Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
_____🌺
"Beda, Nisa! Beda banget! Kecap yang biasa Mama pakai itu, kedelainya hitam pilihan tingkat dewa. Sedangkan yang kamu beli ini kecap obralan yang biasa dipakai tukang mie ayam pinggir jalan! Kamu mau lidah ibu-ibu sosialita itu keracunan terus besoknya mereka boikot rumah kita? Hah?" omel Bu Ratna tanpa henti.
Nisa menarik napas panjang. "Ya kan Nisa tadi belinya buru-buru di minimarket depan, Ma. Merek yang Mama minta kebetulan lagi kosong stoknya. Mau nyari ke supermarket agak jauh, Mama sendiri yang teriak-teriak suruh Nisa cepetan pulang buat potongin buah melon."
"Ya, kamu harusnya pinter dikit dong, cari solusi! Kalau di minimarket kosong, kamu telepon agennya sekalian suruh kirim satu krat ke sini! Jangan main asal beli merek sembarangan. Mama ini nyonya besar, pantang menyajikan makanan kelas bawah buat tamu-tamu VIP Mama!"
Mertuanya kembali mengaduk semur dagingnya dengan penuh amarah.
"VIP dari mana sih, Ma? Palingan juga yang datang nanti gengnya Bu RW sama Bu Tejo lagi. Mereka mah dikasih makan tempe mendoan juga pasti habis kalau gratisan," gumam Nisa pelan, hampir tak terdengar.
"Kamu ngomong apa barusan? Coba ulangi agak keras? Berani ya kamu sekarang ngeledek teman-teman Mama!" tegur Bu Ratna yang telinganya sangat tajam.
"Eh, nggak kok, Ma. Ini Nisa cuma bilang melonnya udah selesai dipotong. Mau ditaruh di kulkas dulu atau langsung disajikan di ruang tamu?" Nisa buru-buru mengalihkan pembicaraan sebelum wajan terbang melayang ke kepalanya.
"Taruh kulkas dulu! Nanti layu kalau kelamaan di luar! Dan ingat ya, Nis. Nanti pas tamu-tamu Mama datang, kamu jangan pakai daster rombeng itu lagi. Ganti pakai baju gamis sutra yang kemarin Mama belikan. Dandan yang menor dikit, pakai lipstik merah menyala. Biar Bu RW lihat kalau menantu Mama itu cantik jelita, terawat, badannya wangi, nggak dekil kayak pembantu!"
"Iya, Ma. Nisa ngerti. Nanti Nisa ganti baju," jawab Nisa pasrah.
"Terus nanti kalau mereka nanya soal kamu belum punya anak juga, kamu senyum aja yang lebar. Jangan kelihatan sedih atau baper. Biar Mama yang maju buat nyemprot mulut mereka satu-satu. Pokoknya kamu dilarang keras nangis di depan mereka. Paham?" titah mertuanya dengan nada tegas yang aneh.
Nisa tersenyum tipis. "Siap, Mah. Nisa janji nggak bakal baper."
_____🌺
Ting! Tung!
Tepat pukul satu siang, bel rumah berbunyi nyaring berkali-kali. Rombongan ibu-ibu arisan akhirnya tiba. Nisa yang sudah berganti pakaian rapi dan memoles sedikit make up di wajahnya, segera bergegas membukakan pintu utama.
Di depan pintu, berdirilah sekitar tujuh orang ibu-ibu dengan dandanan super maksimal. Emas bergelantungan di leher dan pergelangan tangan mereka. Dan tentu saja, di barisan paling depan, berdiri sosok Bu RW dengan senyum angkuhnya.
"Eh, ada Nisa. Buka pintunya lama banget sih, Nis? Mertua kamu mana? Wah, rumahnya sepi banget ya, nggak ada suara tangisan bayi. Beda banget sama rumah saya sekarang, tiap hari ramai suara cucu nangis minta susu," sapa Bu RW tajam, langsung memberikan pukulan telak sejak detik pertama kaki mereka menginjak teras rumah.
Nisa mempertahankan senyum manisnya sekuat tenaga, teringat pesan mertuanya tadi pagi. "Silakan masuk, Ibu-ibu semua. Mama lagi di ruang tengah, udah nungguin. Mari silakan."
Rombongan ibu-ibu itu melangkah masuk dengan gaya berlebihan. Mata mereka menyapu seluruh penjuru ruangan, menilai setiap perabotan mahal yang ada di rumah Ibu Ratna.
