Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu berpikir positif
...•••...
“Semangat, bro!” Sian menepuk pundak Jay sebelum duduk di hadapan pria itu. “Asem banget tuh muka. Seasem mangga muda, haha.”
Sian tertawa terbahak-bahak mendengar leluconnya sendiri, sama sekali tak peduli pada wajah Jay yang semakin masam dan masih fokus dengan ponselnya.
Tanpa perlu bertanya pun, Sian sudah tahu apa akar permasalahan sahabat karibnya itu.
“Hah…” Sian menghela napas panjang, menopang dagunya dengan sebelah tangan yang bertumpu di atas meja sembari menatap Jay. “Nggak kerasa banget, ya, sekarang udah hari terakhir UAS. Berarti… berapa hari lagi bokap lo nikah?”
Mendengar itu, Jay langsung tersentak. “Shit! Hampir aja gue lupa.” Ia mematikan ponselnya lalu menatap Sian. "Lo ikut, ya, ke acara nikahan bokap gue nanti?”
“Eh?” Sian langsung duduk tegak. “Tiba-tiba, nih?”
Belum sempat Jay menjawab, Sian kembali berbicara. “Kalau lo jadiin gue last option, ogah.”
“Hahaha,” Jay tertawa terpingkal-pingkal melihat ekspresi pria berkulit putih yang duduk di hadapannya itu. “Kok bisa sih ada orang selucu lo?” tanya Jay sembari mengusap sudut matanya yang berair karena tawa.
“Bukan gue yang lucu. Lo nya aja yang receh, ketawa sama hal yang nggak jelas.”
“Justru di situ letak lucunya, anjir,” sahut Jay cepat. “Jadi gimana? Lo mau ikut kagak? Cuma lo aja yang gue ajak. Sekalian biar lo tahu kampung halaman gue."
"Gegayaan kampung halaman," cibir Sian. "Kampung halaman mana yang malah ada gedung-gedung pencakar langit ketimbang persawahan?"
“Suka-suka lo aja, dah,” jawab Jay santai sebelum berdiri sambil menenteng ranselnya.
“Si bangsat, malah ninggalin!” gerutu Sian, berlari menyusul Jay sembari membawa minuman berwarna hijau, kalau kata Jay, rasanya seperti rumput.
Bisa-bisanya bocah itu dan semua orang berpikir begitu. Memangnya mereka sudah pernah makan rumput sampai bisa menganalogikan rasa matcha dengan rumput?
Dan sejujurnya, Sian sendiri tidak tahu sejak kapan ia suka minuman berwarna hijau itu. Mungkin dirinya memang bukan tipe orang yang pilih-pilih makanan. Maklum, anak rantau dengan kondisi keuangan yang pas-pasan, jadi apa saja dimakan selagi memang bisa dimakan.
Setelah menyelesaikan soal UAS, Jay langsung bergegas keluar dari kelas begitu melihat beberapa notifikasi panggilan tak terjawab dari "orang-orangnya”. Ia bahkan tidak sempat berlama-lama membereskan barang-barangnya sebelum menuju mobil yang masih terparkir di area kampus.
“Ada perkembangan baru?” tanyanya to the point.
“Gue udah nemuin lokasi spesifiknya–”
Tut.
Jay mematikan panggilannya begitu saja tanpa menunggu orang di sebrang sana menyelesaikan pembicaraannya.
Ia membuka link tautan live location yang dikirim “orang-orangnya”, memperlihatkan posisi perempuan yang dicintainya itu secara real-time.
Jay langsung mengerutkan kening. Bagaimana tidak? Titik lokasi tersebut berada di rumahnya sendiri.
“Ini kan rumah gue,” katanya lirih.
Selama beberapa saat, Jay hanya diam. Pikirannya mulai menyusun berbagai kemungkinan yang menurutnya paling masuk akal.
“Shit, man! Apa selama ini dia juga nyariin gue?” Jay menunjuk dadanya sendiri. “Sampai akhirnya dia tahu alamat rumah gue?” perlahan, bibir Jay terangkat membentuk senyuman.
Ternyata, memang benar, ya, tidak hanya obat-obatan yang bisa membuat seseorang kecanduan.
Skenario-skenario yang Jay bayangkan mulai menguasai pikirannya. Namun, di tengah semua kemungkinan indah yang bermunculan, akal sehatnya masih sempat mengingatkannya untuk berpikir kritis.
“Tapi… kalau dia emang nyariin gue, kenapa nggak coba telpon gue aja, ya? Daripada susah-susah nyari alamat rumah gue.”
Jay kembali terdiam. Otaknya benar-benar sedang berperang.
“Ya… mungkin aja HP dia ilang?” gumamnya. Lalu matanya berbinar seolah baru menemukan jawaban paling masuk akal. “Ah, iya. Itu kali, ya?”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG