Arini meninggalkan suaminya yang tulus, Dimas, karena terbuai janji kemewahan dari Rian. Namun Rian ternyata hanya menipunya lalu pergi begitu saja, membuat Arini jatuh miskin sendirian. Saat ia menyadari kesalahannya dan berharap kembali pada Dimas, ia terlambat — Dimas sudah bahagia dengan wanita lain. Arini akhirnya belajar: ketulusan jauh lebih berharga daripada kemewahan semu, dan penyesalan selalu datang di akhir cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon edwin setiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Merah di Tengah Malam
Lampu-lampu kota meluncur cepat di balik jendela taksi online yang ditumpangi Arini. Di dalam kabin mobil yang hening, Arini memeluk tas jinjingnya erat-erat ke dada. Wajahnya yang terpoles riasan tipis memantulkan bayangan samar pada kaca jendela yang basah oleh sisa-sisa embun malam.
Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sempat melintas sekilas bayangan Dimas yang baru saja pulang dari bengkel—pria itu pasti sedang berdiri di kamar yang kosong, membaca selembar surat perpisahan yang ia tinggalkan di atas meja nakas. Namun, Arini menggelengkan kepala dengan cepat. Ia mengibaskan bayangan itu seperti mengusir nyamuk yang mengganggu.
"Ini keputusannya yang salah karena tidak pernah mau berubah," bisik Arini dalam hati, membenarkan perbuatannya sendiri. "Aku tidak bisa terus-terusan mengorbankan hidupku demi pria yang puas hidup melarat. Aku berhak mendapatkan hal yang lebih baik."
Taksi itu akhirnya melambat dan berbelok memasuki pelataran megah The Grand Zenith Hotel, salah satu hotel bintang lima paling eksklusif di pusat ibu kota. Lampu-lampu sorot berwarna keemasan menyinari pilar-pilar marmer raksasa yang menjulang tinggi di area drop-off. Seorang doorman berseragam rapi dengan sigap membukakan pintu mobil untuknya, membungkuk penuh hormat.
Arini melangkah keluar. Sol sepatu hak tingginya menepuk lantai granit yang berkilau bak cermin. Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun terkurung dalam gang sempit berbau sampah, Arini menghirup udara beraroma wewangian kayu manis dan bunga melati yang segar di dalam lobi hotel yang luas. Rasa canggung sempat menyergap dadanya saat melihat para tamu hotel yang mengenakan pakaian desainer mahal, namun ia dengan cepat menegakkan bahunya.
Ia berjalan menuju meja resepsionis, merogoh tasnya, lalu menunjukkan kunci kartu bermerek emas yang diberikan Rian melalui paket semalam.
"Selamat malam, Ibu. Kamar Executive Suite nomor 1804 di lantai delapan belas sudah siap atas nama Bapak Rian Pratama," ucap petugas resepsionis dengan senyuman ramah dan profesional. "Layanan room service kami beroperasi dua puluh empat jam. Apakah ada yang bisa kami bantu untuk membawakan barang-barang Ibu?"
"Tidak perlu, terima kasih," jawab Arini seanggun mungkin, berusaha menirukan gaya bicara wanita kelas atas.
Dengan langkah mantap, Arini berjalan menuju deretan lift berdinding kaca yang berkilau. Saat lift meluncur naik ke lantai delapan belas dengan cepat tanpa guncangan, Arini menatap pantulan dirinya di dinding cermin lift. Wajahnya tampak diterpa cahaya lembut yang membuatnya terlihat sangat cantik. Di sini, di dalam lingkungan yang mewah ini, ia merasa benar-benar hidup. Inilah tempat yang seharusnya menjadi dunianya.
Ding!
Pintu lift terbuka. Karpet tebal bernuansa merah tua dan emas meredam setiap langkah kakinya di sepanjang koridor menuju kamar 1804. Arini menempelkan kartu kunci pada panel pintu. Suara klik halus terdengar, dan pintu kayu mahoni yang kokoh itu terbuka perlahan.
Kamar itu begitu luas—jauh lebih luas daripada seluruh rumah kontrakan empat kali enam meter yang baru saja ia tinggalkan. Sebuah tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra putih bersih mendominasi tengah ruangan. Jendela kaca raksasa memamerkan pemandangan dramatis gemerlap lampu-lampu pencakar langit kota malam hari. Di atas meja kaca dekat sofa kulit, tersaji sebotol minuman buah segar dan sebaskom es batu yang mengepulkan uap dingin.
Arini berjalan mendekati jendela. Ia menempelkan telapak tangannya ke permukaan kaca yang dingin, menatap lautan cahaya kota di bawah sana dengan mata berbinar-binar.
"Inilah hidup," bisik Arini lirih, matanya berkaca-kaca oleh rasa puas yang membuncah. "Aku tidak akan pernah kembali lagi ke gang sempit itu. Tidak akan pernah."
