Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 24 - Harga Sebuah Pernikahan
Masalah Fadli datang sebelum Nadira sempat mengantar orang tuanya ke apartemen.
Siska menelepon sambil menangis.
Fadli menjauh ke sudut kantin, tapi suaranya tetap terdengar pecah. Nadira melihat wajah adiknya berubah dari cemas menjadi pucat. Mama Ratih yang sejak tadi fokus pada Arga langsung menoleh.
"Ada apa?"
Fadli menutup telepon dengan tangan gemetar. "Keluarga Siska mau datang ke apartemen malam ini. Mereka mau bicara soal pernikahan."
Mama Ratih mengerutkan kening. "Bukannya sudah dibicarakan bulan lalu?"
"Berubah."
"Berubah bagaimana?"
Fadli menatap Nadira sekilas, lalu menunduk.
Nadira langsung tahu.
"Karena aku?"
"Kak..."
"Jawab."
Fadli menghela napas. "Ibunya Siska lihat berita. Dia tahu Kakak masih berhubungan dengan keluarga Wijaya dan Hartono. Dia bilang kalau keluarga kita punya koneksi sebesar itu, masa aku tidak bisa menyediakan rumah sebelum nikah."
Mama Ratih langsung memukul meja. "Astaghfirullah. Lilis itu benar-benar."
Papa Hendra menenangkan, "Ratih."
Nadira merasa kepalanya berdenyut. "Apa lagi?"
"Mahar dinaikkan. Mereka minta rumah atas nama Siska, mobil, dan biaya resepsi hotel. Kalau tidak, mereka bilang Siska lebih baik menunggu laki-laki yang lebih siap."
Fadli mencoba tersenyum, tapi gagal.
"Siska sendiri?"
"Dia bingung. Dia bilang tidak setuju, tapi dia juga tidak berani melawan ibunya."
Mama Ratih berdiri. "Kita pulang sekarang. Aku mau bicara dengan Lilis."
"Ma, jangan dalam keadaan marah."
"Aku memang marah."
Nadira menatap Fadli. "Kamu mau apa?"
Fadli diam lama.
"Aku sayang Siska. Tapi aku tidak mau Kakak lagi yang jadi alasan orang minta macam-macam."
Nadira merasakan sesuatu di dadanya melunak.
Adiknya tumbuh.
Dulu Fadli mungkin akan panik dan meminta Nadira membantu mencari jalan. Sekarang ia tampak sakit, tapi tidak ingin menjual kakaknya sebagai jembatan.
"Kita bicara baik-baik," kata Nadira.
Malam itu, apartemen Nadira penuh orang.
Mama Ratih, Papa Hendra, Fadli, Siska, dan keluarga Siska duduk di ruang tamu yang sebenarnya tidak cukup besar untuk semua. Maya datang tanpa diundang karena Fadli mengirim pesan panik. Ia membawa martabak dan wajah siap bertarung.
Bu Lilis, ibu Siska, datang dengan tas mahal dan nada suara yang lebih mahal lagi.
"Kami hanya ingin memastikan masa depan anak kami jelas," katanya. "Siska anak perempuan. Tidak mungkin kami lepas begitu saja tanpa kepastian."
Mama Ratih tersenyum kaku. "Kepastian itu dibangun oleh pasangan, Bu. Bukan daftar belanja."
Bu Lilis menatap Nadira. "Mudah bagi keluarga Ibu bicara begitu. Sekarang Mbak Nadira dekat dengan keluarga Wijaya lagi, juga dengan keluarga Hartono. Fadli pasti punya banyak bantuan."
Nadira duduk tegak. "Bantuan saya tidak termasuk membeli pernikahan orang lain."
Siska menunduk, menangis pelan.
Fadli menggenggam tangannya. "Siska, aku mau menikah dengan kamu. Tapi kalau syaratnya membuat Kak Nadira harus minta uang ke orang lain, aku tidak bisa."
Bu Lilis langsung menyela. "Siapa bilang minta? Keluarga itu saling membantu. Kakakmu dokter, mantan suaminya keluarga kaya, teman-temannya orang besar. Masa untuk adik sendiri tidak mau?"
Maya tertawa pendek. "Bu, kalimat itu kalau dimasukkan berita judulnya lumayan."
Nadira menyentuh lengan Maya agar diam.
Papa Hendra bicara dengan lembut. "Bu Lilis, kami tidak menolak membantu anak. Tapi permintaan rumah, mobil, dan resepsi hotel di luar kemampuan Fadli. Kalau itu syarat mutlak, mungkin kita harus menunda."
"Menunda sampai kapan? Sampai Siska tua?"
Siska menangis lebih keras. "Mama, cukup."
Bu Lilis terkejut. "Kamu membentak Mama?"
"Aku malu." Siska menghapus air mata. "Aku sayang Fadli, tapi aku malu Mama bicara soal Mbak Nadira seperti ATM."
Ruangan hening.
Fadli menatap Siska, matanya merah.
Bu Lilis berdiri. "Jadi kamu pilih laki-laki yang belum punya apa-apa?"
Siska gemetar. "Aku pilih bicara baik-baik. Kalau Mama tidak setuju, aku tidak akan kawin lari. Tapi jangan menghina mereka."
Nadira melihat keberanian itu dan merasa simpati.
Bel pintu berbunyi.
Semua orang menoleh.
Maya membuka interkom. "Arga."
Nadira langsung berdiri. "Kenapa dia ke sini?"
