"Gue capek jadi badut. Mulai hari ini, lo bebas dari gue."
Selama tiga tahun di SMA Nusantara, semua orang tahu kalau Elsa Nur Cahyani adalah cegil (cewek gila) garis keras yang bucin mati-matian ke Muhammad Firdaus, Ketua OSIS sempurna yang sedingin es. Elsa rela dipermalukan, jadi seksi sibuk OSIS tanpa dibayar, sampai dihukum lari keliling lapangan demi cari perhatian Firdaus. Hasilnya? Nol besar. Firdaus tetap menganggap Elsa gangguan yang tidak punya harga diri.
Titik balik itu datang di hari ulang tahun Firdaus. Setelah kuenya dihancurkan dan cintanya ditolak mentah-mentah di depan satu sekolah, Elsa sadar: dia sudah selesai. Elsa memutuskan pensiun jadi budak cinta. Dia berubah total—menjadi cuek, fokus pada ujian, dan benar-benar menganggap Firdaus tidak ada.
Tapi anehnya, saat Elsa melangkah pergi, justru Firdaus yang mulai kehilangan arah. Cowok yang tadinya antipati itu mendadak sadar kalau dunia tanpa gangguan Elsa ternyata terasa sangat sepi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daus Memanfaatkan Otoritas 26.
Riuh rendah suara bisikan di aula belum juga surut saat bel tanda istirahat berakhir berdenging panjang.
Langkah Elsa terasa lebih ringan, meski dia tahu keputusan yang baru saja diambilnya setara dengan menabuh genderang perang di SMA Nusantara.
Di sampingnya, Aris berjalan dengan senyum tipis yang tidak lepas sejak tadi.
"Lo gila ya, Sa?" Aris bersuara, nadanya rendah namun menyimpan binar kekaguman yang tidak bisa disembunyikan. "Ngepopulerin nama gue di depan Pak Satrio itu satu hal. Tapi mutusin buat masuk ke lingkaran setan ini bareng gue? Lo beneran siap?"
Elsa menghentikan langkahnya tepat di pembatas koridor menuju laboratorium.
Angin siang berembus sepoi, menerbangkan beberapa helai rambutnya yang membingkai wajah. "Gue cuma bosan jadi figuran di sekolah ini, Ris. Lagian, proposal ulang tahun sekolah bukan hal baru buat gue. Tahun lalu gue yang ngetik setengah isinya."
"Walau nama yang tertulis di lembar pengesahan itu nama Firdaus?" tebak Aris tepat sasaran.
Elsa tersenyum, kali ini tanpa beban pahit yang biasanya mengikutinya. "Makanya. Sekarang gue mau nama gue sendiri yang ada di sana. Bareng lo."
Aris terkekeh. Tangan kanannya terangkat, berniat mengacak rambut Elsa seperti biasa, namun gerakannya terhenti di udara.
Dari ujung koridor, bayangan tinggi dengan almamater OSIS yang terpasang rapi berjalan mendekat. Firdaus. Wajah cowok itu sekaku papan tripleks baru.
Di tangannya, selembar map dokumen digenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Atmosfer di sekitar mereka mendadak turun beberapa derajat.
"Elsa, kita perlu bicara. Berdua," ucap Firdaus. Suaranya yang biasa terdengar penuh wibawa kini menyiratkan getaran yang berusaha keras dia sembunyikan. Matanya sama sekali tidak melirik Aris, seolah eksistensi cowok di sebelah Elsa itu tidak lebih dari angin lalu.
Elsa tidak mundur selangkah pun. "Kalau soal panitia, omongin di sini aja, Daus. Aris ketua gue."
"Ini bukan cuma soal panitia!" Nada suara Firdaus naik satu oktav, membuat beberapa murid yang lewat spontan menoleh. Menyadari mereka menjadi pusat perhatian, Firdaus menarik napas dalam, mencoba meredam egonya yang sedang membara. "Ini soal masa depan lo. Jangan hancurin reputasi akademis lo cuma karena impulsif. Ikut tim Aris? Lo tahu sendiri dia siapa, Sa. Dia bahkan gak tahu bedanya margin proposal sama sirkuit balap."
