NovelToon NovelToon
Di Bawah Kendali Asisten Suami

Di Bawah Kendali Asisten Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu / Konflik etika
Popularitas:11.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.

‎‎Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.

‎Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
‎

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 25

Alina melangkah maju, suaranya bergetar namun tegas.

‎‎"Rafael Mahendra! Kamu tidak bisa mengatur hidupku seperti ini!"

‎‎Rafael menatapnya lekat, tak bergeming. ‎"Aku suamimu, Alina. Itu tugasku."

‎‎Alina tertawa getir, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Suami? Hanya gelar di atas kertas saja, kan? Selama dua tahun pernikahan ini, pernahkah kamu benar-benar memikirkan aku? Memikirkan perasaanku?"

‎‎Ia mengangkat suaranya, tak lagi peduli siapa yang mendengar. "Bahkan di hari ulang tahun pernikahan kita pun, kamu lebih memilih menemui mantan kekasihmu dan membiarkan aku menunggu sendirian di kafe sampai larut malam! Menunggu seperti orang bodoh yang tak tahu diri! Ini yang kamu sebut sebagai gelar seorang suami, Rafael?"

‎‎Rafael hendak melangkah maju, tangan kanannya terulur ke arah Alina.

‎‎"Alina, aku—"

‎‎Alina segera mengangkat tangan kanannya, mundur selangkah. "Cukup, Rafael. Aku lelah."

‎‎Ia menoleh ke arah Revan, tatapan mereka bertemu sejenak.

‎‎"Dan soal Revan… kapan pun aku butuh dia, aku akan memanggil. Kamu tidak berhak menentukan boleh atau tidaknya."

‎‎Tanpa menunggu jawaban, Alina melangkah melewati Rafael dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan kedua pria itu berdiri diam di teras yang hening.

‎‎Revan berjalan kembali ke sisi mobil, membuka pintu dan mengambil jasnya. Ia memakainya dengan tenang, lalu berjalan mendekat kembali ke arah Rafael, menyerahkan kunci mobil itu pada Rafael.

‎‎"Suasana hati Nyonya memang sedang buruk akhir‑akhir ini," ucapnya dengan nada yang tetap sopan namun tegas. "Saya hanya pergi untuk menemaninya. Sebaiknya Anda tidak terus‑terusan membuat Nyonya merasa tertekan seperti tadi."

‎‎Rafael masih mematung, kunci mobil di tangannya terasa panas. Dalam dua tahun pernikahannya, baru kali ini dia merasa kalah di rumahnya sendiri.

‎‎Revan menunduk hormat sekali lagi. ‎"Selamat malam, Tuan Rafael."

‎Tanpa menunggu balasan, Revan berbalik dan melangkah pergi menuju gerbang, meninggalkan Rafael yang masih berdiri mematung sendirian di teras yang remang.

‎‎-

‎-

‎Pintu kamar terbuka perlahan. Rafael melangkah masuk ke ruangan yang sudah beberapa hari ini ia tinggalkan, karena ia lebih memilih tidur di kamar tamu daripada di sini.

‎‎Di ambang balkon, Alina berdiri membelakangi pintu, pandangannya kosong menatap ke arah halaman yang remang oleh cahaya bulan. Ia mengenakan piyama tipis berwarna putih, angin malam menyentuh kulitnya yang terbuka.

‎‎Rafael melangkah pelan mendekat, seakan takut menyentuh momen yang rapuh ini. Ia berhenti tepat di belakang Alina, lalu perlahan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping istrinya.

‎‎Alina tidak menoleh, tidak juga menepis. Hanya tubuhnya yang menegang sesaat, lalu kembali kaku di pelukan itu, seolah tak ada lagi kehangatan yang tersisa di antara mereka berdua.

‎‎"Jangan pura-pura peduli sekarang, Rafael," ucapnya pelan, suaranya hampir tertiup angin malam. "Sudah terlambat."

‎‎Rafael memejamkan mata, napasnya berat di dekat telinga Alina.

‎"Aku tahu aku salah. Aku tahu aku banyak mengecewakanmu. Tapi aku tidak mau kehilanganmu, Alina. Tolong... beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."

‎‎Alina tersenyum tipis, senyum yang penuh kepahitan. ‎"Memperbaiki? Sejak kapan kamu mau mendengarkan aku? Kamu hanya mau mengatur hidupku sesuai keinginanmu sendiri."

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan, ‎‎"Rafael, kita sudah seperti dua orang asing yang tidur di bawah atap yang sama. Dan itu lebih menyakitkan daripada berpisah."

‎‎Rafael menggeleng lemah, suaranya terdengar putus asa. ‎"Aku tidak mau kita berpisah, Alina. Apa pun yang terjadi, kamu istriku. Selamanya."

‎‎Alina perlahan melepaskan tangan Rafael dari pinggangnya, lalu berbalik badan. Matanya menatap lurus ke mata Rafael, tenang namun tegas.

‎"Rafael, pernikahan ini bukan tentang siapa yang memilikiku, tapi siapa yang benar-benar ada untukku. Dan selama ini... kamu tidak pernah ada."

‎‎Alina berjalan melewati Rafael tanpa menoleh lagi, langkahnya pelan namun pasti menuju ranjang besar di sudut ruangan. Ia naik ke atas kasur, menarik selimut sebatas pinggang, lalu berbaring membelakangi pria itu.

‎‎Rafael berdiri terpaku di tempatnya, menatap sosok punggung istrinya yang terlihat begitu jauh meski hanya beberapa langkah jaraknya. Hening memenuhi ruangan itu, hanya ada suara napas mereka yang terpisah oleh jarak yang terasa semakin lebar. Ia tahu malam ini, dan mungkin malam-malam selanjutnya, mereka akan tidur di ranjang yang sama, namun di dunia yang berbeda.

-

-

-

‎Sebuah mobil hitam elegan meluncur pelan membelah kabut tipis pagi, masuk ke halaman rumah yang luas. Embun masih menempel di kaca-kaca jendela, matahari baru naik setengah, sinarnya pucat menyentuh kap mobil yang mengkilap. Pintu terbuka, seorang pria bertubuh tegap keluar dengan setelan jas hitam rapi.

‎‎Pelayan yang sedang membersihkan ruang tamu langsung tersenyum sopan. "Nyonya dan Tuan Besar sedang minum teh di halaman belakang."

‎Pria itu hanya mengangguk singkat, lalu berjalan menyusuri lorong menuju ke belakang rumah.

‎‎Di back garden yang luas, dengan meja marmer bulat dan payung putih besar, duduk dua orang.

‎‎Seorang wanita berusia 53 tahun duduk dengan anggun, rambut blonde pendek tertata rapi, mengenakan silk blouse berwarna ivory dan high-waist trousers, dengan perhiasan mutiara yang simpel tapi mahal. Dan di sebelahnya, seorang pria 78 tahunan yang masih terlihat gagah, dengan sweater cashmere abu-abu di atas kemeja, rambut putihnya disisir rapi ke belakang.

‎‎Wanita itu langsung menurunkan cangkir tehnya.

‎‎"Ada kabar apa?" suaranya lembut, mengangkat pandangannya pada pria yang berdiri dihadapannya.

‎‎Pria tua disampingnya menurunkan koran paginya, menatap bawahannya lekat-lekat di balik kacamata bacanya.

‎‎Pria itu berjalan mendekat, mengulurkan amplop coklat ditangannnya ke arah wanita itu. Ia menelan ludah, suaranya sedikit bergetar.

‎"Nyonya, Tuan Besar… Tuan muda kita… dia…" ‎‎Ia terdiam, tak sanggup melanjutkan kalimatnya.

‎Wanita itu menatapnya sekilas, lalu perlahan mengambil amplop coklat itu dari tangan pria tersebut. Jari-jemarinya yang halus membuka penutupnya, dan ia mengeluarkan isinya, wajahnya sedikit terkejut namun kembali tenang saat melihat foto-foto Revan dan Alina di pantai kemarin. Berjalan bersama, berlari, berpelukan di tepi ombak. Jemarinya yang memegang foto itu sedikit mengencang.

‎‎Pria tua di sebelahnya menyipitkan mata, menunggu penjelasan.

‎‎Pria itu menarik napas dalam-dalam, lalu berkata pelan namun jelas, "Tuan muda kita… bermain gila dengan istri bos-nya sendiri."

‎‎Keheningan yang berat langsung menyelimuti halaman belakang itu. Hanya terdengar suara angin yang berdesir di antara pepohonan. Wanita itu meletakkan foto-foto itu satu per satu di atas meja marmer, seolah setiap lembarnya adalah pecahan kaca yang tajam.

‎‎Pria itu menunduk sedikit, lalu melanjutkan, "Dan Andika Mahendra... pria itu berencana menjodohkan Tuan muda dengan putri bungsunya, Kayla Mahendra."

‎‎Wanita itu tetap tenang. Ia perlahan mengambil cangkir tehnya, menyeruput sedikit isinya, lalu meletakkannya kembali di atas tatakan dengan lembut. Tatapannya tajam namun suaranya tetap rendah.

‎‎"Andika Mahendra..." gumamnya dingin. "Dia pikir dia siapa, berani-beraninya ingin menjodohkan putraku dengan putrinya? Seolah-olah ini semua adalah urusan dagang yang bisa dia atur sesuka hati."

‎‎Pria tua di sebelahnya meletakkan korannya perlahan, ujung bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum sinis yang penuh perhitungan.

‎‎"Kita tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ucapnya rendah, namun tegas. "Cucuku bukan bidak catur untuk mereka mainkan."

-

-

-

Bersambung...

1
Mia Camelia
ayo revan rebut Alina yukk🤣🤣🤣
Aisyah Ranni
Wajar aja si Andika menyesal ternyata itu dia,bisa jadi dia yg slengki dengan ibu Rafael, mengulang kejadian si Rafael dengan Amara.dan Andika gak tau Revan anak kandungnya sendiri
MamDeyh
Woooow ternyata sodara tiri merekaaaa
MamDeyh
Diiih GK jelas
Mia Camelia
rasakan kau raphael tamparan sang ayah, semoga raphael mau melepaskan Alina😭
🔥Violetta🔥: Semoga y kak 😁
total 1 replies
Ervina Ardianto
Kl baca smp sini berarti awalnya Revan pura2 jd asisten Rafael ada hubungannya dg masa lalu yg blm selesai antar ortu/kakeknya Rafael & Revan. Sementara ttg Alina, di luar rencana dia, bs ketemu lg tp sdh jd istri org.
Maybe gt🤭
🔥Violetta🔥: Wah tebakan kakak ini sesuatu 👏👏👏👍😁
total 1 replies
Mia Camelia
revan gentleman banget sih, bogem si raphael di tempat, ngliat raphael lama2 kaya pecundang😒
Ervina Ardianto
Rafael msh lolos nih. Mertuanya ga liat tontonan & ga denger omongan Revan ke Rafael. Jgn lama2 author, nungguin Revan membuka jati diri dia yg sbnrnya 😊
MamDeyh
Repaaan kamu kelepasan 😅
🔥Violetta🔥: rem-nya blong 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
sumpah raphael tuh pembawa sial banget sih, bikin Alina jatuh bgtu😔😔😔
🔥Violetta🔥: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Revan mana Revan..mungkin sekarang saatnya membuka semua 🤭
🔥Violetta🔥: Lagi bertapa dulu dia kak... 🤭🤭🤣
total 1 replies
MamDeyh
Nah kan.. Laki egois. Plin plan. Gajebo
🔥Violetta🔥: Omelin aja,,, omelin kak 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ervina Ardianto
Ada hubungan dg masa lalu berarti nih. Revan uda kenal Alina lbh dl dari Rafael , yg msh gelap hubungan ortu Revan & Rafael, knp Alina ga tau / blm sadar ttg Revan (di masa lalu) & Revan bs kecolongan, Alina nkh sm Rafael.
MamDeyh
Ahhhh lagi dong kak.....
Mia Camelia
Alina kapan cerai nya thor 🤭🤭🤭pingin ngeliat Alina dan revan SAH🤭😁
🔥Violetta🔥: Nanti kak 🤭 author nya juga udah gak sabar 🤭🤭🤭
total 1 replies
〈⎳ FT. Zira
"Menikah karena perjodohan tapi hati suami masih di masa lalu" itu klasik yang tidak pernah gagal. Saya langsung bisa merasakan bagaimana hampanya Alina.
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.

Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.

cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰
MamDeyh
Aduhhhh aku dag dig dug deeeer daiaaaaa/Curse//Curse/
🔥Violetta🔥: /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Adira🍓
O...o... kamu ketahuan 🤣🤣🤣🤣
Adira🍓
Pandai kali ngegombal mulut kau ini Revan 🤪🤪🤪🤪
Adira🍓
Terlalu jujur jawabanmu Bang 🤣🤣🤣🤣🤣
🔥Violetta🔥: Maklum, rem-nya blong kak 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!