"Kurang ajar! Beraninya kalian mengotori rumah tangga kita!" bentak Sandra dengan suara bergetar hebat, air matanya akhirnya tumpah membasahi pipi.
Sebelum Sandra bisa memberikan pelajaran lebih jauh kepada wanita itu, sebuah benturan keras mendarat di pipi kirinya.
Plak!
Tamparan itu begitu kuat hingga kepala Sandra terpelanting ke samping. Rasa perih langsung menjalar di pipinya, meninggalkan sensasi panas yang membakar. Pelaku pemukulan itu tidak lain adalah Anton sendiri. Suami yang selama empat tahun ini ia layani dengan sepenuh hati, kini berdiri tegak dengan mata melotot dan tangan mengepal.
"Seharusnya kamu sadar, kamu wanita lusuh, jelek, tidak bisa menjaga tubuhmu, aku muak denganmu!" teriak Anton dengan suara menggelegar, melampiaskan seluruh kebencian yang selama ini ia pendam.
Kata-kata itu menghujam jantung Sandra jauh lebih tajam daripada pisau bermata dua. Wanita lusuh? Jelek? Selama ini ia mengorbankan waktu istirahatnya demi mengurus rumah, sementara Anton
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis-Garis Takdir yang Menyatu
Hari-hari berikutnya di mansion berlalu bagaikan mimpi indah bagi Sandra. Dengan perawatan telaten dari dokter pribadi keluarga serta perhatian tak henti dari Dante dan Elzard, proses pemulihan luka bakar di paha Sandra berjalan jauh lebih cepat dari perkiraan.
Seminggu telah berlalu sejak insiden di restoran. Pagi ini, untuk pertama kalinya, Sandra sudah diperbolehkan berjalan perlahan tanpa bantuan.
Sandra melangkah keluar dari kamarnya dengan gaun terusan lembut berwarna pastel yang anggun. Langkah kakinya pelan namun mantap, menyusuri koridor lantai dua menuju ke arah balkon utama yang menghadap langsung ke taman bunga di pelataran belakang.
Udara pagi yang sejuk menyapa kulitnya begitu ia melangkah ke area balkon. Namun, langkah Sandra terhenti saat melihat sosok Dante sudah berdiri di sana. Pria itu membelakanginya, mengenakan kemeja putih kasual yang lengannya tergulung rapi, memandangi hamparan rumput hijau di bawah sana seraya menyesap cangkir kopinya.
Sandra tersenyum tipis, lalu melangkah mendekat secara perlahan. "Pagi, Dante..."
Dante menoleh seketika. Sorot mata elangnya yang tajam melunak seketika saat menangkap sosok Sandra yang berdiri tegap di sampingnya. Pandangannya menyapu kaki Sandra sejenak.
"Kamu sudah bisa berjalan sendiri?" tanya Dante dengan suara beratnya yang menenangkan, tersirat kekhawatiran yang terbiasa ia tunjukkan.
"Sudah jauh lebih baik, tidak terasa perih lagi," jawab Sandra lembut, menyandarkan kedua tangannya di pembatas balkon marmer. "Terima kasih... untuk semua hal yang sudah kamu dan Elzard berikan padaku."
Dante meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca kecil di samping mereka. Pria bertubuh tinggi besar itu memutarkan tubuhnya, melangkah selangkah lebih dekat ke arah Sandra hingga jarak di antara mereka terkikis rapat.
"Aku tidak memberimu apa-apa, Sandra," ucap Dante pelan, menatap lurus tepat ke dalam manik mata bening milik wanita itu. "Kamu yang membawa kembali kehangatan dan tawa yang sudah bertahun-tahun hilang dari rumah ini."
Dada Sandra berdesir hebat. Tatapan mata Dante begitu dalam dan intens, seolah menguliti seluruh isi hatinya hingga ke relung terdalam.
"Mengenai perjanjian tak tertulis yang kukatakan di ruang kerja waktu itu..." lanjut Dante, suaranya merendah menjadi bisikan penuh penekanan, "... aku rasa aku tidak perlu menunggu sampai satu tahun."
Mata Sandra membelalak pelan, napasnya tercekat di tenggorokan. "Dante... maksudmu?"
Dante mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi mulus Sandra dengan punggung jarinya. Sentuhan hangat itu mengalirkan getaran sengatan manis yang membuat tubuh Sandra bergetar halus.
"Elzard mencintaimu sebagai ibunya, dan aku..." Dante menggantungkan kalimatnya sejenak, mengunci pandangan Sandra dengan kejujuran murni tanpa topeng kedinginannya lagi. "... aku menghormati, mengagumi, dan membutuhkanmu di sisiku bukan lagi sekadar karena sebuah kontrak."
Rona merah padam membakar kedua pipi Sandra. Kebahagiaan luar biasa meletup di dalam dadanya, melenyapkan sisa-sisa trauma pengkhianatan masa lalu. Sebelum Sandra sempat membalas ucapan itu, suara langkah kaki kecil yang berlari riang mendatangi mereka dari balik pintu balkon.
"Ibu Baru! Ayah!" seru Elzard dengan senyuman paling cerah, membawa sebuah rangkaian bunga kecil yang ia petik sendiri dari taman. "Lihat! Elzard petik bunga untuk Ibu Baru!"
Sandra berlutut pelan, merengkuh tubuh Elzard ke dalam pelukannya dengan rasa syukur yang membuncah. Dante menunduk, merangkul bahu Sandra dan putranya dari samping, melengkapi lingkaran pelukan hangat keluarga baru mereka di bawah naungan sinar matahari pagi.
tapi cocok sih, laki-laki pengecut seperti kamu punya istri pelacur murahan yang ga tahu diri 🤣🤣😂😂 dan kalian berdua siap-siap mati