"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Tanggung Jawab
“Mereka harus segera dinikahkan. Pemuda zaman sekarang mau saja berbuat seenaknya, kali ini harus bertanggung jawab!” seru seorang lelaki paruh baya yang sejak tadi menyidang Danu dan aku.
Beberapa saat yang lalu, setelah berulang kali aku berteriak minta tolong, beberapa orang yang berjaga di sekitar danau langsung mengelilingi mobil Danu dan meminta penjelasan. Karena masih kesal dengan tuduhan Danu, aku mengaku telah dilecehkan olehnya dan meminta pertanggungjawaban.
“Tapi, Pak, saya sungguh tidak melakukan apa-apa. Besok saya akan segera menikah. Saya tadi hanya minta dia masuk mobil lalu pergi ke hotel,” jelas Danu.
Tentu saja penjelasan Danu malah semakin membuat keadaan kacau. Bagaimana bisa lelaki yang besok akan menikah mengajak seorang wanita ke hotel? Entah kenapa penjelasannya justru terdengar semakin mencurigakan di telinga orang-orang yang mengelilingi kami.
“Semakin kamu memberikan penjelasan, semakin kami menginginkan kamu segera menikah. Riko, segera panggil Pak Ustaz ke sini. Dan kamu, Anak Muda, panggil keluargamu,” pinta Pak RT.
Melihat Riko yang tadi diperintah Pak RT pergi memanggil Pak Ustaz, Danu semakin panik. Lelaki itu kemudian menatapku yang masih duduk tenang di sampingnya. Aku tahu ia berharap aku membantu memberikan penjelasan.
“Dinda, katakan sesuatu. Kita akan dinikahkan kalau seperti ini terus,” pinta Danu mengiba.
“Bukannya tadi kamu tidak peduli?” sahutku dingin.
Sebenarnya aku sendiri juga tidak tahu harus berbuat apa. Sedikit saja salah bicara, bisa-bisa warga semakin salah paham dan keadaan menjadi lebih buruk.
“Kalau kita sampai menikah, aku akan membuat hidupmu menderita. Tidak akan ada lagi kata persahabatan di antara kita,” ancam Danu.
Aku tertawa mengejek. Bukankah itu justru lebih baik? Tidak ada lagi kata sahabat dalam hubungan kami setelah penolakan dan tuduhan yang baru saja ia lontarkan kepadaku.
“Aku tadi sempat memperingatkan kamu, tapi kamu tidak peduli. Lalu apa yang harus aku lakukan? Menjelaskan kalau tidak terjadi apa-apa? Aku yakin kamu bukan orang bodoh, Dan. Di tengah-tengah kerumunan seperti ini, satu kata saja sudah bisa disalahartikan,” jelasku.
Danu masih terlihat tidak menerima keadaan. Aku bisa melihat dari wajahnya kalau lelaki itu benar-benar tidak ingin pernikahan ini terjadi. Bagaimana tidak? Beberapa jam lagi ia seharusnya meminang wanita yang dicintainya, bukan malah harus menikahi sahabatnya sendiri.
“Anak muda, apa yang kamu pikirkan? Segera hubungi orang tuamu. Dan kamu juga, jadi wanita kenapa gampangan sekali,” sindir Pak RT kepadaku.
Aku tidak terkejut lagi mendengarnya. Dalam keadaan seperti ini, nama wanita memang selalu mudah disalahkan. Padahal tadi aku yang meminta tolong, tetapi sekarang justru aku yang dituduh macam-macam.
“Ibu saya ada di Surabaya dan beliau sedang sakit. Jadi tidak mungkin bisa datang ke sini malam ini juga,” jelasku.
“Kalau begitu orang tuamu,” tunjuk Pak RT kepada Danu.