"Jeng Ratna! Ya ampun, ini rumah kok dingin banget AC-nya. Emang tagihan listriknya nggak jebol apa tiap bulan nyalain AC sekenceng ini?" sapa Bu Tejo dengan suara keras saat melihat Ibu Ratna duduk anggun di sofa ruang tamu.
Bu Ratna berdiri menyambut kedatangan mereka dengan senyum yang jauh lebih sombong.
"Ah, biasa aja kali, Jeng Tejo. Tagihan listrik sejuta dua juta sebulan mah cuma recehan buat Dimas. Anak saya itu gajinya besar, saking besarnya sampai bingung mau dikemanain duitnya karena belum ada anak buat dibiayain sekolah. Ya udah, akhirnya duitnya dipakai buat bayar listrik sama beli perhiasan menantu saya aja. Iya kan, Nis?"
Nisa yang sedang membagikan piring kecil berisi kue-kue, hanya bisa mengangguk pelan. "Iya, Ma. Bener banget."
Bu RW mencibir pelan mendengar jawaban itu. Ia langsung duduk di sofa paling tengah, mencari posisi paling strategis untuk memulai perdebatan.
"Duit banyak juga percuma, Jeng Ratna, kalau rumahnya sepi nggak ada penerusnya. Harta itu kan nggak dibawa mati. Nanti kalau Jeng Ratna udah tua rententa, siapa yang mau ngerawat? Uang sejuta dua juta kan nggak bisa mijitin kaki kalau lagi pegal-pegal," sindir Bu RW tanpa basa-basi lagi.
Bu Ratna tersenyum miring. Ia menyilangkan kakinya dengan elegan.
"Aduh, Bu RW ini pikirannya sempit banget sih kayak jalan gang senggol. Orang kaya mah kalau tua sakit-sakitan nggak perlu nyusahin anak cucu buat mijitin! Tinggal telepon suster khusus dari rumah sakit elit, bayar mahal, beres urusan. Lah daripada cucu ibu, baru lahir aja ibunya udah pusing mikirin biaya beli popok sampai ngutang ke warung sembako. Saya dengar dari Kang Maman loh tadi pagi."
Wajah Bu RW langsung merah padam seperti udang rebus. "Kang Maman itu tukang fitnah! Anak saya itu mampu beli popok sendiri! Jangan sembarangan kalau ngomong ya, Jeng!"
"Lah, siapa yang sembarangan? Orang satu kompleks juga udah pada tahu kali, Bu. Makanya, punya cucu itu dipikirin dulu kesiapan finansial-nya, jangan asal berani bikin tapi pas udah lahir pusing sendiri nyari utangan," balas Bu Ratna telak.
Dia tak memberikan celah sedikit pun untuk Bu RW bernapas.
Ibu-ibu yang lain saling pandang, merasa canggung tapi juga asyik menikmati pertunjukan gratis adu mulut dua pentolan kompleks ini.
Nisa buru-buru menengahi dengan membawa mangkuk besar berisi semur daging. "Mari Ibu-ibu, silakan dicicipi dulu semur daging buatan Mama. Mumpung masih hangat. Dagingnya empuk banget lho ini."
Bu Tejo langsung mengambil piring dan menyendok semur tersebut dengan semangat. Ia mengunyah pelan, lalu matanya memicing ke arah Bu Ratna.
"Hmm ... Jeng Ratna, ini semurnya kok rasanya beda ya dari yang biasa Jeng Ratna masak? Agak kurang nendang gitu manisnya. Kecapnya ganti merek ya, Jeng?" komentar Bu Tejo dengan wajah polos menyebalkan.
Bu Ratna yang sedang memegang gelas tehnya, mendadak kaku. Matanya melirik tajam ke arah Nisa, memberikan isyarat pembunuhan tanpa suara. Nisa menelan ludah, bersiap menerima amukan badai.
"Ah, masa sih kurang manis, Jeng Tejo?" Bu Ratna tertawa palsu dengan sangat keras.
"Itu bukan kurang manis, Jeng. Tapi lidah Jeng Tejo aja yang udah keseringan makan makanan kampung. Ini tuh kecap impor, Jeng! Kecap premium yang harganya per botol bisa buat bayar arisan dua bulan! Rasanya memang soft dan elegan, nggak manis pekat kayak kecap murahan di pasar. Nyonya besar kayak kita ini harus mulai kurangi gula pekat, biar nggak cepat kena diabetes!"
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh