Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22
Minggu, 30 Oktober 2016.
Arthur Sterling menghabiskan sebagian besar pagi di depan laptopnya, menyusun analisis terbaru mengenai Aurelia Therapeutics.
Di luar jendela apartemennya, langit Queens tampak kelabu. Angin musim gugur menggoyangkan ranting-ranting pohon di sepanjang jalan, sementara suara kendaraan sesekali terdengar dari kejauhan.
Arthur tidak terlalu memperhatikan cuaca.
Pikirannya tertuju pada pertemuan esok hari dengan Richard Coleman.
Dalam kehidupan pertamanya, Arthur pernah menghadiri pertemuan dengan para pengelola investasi yang memiliki akses ke informasi, jaringan, dan sumber daya jauh lebih besar daripada yang dimilikinya saat ini. Ia tahu bagaimana mereka berpikir, bagaimana mereka mempertanyakan sebuah asumsi, dan bagaimana mereka mencari kelemahan dalam sebuah analisis.
Namun, pengetahuan itu tidak otomatis membuatnya mampu menjawab semua pertanyaan.
Kali ini, ia tidak memiliki gelar dari universitas ternama, pengalaman kerja di bank investasi, atau rekam jejak yang bisa ditunjukkan kepada orang lain.
Ia hanya memiliki analisis yang disusunnya sendiri, sejumlah uang hasil investasi yang baru saja diamankan, dan ingatan tentang masa depan yang tidak dapat dijadikan bukti.
Karena itu, ia harus memastikan bahwa laporannya dapat berdiri tanpa bergantung pada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan.
Arthur membuka dokumen yang telah disusunnya.
Pada halaman pertama, ia menuliskan kondisi Aurelia Therapeutics setelah pengumuman hasil uji klinis positif. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan mencapai titik akhir utama dalam uji klinis merupakan perkembangan penting, tetapi belum menjamin bahwa produk perusahaan akan memperoleh persetujuan regulator atau mencapai keberhasilan komersial.
Pada halaman kedua, ia membahas risiko pendanaan.
Perusahaan bioteknologi dapat memiliki hasil penelitian yang menjanjikan, tetapi tetap membutuhkan modal besar untuk menyelesaikan pengembangan, memenuhi persyaratan regulasi, membangun fasilitas produksi, dan memasarkan produknya.
Pada halaman ketiga, ia membuat tiga skenario.
Skenario optimistis memperhitungkan kemajuan regulasi yang relatif lancar dan kebutuhan pendanaan yang dapat dipenuhi tanpa tekanan berlebihan.
Skenario dasar memperhitungkan proses yang memerlukan waktu lebih lama, biaya tambahan, serta ketidakpastian mengenai penerimaan pasar.
Skenario pesimistis mempertimbangkan kemungkinan penundaan, kebutuhan modal yang lebih besar, atau munculnya persoalan tambahan dalam proses pengembangan.
Arthur tidak menuliskan angka yang seolah-olah dapat meramalkan masa depan dengan ketepatan mutlak. Ia menggunakan rentang asumsi dan mencatat bagian-bagian yang masih membutuhkan informasi lebih lanjut.
Setelah memeriksa ulang dokumen, ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Jauh lebih baik," gumamnya.
Dahulu, ketika masih berusia dua puluh tahun dalam kehidupan pertamanya, ia sering merasa bahwa jawaban yang tepat adalah jawaban yang terdengar paling meyakinkan.
Sekarang, ia memahami bahwa jawaban yang baik justru harus menunjukkan batas pengetahuan seseorang.
Ia menyimpan dokumen tersebut, kemudian membuka catatan bisnis kecilnya bersama Daniel Brooks.
Ada tiga hal yang harus ia selesaikan pada awal pekan: memeriksa perkembangan proyek Lawson Market, menindaklanjuti calon pelanggan, dan menghadiri pertemuan dengan Richard.
Ketiganya memiliki tingkat kepentingan berbeda, tetapi semuanya membutuhkan perhatian.
Arthur tidak ingin mengorbankan bisnisnya hanya karena kesempatan di Wall Street terlihat lebih menarik. Sebaliknya, ia juga tidak ingin mengabaikan kesempatan belajar dari seseorang yang telah menghabiskan bertahun-tahun di dunia investasi.
Ia membutuhkan keduanya.
Bukan untuk membuktikan bahwa dirinya istimewa, melainkan untuk membangun kemampuan yang dapat digunakannya dalam jangka panjang.
Menjelang siang, Arthur meninggalkan apartemen untuk membeli beberapa kebutuhan makanan.
Dalam perjalanan pulang, ia melewati sebuah kedai kopi kecil yang terletak tidak jauh dari stasiun kereta.
Papan nama kedai itu mulai pudar. Dua meja di dekat jendela kosong, sementara seorang pegawai sedang membersihkan meja yang baru ditinggalkan pelanggan.
Arthur tidak berniat berhenti.
Namun, ketika melihat pemilik kedai berdiri di dekat pintu sambil memeriksa selembar kertas, ia teringat daftar calon pelanggan yang sedang disusun bersama Daniel.
Pemilik itu tampak berusia sekitar empat puluh tahun. Ia mengenakan kemeja sederhana dengan lengan digulung hingga siku, dan ekspresinya menunjukkan seseorang yang sedang memikirkan banyak hal sekaligus.
Arthur mendekat, tetapi tidak langsung menawarkan jasa.
"Selamat siang," sapanya. "Apakah kedai ini milik Anda?"
Pria itu mengangkat kepala.
"Benar. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya Arthur. Saya dan seorang teman sedang membantu beberapa usaha kecil memperbaiki informasi online dan cara mereka menjangkau pelanggan. Saya kebetulan melewati tempat ini dan ingin bertanya apakah Anda pernah mencoba menggunakan promosi digital."
Pria itu tersenyum tipis.
"Pernah. Saya membuat halaman di internet beberapa tahun lalu. Tidak banyak yang berubah."
"Apakah Anda masih memperbaruinya?"
"Kadang-kadang. Kalau saya sempat."
Arthur mengangguk.
Ia tidak langsung mengatakan bahwa halaman itu pasti menjadi penyebab kedai tersebut sepi. Ia bahkan belum memeriksa halaman tersebut.
"Kalau Anda tidak keberatan, boleh saya melihatnya? Saya ingin memahami apakah ada masalah yang bisa kami bantu selesaikan."
Pria itu memperkenalkan diri sebagai Thomas Miller, pemilik Miller's Corner Café.
Thomas menunjukkan halaman kedainya melalui ponsel. Informasi alamat dan nomor telepon tersedia, tetapi jam operasionalnya belum diperbarui. Foto yang ditampilkan juga berasal dari beberapa tahun sebelumnya, ketika kedai tersebut baru direnovasi.
Arthur tidak membutuhkan waktu lama untuk menemukan beberapa hal yang bisa diperbaiki.
Namun, ia juga tidak ingin membuat janji berlebihan.
"Informasi jam operasional sebaiknya diperbarui lebih dahulu," katanya. "Kalau pelanggan datang berdasarkan informasi lama lalu menemukan kedai tutup, pengalaman itu bisa membuat mereka enggan mencoba lagi."
Thomas mengangguk.
"Itu memang pernah terjadi. Beberapa pelanggan datang terlalu pagi ketika kami belum buka."
Arthur melanjutkan dengan menunjukkan foto-foto lama yang tidak lagi menggambarkan keadaan kedai saat ini.
"Kami bisa membantu memperbarui informasi, mengambil foto sederhana, dan membuat halaman yang lebih mudah dibaca melalui ponsel. Setelah itu, kita bisa mengevaluasi apakah ada perubahan pada jumlah pertanyaan atau pelanggan yang datang."
Thomas melipat tangannya.
"Berapa biayanya?"
Arthur menjelaskan ruang lingkup pekerjaan yang dapat mereka tawarkan. Ia menyebutkan biaya awal sebesar dua ratus dolar untuk pekerjaan terbatas, dengan hasil yang jelas dan tanpa janji bahwa penjualan akan langsung meningkat.
Thomas tidak segera menjawab.
"Saya harus memikirkannya. Bisnis sedang tidak terlalu bagus, dan saya tidak ingin mengeluarkan uang untuk sesuatu yang hasilnya tidak jelas."
"Itu keputusan yang masuk akal," jawab Arthur. "Anda tidak perlu menyetujuinya sekarang. Saya bisa mengirimkan ringkasan pekerjaan yang kami tawarkan, termasuk apa yang tidak bisa kami jamin."
Thomas tampak sedikit terkejut mendengar jawaban itu.
"Biasanya orang yang menawarkan jasa langsung mengatakan bahwa penjualan saya akan meningkat."
Arthur tersenyum.
"Kalau kami belum memiliki data untuk mendukung janji itu, saya tidak ingin mengatakannya."
Thomas memperhatikan Arthur selama beberapa saat sebelum mengulurkan tangan.
"Kirimkan proposalnya. Saya akan membacanya."
Arthur menerima kesempatan itu tanpa menganggapnya sebagai kemenangan.
Ia mencatat nama kedai, alamat halaman online, dan beberapa masalah yang ditemukan. Kemudian, ia berpamitan dan melanjutkan perjalanan pulang.
Satu percakapan belum tentu menghasilkan pelanggan.
Namun, ia telah menemukan satu hal yang bisa dijadikan dasar untuk penawaran yang lebih baik: masalah nyata yang dapat diperbaiki, tanpa harus menjanjikan sesuatu yang belum bisa mereka buktikan.
Sore harinya, Arthur menerima panggilan dari Daniel.
"Bagaimana perkembangan daftar pelanggan?" tanya Arthur setelah menjawab telepon.
"Aku sudah menyelesaikan lima pemeriksaan awal. Ada dua usaha yang memiliki informasi online tidak lengkap, satu toko dengan situs yang sulit dibuka melalui ponsel, dan dua usaha yang sebenarnya sudah cukup baik."
"Bagus. Jangan memaksakan penawaran kepada dua usaha terakhir."
"Aku tahu. Aku juga sudah memperbaiki beberapa bagian halaman Lawson Market."
"Bagaimana dengan data dari Peter?"
"Belum lengkap. Dia baru mencatat beberapa transaksi dan barang yang tidak tersedia. Kita perlu menunggu beberapa hari lagi."
Arthur mengangguk, meskipun Daniel tidak dapat melihatnya.
"Jangan mengubah jadwal pengumpulan data hanya untuk mendapatkan jawaban lebih cepat. Kita perlu data yang cukup untuk membuat perbandingan."
Daniel terdiam sesaat.
"Kau tahu, kalau suatu hari kita memiliki seratus pegawai, mereka mungkin akan membencimu karena terlalu banyak meminta data."
"Kalau kita memiliki seratus pegawai, kita juga harus memastikan bahwa data yang mereka kumpulkan benar-benar digunakan."
"Dan kalau kita punya seribu pegawai?"
"Kita mungkin membutuhkan orang yang lebih sabar daripada kau untuk menjelaskan hal-hal itu."
Daniel tertawa.
"Setidaknya kau mengakui aku sabar."
"Aku tidak mengatakan itu."
"Sudah kuduga."
Percakapan mereka berlangsung beberapa menit lagi sebelum Daniel harus pergi.
Arthur menutup telepon dengan perasaan lega. Hubungan kerja mereka masih sederhana, tetapi ia menyukai kenyataan bahwa mereka dapat berbeda pendapat tanpa harus mengubah setiap diskusi menjadi pertarungan.
Dalam kehidupan pertamanya, Arthur pernah kehilangan beberapa rekan bisnis karena terlalu mengutamakan hasil dan mengabaikan hubungan manusia di balik angka.
Ia tidak ingin mengulangi kesalahan itu.
Bisnis yang bertahan lama membutuhkan lebih dari sekadar strategi yang baik. Ia membutuhkan orang-orang yang bersedia menyampaikan masalah sebelum masalah tersebut berubah menjadi krisis.
Dan untuk itu, mereka harus merasa aman ketika berbicara jujur.
Senin, 31 Oktober 2016.
Arthur tiba di Midtown Manhattan sekitar empat puluh menit sebelum pertemuannya dengan Richard Coleman.
Ia mengenakan kemeja sederhana, jaket gelap, dan sepatu yang sudah beberapa kali ia gunakan ke kampus. Ia tidak memiliki pakaian mahal untuk mengesankan orang-orang di dunia investasi.
Namun, ia juga tidak merasa perlu berpura-pura menjadi seseorang yang bukan dirinya.
Setelah memeriksa alamat kantor, ia masuk ke gedung dan melapor kepada resepsionis.
Beberapa menit kemudian, seorang pegawai mengantarnya ke ruang pertemuan.
Richard sudah berada di dalam bersama Michael Reed. Di atas meja terdapat dua cangkir kopi dan beberapa dokumen yang telah disusun rapi.
"Arthur," sapa Richard sambil berdiri. "Terima kasih sudah datang."
"Saya berterima kasih atas kesempatan ini."
Mereka berjabat tangan.
Michael menunjuk kursi di seberang meja.
"Kami sudah membaca laporan terbaru Anda."
Arthur duduk dan meletakkan mapnya di atas meja.
"Semoga laporan itu cukup membantu."
Richard tersenyum kecil.
"Kita lihat. Saya ingin memulai dengan pertanyaan sederhana. Anda memperkirakan bahwa hasil uji klinis Aurelia memiliki peluang yang cukup baik untuk berhasil. Hasilnya ternyata positif. Apakah itu berarti analisis Anda benar?"
Arthur tidak langsung menjawab.
Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah bertemu banyak investor yang menganggap hasil akhir sebagai satu-satunya ukuran kecerdasan. Jika saham naik, mereka menganggap keputusan mereka benar. Jika saham turun, mereka mencari alasan untuk menyalahkan pasar.
Arthur tahu bahwa cara berpikir itu berbahaya.
"Menurut saya, hasil positif mendukung sebagian dari tesis awal saya," jawabnya. "Tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa seluruh analisis saya benar hanya karena satu peristiwa terjadi sesuai perkiraan."
Richard menyilangkan tangan.
"Jelaskan."
"Pertama, hasil uji klinis hanya menjawab sebagian dari pertanyaan mengenai perusahaan. Kita masih perlu menilai kemungkinan persetujuan regulator, kebutuhan pendanaan, waktu peluncuran, dan potensi permintaan pasar. Kedua, meskipun tesis mengenai perkembangan perusahaan benar, harga saham mungkin sudah mencerminkan sebagian dari ekspektasi tersebut. Ketiga, saya menggunakan opsi, sehingga perubahan volatilitas dan berkurangnya waktu hingga kedaluwarsa memengaruhi hasil investasi saya secara terpisah dari kinerja perusahaan."
Michael mengangguk pelan.
"Dan Anda menjual sebagian besar posisi setelah pengumuman."
"Benar."
"Apakah keputusan itu didasarkan pada penilaian bahwa saham sudah terlalu mahal?"
Arthur menggeleng.
"Tidak sepenuhnya. Saya belum memiliki cukup informasi untuk menyatakan dengan yakin bahwa harga saham sudah terlalu tinggi. Saya menjual sebagian besar posisi karena konsentrasi risiko dan kebutuhan likuiditas. Saya tidak ingin sebagian besar modal saya tetap bergantung pada satu perusahaan dan satu rangkaian peristiwa."
Richard menatapnya tanpa berbicara selama beberapa detik.
"Jadi, Anda mungkin kehilangan keuntungan tambahan jika harga terus naik."
"Ya."
