baskara menundukkan kepala sebentar. Menyembunyikan matanya yang mulai memerah.Karena hari itu ia menyadari sesuatu. Dulu ia menikahi Vivi karena anak-anak membutuhkan seorang ibu. Namun sekarang Anak-anaklah yang memilih memberikan tempat itu kepada Vivi dengan hati mereka sendiri. Suasana ruang keluarga masih hangat setelah percakapan yang menguras emosi itu. Ella masih menempel di sisi Vivi. Lili yang baru bangun dari tidur siangnya kini duduk di pangkuan Vivi sambil mengucek mata. Sean dan Yuan kembali ke tempat duduk mereka.Sedangkan Baskara memilih duduk diam sambil memperhatikan keluarganya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman. Lalu seperti biasa, Saka memecahkan suasana. "Aku baru sadar sesuatu."
Sean langsung menghela napas. "Kalau Saka bilang begitu, biasanya ada masalah."
"Tidak ada."
"Yakin?"
"Yakin." Saka berpikir sejenak. Lalu berkata dengan polos, "Kita sebenarnya beruntung ya."
Kali ini semua menoleh. "Beruntung bagaimana?" tanya Yuan.
Saka mulai menghitung dengan jari. "Dulu kita punya Mama." Ruangan langsung hening. Namun Saka melanjutkan dengan senyum kecil. "Sekarang kita punya Ibu." Matanya beralih kepada Vivi. Vivi tersenyum lembut meski matanya kembali berkaca-kaca. "Kita juga pernah punya Nenek Mega." Sean menunduk pelan. "Dan sampai sekarang masih punya Kakek dan Nenek dari keluarga Ibu." Saka mengangkat kedua tangannya. "Banyak sekali."
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik