Tiga dekade tersimpan rapi, rahasia kelam SMA Bhakti Mulia akhirnya meminta bayaran.
Tepat tengah malam, dentang lonceng kuno ke-13 bergema. Gerbang sekolah terkunci gaib, sinyal ponsel lenyap, dan enam murid—Revan, Anya, Bima, Sasha, Dika, dan Nisa—terjebak di dalam labirin maut berdarah.
Sebuah kotak hitam kuno terkuak, menyisakan enam simbol aneh yang persis dengan tanda lahir mereka, beserta pesan berdarah:
"Selesaikan Kurikulum Maut ini sebelum fajar, atau jadilah bagian dari dinding sekolah untuk selamanya!"
ATURAN BERTAHAN HIDUP:
1. Jangan pernah berpencar.
2. Selesaikan teka-teki sebelum jam pasir habis.
3. Jangan percayai apa yang kamu lihat, entitas bisa meniru wujud temanmu!
Mampukah mereka selamat dari dosa besar tahun 1996?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Z. F. Werr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ritual Penutupan dan Pintu yang Terbuka
WUSH!
Gelombang angin dingin beraroma tanah kuburan menyambar wajah Revan saat api biru di Cawan Barat membumbung tinggi. Suara gerungan ribuan jiwa dari balik kegelapan pilar-pilar perimeter kian memekakkan telinga. Bayangan-bayangan hitam tanpa wajah merayap cepat, membentuk gelombang kabut pekat yang siap mengepung pusat pilar utama.
"Bima, Dika! Nahan mereka di garis luar!" teriak Revan dengan suara lantang, mengabaikan rasa perih di telapak tangan kirinya yang terus meneteskan darah.
"Serahkan sisi kiri sama gue!" Bima menggeram keras. Pipa besi di tangannya ia ayunkan sekuat tenaga, menghantam bayangan hitam pertama yang mencoba melompati cawan batu.
CRASH!
Benturan pipa besi Bima menciptakan pendar percikan cahaya yang membuat bayangan tersebut terhempas mundur dan lenyap menjadi asap. Dika, meskipun tangannya gemetar hebat, ikut membantu mengarahkan sorotan lampu senter berdaya tinggi ke arah kabut hitam untuk memecah konsentrasi mereka.
"Nisa, cawan selanjutnya!" seru Revan seraya menggeser posisinya ke cawan berikutnya.
Nisa dengan cepat menyinari teks prasasti batu menggunakan sisa daya ponselnya. "Cawan berikutnya di sebelah timur: Cawan Besi! Petunjuknya bilang... 'Besi yang tempaan keberanian harus disatukan dengan cawan kedua'"
"Besi tempaan keberanian?!" pekik Sasha bingung dari balik punggung Anya. "Benda besi apa yang kita punya?!"
Anya mendadak teringat sesuatu. Ia merogoh saku seragamnya, mencabut gelang rajut biru-hitam milik Kak Yudha. Di bagian tengah gelang rajut itu, terdapat sebuah liontin besi kecil berbentuk jangkar yang sedikit berkarat.
"Ini!" Anya menyerahkan gelang itu kepada Revan dengan mata berbinar. "Liontin besi di gelang Kak Yudha! Ini besi yang selalu dibawa Kak Yudha selama bertahan hidup di sini!"
Tanpa buang waktu, Revan menyambar liontin besi tersebut dan melemparkannya tepat ke dalam cawan batu kedua di sebelah timur.
SZZZT!
Cairan hitam di Cawan Besi mendadak mendidih, menyemburkan kobaran api berwarna hijau zamrud yang terang benderang.
DONGGG...
Dentang lonceng raksasa kedua bergema dahsyat! Rantai besi hitam raksasa di pilar utama kembali berderak hebat dan putus terlempar ke lantai!
"Dua rantai lepas!" teriak Dika gembira. "Tinggal dua lagi, Van!"
Namun, terlepasnya rantai kedua membuat pilar utama bergetar lebih hebat. Retakan-retakan besar di langit-langit aula bawah tanah mulai menjatuhkan puing-puing batu bata. Dari dalam rongga pilar utama yang retak, muncul gulungan kabut putih berwujud sesosok pemuda berseragam sekolah lama yang tampak samar-samar.
Anya membeku. Air matanya menetes tanpa bisa ditahan lagi. "Kak... Kak Yudha?!"
Sosok gaib pemuda itu melayang di atas pilar, menatap Anya dengan senyuman hangat yang teramat teduh. Suara bisikan halus bergema melintasi pikiran mereka semua:
"Anya... Revan... terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Tuntaskan cawan ketiga dan keempat... bebaskan kami dari siklus 'Kurikulum 1996' ini..."
"Kak Yudha!" jerit Anya hendak melangkah maju, namun Revan segera menahan bahunya.
"Anya, tahan! Kita harus tuntaskan dua cawan terakhir supaya bayangan Kak Yudha bisa benar-benar tenang!" tegas Revan. Ia berbalik menatap Nisa. "Nisa! Cawan ketiga!"
"Cawan ketiga di sebelah selatan: Cawan Air Mata!" baca Nisa cepat seraya menyeka keringat dingin di dahinya. "'Air mata duka dan ketulusan adalah penawar racun dendam'"
Anya melangkah maju mendekati cawan ketiga di sebelah selatan. Tanpa ragu, ia menundukkan kepalanya di atas permukaan cawan batu tersebut. Air mata kerinduan dan kepasrahan menetes dari pelupuk matanya, jatuh tepat ke dalam cairan hitam Cawan Air Mata.
FLASSH!
Cairan hitam itu seketika berubah bening bagaikan kristal dan memancarkan pendar cahaya putih keemasan yang menyejukkan.
DONGGG...
Dentang lonceng ketiga bergema! Rantai besi ketiga runtuh hancur menjadi debu!
Kini hanya tersisa cawan terakhir di sebelah utara: Cawan Tanah.
"Revan, cawan terakhir!" seru Bima yang bahunya sudah terhantam puing batu runtuhan, namun ia masih berdiri kokoh menahan gempuran kabut hitam. "Cepat, Van! Tempat ini mau rubuh!"
Revan mendekati Cawan Tanah di sebelah utara. Di dalam cawan tersebut terdapat segumpal tanah merah basah dari era 1996. Prasasti terakhir menyala terang membawakan kalimat penutup:
"Satukan darah pewaris 'R' dengan tanah perjanjian untuk menutup segel selamanya."
Revan mengepalkan tangan kirinya yang terluka, membiarkan aliran darah segar menetes membasahi tanah merah di Cawan Tanah. Tanda hitam jam pasir di lengannya memancar pendar merah pekat yang membakar aura kegelapan di seluruh aula bawah tanah!
CRACK! PRANG!
Rantai besi keempat dan terakhir di pilar utama putus berkeping-keping!
Seluruh bayangan hitam di aula bawah tanah menjerit melengking saat gelombang cahaya putih murni meledak keluar dari pusat pilar utama, menyapu bersih seluruh kabut kegelapan, erangan gaib, dan bau busuk yang menyelimuti sekolah tersebut selama puluhan tahun.
Di dalam pendar cahaya putih yang hangat itu, sosok Kak Yudha dan belasan jiwa siswa era 1996 tersenyum lega. Mereka melambaikan tangan perlahan sebelum akhirnya melayang naik melintasi langit-langit dan lenyap secara perlahan...
"Mereka... mereka sudah bebas," bisik Nisa haru, jatuh terduduk di lantai semen.
KREEEKKK!
Di balik pilar utama yang telah bersih dari rantai, sebuah pintu gerbang besi raksasa mendadak bergeser terbuka secara otomatis. Dari balik gerbang tersebut, terlihat hembusan angin segar malam hari dan pancaran pendar sinar rembulan dari luar area belakang sekolah!
"Pintu keluar!" teriak Dika gembira sambil menunjuk ke arah gerbang. "Jalan keluarnya terbuka!"
"Ayo lari! Sebelum lorong ini rubuh total!" perintah Revan seraya merangkul Anya dan membantunya bangkit.
Mereka berenam berlari sekencang-kencangnya menerobos gerbang besi raksasa tersebut. Tepat saat kaki Revan melompati ambang batas luar, lorong tangga dan Aula Bawah Tanah di belakang mereka runtuh total tertimbun tanah dan puing-puing beton.
BOOM!
Debu tebal membumbung tinggi. Mereka berenam jatuh telentang di atas rumput basah lapangan belakang sekolah.
Suara jangkrik malam dan tiupan angin dingin yang asli menyambut tubuh mereka yang lelah luar biasa. Di atas langit malam yang cerah, bulan purnama menyinari wajah-wajah mereka yang berantakan penuh noda darah dan tanah.
Revan menatap langit malam, lalu memandangi lengan kanannya. Tanda hitam jam pasir di kulitnya perlahan pudar dan menghilang tanpa bekas.
Mereka telah selamat. Kurikulum Maut 1996 telah resmi berakhir...