"Dan Anda menerima kemungkinan itu?"
Arthur mengangguk.
"Saya lebih memilih kehilangan sebagian potensi keuntungan daripada mempertahankan risiko yang tidak lagi sesuai dengan kondisi keuangan saya."
Michael mengambil salah satu lembar laporan.
"Bagaimana Anda menentukan ukuran posisi awal? Anda masih mahasiswa dan belum memiliki pendapatan tetap yang besar."
Pertanyaan itu terasa lebih sulit.
Arthur tidak dapat mengungkapkan bahwa pengetahuannya mengenai peristiwa masa depan ikut memengaruhi keputusannya. Ia harus menjawab berdasarkan prinsip yang dapat dipertanggungjawabkan.
"Saya menyadari bahwa posisi awal saya terlalu besar jika dibandingkan dengan sumber daya keuangan saya," katanya akhirnya. "Saya masih bisa membayar kebutuhan dasar, tetapi saya seharusnya lebih berhati-hati dalam menentukan jumlah risiko yang bersedia saya tanggung. Itu salah satu hal yang saya evaluasi setelah transaksi selesai."
Richard tidak segera memberikan tanggapan.
Arthur melanjutkan.
"Saya beruntung hasilnya positif. Namun, saya tidak ingin menggunakan hasil tersebut untuk membenarkan semua keputusan yang saya ambil sebelumnya."
Suasana ruang pertemuan menjadi sedikit lebih tenang.
Richard menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Jawaban itu lebih menarik daripada jika Anda hanya mengatakan bahwa Anda telah memperkirakan hasil uji klinis dengan tepat."
Arthur menatapnya.
"Saya kira keberuntungan dan kemampuan bisa menghasilkan hasil yang sama dalam satu transaksi. Perbedaannya baru terlihat ketika kita harus mengulangi prosesnya berkali-kali."
Senyum tipis muncul di wajah Richard.
"Itu cara berpikir yang cukup sehat."
Namun, pria itu belum selesai mengajukan pertanyaan.
"Kalau begitu, bagaimana Anda akan membuktikan bahwa kemampuan analisis Anda dapat diulang?"
Arthur membuka mapnya dan menunjukkan beberapa bagian laporan.
"Saya ingin mencatat keputusan sebelum hasilnya diketahui, menyimpan asumsi yang digunakan, lalu mengevaluasi hasilnya setelah informasi baru muncul. Saya juga ingin membandingkan keputusan yang menghasilkan keuntungan dengan keputusan yang menghasilkan kerugian. Kalau saya hanya mencatat keberhasilan, saya tidak akan mengetahui apakah proses saya benar-benar memiliki nilai."
Michael menutup dokumen di tangannya.
"Anda menyadari bahwa catatan semacam itu tidak otomatis membuktikan adanya keunggulan investasi."
"Tentu. Saya masih membutuhkan lebih banyak pengamatan, dan hasilnya bisa dipengaruhi kondisi pasar. Tetapi setidaknya saya dapat mengurangi kecenderungan untuk mengingat hanya hal-hal yang mendukung keyakinan saya."
Richard mengangguk.
"Bagus. Saya tidak mencari seseorang yang tidak pernah salah. Saya mencari seseorang yang mampu mengenali kesalahan sebelum kesalahan itu menjadi terlalu mahal."
Arthur menyimpan kalimat itu dalam pikirannya.
Ia pernah mengelola kekayaan yang sangat besar. Ia tahu betapa mahalnya sebuah kesalahan ketika jumlah yang dipertaruhkan mencapai miliaran dolar.
Namun, sekarang ia sedang belajar bahwa prinsip yang sama berlaku bahkan ketika seseorang hanya memiliki beberapa ratus dolar.
Pertemuan berlangsung hampir satu jam.
Richard dan Michael membahas laporan Arthur, mempertanyakan asumsi pertumbuhan, kebutuhan pendanaan, dan kemungkinan perubahan harga setelah pasar menilai hasil klinis tersebut.
