NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:362
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: DARAH YANG MEMBUKA BRANKAS

WEEEEEUUUU... WEEEEEEUUUU...

Lampu sorot putih mobil patroli pelabuhan menyorot langsung ke dalam gudang nomor 7 yang berkarat.

Hujan masih turun, tapi sekarang bercampur suara sepatu boots polisi yang berlari dan teriakan, "POLISI! ANGKAT TANGAN!"

Paman Luo berdiri kaku di tengah gudang. Pistol tuanya yang macet tergeletak di lantai, ditendang Shen Mo tadi. Wajah kakek baik hati yang ia pakai 24 tahun, hancur berantakan. Sekarang yang tersisa hanya wajah pria tua 60 tahun yang penuh kebencian dan panik.

Tiga pengawalnya di balik kontainer minyak langsung angkat tangan. Mereka tahu, melawan polisi pelabuhan di depan umum sama saja bunuh diri. Apalagi ada Shen Mo di sana.

"Jangan tembak! Jangan tembak! Kami korban! Kami disekap!" teriak Paman Luo tiba-tiba, mengangkat kedua tangannya tinggi, memasang topeng korban lagi dengan cepat. Aktingnya luar biasa. "Tolong! Anak ini... anak ini yang culik kami! Dia anak buah Blackwood!"

Polisi yang masuk 4 orang, ragu-ragu. Mereka melihat pemandangan aneh: kakek tua, pria lumpuh di tandu oksigen, bocah 7 tahun berjas hujan kuning, dan pria tinggi berjaket hitam yang basah kuyup.

Siapa korban, siapa pelaku?

Chen tidak panik. Bocah itu masih memeluk tangan kurus ayahnya, Li Wei, yang terbaring lemah di tandu.

Dengan tangan kirinya yang bebas, Chen mengangkat walkie-talkie Vane yang masih menyala.

"Pak Polisi, cek frekuensi walkie-talkie ini," ucap Chen dengan suara jernih, tidak seperti bocah 7 tahun yang ketakutan, tapi seperti saksi dewasa. "Frekuensi 142.77 MHz. Frekuensi militer Blackwood. Cocokkan dengan laporan penyerangan Crown Tower 3 jam lalu di lantai 100. Pelakunya sama. Orang tua ini yang suruh Vane, tangan kanan Yucheng, untuk bakar arsip kematian ibu saya."

Polisi yang paling senior, yang punya kumis tebal, mengernyit dan mengambil walkie-talkie itu. Ia menekan tombol scan frekuensi di HT polisinya.

_Cocok._

"Dan cek tato di pergelangan tangan kiri 3 orang di balik kontainer itu," lanjut Chen, menunjuk. "Tato laba-laba. Ciri khas rekrutan baru Blackwood. Yucheng tidak pakai tato seperti itu."

Polisi menyorot senter ke tangan 3 pengawal itu. Benar. Tato laba-laba kecil.

Paman Luo pucat. Rencana "jadi korban" gagal total karena bocah 7 tahun hafal detail yang bahkan polisi tidak tahu.

Shen Mo melangkah maju. Ia mengeluarkan kartu hitam dari saku jaketnya yang basah - kartu identitas khusus Yucheng yang hanya dimiliki 5 orang di kota ini, yang membuat polisi pelabuhan langsung hormat.

"Saya Shen Mo. Pemilik Crown Tower. Korban penyerangan malam ini. Pria lumpuh ini adalah kakak saya, Li Wei, yang hilang 10 tahun. Dicuri oleh penasihat saya sendiri. Saya mau bawa kakak saya berobat. Dua orang ini," ia menunjuk Paman Luo dan Vane yang masih pingsan di mobil polisi di luar, "saya tuntut atas percobaan pembunuhan, penyekapan 10 tahun, dan kerja sama dengan sindikat Blackwood."

Kartu hitam itu bicara lebih keras dari pistol.

Polisi langsung mengubah sikap. "Siap, Tuan Shen! Kami amankan TKP! Kami butuh ambulans!"

Paman Luo tahu ia kalah malam ini. Ia tidak melawan saat diborgol. Tapi saat ia lewat di depan Chen, ia berbisik dengan suara hanya Chen dan Shen Mo yang dengar, dengan senyum ular:

"Kau pikir ini selesai, Chen? Kau pikir dengan selamatkan ayahmu kau menang? Darahmu... darah ayahmu... itu yang akan bunuh Shen Mo nanti. Tanya ayahmu, apa isi brankas keluarga Yucheng yang hanya bisa dibuka darah Li Wei. Tanya kenapa ayahmu lebih pilih lumpuh 10 tahun daripada serahkan kodenya."

Lalu ia digiring polisi keluar.

Gudang 7 kembali sepi, hanya sisa hujan dan napas berat Li Wei.

Chen berlutut di samping tandu ayahnya. Li Wei yang pucat, kurus, tapi matanya yang sama dengan Chen, menatap anaknya dengan air mata yang tidak berhenti mengalir.

"Chen... anakku... sudah besar... maaf... Ayah tinggalkan kau dan ibumu..."

