DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6: Kemarahan Vino.
Sepanjang jalan pulang sekolah, atmosfer di dalam mobil sports merah milik Vino terasa bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja. Caren yang duduk di kursi penumpang depan tak henti-hentinya mengoceh, meluapkan kekesalannya atas insiden ancaman CCTV oleh Darel di kelas tadi pagi.
"Kamu harusnya tegur Darel dong, Vin!" sungut Caren seraya melipat tangannya di dada. "Sok pahlawan banget dia ngebela cewek numpang itu di depan satu kelas! Bikin reputasi aku jatuh aja!"
Vino tidak membalas. Tangannya menggenggam setir dengan cengkeraman erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya menatap lurus ke jalanan, namun pikirannya sepenuhnya dipenuhi oleh bayangan Aira yang menatap Darel dengan binar penuh rasa percaya di taman sekolah tadi.
Cewek tolol. Bener-bener gak tahu diri, batin Vino menggeram.
Begitu mobil berhenti di garasi rumah Pradipta, Vino langsung turun tanpa membukakan pintu untuk Caren seperti biasanya.
"Lho, Vin? Kok aku ditinggal sih?" panggil Caren heran.
"Gue capek, Ren. Lu balik sendiri naik taksi online ya," jawab Vino singkat dan dingin, lalu melangkah lebar masuk ke dalam rumah.
Aira baru saja selesai mengganti seragamnya dengan kaus oblong lusuh dan celana kain panjang. Ia sedang merapikan beberapa piring di dapur ketika suara langkah kaki yang berat dan terburu-buru mendekat dari arah pintu utama.
Brak!
Pintu dapur didorong kasar. Vino berdiri di sana dengan napas memburu dan tatapan mata yang menyalang tajam.
Aira terlonjak kaget. Refleks, tubuhnya mundur hingga punggungnya menempel pada pinggiran meja dapur. "Vi—Vino? Ada apa—"
"Lu apa-apaan sih, Aira?!" bentak Vino keras, suaranya menggema di seluruh area dapur yang sepi.
Vino melangkah maju dengan cepat, memangkas jarak di antara mereka. Aira semakin menciut, menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil meremas bagian bawah kausnya. Sifat penakutnya langsung melumpuhkan seluruh keberaniannya.
"Maaf, Vin... aku salah apa?" bisik Aira dengan suara gemetar, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Salah lu apa?!" Vino tertawa sumbang, sebuah tawa yang dipenuhi amarah dan gengsi yang terluka. "Lu sengaja kan bikin drama di sekolah?! Lu sengaja ngadu ke Darel biar dia kasihan sama lu dan sok-sok pahlawan di depan orang-orang?!"
"Enggak, Vin! Demi Tuhan, aku enggak pernah ngadu apa-apa ke Kak Darel..." Aira menggelengkan kepalanya cepat, Isakan pelan mulai lolos dari bibirnya.
"Bohong!" potong Vino seraya menggebrak meja dapur di samping tubuh Aira hingga gelas-gelas kaca berdenting nyaring.
Aira memejamkan matanya rapat-rapat, memeluk dirinya sendiri.
"Lu denger ya, Aira!" desis Vino tepat di depan wajah Aira, suaranya merendah penuh intimidasi. "Keluarga lu itu punya utang puluhan miliar sama keluarga gue! Lu di sini cuma barang jaminan, babu terhormat yang numpang hidup! Jangan sok kecantikan bikin sepupu gue kelimpungan ngurusin lu!"
Kata-kata itu menusuk ulu hati Aira dengan sangat kejam. Rasa sakit hati yang amat dalam menyeruak di dada Aira, mengalahkan rasa takutnya sejenak.
"Kenapa kamu jahat banget sama aku, Vin?" bisik Aira lirih, mendongak menatap mata Vino dengan air mata yang menetes deras di pipinya. "Aku tahu aku cuma jaminan... tapi aku juga manusia. Salah kalau aku merasa tenang kalau ada orang yang perlakuan aku dengan baik?"
