Bagi Amanda, Farel adalah sahabat sekaligus cinta pertamanya. Meskipun lelaki itu tidak pernah menganggapnya lebih dari seorang teman, namun Amanda tidak pernah memiliki rasa lelah terlebih lagi menyerah. Ia akan selalu berusaha membuat Farel melihat ketulusan cintanya, meskipun Amanda sendiri tidak bisa mengungkapkannya secara langsung.
Namun sebuah rasa itu seolah menghilang secara perlahan saat Amanda bertemu dengan lelaki bernama Cio, lelaki aneh yang selalu menggodanya dengan sikap konyolnya. Seperti pada lelaki lainnya, Amanda selalu bersikap tak peduli, namun seiring berjalannya waktu, hatinya justru tersentuh dengan kisah kehidupannya dan perasaan tulusnya.
Di balik tawa konyolnya, Cio memiliki kisah rapuh yang tidak ingin lelaki itu ingat. Meski pada akhirnya air matanya jatuh juga kala mengingat masa kelamnya, dan semua itu hanya Cio tunjukkan di hadapan Amanda, gadis cantik yang disukainya.
Saat semua berubah sedikit demi sedikit termasuk hati Amanda, Cio justru pergi den
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikesweetdevil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13
Part 13
Cio tetaplah Cio. Meskipun merasa kesal dengan sikap Amanda yang begitu baik dengan Farel, namun Cio masih bersikap seperti biasa, konyol dan menyebalkan. Membuat Amanda maupun Alex yang melihatnya itu menatap datar ke arahnya, seolah apa yang baru dikatakannya adalah hal yang paling memuakkan.
"Sudah sejak kemarin aku menahannya, sekarang aku benar-benar ingin muntah." Alex menyahut malas, merasa tidak percaya dengan tingkat kepercayaan diri temannya itu.
"Begitupun denganku," sahut Amanda menyetujui. Matanya melirik malas, lalu kembali memakan makanannya tanpa memperdulikan bagaimana Cio yang menyengir tanpa dosa di hadapannya.
"Terserah kalian mau bilang apa, yang penting sekarang makanan ini menjadi milikku." Cio membuka bekal makanan itu tanpa memperdulikan bagaimana Amanda menatap tak terima ke arahnya.
"Cio ...."
Bruk ... suara seseorang terjatuh baru saja terdengar, membuat semua orang yang berada di kantin mencari arah sumber suara tersebut. Begitupun dengan Amanda, Cio, dan Alex. Ketiganya bahkan sangat terkejut saat mengetahui suara itu berasal dari bangku yang tadi Farel duduki, dan di bawahnya ada seseorang yang tergeletak tak sadarkan diri, membuat orang-orang yang berada di sekitarnya terkejut lalu menghampirinya penuh kekhawatiran.
"Farel," gumam Amanda khawatir sembari mendirikan tubuhnya, merasa gelisah kalau dugaannya akan temannya yang pingsan itu benar adanya. Dengan perasaan tak karuan, Amanda segera berlari ke arah kerumunan, meninggalkan Alex dan Cio yang kebingungan dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi.
"Farel ... FAREL." Amanda berteriak tak percaya, saat tahu seseorang yang pingsan itu benar-benar temannya. Tanpa berpikir apapun lagi, Amanda berjalan menerobos kerumunan dan mendapati Farel yang sedang disadarkan oleh teman-temannya.
"Farel kenapa bisa pingsan?" Amanda bertanya khawatir ke arah teman-temannya yang terlihat kebingungan dengan kondisi Farel yang masih tak sadarkan diri.
"Kita tidak tahu, tadi Farel sempat mengeluh sakit perut, wajahnya juga terlihat pucat, terus dia jatuh begitu saja sebelum kita tolong. Kita benar-benar tidak tahu apa-apa." Dio menjawab takut kalau-kalau terjadi sesuatu dengan Farel, karena sebelum ini temannya itu tidak pernah sampai seperti ini.
"Dari kecil, pencernaan Farel memang kurang baik, ususnya gampang alergi pada makanan yang dikelola dengan kurang higienis. Mungkin karena makan di kantin, Farel jadi sakit lagi." Amanda berujar khawatir ke arah teman-temannya yang mengangguk paham, mulai mengerti dengan daya tahan tubuh Farel yang kurang baik.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?"
"Langsung bawa ke rumah sakit saja ya?" Amanda menjawab mantap yang langsung diangguki oleh mereka.
"Kamu ikut kita mengantarkan Farel ya? Kamu paling tahu dengan keadaan Farel, dan kamu bisa menjelaskan ke dokternya, supaya cepat ditangani." Salah satu temannya Farel itu berujar serius, yang langsung diangguki mantap tanpa keraguan oleh Amanda. Karena bagi gadis itu, keselamatan Farel adalah yang paling penting tanpa harus memikirkan yang lainnya.
Di sisi lainnya, Alex dan Cio yang kebingungan dengan apa yang sedang terjadi dengan Farel itu juga mengkhawatirkan keberadaan Amanda yang tiba-tiba masuk ke dalam kerumunan. Sampai saat Cio dan Alex melihat Amanda berlari bersama dengan Farel yang tengah digotong oleh teman-temannya.
"Itu Amanda. Mau ke mana dia?"
"Mungkin mau mengantarkan Farel ke rumah sakit. Aku akan ikuti mereka, aku juga merasa khawatir dengan kondisi Farel. Kamu ikut aku tidak?" tawar Alex ke arah Cio yang terdiam, merasa bingung harus menjawab apa, namun bila mengingat sikap Farel yang kurang baik pada Amanda, rasanya Cio juga tidak mungkin membiarkan Amanda menjaga Farel di sana.
"Aku ikut," jawabnya mantap yang diangguki mengerti oleh Alex yang mulai melangkah, lalu berlari ke arah mobilnya, diikuti Cio di belakangnya.
Di dalam mobil, Alex masih fokus menyetir sampai saat ia teringat akan ucapan Cio yang mengatakan bila dirinya jarang makan malam karena hidup sendiri.
"Cio, kamu masih bekerja di tempat pamanku?" Alex tiba-tiba bertanya hal itu, yang diangguki langsung oleh Cio.
"Iya, semua ini berkat kamu yang mencarikan aku pekerjaan. Terima kasih ya?"
"Tidak masalah. Tapi bagaimana kamu bisa hidup sendiri? Kamu bahkan jarang makan malam."
"Aku kan juga harus hemat." Cio menyengir tanpa beban, namun justru mendapatkan decapan malas oleh Alex.
"Mulai nanti malam, kamu akan tinggal di rumahku. Kamu boleh makan apa saja yang kamu mau, jadi tidak usah berhemat apalagi sampai membuatmu kelaparan." Alex menjawab serius setengah malas, meski sebenarnya ia merasa sangat khawatir dengan kehidupan temannya yang cukup menyedihkan.
"Aku tidak mau." Cio menjawab seenaknya, dan itu cukup membuat Alex terkejut mendengarnya.
"Tapi kenapa?"
"Nanti aku tidak punya alasan lagi untuk mengambil makanan Amanda, dan aku juga tidak bisa berangkat bersama dia lagi nanti, kan rumahmu berbeda arah." Cio menjawab penuh keraguan dengan ekspresi sok berpikirnya dan itu sudah cukup membuat Alex mengerti bila Cio memang cukup gila.
"Terserah," jawab Alex malas, yang diam-diam ditanggapi senyum miris oleh Cio.
***
Setelah masuk ke UGD, Amanda dan teman-temannya Farel hanya bisa duduk di bangku tunggu, sembari berharap di dalam hati masing-masing bila Farel akan baik-baik saja. Sampai saat pintu UGD itu terbuka, menampilkan seorang dokter bersama dengan kedua perawatnya.
"Dokter, bagaimana dengan keadaan Farel?" Amanda bertanya khawatir setelah sampai di hadapan lelaki berjas putih itu. Begitupun dengan teman-teman Farel yang lain, mereka turut mendirikan tubuh untuk mengetahui keadaan Farel saat ini.
"Keadaan pasien sekarang baik-baik saja, pasien sengaja tidak dipindahkan karena pasien bisa pulang kalau nanti sudah sadar. Kalian bisa melihatnya asal tidak menggangu waktu istirahatnya. Saya permisi dulu," jawab sang dokter dengan diakhiri pamitan, yang langsung diangguki oleh Amanda yang cukup merasa lega mendengar kondisi Farel yang sudah baik-baik saja.
"Terima kasih, Dok." Amanda menjawab penuh syukur yang hanya diangguki Dokter tersebut, sebelum pada akhirnya pergi dari sana.
"Amanda," panggil salah satu teman Farel, yang Amanda tahu bernama Dio.
"Iya, kenapa?"
"Tolong jaga Farel ya? Setidaknya sampai Vanessa datang, aku sudah menghubunginya dan memberitahukan kondisi Farel saat ini. Kami masih ada kelas yang tidak bisa ditinggal," ujar Dio merasa bersalah begitupun dengan teman-temannya yang lain. Sedangkan Amanda justru terdiam, merasa tak yakin bila harus melakukan hal itu, mengingat Farel dan kekasihnya itu sangat tidak menyukainya.
"Tapi ...."
"Tidak apa-apa, kamu juga tidak ingin kan terus-terusan bermusuhan dengan mereka? Sekarang kamu bisa buktikan ke Farel, kalau kamu tulus ingin membantunya selama ini, kamu hanya ingin membuat Farel sampai tidak sakit seperti ini kan?" Amanda hanya bisa tertunduk lesuh, merasa tak percaya saja, kenapa orang lain bisa melihat dan membaca niat baiknya, sedangkan Farel yang sudah lama mengenalnya justru bersikap seolah-olah ia adalah hama yang merugikan.
"Kamu tenang saja, aku pasti akan menjaga Farel dengan baik." Amanda menjawab seadanya sembari tersenyum paksa di hadapan mereka.