Arthur menjawab pertanyaan yang bisa dijawabnya, mengakui bagian yang masih belum jelas, dan mencatat beberapa data yang perlu diperiksa kembali.
Pada akhir pertemuan, Richard menutup mapnya.
"Saya belum bisa menyimpulkan bahwa Anda memiliki kemampuan investasi yang luar biasa hanya berdasarkan satu transaksi," katanya. "Tetapi saya melihat Anda cukup terbuka terhadap kritik dan tidak terlalu terikat pada satu kesimpulan."
"Saya masih harus banyak belajar."
"Semua orang yang serius di bidang ini harus banyak belajar."
Richard berhenti sebentar sebelum melanjutkan.
"Saya ingin Anda menyusun catatan investasi yang lebih sistematis. Tidak harus berupa laporan panjang. Tuliskan alasan masuk, asumsi utama, risiko, kondisi yang akan membuat Anda mengubah pandangan, dan alasan keluar. Setelah beberapa waktu, kita bisa melihat bagaimana proses berpikir Anda berkembang."
Arthur memahami bahwa ini bukan tawaran pekerjaan.
Richard tidak menjanjikan akses khusus ke dana investasi atau posisi di perusahaannya. Ia hanya membuka kemungkinan untuk berdiskusi kembali berdasarkan kualitas pekerjaan Arthur.
Namun, bagi mahasiswa tanpa pengalaman formal di bidang keuangan, kesempatan itu tetap berharga.
"Saya akan melakukannya," jawab Arthur.
"Bagus. Dan satu hal lagi," tambah Richard. "Jangan merasa harus melakukan transaksi hanya karena Anda sedang mencoba membuktikan kemampuan."
Arthur tersenyum tipis.
"Saya akan mengingatnya."
Setelah berjabat tangan dengan Richard dan Michael, Arthur meninggalkan kantor tersebut.
Ketika keluar ke jalan, ia berhenti sejenak dan memandang gedung-gedung tinggi di sekelilingnya.
Manhattan tetap sama seperti yang diingatnya dari kehidupan pertama. Orang-orang bergerak cepat, taksi memenuhi jalan, dan gedung-gedung keuangan berdiri seolah-olah tidak pernah mengenal kegagalan.
Tetapi Arthur tahu bahwa di balik setiap gedung terdapat keputusan yang tidak selalu benar, persaingan yang tidak selalu adil, dan manusia yang berusaha mempertahankan apa yang telah mereka bangun.
Ia belum menjadi bagian dari dunia itu.
Setidaknya, belum sepenuhnya.
Namun, untuk pertama kalinya, ia memiliki kesempatan untuk memasuki dunia tersebut bukan sebagai seorang pemuda yang berharap keberuntungan akan mengubah hidupnya, melainkan sebagai seseorang yang bersedia menguji kemampuannya sendiri.
Arthur mengeluarkan ponsel dan memeriksa pesan masuk.
Ada pesan dari Daniel mengenai calon pelanggan baru, serta pesan singkat dari Clara yang menanyakan apakah ia sudah makan siang.
Arthur membalas Clara terlebih dahulu.
Sudah. Bagaimana harimu?
Kemudian ia mengirim pesan kepada Daniel bahwa pertemuannya berjalan baik dan mereka bisa membicarakan perkembangan bisnis saat bertemu nanti.
Ia menyimpan ponselnya dan mulai berjalan menuju stasiun kereta.
Di masa depan, ia akan membangun kerajaan bisnis yang menjangkau berbagai negara.
Namun, masa depan itu belum menjadi miliknya.
Hari ini, ia masih seorang mahasiswa yang sedang belajar, seorang pengusaha kecil yang mencari pelanggan, dan seorang pria yang berusaha mendekati perempuan yang pernah menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya.
Ia tidak tahu apakah semua usahanya akan berhasil.
Tetapi ia tahu bahwa ia tidak boleh membiarkan kesempatan kedua ini berlalu begitu saja.
Bersambung ke Bab 23.