-
Di tengah ketenangan Desa Lemah Wungu yang asri dan dikelilingi hamparan sawah hijau, Bagas hidup dalam impian sederhana bersama ibunya. Namun, penyakit parah yang menggerogoti sang ibu memaksa Bagas nekat melanggar pantangan desa: memasuki hutan keramat Sendang Manten untuk mengikat perjanjian gaib dengan Ratu Ular.
Seketika, nasibnya berubah. Kepingan sisik emas melimpah membuat Bagas menjadi pemuda terkaya di desa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
🍂🍂🍂🍂🍂
Keheningan malam di kediaman Pak Kades terasa begitu mencekam saat cawan tanah liat berisi air racikan daun sirih bawaan Pak Kades diletakkan di atas meja ukir samping peraduan Sekar. Bau nanah dan sisa racun sangit masih memenuhi kamar, namun kini bercampur dengan semerbak wangi melati yang samar namun tegas.
Pak Kades mendampingi istrinya yang menangis sesenggukan. Tangan Pak Kades yang gemetar mengangkat cawan itu mendekati bibir Sekar yang kering pecah-pecah.
"Minum ini, Nduk... Minum sampai habis," bisik Pak Kades parau, matanya berkilat pasrah. "Ini air penawar yang diracik langsung oleh Bagas."
Sekar mendongak lemas, tatapan matanya liar penuh ketakutan. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia meneguk air sirih dingin tersebut. Begitu cairan itu menetes menembus kerongkongannya, sebuah pendar hijau keemasan yang tipis memancar dari dalam dadanya.
SZZZT!
"AAAGHH!" Sekar menjerit pendek, tubuhnya bergetar hebat di atas kasur.
Namun, tak seperti siksaan sebelumnya, rasa panas terbakar yang meremukkan jiwanya mendadak sirna dalam hitungan detik. Bisul-bisul bernanah yang membengkak di sepanjang leher, dada, dan kedua tangannya seketika mengering, mengelupas menjadi serbuk hitam yang gugur ke atas kain sprei. Rasa gatal dan perih yang tak tertahankan hilang sepenuhnya, digantikan oleh kehangatan dingin yang menentramkan.
Ibu Kades membelalakkan mata, menutupi mulutnya dengan kedua tangan. "Pak! Lihat, Pak! Bisul-bisulnya mengering!"
Sekar meraba leher dan lengannya dengan napas tersengal. Bisul dan nanah busuk itu memang telah lenyap tanpa sisa rasa sakit, namun tekstur kulitnya tak lagi seperti semula. Di permukaan kulit leher dan tangannya, tertinggal pola sisik ular berwarna biru kehitaman yang halus, berkilat redup di bawah temaram lampu minyak. Ruam sisik itu telah menyatu abadi dengan dagingnya—sebuah cap hukuman permanen dari Sang Ratu Ular.
Pak Kades jatuh terduduk di tepi ranjang, meremas jemarinya seraya menghela napas panjang. Keajaiban yang berlangsung di depan matanya membakar habis sisa-sisa keangkuhannya sebagai penguasa desa.
"Pena penawar ini nyata..." gumam Pak Kades dengan bibir gemetar. Ia menatap Sekar yang menangis tertunduk meratapi bekas sisik di tubuhnya. "Bagas benar-benar memegang takdir dan nyawa di desa ini."
Keesokan paginya, suasana di halaman Balai Desa Lemah Wungu mendadak gempar. Ratusan warga dari berbagai dusun berkumpul berdesak-desakan setelah menerima panggilan mendadak dari perangkat desa. Bisik-bisik penasaran bersahutan memecah udara pagi yang dingin.
"Ada apa ini? Kok Pak Kades mengumpulkan seluruh warga pagi-pagi?" tanya Kang Saman pada tetangganya.
"Katanya ada pengumuman penting soal penyakit Ndoro Sekar dan tatanan desa," sahut Bu Lastri penasaran.
Tak lama kemudian, Bagas melangkah tenang memasuki pelataran balai desa. Mengenakan beskap hitam dengan sulaman benang emas yang anggun, aura Pangeran Sendang Manten yang terpancar dari tubuhnya begitu kuat dan mendominasi. Melalui Indra Ular di keningnya, Bagas bisa melihat belasan siluet ular ghaib penjaga yang meliuk patuh di atas atap balai desa, mengawasi setiap gerak-gerik warga.