"Ayah tidak tinggalkan. Ayah dilindungi Paman Luo biar tidak dibunuh," potong Chen pelan, menghapus air mata ayahnya dengan lengan jas hujan kuningnya yang kebesaran. "Ibu bilang Ayah mati kecelakaan. Tapi Ibu simpan foto Ayah 10 tahun. Ibu tahu Ayah masih hidup, kan?"

Li Wei mengangguk lemah. "Ibumu... ibumu perempuan paling pintar... dia tahu... dia tahu kalau Paman Luo mau bunuh Shen Mo kecil... Ayah pura-pura mati biar Paman Luo berhenti kejar Shen Mo..."

Shen Mo yang berdiri di belakang, mendengar itu, mengepalkan tangannya keras sampai buku jarinya putih.

Jadi benar. Li Wei bukan kabur. Dia mengorbankan diri.

"Brankas," bisik Li Wei, tiba-tiba mencengkeram tangan Chen erat. Tenaganya yang sisa sedikit itu membuat Chen kaget. "Brankas di bawah Crown Tower... hanya darahku yang bisa buka... bukan karena aku spesial... karena..."

Li Wei menatap Shen Mo.

"...karena di dalam brankas itu ada surat wasiat pendiri Yucheng. Kakekmu, Mo. Surat yang bilang... kau bukan anak haram... kau anak sah... dari istri kedua yang disembunyikan... Paman Luo takut kalau surat itu keluar, Yucheng akan jatuh ke tanganmu sepenuhnya... karena darahmu murni... dan darahnya... hanya darah campuran penasihat..."

Shen Mo membeku untuk ketiga kalinya malam itu.

Selama 24 tahun ia hidup dengan cap anak haram. Dibully, mau dibunuh ayah kandungnya sendiri, dibesarkan dengan kebencian.

Ternyata... ia anak sah?

Chen menatap Shen Mo, lalu menatap ayahnya.

Otak jeniusnya langsung menyambung semua puzzle 10 tahun:

Paman Luo sekap Li Wei 10 tahun bukan untuk bunuh, tapi untuk paksa Li Wei serahkan kode brankas. Karena hanya darah Li Wei (saudara angkat Shen Mo yang dianggap keluarga) yang bisa jadi kunci biometrik brankas itu. Darah Shen Mo sendiri tidak bisa, karena sistem lama tidak akui dia sebagai keluarga sah.

Dan 50 juta transfer ke ibu Chen? Itu bukan uang tutup mulut. Itu uang dari Shen Mo yang dikirim Paman Luo pakai nama Shen Mo, agar ibu Chen curiga dan bawa Chen ke Crown Tower, masuk jebakan, biar Paman Luo bisa dapat Chen dan paksa Li Wei buka brankas pakai darah anaknya.

Licik. Berlapis-lapis.

"Ayah, kodenya apa?" tanya Chen pelan.

Li Wei tersenyum lemah, mengusap kepala Chen.

"Kodenya bukan angka, Nak... kodenya ingatan... ingatan 7 tahun lalu... waktu Mo umur 8 tahun, aku ajari dia main catur di gudang ini... langkah pertama yang dia menang dariku..."

Li Wei menatap Shen Mo.

"Mo, masih ingat langkah pertama yang kau menang dariku?"

Shen Mo memejamkan mata. 24 tahun lalu. Gudang 7 ini. Papan catur berdebu.

Ia ingat.

"Kuda ke F3," jawab Shen Mo, suaranya parau.

Li Wei mengangguk. "Itu kodenya."

Chen langsung hafal. Kuda ke F3. Knight to F3.

Bukan kode angka. Kode catur.

Brankas keluarga Yucheng yang dijaga 100 pengawal, kodenya adalah kenangan masa kecil.

Di luar, ambulans datang meraung. Lampu birunya menyorot gudang tua itu.

Shen Mo mengangkat Li Wei dari tandu dengan hati-hati, seperti mengangkat kakaknya sendiri. Ringan. Terlalu ringan untuk 10 tahun disekap.

"Kita pulang," kata Shen Mo. "Pulang ke Crown Tower. Buka brankas itu. Dan besok, kita adakan sidang adat Yucheng. Biar semua tahu siapa pengkhianat dan siapa raja yang sah."

Chen berjalan di samping Shen Mo, menggandeng tangan ayahnya yang terbaring di gendongan Shen Mo.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bocah 7 tahun yang kehilangan ibu 5 jam lalu, merasa tidak sendirian.

Ia punya ayah yang kembali dari mati.

Dan punya... kakak angkat yang ternyata adalah Raja Yucheng yang sah.

Di belakang mereka, gudang nomor 7 yang berkarat itu perlahan ditutup polisi dengan garis kuning.

Tapi di dalam saku jas hujan kuning Chen, walkie-talkie Vane yang tadi ia pakai, lampu merahnya masih berkedip pelan.

Seseorang masih mendengarkan dari jauh.

Bukan Paman Luo yang sudah diborgol.

Tapi frekuensi lain. Frekuensi Blackwood.

Mereka dengar semua tentang brankas dan darah.

Dan mereka sedang menuju Crown Tower malam ini juga.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!