Ponsel di dalam tasnya bergetar. Nama Rian muncul di layar. Arini segera mengangkatnya dengan senyum mengembang lebar.
"Halo, Rian..."
"Halo, primadona-ku," suara Rian terdengar sangat renyah dan hangat dari seberang telepon. "Bagaimana tempatnya? Kamu sudah sampai di kamar dengan selamat, kan?"
"Sudah, Rian. Tempat ini... sangat indah. Terima kasih banyak," jawab Arini dengan tulus, matanya masih menyapu interior kamar yang megah itu.
Rian terkekeh pelan dari seberang sana. "Itu belum ada apa-apanya, Arini. Itu hanya sedikit cuplikan dari dunia yang pantas kamu dapatkan. Maaf malam ini aku tidak bisa langsung menyambutmu di sana karena masih ada jamuan makan malam bisnis dengan investor asing. Tapi besok pagi, aku yang akan menjemputmu untuk sarapan bersama."
"Tidak apa-apa, Rian. Kamu fokus saja pada urusanmu," kata Arini penuh pengertian.
"Istirahatlah yang nyenyak, Arini. Lupakan semua beban di masa lalumu. Mulai malam ini, kamu berada di bawah perlindunganku."
Sambungan telepon terputus. Arini menggenggam ponsel itu erat-erat di dadanya. Kata-kata Rian bagaikan pelukan hangat yang membuai seluruh jiwanya. Tanpa ragu lagi, Arini melemparkan daster dan pakaian lamanya ke dalam tempat sampah kamar mandi, lalu melangkah menuju bak mandi marmer berbusa hangat. Malam itu, ia menenggelamkan dirinya dalam kenyataan baru yang semu, tanpa menyadari bahwa pondasi rumah tangga yang hancur di belakangnya sedang mengirimkan gelombang penyesalan yang kelak akan menuntut balasan.
Sementara itu, di sudut lain kota yang temaram, waktu seolah berhenti berputar.
Lampu bohlam kuning di dalam kamar kontrakan rumah petak nomor empat masih menyala redup. Dimas masih berlutut kaku di lantai semen yang dingin, tepat di samping tempat tidur yang kosong. Tangannya yang kebas masih menggenggam erat selembar kertas catatan perpisahan dari Arini hingga kertas itu remuk dan terkoyak di bagian pinggirnya.
Rumah itu begitu sepi. Tidak ada lagi suara gemercik air mandi, tidak ada suara denting piring di dapur, dan tidak ada lagi sosok wanita yang selama tiga tahun ini menjadi alasan utamanya untuk bertahan menghadapi kejamnya dunia kerja.
Dimas mengangkat kepalanya perlahan. Pandangannya yang buram menyapu setiap sudut kamar. Di atas meja rias yang kosong, masih tertinggal satu jepit rambut plastik berwarna hitam milik Arini yang tak sengaja terjatuh. Dimas merangkak pelan, meraih jepit rambut kecil itu dengan tangannya yang gemetar hebat, lalu mendekapkannya rapat-rapat ke dadanya.
Sebuah isakan parau akhirnya pecah dari tenggorokannya. Pria tegap yang biasanya sanggup memikul beban besi ratusan kilogram di bengkel itu kini tergugu dalam tangis sunyi yang menyayat hati. Air matanya menetes bertubi-tubi, membasahi kain kemeja kerjanya yang masih berbau minyak pelumas.
"Apa salahku, Arini...?" batin Dimas menjerit dalam keputusasaan yang kelam. "Kurang keras apalagi aku memeras keringat untukmu? Kenapa kamu tidak mau bersabar sedikit saja bersama Mas...?"
Tidak ada jawaban di dalam ruangan yang sunyi itu. Hanya suara rintik gerimis di luar yang seolah ikut meratapi kehancuran hati seorang suami yang tulus.
Dimas menyandarkan punggungnya ke dinding kamar yang dingin. Ia memejamkan mata rapat-rapat, meresapi setiap detik rasa sakit yang mencabik-cabik dada dan harga dirinya. Namun di tengah kehampaan dan rasa hancur yang luar biasa itu, di dasar lubuk hatinya yang paling dalam, perlahan-lahan timbul sebuah dorongan baru—bukan dorongan untuk dendam, melainkan sebuah kesadaran pahit bahwa masa-masanya untuk mengemis cinta dari wanita yang tidak pernah menghargainya telah resmi berakhir malam ini.
Dimas mengusap air matanya dengan lengan baju. Ia berdiri tegak dengan kaki yang sedikit gemetar, menatap pantulan dirinya di cermin retak kamar mandi. Sepasang matanya yang merah kini memancarkan tekad yang dingin dan sunyi.