"Jaga mulut lo, Ketua OSIS yang terhormat," potong Aris. Langkahnya maju satu blok, mengikis jarak hingga dia kini berdiri tepat di depan Firdaus. Perbedaan tinggi badan yang tipis membuat keduanya saling melempar tatapan mengintimidasi. "Gue mungkin gak pinter teori di kelas, tapi gue gak pernah manfaatin otak orang lain buat cari muka di depan kepala sekolah."
"Gue gak bicara sama lo, Aris!" bentak Firdaus, emosinya tersulut. Pandangannya kembali mengunci Elsa yang berdiri tenang di belakang Aris. "Sa, Kita bisa omongin ini baik-baik. Keluar dari tim Aris. Gue bisa masukin lo ke tim inti OSIS sebagai sekretaris utama ulang tahun sekolah."
Elsa menatap Firdaus. Cowok di depannya ini adalah orang yang selama dua tahun ini dia puja setengah mati. Orang yang rela dia tunggu di depan gerbang sekolah berjam-jam hanya untuk memberikan sebotol air mineral yang berakhir di tempat sampah. Dulu, tawaran menjadi sekretaris utama dari Firdaus akan membuatnya melompat kegirangan.
Tapi sekarang? Mengapa rasanya begitu hambar?
"Daus," Elsa memanggil namanya dengan nada paling datar yang pernah Firdaus dengar. "Lo tahu apa yang lebih kekanak-kanakan dari salah ketuk like kemarin?" Elsa jeda sejenak, menatap lurus ke dalam manik mata Firdaus yang mulai gelisah. "Ego lo yang gak bisa nerima kalau sekarang... gue udah gak peduli lagi sama lo."
Kalimat itu pendek. Sederhana. Namun dampaknya seperti hantaman paku yang menancap tepat di dada Firdaus. Rasanya ngilu, sesak, dan meninggalkan rasa hampa yang membakar.
"Gue gak main-main soal pencalonan ini," lanjut Elsa tegas. "Gue dan Aris bakal nyerahin proposal itu besok pagi. Dan lo gak punya hak buat ngatur hidup gue lagi."
Elsa berbalik, memberi kode pada Aris untuk pergi. Aris menepuk pundak Firdaus pelan—sebuah gestur simpati yang luar biasa mengejek—sebelum berjalan menyusul Elsa.
Firdaus mematung di koridor yang mendadak terasa begitu luas. Dadanya kembang kempis menahan gejolak amarah dan rasa kehilangan yang teramat sangat. Sesuatu di dalam dirinya retak, dan itu adalah dominasi mutlaknya atas Elsa yang kini telah runtuh total.
Sore harinya, ruang sekretariat OSIS menjadi saksi bisu ketegangan yang memuncak.
Kertas-kertas berserakan di atas meja panjang. Firdaus duduk di kursi kebesarannya, menatap layar laptop dengan pandangan kosong, sementara beberapa pengurus inti OSIS tampak berbisik-bisik di sudut ruangan.
"Daus, lo beneran mau pakai cara ini?" tanya Reno, Wakil Ketua OSIS, dengan nada ragu sambil meletakkan sebuah berkas di meja Firdaus. "Ini bisa jadi bumerang buat reputasi lo. Anak-anak umum bisa protes kalau kita intervensi terlalu jauh."
Firdaus tidak bergeming. Jarinya mengetuk-ngetuk meja secara konstan. "Sekolah ini punya standar, Ren. Ulang tahun SMA Nusantara itu acara semi-korporat. Sponsornya perusahaan besar. Kita gak bisa ngebiarin acara sekelas ini dipimpin oleh cowok yang catatan kasusnya di ruang BK tebalnya udah kayak kamus bahasa Inggris."
"Tapi Pak Satrio udah ngizinin di forum tadi siang—"
"Pak Satrio belum tanda tangan SK Kepanitiaan," potong Firdaus cepat. Matanya kini berkilat tajam, dipenuhi ambisi yang bercampur aduk dengan rasa dendam pribadi yang terselubung. "Sebagai Ketua OSIS, gue punya hak veto untuk membatalkan atau merevisi susunan kepanitiaan bentukan siswa jika dirasa mengancam stabilitas atau nama baik sekolah. Dan gue akan pakai hak itu sekarang."
Reno hanya bisa menelan ludah. Dia tahu, ini bukan lagi tentang nama baik sekolah. Ini tentang seorang Firdaus yang tidak rela posisinya digeser, dan tidak siap melihat Elsa berada di pelukan orang lain.
......................
...****************...
Tbc,