Seketika itu pula, Pak Kades melangkah naik ke pendopo balai desa. Di sampingnya, Sekar berdiri tertunduk rapat dengan selendang batik yang menutupi leher dan kedua tangannya. Wajah Pak Kades tampak pucat, namun matanya memancarkan keteguhan yang pasrah.
Pak Kades berdehem berat, mengheningkan kerumunan massa yang riuh.
"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, warga Lemah Wungu sekalian..." suara Pak Kades menggelegar melalui panggung kayu pendopo, sedikit bergetar. "Pagi hari ini, saya berdiri di hadapan panjenengan semua untuk menyampaikan sebuah kenyataan dan pengakuan yang amat penting."
Warga hening seketika, mendengarkan dengan penuh perhatian.
"Beberapa bulan lalu," lanjut Pak Kades seraya menahan rasa malu yang meremas dadanya, "putri saya, Sekar, menderita penyakit aneh yang mengerikan. Hari ini, saya harus jujur di hadapan Gusti dan seluruh warga... Penyakit itu bukanlah santet dari orang lain, melainkan balasan atas perbuatannya sendiri. Sekar telah nekat mendatangi dukun ilmu hitam Mbah Suro di Randu Kuning untuk mengirimkan ajian pelet pengasihan kepada Bagas!"
GUSRRRK!
Suara riuh gempar seketika meledak di tengah kerumunan warga. Mereka saling pandang dengan mata membelalak tak percaya. Sekar makin menundukkan kepalanya, memegang erat kain selendangnya dalam linangan air mata penyesalan.
"Gila! Ndoro Sekar main dukun pelet?!" seru salah seorang warga di barisan depan.
"Jadi penyakit sisik itu balasan ilmu hitamnya sendiri?!" sahut warga lainnya.
Pak Kades mengangkat tangannya, meminta warga kembali tenang. "Ya! Itu adalah hukuman atas niat buruknya. Dan yang menyelamatkan nyawa anak saya dari maut tidak lain dan tidak bukan adalah Bagas sendiri!"
Pak Kades menunjuk ke arah Bagas yang berdiri tegap di bawah pendopo. Pandangan seluruh warga seketika tertuju pada pemuda itu dengan rasa takjub dan segan yang teramat sangat.
"Maka dari itu, di depan panjenengan semua," tegas Pak Kades dengan suara lantang, "saya bersumpah dan menyatakan bahwa Bagas adalah warga yang sangat bersih! Segala tuduhan pesugihan atau ilmu hitam yang sempat berhembus adalah fitnah keji yang tidak berdasar! Kekayaan Bagas adalah rezeki halal, dan ketulusan hatinya telah menyelamatkan keluarga saya!"
Pak Kades menarik napas panjang, lalu melangkah turun dari panggung pendopo. Di hadapan ratusan pasang mata warga desa, Kepala Desa yang dulu sangat angkuh itu membungkukkan badannya secara dalam di hadapan Bagas.
"Bagas..." tutur Pak Kades dengan nada penuh penghormatan di hadapan publik. "Mulai hari ini, bukan hanya nama baikmu yang bersih secara utuh. Saya secara pribadi dan atas nama perangkat desa, menyerahkan seluruh wewenang pengelolaan lahan kebun desa, irigasi, dan urusan sosial masyarakat Lemah Wungu sepenuhnya ke dalam naunganmu."
Warga terperanjat kaku menyaksikan penyerahan kekuasaan secara tidak langsung tersebut.
Bagas menatap Pak Kades dengan wajah tenang dan wibawa yang tak tertandingi. Pemuda itu mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat berkelas.
"Saya menerima kepercayaan ini, Pak Kades," balas Bagas dengan suara rendah namun terdengar jelas oleh seluruh warga. "Saya akan memastikan seluruh warga Lemah Wungu hidup sejahtera, aman, dan tidak ada lagi niat jahat maupun keangkuhan yang merusak kedamaian desa kita."
"Matur nuwun, Bagas... Matur nuwun," bisik Pak Kades tulus, kembali membungkuk hormat.
Pusaka Sisik Emas di dada kiri Bagas berdenyut hangat, menyalurkan pendar ridho dari Nyai Ratu Ular di Sendang Manten. Bagas berdiri tegap di tengah pelataran balai desa, memandangi warga yang kini bersorak mengagungkan namanya. Penataan ulang struktur kekuasaan telah sempurna terjadi—Bagas kini bukan lagi sekadar pemuda kaya biasa, melainkan penguasa tunggal yang memegang kendali penuh atas kehidupan nyata dan gaib di seluruh tanah Lemah Wungu.
Bersambung...