Kali ini Danu mau tidak mau menelepon kedua orang tuanya. Saat ponselnya dinyalakan, aku sempat melihat beberapa panggilan tak terjawab dari Belinda beserta beberapa pesan. Danu sempat memperhatikan layar ponselnya, tetapi tidak kunjung menghubungi wanita itu.
Aku bisa memahami alasannya. Kalau Belinda tahu Danu sedang bersamaku dan malah dipaksa menikah denganku, entah seperti apa keributan yang akan terjadi.
Akhirnya Danu mengabaikan pesan Belinda, lalu mencari nomor ayahnya. Beberapa saat setelah panggilan itu berakhir, Pak Saliyo, Bu Saras, dan Ghina datang ke pos RT.
“Apa yang terjadi, Dan?” tanya Pak Saliyo kepada anaknya. Tatapannya sempat berpindah kepadaku yang duduk berdampingan dengan Danu.
“Pa, sungguh aku tidak melakukan apa pun pada Dinda. Aku tadi memaksanya naik mobil, lalu dia tidak mau dan berteriak minta tolong. Setelah itu kami dibawa ke sini. Mereka mau kami menikah,” jelas Danu.
Pak Saliyo mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Aku bisa melihat jelas lelaki itu sedang menghadapi masalah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Besok anaknya seharusnya menikah dengan Belinda, tetapi malam ini justru diminta menikah denganku.
“Pak RT, anak saya tidak mungkin melakukan perbuatan buruk. Besok dia mau menikah dengan wanita yang dicintainya. Saya harap Pak RT bisa paham dan tidak memperpanjang masalah ini,” ujar Pak Saliyo.
“Bagaimana saya bisa paham, Pak? Di mata manusia, bukti adalah wujud yang nyata. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri dan mendengar kalau anak Bapak tadi berada di dalam mobil. Dia juga memberikan keterangan ingin mengajak Nak Dinda ke hotel. Terlepas salah dan benar, bukankah bukti itu sudah sangat cukup? Menikah adalah tujuan yang baik untuk hubungan lelaki dan perempuan, terlebih mereka sudah sangat dekat. Saya harap Bapak bisa memahami tugas saya di sini,” jelas Pak RT panjang lebar.
Mendengar penjelasan itu, Pak Saliyo hanya terdiam. Aku tidak tahu apa yang ada di pikirannya, tetapi dari wajahnya aku bisa melihat bahwa ia mulai memahami posisi Pak RT.
“Pa, sudah. Tidak masalah. Lagipula kalau Kak Danu menikah dengan Kak Dinda, kita sudah mengenal keluarganya. Biarkan mereka menikah, Pa,” ucap Ghina. Dari nada suaranya, aku bisa merasakan ia justru tidak keberatan dengan keadaan ini.
“Tapi Ghina, kakakmu besok akan menikah. Sudah, kamu anak kecil cukup diam saja,” sahut Bu Saras yang masih terlihat belum bisa menerima keputusan tersebut.
“Sudah, Ma. Apa yang dikatakan Ghina ada benarnya juga,” jawab Pak Saliyo.
“Tapi, Pa—”
Pak Saliyo mengangkat tangannya, membuat Bu Saras menghentikan ucapannya. Lelaki itu kemudian menatap Pak RT sebelum berkata, “Pak RT, biarkan saya bertanya kepada Dinda terlebih dahulu. Apakah dia mau menikah dengan Danu atau tidak. Pernikahan melibatkan dua orang dan tentu saja kita tidak bisa memaksa mereka jika salah satunya tidak mau.”
“Baik, silakan, Pak. Hanya saja saya akan berkata kepada Nak Dinda, wanita itu akan menanggung malu seumur hidup. Jadi harus berpikir baik-baik. Jangan karena ketakutan atau apa pun itu membuat seorang laki-laki lepas dari tanggung jawab,” tutur Pak RT.