Vino tertegun sejenak. Tatapan mata Aira yang basah dan penuh luka mendadak membuat dada Vino terasa dihantam benda tumpul. Ada rasa bersalah yang asing menusuk hatinya, namun gengsinya yang setinggi langit dengan cepat membakar habis rasa bersalah itu.
"Sikap sok baik Darel itu cuma formalitas!" cetus Vino keras, berusaha menutupi gejolak aneh di dadanya. "Mulai hari ini, lu enggak usah dekat-dekat lagi sama Darel! Berangkat dan pulang sekolah naik angkot sendiri, gak usah sok kecentilan di mobil dia!"
"Ada masalah apa ini, Vino?"
Sebuah suara tenang mendadak memecah ketegangan di dapur.
Darel berdiri di ambang pintu dapur, masih mengenakan kemeja seragamnya yang rapi tanpa dasi. Ia melangkah masuk dengan santai, namun matanya langsung tertuju pada Aira yang menangis tergugu di pojok meja.
Darel menghela napas prihatin. Ia berjalan mendekati Aira, mengabaikan tatapan murka Vino. Dengan gerakan yang sangat lembut, Darel berdiri di depan Aira, menghalangi pandangan Vino pada cewek itu.
"Kamu enggak apa-apa, Aira?" tanya Darel halus, mengambil selembar tisu dari sakunya dan menyerahkannya pada Aira.
Aira menerima tisu itu dengan tangan gemetar, bersembunyi di balik tubuh jangkung Darel seolah pria itu adalah satu-satunya benteng pertahanannya. "M—makasih, Kak Darel..."
Vino mengepalkan tangannya rapat-rapat, mendesis tajam ke arah sepupunya. "Gak usah ikut campur, Darel! Ini urusan rumah gue sama ini cewek!"
Darel berbalik menatap Vino. Wajahnya tetap tenang dan ramah, namun ada kilat dingin yang tersembunyi di balik matanya.
"Ini rumah Paman dan Tante, Vino. Bukan rumah kamu sendiri," tegur Darel santai namun menohok. "Dan Aira itu manusia, punya perasaan. Kasar sama cewek cuma bikin kamu kelihatan lemah."
"Lu—" Vino melangkah maju, hendak mencengkeram kerah kemeja Darel karena emosinya sudah meluap ke ubun-ubun.
Namun Darel tidak bergeming sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang penuh nada kemenangan terselubung.
"Daripada kamu marah-marah enggak jelas," lanjut Darel tenang, "mending kamu samperin Caren. Dia tadi nangis di depan kompleks gara-gara kamu tinggal gitu aja."
Vino menghentikan langkahnya. Pikirannya makin kacau. Ditatapnya Darel yang berdiri kokoh melindungi Aira, dan Aira yang sama sekali tidak mau menatap matanya lagi. Rasa muak dan gengsi yang luar biasa membuat Vino akhirnya memundurkan langkahnya.
"Terserah kalian berdua!" bentak Vino murka. "Lu mau tampung ini cewek atau lu mau bawa dia sekalian, terserah! Gue gak peduli!"
Vino memutar badannya dengan kasar, berjalan cepat meninggalkan dapur sambil membanting pintu dengan sangat keras.
Suasana dapur kembali hening, hanya diselingi suara isak tangis pelan dari Aira.
Darel berbalik, menatap Aira dengan senyuman hangat yang paling memikat. Tangannya terangkat, mengusap puncak kepala Aira dengan penuh kelembutan.
"Sudah, jangan menangis lagi ya," bisik Darel sangat halus. "Kan saya sudah bilang, ada saya di sini. Vino enggak akan bisa menyakiti kamu lagi."
Aira mengangguk pasrah dalam tangisnya, merasa begitu bergantung dan berutang budi pada Darel.
Di balik usapan lembutnya di rambut Aira, mata Darel berkilat dingin menatap ke arah pintu dapur tempat Vino pergi. Rencana pengisolasian Aira berjalan sangat sempurna. Vino yang mengamuk dan dibutakan gengsi justru makin mempermudah jalan Darel untuk menggiring Aira masuk ke dalam genggamannya secara utuh.