Maya menatap layar. "Bawa map. Dan Bima. Sepertinya bukan bawa bunga."
Nadira membuka pintu dengan wajah lelah. "Mas Arga, sekarang bukan waktu yang tepat."
Arga melihat orang-orang di dalam. "Aku tahu. Bima mengirim pesan bahwa ada masalah. Aku tidak datang untuk ikut campur."
Bima di belakangnya tampak tersiksa karena ketahuan.
"Lalu?"
Arga menyerahkan map. "Ini tawaran kerja untuk Fadli. Bukan uang, bukan hadiah. Salah satu anak perusahaan Papa butuh supervisor proyek junior. Fadli tetap harus wawancara dan kalau diterima, mulai dari bawah. Aku hanya memastikan dia dapat kesempatan yang sesuai kemampuannya."
Nadira menatap map itu.
"Kenapa?"
"Karena dulu aku salah menilai dia. Dan karena membantu bukan berarti membeli keputusan."
Nadira diam.
Di dalam, Bu Lilis langsung berkata, "Nah, kan. Ada keluarga Wijaya. Kalau kerja saja bisa dibantu, rumah juga..."
Arga menoleh.
Tatapannya membuat Bu Lilis berhenti bicara.
"Bu, saya membantu Fadli mendapat kesempatan kerja karena dia adik Nadira dan karena saya pernah salah padanya. Saya tidak akan membelikan rumah untuk menjadi harga pernikahan. Kalau Fadli menikah dengan Siska, dia harus berdiri sebagai suami, bukan sebagai perpanjangan dompet keluarga Wijaya."
Ruangan sunyi lagi.
Maya berbisik, "Aku benci kalau dia benar."
Nadira mendengar dan hampir tersenyum.
Fadli menerima map itu dengan tangan sedikit gemetar. "Mas, aku..."
"Wawancara dulu. Kalau gagal, gagal karena kemampuanmu sendiri. Kalau lolos, kerja juga karena kemampuanmu."
Fadli mengangguk. "Terima kasih."
Bu Lilis tampak kehilangan pijakan. Ia masih tidak puas, tapi tidak bisa menuntut lebih tanpa terlihat buruk.
Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan final. Keluarga Siska pulang dengan wajah tegang. Siska sempat memeluk Fadli dan berbisik bahwa ia akan bicara lagi dengan ibunya.
Setelah semua orang pergi, apartemen menjadi sepi.
Mama Ratih menatap Arga.
"Aku masih tidak suka kamu."
Arga mengangguk. "Iya, Tante."
"Tapi tadi kamu bicara benar."
"Terima kasih."
"Jangan besar kepala."
"Sepertinya semua ibu sepakat mengatakan itu pada saya."
Papa Hendra tertawa kecil. Mama Ratih menahan senyum tapi gagal sedikit.
Nadira mengantar Arga sampai pintu.
"Terima kasih soal Fadli."
"Aku tidak ingin membuatmu merasa berutang."
"Aku tahu."
"Benar-benar tahu?"
Nadira menatapnya. "Kalau aku merasa itu utang, aku sudah menolak map tadi."
Arga mengangguk.
"Mas Arga."
"Ya?"
"Cara membantu seperti tadi... lebih baik."
Kalimat itu sederhana, tapi Arga menerimanya seperti hadiah besar.
"Aku akan mengingatnya."
Fadli keluar dari ruang tamu sebelum Arga sempat melangkah pergi.
"Mas Arga."
Arga berhenti. "Ya?"
Fadli memegang map itu di dada. "Aku belum tentu diterima."
"Benar."
"Kalau aku diterima, aku tidak mau orang kantor tahu aku adik ipar Mas."
"Aku bisa atur prosesnya tetap profesional."
"Dan kalau aku gagal, jangan bilang ke Kak Nadira seolah aku mengecewakan."
Arga melihat pemuda itu lebih serius. Dulu ia hanya menganggap Fadli sebagai adik yang merepotkan Nadira. Malam ini ia melihat laki-laki muda yang sedang berusaha tidak tenggelam di bawah tuntutan keluarga calon mertua.
"Kalau kamu gagal, itu bukan akhir hidup. Kalau kamu lolos, jangan malas."
Fadli mengangguk. "Siap."
Bima berbisik, "Nada jawabnya sudah seperti prajurit."
Fadli langsung tegang. "Saya bukan mau masuk tentara, Bang."
"Bagus. Gajinya tidak cocok untuk calon mertua model begitu."
Fadli tertawa gugup. Nadira juga tertawa, dan ruangan yang tadinya berat menjadi sedikit manusiawi.
Sebelum masuk lagi, Fadli menatap Nadira. "Kak, aku akan berusaha sendiri."
"Aku tahu."
"Tapi kalau nanti aku panik, aku boleh tetap minta nasihat?"
Nadira menepuk bahunya. "Nasihat gratis. Rumah dan mobil tidak."
Fadli akhirnya tertawa lebih lepas. "Adil."
Ia pergi bersama Bima.
Nadira menutup pintu, lalu bersandar sebentar.
Maya muncul di sampingnya.
"Kalau dia terus begini, lama-lama susah membenci."
Nadira menatap sahabatnya.
Maya mengangkat tangan. "Aku cuma bilang susah. Bukan mustahil."
Nadira akhirnya tertawa pelan.
Di malam yang penuh tuntutan, tawa kecil itu terasa seperti napas baru.