NovelToon NovelToon
The Legend Of Hu Jin

The Legend Of Hu Jin

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Wuxia / Tamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

Terbuang saat bayi dan nyaris tewas di Hutan Terlarang, Hu Jin tumbuh tanpa mengetahui identitas aslinya sebagai Putra Mahkota Kerajaan Timur.

​Ditolak oleh dunia dan diasuh oleh Dewi Es dari Sekte Teratai, Hu Jin bangkit membuktikan dirinya melalui Tulang Kaisar Langit—bakat mitologi yang mengguncang semesta. Namun, alih-alih menjadi alat politik sekte, ia memilih pergi menantang alam liar demi membebaskan gurunya dan merebut kembali takdir yang dirampas!

​Mampukah pangeran yang terbuang ini menaklukkan benua dan kembali sebagai Dewa Pedang Es Kuno?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rona di Pipi Sang Dewi

​Keheningan yang sempat mencekam Panggung Nomor Empat perlahan pecah oleh gemuruh sorak-sorai ratusan ribu penonton di tribun kawah arena. Eksekusi satu ketukan jari tanpa mencabut pedang yang diperagakan oleh pemuda bertopi jerami itu menjadi topik panas yang menjalar cepat ke seluruh penjuru stadion.

​Di Tribun VIP, reaksi para petinggi sekte terbelah tajam.

​Beberapa tetua senior Sekte Teratai yang duduk di belakang Qian Renxue menatap sosok Hu Jin dengan mata membelalak dan bibir gemetar. Wajah-wajah yang belasan tahun lalu mencibir dan membuang Hu Jin tanpa memberi bantuan sumber daya satu pun kini dipenuhi penyesalan yang membakar dada.

​"I-ini tidak mungkin..." bisik seorang tetua bertubuh tambun, jemarinya yang gemetar mencengkeram sandaran kursi kayu. "Bocah buangan Puncak Es itu... bagaimana bisa ia tumbuh menjadi monster seperti ini tanpa bantuan sumber daya sekte?!"

​"Kita... kita telah melepaskan sebuah permata tiada tanding..." gumam tetua lainnya kepahitan. Jika saja dulu mereka mendukung Hu Jin dan tidak mengasingkannya ke alam liar, Sekte Teratai hari ini pasti memiliki kartu AS yang sanggup menginjak-injak keangkuhan Sekte Pedang Langit!

​Namun, beberapa tetua faksi konservatif yang mendengki justru menatap Hu Jin dengan mata sinis dan penuh kebencian. "Hmph! Hanya keberuntungan melawan murid cabang! Di hadapan jenius sejati nanti, trik murahannya pasti akan hancur!"

​Sementara itu, di tribun Sekte Awan dan faksi-faksi independen, para tetua senior mengangguk-angguk kagum.

​"Luar biasa..." puji Tetua Agung Sekte Awan sambil membelai jenggot putihnya. "Kultivator bebas tanpa latar belakang klan besar, namun memiliki kontrol energi murni yang begitu presisi dan tenang. Pemuda bertopi jerami itu sungguh kuda hitam yang mengerikan!"

​BUNYI LONCENG PERUNGGU BERGEMA TIGA KALI.

​Panitia Ujian mengumumkan jeda istirahat dua jam sebelum babak berikutnya dimulai. Para peserta dan penonton berhamburan keluar arena untuk mengisi tenaga.

​Di sebuah kedai kayu dua lantai yang terletak di lorong kota yang agak tenang, aroma daging panggang dan kuah kaldu hangat memenuhi ruangan. Hu Jin duduk di sudut meja dekat jendela, melepaskan topi jeraminya dan meletakkannya di samping kursi.

​Di hadapannya, duduk Qian Renxue. Wanita anggun itu telah menyamarkan jubah teratai peraknya dengan selendang kain tipis untuk menghindari perhatian publik, namun kecantikannya yang bagaikan dewi es tetap tak bisa disembunyikan.

​"Satu ketukan jari yang sangat efisien, Anak Nakal," ujar Qian Renxue pelan, menuangkan teh hangat ke cangkir Hu Jin. "Kau sama sekali tidak memberi kesempatan pada lawanmu untuk bernapas."

​Hu Jin terkekeh pelan, menyesap tehnya yang masih berasap. Matanya yang jernih menatap gurunya dengan kilatan jahat yang menggoda.

​"Ah, itu biasa saja, Guru," sahut Hu Jin santai, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Lagipula, jika aku bertarung terlalu lama, aku takut Guru akan bosan menontonnya. Maksudku... kultivasi Guru kan sudah stagnan agak lama di Ranah Inti Jiwa Tahap Menengah. Jika menonton pertarungan yang terlalu rumit, takutnya pikiran Guru jadi makin pusing."

​Qian Renxue seketika membelalakkan mata indahnya. Pipinya agak memerah, bukan hanya karena malu tetapi juga gemas luar biasa! "Lancang sekali kau, Hu Jin! Kau berani mengejek tingkat kultivasi gurumu sendiri?!"

​Hu Jin tertawa lepas—sebuah tawa renyah yang membuat beberapa pengunjung kedai menoleh. Ia lalu memandangi Qian Renxue dengan tatapan mata yang mendadak berubah teramat lembut, hangat, dan penuh kasih sayang.

​"Tentu saja aku berani," bisik Hu Jin dengan nada suara yang dalam. "Tapi tidak peduli berapa lama kultivasi Guru stagnan, atau seberapa tinggi ranah yang akan kucapai di masa depan... Guru Qian Renxue akan selalu menjadi satu-satunya orang yang paling kuhormati, kubanggakan, dan kusayangi di dunia ini. Tanpa Guru yang menyelamatkanku di hutan belasan tahun lalu, tidak akan ada 'Pangeran Es' hari ini."

​Kata-kata tulus yang mengalir tanpa rekaan itu menghantam lurus ke dalam dada Qian Renxue. Rasa kesal yang barusan muncul seketika lumer menjadi kehangatan yang tiada tara. Qian Renxue menundukkan kepalanya tipis, menyembunyikan senyuman paling anggun dan rona kebahagiaan di wajah cantiknya dari tatapan muridnya.

​Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Hu Jin berdiri dan menyampirkan Pedang Hitam Kuno di punggungnya.

​"Guru, waktu istirahat masih ada satu jam lebih," ujar Hu Jin sambil menyunggingkan senyuman hangat. "Maukah Guru berjalan-jalan sebentar denganku mengelilingi pasar kota?"

​Qian Renxue tersentak kaget. Matanya membelalak menatap Hu Jin. "A-apa? Berkeliling pasar bersamamu?"

​Sebagai seorang Wanita Suci dari Puncak Es yang sejak muda selalu hidup dalam aturan ketat dan kedisiplinan sekte, Qian Renxue tidak pernah berbelanja atau sekadar jalan-jalan santai di tengah keramaian pasar sipil bersama seorang pemuda.

​Perasaan di dalam dada Qian Renxue mendadak bercampur aduk—antara canggung, kaget, namun di dasar hatinya yang paling dalam, ada percikan kebahagiaan manis yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.

​"Kenapa? Guru takut terpesona oleh ketampanan muridmu sendiri jika berjalan di sampingku?" goda Hu Jin lagi sambil memiringkan topi jeraminya.

​Qian Renxue mendelik manis, berdiri dari kursinya sambil merapikan selendangnya. "Siapa yang takut?! Ayo berjalan! Jangan menyesal jika aku memborong barang-barang mahal dengan uangmu!"

​Hu Jin tertawa gembira, melangkah di samping gurunya menuruni tangga kedai menuju jalanan kota yang dihiasi lampion-lampion warna-warni.

​Suasana pasar siang Kota Teratai Hitam terasa sangat semarak. Di bawah naungan atap-atap toko dan kibaran kain hiasan, Hu Jin berjalan bersisian dengan Qian Renxue. Bagi siapa pun yang melihat mereka dari kejauhan, pasangan itu tampak bagaikan seorang pangeran pengembara dan dewi anggun yang sedang menikmati waktu bersama.

​"Abang Pendekar!"

​Tiba-tiba, suara jeritan riang anak-anak memecah keheningan di sekitar mereka.

​Dari balik gang pasar, empat anak kecil jalanan—termasuk anak perempuan kecil yang tadi pagi mencium pipi Hu Jin—berlari kencang mendekat! Wajah-wajah polos mereka dipenuhi oleh binar kebahagiaan yang meluap-luap.

​"Abang Pendekar! Kami melihat pertarunganmu dari atas tembok kota tadi!" seru seorang anak laki-laki kecil dengan semangat berapi-api, memeragakan gerakan mengayunkan tangan ke udara. "Hanya TAK! begitu saja dan musuhnya langsung terbang! Abang sungguh hebat luar biasa!"

​Anak perempuan kecil itu melompat riang, memegang ujung jubah abu-abu Hu Jin. "Kami semua berteriak paling kencang untuk Abang! Abang pasti jadi juara satu!"

​Hu Jin berlutut di atas jalan batu, tertawa hangat sambil mengusap kepala anak-anak itu satu per satu dengan penuh rasa sayang. "Terima kasih, Kecil. Berkat doa dan semangat dari kalian tadi pagi, tangan Abang jadi terasa sangat ringan."

​Dari kantong jubahnya, Hu Jin mengeluarkan beberapa bungkus kue manisan yang sempat ia beli dan membagikannya ke tangan-tangan mungil anak-anak tersebut. Anak-anak jalanan itu berteriak gembira, melompat-lompat sebelum akhirnya pamit berlari kembali bermain di lorong pasar.

​Qian Renxue berdiri di samping Hu Jin, menyaksikan seluruh interaksi manis tersebut dengan tatapan mata yang berbinar haru.

​Saat Hu Jin berdiri kembali dan merapikan topi jeraminya, Qian Renxue menatap profil samping wajah muridnya dengan rasa kagum yang mendalam. Di balik kekuatan Ranah Inti Jiwa (Soul Core) yang sanggup meruntuhkan gunung dan takdir keagungan sebagai Putra Mahkota, Hu Jin tidak pernah kehilangan kelembutan hatinya terhadap rakyat kecil.

​"Kau benar-benar dicintai oleh orang-orang sederhana ini, Hu Jin," bisik Qian Renxue lembut, senyumannya memancar sangat tulus di bawah terpaan sinar matahari sore.

​Hu Jin memandangi anak-anak yang berlari jauh, lalu menoleh menatap gurunya dengan mata berkilat emas tipis.

​"Kerajaan yang ingin kubangun nanti bukan dibangun di atas ketakutan atau tumpukan emas, Guru..." ucap Hu Jin dengan suara berat dan berwibawa. "...tapi di atas tawa anak-anak itu dan keadilan bagi mereka yang tak berdaya."

​Qian Renxue mengangguk mantap, menyatukan jemarinya di dalam lengan jubahnya. Momen singkat di tengah pasar itu mengunci janji tak tertulis di antara mereka. Dengan hati yang mantap dan jiwa yang tenang, sang pangeran terbuang dan gurunya kini siap melangkah kembali ke kawah pertempuran arena untuk menyapu bersih babak-babak berikutnya!

1
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄😄😄
yos helmi
🤭🤭🤭🤭🤭
yos helmi
🙏🙏🙏🙏🙏
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😍😍😍😍😍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!