Aku yang sejak tadi diam langsung tersentak mendengar perkataannya. Apa yang dikatakannya memang ada benarnya juga. Aku dan Danu tidak melakukan apa pun, tetapi malam ini namaku sudah terlanjur menjadi bahan pembicaraan. Meskipun tidak banyak orang yang tahu, kejadian seperti ini tetap akan menjadi cerita yang sulit dilupakan.
“Dinda, bagaimana? Apa kamu setuju menikah dengan Danu?” tanya Pak Saliyo.
Aku masih terdiam. Banyak hal berputar di kepalaku. Ketika aku menoleh, Danu sedang menatapku dengan sorot mata yang seolah berharap aku menolak. Sementara Ghina terlihat sangat antusias. Pak Saliyo dan Bu Saras hanya diam menunggu jawabanku.
Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya membuka suara.
“Pa, aku sudah sangat mengenal Danu dan keluarga kalian. Aku sangat menghargai itu. Namun, sebagaimana aku menjadi seorang wanita, aku juga memiliki harga diri dan nama baik. Ketika semua orang sekarang melihatku dengan tatapan seperti ini, aku tidak bisa lari. Aku juga ingin ada yang bertanggung jawab atas diriku.”
“Dinda!” pekik Danu. Wajahnya langsung berubah.
Pak Saliyo segera menenangkan anaknya, lalu kembali bertanya kepadaku.
“Jadi kamu setuju untuk menikah dengan Danu?”
Aku menunduk sebentar sebelum akhirnya menjawab.
“Iya. Dan maafkan aku.”
“Dinda, aku membencimu seumur hidupku!” seru Danu sembari menuding ke arahku.
Aku hanya diam. Sementara Bu Saras mengembuskan napas panjang. Dari wajahnya, aku bisa melihat ia kecewa, tetapi sebagai seorang wanita mungkin ia juga memahami kenapa aku mengambil keputusan ini.
“Dan, sudah. Terima apa yang sudah menjadi takdirmu. Jadilah lelaki gentle,” ucap Bu Saras.
“Tapi, Ma—”
“Kamu juga memiliki seorang adik perempuan. Seandainya adikmu berada di posisi ini, apa kamu akan meminta lelaki itu untuk lepas dari tanggung jawab? Pikirkan itu dan ambil keputusan,” lanjut Bu Saras.
Danu langsung terdiam. Aku bisa melihat sudut bibirnya berkedut, sementara tatapannya berpindah dari satu anggota keluarganya ke anggota keluarga yang lain.
Tidak ada lagi yang bisa ia katakan. Beberapa saat kemudian, Danu menarik napas panjang. Tatapannya kembali mengarah kepadaku. Aku tidak tahu apa yang sedang berkecamuk dalam pikirannya, tetapi dari sorot matanya aku tahu lelaki itu sama sekali tidak rela.
“Baik. Aku akan menikahinya!”
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...
Dinda ingin tetap waras.... & tak prlu km sibuk mncarinya.... krna itu tak perlu...
smoga sja... dimasa mndatang dinda mndpt jodoh lelaki yg terbaik...
sesuai yg km ktakn.... klo Dinda prgi berrti km sdh mnceraiknnya....
tak prlu kepengadilan agama.... toh km cm nikah siri sm Dinda....
up bnyak bnyak😘😘
km.g tau kejamnya danu mmprlakikn dinda.... bhkn mulut danu tak segan mngatakn hal yg keji trhdp dinda...🙄🙄
seenteng... dan segmpang itu kta keramat km ucpkn kedinda....
jgn prnh lgi km mngusik hidup dinda.... krna dinda bukan lgi bagian dri hidupmu..... krna dinda sdh km jandakn🙄🙄
untuk dinjadikn senjata.... saat si belinda mnindasnya...
mulutmu sll mnghina dinda tidak berharga..... tpi nyatanya km yg prtama mnikmatinya.....
justru belinda yg tak ada harganya.... krna sdh dinikmati laki" lain.... ntah sdh berapa ratus kali di pake...